Laman

Pengikut

Kamis, 01 Maret 2012

Hasil Kerajinan dan Industri Kecil Keramik di IndonesiaHasil Kerajinan dan Industri Kecil Keramik

              
Hasil Kerajinan dan Industri Kecil Keramik Indonesia
oleh Agus Mulyadi Utomo

                Keramik industri yang bukan padat modal, pada mulanya berangkat dari usaha kecil kerajinan atau industri rumah tangga, seperti di Singkawang- Kalimantan Barat, di Plered - Jawa Barat, di Dinoyo - Malang-Jawa Timur, di Klampok-Jawa Tengah, di Kapal dan Pejaten - Tabanan-Bali, di Kayu agung -Palembang, di Manatuto-Timtim, di Tegowanuh-JawaTengah, di Banyumulek–Lombok-NTB, Bima-NTB, Mayong-Jepara dan lain sebagainya. Pada umumnya industri kecil dan menengah tersebut memproduksi barang-barang gerabah, stoneware dan porselin. Ada yang mengambil bentuk  flora-fauna dan tradisional  seperti batik-batikan, tumpal, pilin berganda, primitif, ukir-ukiran, swastika, kaligrafi, pepatran, legenda, ceritra rakyat dan pewayangan atau meniru bentuk-bentuk keramik asing seperti dari China, Jepang, Philipina, Vietnam, Belanda, Maxico dan Eropa lainnya.
  
                Singkawang merupakan lokasi perkeramikan terbesar di Kalimantan Barat, selain di Siantan. Di Singkawang terdapat tujuh perusahaan, namun yang aktif empat saja dan yang lainnya tenggelam karena kongkurensi kongkurensi dalam dunia usaha. Desa Sa Liung, Kecamatan Sedau, Singkawang sekitar 140 km sebelah utara dari Pontianak sudah lama dikenal sebagai pabrik keramik antik gaya China. Tungku yang dipergunakan adalah tungku “Naga”, sama seperti yang dilakukan pada abad ke-16 di Daratan China. Menurut cerita yang berkembang,  di daerah ini sudah mulai produksi pada abad ke-17 saat imigran China menetap di Kalimantan yang datang dari Guangdong, Fujian, Juangsu China Selatan. Selain membawa keramik jadi juga imigran ini membawa ketrampilan mengolah bahan keramik dan mewujudkannya. Sekarang keturunan imigran ini masih ada yang berkutat dengan tungku “Naga”.  Desa Sakok atau Tanjung Batu, kurang lebih 7 km sebelah timur laut Singkawang, terdapat tungku “Naga” atau Dragon Kiln yang didirikan tahun 1935 dan mengalami beberapakali perombakan dan perbaikan. Seperti halnya di Sa Liung atau Padang Pasir, Sakok, memproduksi tiruan keramik kuno gaya China, tempayan atau martaban, mangkuk, jembangan dan guci yang bergaya Ming. Salah satu pemilik perusahaan  yang bernama Ten  Sen Siur, bertempat tinggal di Jalan Pasar Ikan 158 Singkawang. selain di Siantan. Di Singkawang terdapat tujuh perusahaan, namun yang aktif empat saja dan yang lainnya tenggelam. Di Singkawang juga memproduksi pot, vas bunga, piring, serta bentuk tokoh yang mereka keramatkan berupa patung Kung-Tse. Hiasan naga dan bentuk awan sedikit stilistis sampai bentuk meander dengan teknik under-glaze. Keramik antik gaya China produksi Singkawang yang mirip dengan aslinya banyak di ekspor ke Hongkong, Singapura dan Eropa atas permintaan jaringan perdagangan barang antik. Disamping keluar negeri, pasarannya juga di kota-kota besar dalam negeri.
              
                 Plered terletak daerah Purwakarta,  Jawa Barat, memang tidak asing lagi bagi penggemar keramik hias di tanah air. Salah satu perusahaan yang dipimpin Asep Abu Bakar dari PT. Asep Kwalita Keramik (AKK), mempunyai potensi besar dan telah masuk persaingan pasar Dunia. Perusahaan ini mengandalkan corak dan desain yang baru dan terus-menerus dikembangkan, dengan telah diakuinya daerah Plered sebagai pemasok bahan baku yang melimpah dengan bahan tanah Desa Citeko yang cukup baik mutunya. Di Citeko banyak berdiri pabrik genteng dan bata dengan menyerap tenaga wanita  cukup banyak. Keberadaan Pusat Pelayanan Keramik Plered, yang berada di bawah Kadin (Kamar Dagang Indonesia) Jabar ini yang berfungsi melayani Ekspor Nasional (BPEN), banyak pengusaha Belanda datang atau membantu para pengusaha dan perajin dalam memperoleh bahan baku dan informasi tentang keramik serta pendidikan manajemen.  Tersebutlah nama pengusaha yaitu Asep Abu Bakar yang memperoleh penghargaan “Upakarti”  tahun 1989 dan sering mengikuti pameran industri kecil di dalam maupun luar negeri. Promosi-promosi produk yang dilakukan Asep tidak sia-sia dan pada tahun 1985 banyak rombongan pembeli  yang datang ke Plered. Setelah Pameran di Belanda atas prakarsa Badan Pengembangan ke daerah ini dan meminta pengiriman barang secara rutin.
PT. Asep Kwalita Keramik (AKK)  merupakan usaha patungan dengan “Asep Art Shop” dengan PT. Kwalita Eksporindo (anak perusahaan PT. Semen Cibinong). Terdapat nama Samani, seorang pekerja atau buruh keramik  sejak tahun 1953. Ia kemudian merintis sebagai pengusaha sejak tahun 1983 sampai 1985. Samani mengikuti lomba keramik internasional di Taman Mini Indonesia Indah dan berhasil menjadi juara pertama, sehingga Ia semakin terkenal dan produksi keramiknya  mengalami peningkatan drastis. Karena Samani kekurangan tenaga trampil, pada tahun 1987 mendirikan semacam kursus singkat atau sekolah keramik yang menampung pemuda putus sekolah. Anak didik Samani sebanayk 6 orang telah berhasil mendirikan usaha sendiri serta bergabung dalam “Kelompok Usaha Keramik Samani” atau KUKS. Ketika mengikuti pameran di Balai Sidang Senayan Jakarta, keramik kerajinan hasil Samani mendapatkan perhatian Wakil Presiden (ketika itu dijabat Sudarmono) dan berjanji untuk mengunjungi Plered  dan tahun 1989 terpenuhi. Samani, salah seorang produsen keramik Plered itu kemudian memperoleh penghargaan “Upakarti” dari pemerintah tahun 1990, dengan membantu masyarakat dengan sistem magang diperusahaannya. Dua orang perintis keramik Plered seperti Asep Abu Bakar dan Samani perlu dicatat perjuangannya, sehingga keramik Plered telah berubah hingga sampai sekarang ini, kerajinan tersebut pemasarannya telah meluas ke berbagai pelosok tanah air. Kerajinan Plered bentuknya cukup beragam dan banyak dipengaruhi seniman akademis dari ITB, IKJ dan para mahasiswa yang praktek kerja di daerah ini. Untuk mendukung perkeramik di Plered, pada tahun 1975 BIPIK mendirikan Unit Percontohan Keramik dan lima tahun kemudian mendirikan Unit Pelayanan Teknis, yang menyediakan bahan baku tanah liat yang telah diolah serta bahan glasir siap pakai.
  
               Di daerah  Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah,   terdapat empat pengusaha kecil kerajinan keramik yang cukup menonjol, disamping beberapa usaha kecil lainnya. Diantaranya yang terkenal adalah “Keramik Meandalai” yang terletak ditepi jalan Pertanian 17 / IV Desa Klampok sekitar 30 km ke arah barat dari kota Banjarnegara.  Perusahaan lainnya adalah PT. Keramika Banjarnegara, Usaha Karya dan Mustika. Produksi kerajinan keramik Klampok ini bentuknya beragam dari yang fungsional sampai bentuk yang hanya sebagai hiasan saja. Motif hiasan kerajinan Klampok yang banyak dipakai adalah  bunga-bungaan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan figur manusia. Yang menarik adalah dari kerajinan Klampok adalah motif-motif pewayangan dan motif-motif batik. Keramik kerajinan di daerah ini telah mengalami penyelarasan dengan budaya Indonesia asli, diman ragam hias tersebut cukup menonjol dan laku dipasaran. Di samping itu produksi keramik Klampok juga membuat motif bergaya Ming dari China, namun tiruannya sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi bentuk yang kelihatan baru.
               Kiara Condong, Bandung, adalah sentar industri rakyat yang cukup pantas untuk ditonjolkan. Tersebutlah nama kakak beradik yaitu Itong dan Pakih yang menggeluti kerajinan keramik sejak tahun 1930-an. Usaha pertamanya dimulai dari kota Garut, sekitar 60 km arah selatan kota Bandung, dengan memproduksi piring, cangkir, celengan dan wadah lainnya. Itong merasa kurang dan tidak puas dengan pekerjaannya, lalu pindah ke Bandung dan bekerja diperusahaan keramik Boscha di jalan Braga milik Kolonial Belanda. Disanalah Ia belajar sekaligus mengembangkan bakatnya. Pada tahun 1950, Itong mengajak saudaranya Pakih membuat pabrik keramik dengan modal seadanya dan diberi nama “Itong Saputra”. Dari tahun ke tahun pesanan meningkat diiringi jumlah karyawan bertambah pula. Pada akhirnya didirikanlah tempat produksi (pabrik) di kampung Sukapura, Kiara Condong. Pada tahun 1970 bertebaranlah pusat produksi Itong sebanyak 12 pabrik, dan pengelolaannya diserahkan kepada putra-putranya sebagai pucuk pimpinan secara terpisah, namun masih di bawah satu nama. Diantara ke-12 pabrik itu ada yang dikelola oleh cucu-cucu sang pendiri. Cucu Itong salah satu diantaranya bernama Didi Iskandar, sejak usia 26 tahun dipercaya untuk mengelola sebuah pabrik keramik. Bakat Didi dalam bisnis dan seni serta pengalamannya membuat banyak kemajuan-kemajuan.  Didi sering mengikuti pameran lokal, nasional maupun internasional. Keramik hias produksinya banyak dipengaruhi oleh para mahasiswa ITB yang praktek kerja ditempatnya dan juga dari para seniman di Bandung, sehingga produksinya banyak diminati atau laris, termasuk produksi barang-barang antik. Kontrak kerjasama dengan negeri Kincir Angin pun diperolehnya dan seorang pengusaha dari Belanda mempromosikan hasil produksinya. Produksi kerajinan keramik Kiara Condung sangat beragam, ada yang ala China, Jepang, Vietnam, Thailand, Khmer, Eropa dan tradisional Indonesia serta kreasi-kreasi baru. Salah satu perusahaan keramik yang juga meningkat produksinya adalah milik Nunu Iskandar, perusahaan ini mendapat dorongan secara teknis maupun desain dari mahasiswa ITB yang kerja praktek disana. 

                Perusahaan kerajinan atau industri kecil keramik yang terdapat di Kecamatan Klojen atau Dinoyo, Malang, Jawa Timur ini,  terdapat 10 perusahaan dan beberapa unit usaha kecil lainnya. Kesepuluh perusahaan keramik itu adalah “Djoko Suheri”, “Keramik Unit Betek II”, “Keramik Pendowo” atau “Rowie”, “Keramik Rakyat” atau ‘Moch. Syai’un”, “Keramik Sukardi”, “Keramik Dinoyo”, “Keramik Tanah Agung”, “Keramik Syamsuri”, ‘Keramik Loso”, dan “Keramik Ngatimun”. Sebagai daerah penghasil keramik yang cukup kondang, Dinoyo yang terletak 5 km arah barat kota Malang ini pada awal mulanya merupakan usaha kecil-kecilan yang dirintis sejak tahun 1950-an. Haji Achmad Rowie adalah perajin kawakan dari Dinoyo, yang pada tahun 1943 (Zaman Jepang) sudah membantu orang tuanya membuat keramik yang sudah berglasir. Usaha orang tua Rowie bertahan sampai tahun 1958, karena terpengaruh suasana revolusi dan meninggal. Sejak itulah pekerjaan orang tuanya diambil alih oleh Rowie beserta keempat saudaranya yang berhasil melanjutkan produksi seperti vas bunga, asbak, pot, guci dan peralatanh rumah tangga. Awal tahun 1960-an mulai tumbuh beberapa perajin di Dinoyo-Klojen. Apalagi disini pula didirikan perusahaan negara “Perindustrian Keramik Rakyat” yang memproduksi isolator listrik. Pabrik inilah yang kemudian menjal bahan mentah untuk digarap perajin hingga menjadi barang setengah jadi dan dibeli kembali oleh perusahaan negara ini untuk difinishing menjadi barang siap pakai. Namun pada tahun 1965 banyak perusahaan keramik yang gulung tikar dilanda revolusi, disamping itu sulit mendapatkan bahan bakar minyak. Usaha Rowie mulai bangkit kembali tahun 1966 sejak pemerintah RI menggelindingkan REPELITA. Sejak saat itulah angin segar membangkitkan semangat perajin dan pengusaha untuk mengembangkan usahanya. Pemerintah RI memberi  pekerjaan kepada pengusaha kerajinan di daerah ini untuk memproduksi penyimpul kawat instalasi listrik, sehingga mampu membantu perajin dalam pengembangan usaha keramik dan menghidupi para pekerja.  Perkembangan kerajinan keramik Dinoyo cukup pesat, sehingga tidak lagi tergantung kepada perusahaan negara dan berusaha mencari pangsa pasar sendiri bersaing dengan produksi pabrik industri besar. Keadaan ini tidaklah berlangsung lama, setelah sistem pelistrikan terjadi perubahan dengan tambahan bahan lain atau alat lain yang rumit dan berstandar khusus,  yang semuanya diluar jangkauan pengetahuan perajin Dinoyo. Maka dengan adanya kenyataan seperti itu, pada akhirnya banyak pengusaha mengalihkan jenis produksi dari isolator ke jenis keramik hias. Dengan perubahan-perubahan jenis produksi inilah kemudian Departemen Perindustrian mendirikan Unit Pelayanan Teknis (UPT) pada tahun 1979 dengan biaya sekitar 2 milyar rupiah bantuan Bank Dunia. Proyek Sarana Peningkatan dan Pengembangan Industri Keramik (PSP2IK) ini dilengkapi oleh mesin-mesin pengolah buatan Perancis. Tujuan UPT ini adalah untuk meningkatkan produksi keramik; Mengatasi kondisi pasok bahan baku yang tidak menentu; Melaksanakan pendidikan dan latihan; Pembinaan perajin dan meningkatkan struktur industri terkait dari yang kecil,menengah dan besar.  Produksi keramik Dinoyo selain bentuk yang sudah umum, juga meniru keramik gaya China dan menggabungkannya denga gaya Eropa terutama dengan gaya Delf (Belanda), yaitu hiasan warna biru, hijau dan coklat. Pasaran keramik Dinoyo adalah kota-kota besar di Indonesia sampai keluar negeri seperti Australia, Belanda, Singapura dan Jepang. Kini yang menjadi keluhan perajin adalah sempitnya lahan, dilarang menambah tungku (oven) minyak yang berdekatan dengan perumahan penduduk yang menyebabkan polusi udara. Tungku gas atau listrik belum banyak dikenal perajin sebagai salah satu usaha mengurangi polusi udara. Sementara permintaan terus mengalir dan mereka terdesak oleh pengembangan kampus Universitas Brawijaya dan proyek perumahan. UPTK memproduksi bahan baku keramik sebanyak 6o ton, dan hanya 20 ton yang terserap perajin, selebihnya dibeli oleh perajin dari daerah lain seperti Bali, jateng, Manado, Lombok dan Bandung. Permintaan terus meningkat dan memproduksi bahan lebih dari 300 ton perbulannya. Hanya perusahaan seperti yang dipimpin Rowie yaitu “Pendowo” dan perusahaan “Tanah Agung” yang dipimpin Ngadiman yang masih memanfaatkan hasil UPTK, selain itu para pengusaha mengolah sendiri bahan-bahan bakunya.

            Daerah penghasil gerabah yang menonjol di Bali adalah Pejaten  di Kabupaten Tabanan; Pering, Prangsada dan Bedulu di Kabupaten Gianyar; Tojan di Kabupaten Klungkung; Jasi dan Subagan di Kabupetan Karangasem; Bunutin di Kabupaten Bangli; Banyuning di Kabupaten Buleleng; Banyubiru dan Melaya di Kabupaten Jembrana dan Kapal dan Binoh di Kodya Denpasar. Berlangsungnya pembuatan gerabah tradisi di Bali ini karena diperlukan sebagai sarana peribadatan agama Hindu. Barang-barang gerabah dari tanah liat ini tidak dapat digantikan dengan bahan lain seperti plastik, alumunium, seng dan lainnya kecuali oleh emas, terutama dalam upacara ngaben dimana barang gerabah akan dipecahkan dalam upacara tersebut. Menurut beberapa sumber pendeta Hindu, dikatakan bahwa “gerabah” mengandung unsur-unsur seperti tanah, air dan api, yang bermakna bahwa manusia berasal dari tanah dan hidup dengan air dan matinya dibakar dengan api (ngaben). Disamping itu patung gerabah diperlukan untuk pemujaan yang diungkapkan melalui tokoh-tokoh pewayangan, dewa-dewi dan tokoh-tokoh sakti lainnya. Juga keperluan rumah tangga sehari-hari masih diperlukan seperti gentong atau Jedding, payuk (periuk), coblong (mangkuk), Caratan (kendi), dulang  (tempat buah/sesajen). Sentra-sentra pembuatan gerabah di Bali sebanyak 27 lokasi. Yang menarik dari cara pembuatan gerabah tradisional di Bali, seolah-olah perajin menari-nari dalam mengendalikan gumpalan tanah yang yang tidak senter ditengah-tengah atau pada as-nya dan diputar melalui goyangan perut atau paha. Teknik yang diperkirakan peninggalan masa lalu itu (pra-sejarah) hanya dilakukan oleh wanita tua yang lanjut usianya, dan bagi kaum muda hal tersebut sudah ditinggalkan.
Keramik Kerajinan sudah lebih cukup maju di Bali, terdapat di sentra-sentra produksi seperti di Kabupaten Tabanan sebanyak 21 perusahaan yang berada di daerah Pejaten ; Kabupaten Badung ada sekitar 19 usaha di daerah Kapal;  Kabupaten Buleleng  ada 5 pengusaha di daerah Banyuning; Kabupaten Gianyar ada 15 pengusaha di Ubud, Blahbatuh dan Bedulu; Kabupaten Karangasem terdapat 10 pengusaha yang berada di daerah Jasi  dan  Kodya Denpasar terdapat 15 pengusaha  yang tersebar di dalam Kota. Perusahaan kerajinan keramik tersebut diantaranya adalah  “Jati Agung” , CV. Bali Permata, PT. Jenggala Keramik, CV. Bali Keramik , UD. Merta sedana, UD.  Trinadi, “Tantri Keramik”, CV. Keramik Pejaten,  UD. Sadia, PT. Bali Moon, UD. Pertiwi  UD. Meryri Ceramic, UD. Alus, UD. Indah Karya, Calu’X Ceramics, CV. Cicak atau Studio Keramik “Cik Cak”, “Keramik Beji”, “Bali Pot Ceramic”, “Tana Mera”, “Mangku Banyuning” , “Keramik Binoh” dan masih banyak lagi yang lainnya.
 Perajin seperti Made Tegeg yang akrab dipanggil Pan Sadia, adalah perajin berasal dari Basangtamiang, Kelurahan Kapal, Badung, telah memegang sertifikat penghargaan Gubernur Bali, Prof. DR. Ida Bagus Mantra dan “Upakarti”, atas usahanya memajukan keramik tradisional. Perajin yang cukup kondang lainnya di Pejaten adalah I Wayan Kuturan, bertempat tinggal di Banjar Pangkung, Kecamatan Kediri, Tabanan, tepatnya 10 km kearah selatan dari Kecamatan Kediri. Pria lulusan SD tahun 1966, sejak kecil sudah menekuni pembuatan keramik tradisional yaitu pembuatan patung yang diterapkan dipuncak bangunan suci (Kelentingan) dan peralatan upacara dari leluhurnya.  Dimulai tahun 1963, sepulang sekalah ia membantu keluarganya membuat peralatan upacara sambil membuat sesuatu yang baru berupa patung manusia khas Bali yang dibuat sederhana agak lucu memenuhi sudut-sudut rumahnya. Suatu ketika kedatangan seorang pelukis bernama Kay It, turut berkecimpung dalam pembuatan seni kerajinan gerabah, memberikan banyak inspirasi dan masukan berharga bagi Kuturan, dimana proporsi dan aksen artistik mulai diterapkan. Kay It turut membantu pemasaran dan akhirnya gaya “kuturan” 2005 lalu kuturan memperoleh penghargan “Anugrah Riset Kebangkitan Tenologi” dari pemerintah Republik Indonesia (lihat Kliping Bali Post, 3-9-2005).menjadi tradisi masyarakat sekitarnya, ditiru oleh perajin yang disebut sebagai “gaya Kuturan”, yang banyak dimanfaatkan sebagai pelengkap taman (eksterior) di hotel-hotel di Bali. Banyak wisatawan membelinya dan sebagai komoditi ekspor, seperti ke Australia, New Zeland, Belanda, Italia, Jerman, Inggris dan Perancis.
Produksi keramik Bali ada berbentuk barang kebutuhan rumah tangga, peralatan makan-minum untuk Hotel dan Restoran, keperluan eksterior dan bangunan serta pertamanan, hiasan, patung, wadah-wadah, cenderamata, aksesories dan keperluan ekspor.
Gerabah Bali mengalami “booming” pada tahun 1980 sanpai dengan 1990-an, sehingga pemerintah merintis pembentukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin Bali (P3SKP). Benda hias dan cenderamata menjadi andalan karena menunjang pariwisata. Banyak memanfaatkan hiasan tradisional Bali dan mereka sadar menjual nama Bali dan yang sedang nge-trend di mancanegara yaitu dengan menempelkan “trade mark Bali” hasil produksinya sampai dikenal di luar negeri. Lukisan gaya Ubud dan Batuan serta ukiran khas Bali banyak menghiasi piring dan bentuk-bentuk wadah lainnya, seperti guci, gentong, vas dan lainnya.  Para perajin dan usaha kecil kerajinan keramik di Bali banyak memperoleh bantuan dan bimbingan serta latihan menyangkut teknologi keramik, desain dan proses pengembangan usaha dari BPPT-UPT PSTKP Bali, PT. Sucofindo, PSSRD Universitas Udayana, Deperindag Bali, Dekranas Bali dan Instansi lainnya.
Desa Pejaten pernah memperoleh bantuan yang bersifat kemanusiaan dan tidak mengikat dari Belanda yang dikenal dengan Humanistic Institute for Co Operation With Developing  Countries.  Pemerintah Belanda juga memdrop peralatan keramik bakaran madya yang dibelikan di Singapura sebanyak 11 unit lengkap dengan tungku dan seorang tenaga ahli keramik kebangsaan Belanda yang bernama Hester Tjebes untuk membina perajin Pejaten. Sebanyak 43 orang dididik yang tergabung dalam Koperasi Keramik Pejaten, terutama menyangkut pembuatan dan pengolahan bahan, teknik pembentukan, teknik pembakaran, pembuatan glasir, pembuatan desain, dan segala sesuatu menyangkut produksi dan manajemen. 
            I Made Tantri, perintis pengusaha keramik dari Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan-Bali, yang juga memiliki Show Room  “Legong Bali” di Bona Indah Garden Blok A2/1 Jakarta Selatan ini, pada tanggal 10 Desember tahun 1986 lalu memperoleh Penghargaan dari Presiden RI berupa “Upakarti” atas usahanya memajukan kerajinan keramik tradisional. Karya-karya yang terhimpun dalam Koperasi yang dipimpinnya banyak yang dipamerkan dan  diekspor ke negara-negara Eropa dengan menonjolkan dekorasi motif tradisional yang telah diglasir. 

            Desa Kasongan terletak 7 km dari pusat kota Yogyakarta. Gerabah Kasongan sampai tahun 1969, masih mengikuti pola lama, seperti membuat anglo, pot, jembangan, celengan dan alat rumah tangga pada umumnya dipedesaan. Sejak tahun 1970-an mendapat perhatian masyarakat disekitarnya, penyuluhan dan latihan datang dari para seniman dan akademisi. Akhirnya keramik kerajinan Kasongan tidak asing lagi karena bentuk dan hiasannya terlihat sangat khas, juga produknya telah banyak tersebar dan terjual di berbagai daerah kota besar. Desa Kasongan yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini sudah menjadi Desa Pariwisata dimana hasil keramik daerah ini dengan memanfaatkan peralatan sederhana  memiliki ciri khas  tersendiri  dan sudah ada yang diekspor. Pada awal mulanya daerah ini sama dengan daerah lainnya memproduksi keramik tradisi berupa peralatan rumah tangga sederhana seperti kendi, celengan, pot, gentong, periuk dan lainnya. Kemudian mengalami perubahan setelah banyak mahasiswa ASRI dan para seniman hadir disana membuat karya seni. Yang mendorong perkembangan keramik Kasongan secara perorangan adalah Seniman (Pelukis) seperti Sapto Hudoyo yaitu memesan barang keramik  dengan membawa contoh gambar / lukisan kuda, yang dibawanya pertama kali yang diterapkan dengan teknik ukir-tempel, sehingga  menjadi corak atau gaya keramik kasongan seperti sekarang ini, menjadi tradisi masyarakatnya.Bentuk patung keramik yang khas tersebut berupa binatang gajah, ular naga, kambing, garuda, kuda, kodok, singa, angsa dan gabungan bentuk-bentuk binatang. Yang tak kalah berarti lagi pada tahun 1970-an adalah seorang pengusaha tanaman hias yang kebetulan seorang peneliti (akademisi) yaitu Ir. Suliantoro Sulaiman banyak memesan jenis pot hias bersama perkumpulannya yaitu Mayangsari  untuk dipromosikan, sehingga turut andil dalam memajukan kerajinan didaerah ini, di samping membantu penelitian tanah liat yang lebih baik untuk dimanfaatkan perajin. Bimbingan dan latihan dari lembaga terkait juga sering dilakukan, baik dari perguruan tinggi seni (ASRI waktu itu) tentang desain maupun Departemen Perindustrian DIY. Banyak turis asing yang berdatangan ke Kasongan dan produk-produknya dipasarkan dikota-kota besar di Indonesia. Bahkan menjadi komoditi ekspor seperti ke Amerika, Perancis, Balanda, Australia, Jepang, Philipina dan Singapura. Konon yang terbesar pesanan dari Australia dan Jepang. Pada akhir-akhir ini ada yang berbentuk primitif, seperti asmat atau agak abstrak dan berkesan aneh. Perajin seperti Temu, Tarji, Buang, Manto, Sunar, Hartono dan lainnya berusaha untuk peka terhadap selera pasar dan siap berinovasi sesuai dengan selera, juga siap menerima pesanan sebagai “seni ladenan”. Sekitar 250 lebih terdapat unit usaha di daerah ini. Di daerah Kasongan hampir sebagaian besar penduduknya kemudian menjadi perajin keramik, ada yg jadi tukang dan pengusaha keramik.

         Desa Tegowanuh berada di daerah Temanggung, Jawa tengah, suatu daerah yang agak terpencil, sekitar 5 km dari pinggiran kota. Daerah ini menghasilkan gerabah jembangan, kuali, kendi (ada yang 3 corot), pot bunga dan bentuk peralatan rumah tangga lainnya.
dan Wahono yang telah mengikuti pendidikan di Bentuk gerabah sedikit banyak memperoleh pengaruh dari keramik Kasongan. Selain itu banyak memperoleh bimbingan Sapto Hudoyo secara khusus, namun masih terdapat banyak kendala untuk mengembangkannya, baik secara teknis maupun permodalan. Masih di Temanggung, ada pula gerabah hasil produksi Desa Kundisari, Kecamatan Kedu, yang sama dengan yang ada di Tegowanuh. Perajin gerabah yang aktif adalah Suwandi Maguwoharjo Yogyakarta  yanitu membuat keramik hiasan. Kundisari memperoleh bantuan tungku dari Departemen Perindustrian, disini terdapat 75 unit usaha, namun pemasaran belum mulus hanya konsumsi lokal saja.

            Di daerah  Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah,   terdapat empat pengusaha kecil kerajinan keramik yang cukup menonjol, disamping beberapa usaha kecil lainnya. Diantaranya yang terkenal adalah “Keramik Meandalai” yang terletak ditepi jalan Pertanian 17 / IV Desa Klampok sekitar 30 km ke arah barat daria kota Banjarnegara.  Perusahaan lainnya adalah PT. Keramika Banjarnegara, Usaha Karya dan Mustika. Produksi kerajinan keramik Klampok ini bentuknya beragam dari yang fungsional sampai bentuk yang hanya sebagai hiasan saja. Motif hiasan kerajinan Klampok yang banyak dipakai adalah  bunga-bungaan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan figur manusia. Yang menarik adalah dari kerajinan Klampok adlah motif-motif pewayangan dan motif-motif batik. Keramik kerajinan di daerah ini telah mengalami penyelarasan dengan budaya Indonesia asli, diman ragam hias tersebut cukup menonjol dan laku dipasaran. Di samping itu produksi keramik Klampok juga membuat motif bergaya Ming dari China, namun tiruannya sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi bentuk yang kelihatan baru.

         Bali Post 3-9-2005

  Sentra kerajinan keramik di Lombok Timur berada di Desa Masbagik terdapat 10 pengusaha, lalu Lombok Tengah berada di Desa Penujak sekitar 15 pengusaha dan Lombok Barat di Desa Banyumulek sebanyak 25 pengusaha. Banyumulek sebagai pusat kerajinan  gerabah  sudah kondang, diperkirakan kegiatan tersebut dimulai tahun 1860 (Alit, dkk, 1983). Keramik Lombok dikenal juga sebagai “Tembikar Sasak” dan sebutan daerah yaitu “Pemongkag” ini menjadi bagian penting dari kegiatan ritual masyarakat Sasak.Pada awalnya penduduk Banyumulek membuat gentong tempat air, periuk untuk menanak nasi dan tepak (bubungan rumah). Seorang bernama Rachmat membuat desain baru dan banyak penggemarnya sehingga pada tahun 1981, Pemerintah Selandian Baru menjadi pelopor pemberi dana pelaksanaan Pengembangan Kawasan Terpadu (PKT) dan    Pulau Lombok memilki sentra-sentra kerajinan keramik yang tersebar di tiga Banyumulek menjadi Prioritas dengan bantuan sebesar 235 juta rupiah, belasan juta diantaranya menjadi dana program khusus pengembangan gerabah. Kemudian Kanwil Perindustrian melatih sekitar 440 orang perajin, dengan penekanan pada mutu artistik. Proyek Kawasan Terpadu dari pemerintah pada tahun 1984 yang bekerjasama dengan pemerintah Selandia Baru, mendatangkan ahli dari Selandia Baru yang bernama Peter dan Jean. Mereka berdua melakukan pembinaan dan pelatihan kepada perajin bersama Departemen Perindustrian, lalu mengadakan studi banding ke Kasongan dan Plered serta Bali, untuk memacu perkembangan desain yang laku dipasaran, baik konsumsi dalam negeri maupun luar negeri, yang pemasaran keramik Lombok dibantu oleh Selandia Baru. Masing-masing daerah di Lombok memilki ciri tersendiri, seperti Masbagik memanfaatkan dekorasi toreh dan motif geometris  serta penggunaan kerang laut yang dimasukkan ke badan gerabah sebagai motif hias yang umumnya disebut “cukli”. Untuk  daerah Penujak ada dikenal bentuk cerek atau kendi yang disebut “ceret maling”. Disebut demikian karena lubang untuk memasukkan air berada di bawah sehingga tidak terlihat. Sedangkan daerah Banyumulek yang sebagian besar penduduknya menjadikan sebagai pekerjaan pokok yang sbelumnya sebagai usaha sampingan, menghasilkan bentuk-bentuk dan dekorasi yang lebih bervariasi serta banyak yang dipasarkan di Bali untuk difinishing keperluan diekspor. Rachmat bersama teman-temannya membuat desain tempat tisue dan pulpen, asbak, hiasan ruangan dengan ciri khas rajutan rotan untuk melapisi gerabah. Rajutan khas lainnya adalah dengan pohon “ketak” ini berukuran kecil hingga gentong raksasa. Gentong raksasa ini banyak digemari masyarakat dan dipajang di Hotel-hotel, baik yang polos maupun dengan rajutan. Pemerintah Swedia juga pernah bekerjasama dengan perajin Lombok. Pemasarannya banyak melalui Bali untuk ekspor. Ekspor langsung perdana oleh PT. Kujang Sekarbale dengan tujuan Kalifornia. PT. Kujang menjadi “Bapak Angkat” perajin gerabah sejak tahun 1981. Para perajin Banyumulek menghimpun diri di Kopinkra Selapu Ngepe. Hiasan tempel Keramik Banyumulek banyak merupakan simbol-simbol stilasi seperti bulan, matahari, padi, lumbung dan sebagainya. Lalu patung-patung terracota bermotif manusia untuk Otak Bale ( dekorasi atap rumah). Peniruan gerabah motif Mexico dan Selandia Baru serta motif primitif juga banyak ditemui di daerah ini.

           Gerabah Mayong, Jepara, Jawa tengah ini masih bersifat tradisional sekali. Terdapat 300 unit usaha gerabah seperti yang dihasilkan Kundisari. Namun di daerah ini juga menghasilkan keramik barang-barang “remitan” atau benda keramik berukuran kecil dan unik, benda khusus pesanan dan ada yang diekspor ke Perancis. Penampilan gaya ukiran Jeparadimulai pada tahun 1980-an dan mendominasi keramik Mayong. Pembinaan keramik Mayong tidaka lepas dari perguruan tinggi sperti IKIP Semarang Jurusan seni Rupa. Akademisi yang langsung terjun ke daerah ini adalah Drs. Punthadi, Dra. Sri Iswidayati, Drs. Triyanto dan Drs. Dewa Made K, mengabdikan diri dari tahun 1985 untuk mengangkat kehancuran produksi. Hampir semua aspek yang menjadi kelemahan keramik tradisional Mayong digarap, baik bahan baku, desain, bentuk, dekorasi dan manajemen. Pusat Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Bandung, turut berperan dalam mengentaskan  keramik Mayong dan memberikan bantuan teknik dan dana. Bahkan Menteri Sosial juga memberi bantuan sebuah tungku keramik bakaran tinggi, Pemerintah daerah membantu perajin dengan mengadakan pameran-pameran. Perajin yang aktif mengembangkan desain adalah Sardi, Murti dan Suharto. Dekorasi untuk atap (bubungan atau wuwungan) bangunan diberi hiasan dari pecahan beling atau porselin yang mengikuti motif yang ada.





Email: goesmul@gmail.com  / Hidup dan Seni / blogspot.goesmul.com / agusmulyadiutomo@yahoo.co.id










Hasil Kerajinan dan Industri Kecil Keramik di IndonesiaHasil Kerajinan dan Industri Kecil Keramik

              
Hasil Kerajinan dan Industri Kecil Keramik Indonesia
oleh Agus Mulyadi Utomo

                Keramik industri yang bukan padat modal, pada mulanya berangkat dari usaha kecil kerajinan atau industri rumah tangga, seperti di Singkawang- Kalimantan Barat, di Plered - Jawa Barat, di Dinoyo - Malang-Jawa Timur, di Klampok-Jawa Tengah, di Kapal dan Pejaten - Tabanan-Bali, di Kayu agung -Palembang, di Manatuto-Timtim, di Tegowanuh-JawaTengah, di Banyumulek–Lombok-NTB, Bima-NTB, Mayong-Jepara dan lain sebagainya. Pada umumnya industri kecil dan menengah tersebut memproduksi barang-barang gerabah, stoneware dan porselin. Ada yang mengambil bentuk  flora-fauna dan tradisional  seperti batik-batikan, tumpal, pilin berganda, primitif, ukir-ukiran, swastika, kaligrafi, pepatran, legenda, ceritra rakyat dan pewayangan atau meniru bentuk-bentuk keramik asing seperti dari China, Jepang, Philipina, Vietnam, Belanda, Maxico dan Eropa lainnya.
  
                Singkawang merupakan lokasi perkeramikan terbesar di Kalimantan Barat, selain di Siantan. Di Singkawang terdapat tujuh perusahaan, namun yang aktif empat saja dan yang lainnya tenggelam karena kongkurensi kongkurensi dalam dunia usaha. Desa Sa Liung, Kecamatan Sedau, Singkawang sekitar 140 km sebelah utara dari Pontianak sudah lama dikenal sebagai pabrik keramik antik gaya China. Tungku yang dipergunakan adalah tungku “Naga”, sama seperti yang dilakukan pada abad ke-16 di Daratan China. Menurut cerita yang berkembang,  di daerah ini sudah mulai produksi pada abad ke-17 saat imigran China menetap di Kalimantan yang datang dari Guangdong, Fujian, Juangsu China Selatan. Selain membawa keramik jadi juga imigran ini membawa ketrampilan mengolah bahan keramik dan mewujudkannya. Sekarang keturunan imigran ini masih ada yang berkutat dengan tungku “Naga”.  Desa Sakok atau Tanjung Batu, kurang lebih 7 km sebelah timur laut Singkawang, terdapat tungku “Naga” atau Dragon Kiln yang didirikan tahun 1935 dan mengalami beberapakali perombakan dan perbaikan. Seperti halnya di Sa Liung atau Padang Pasir, Sakok, memproduksi tiruan keramik kuno gaya China, tempayan atau martaban, mangkuk, jembangan dan guci yang bergaya Ming. Salah satu pemilik perusahaan  yang bernama Ten  Sen Siur, bertempat tinggal di Jalan Pasar Ikan 158 Singkawang. selain di Siantan. Di Singkawang terdapat tujuh perusahaan, namun yang aktif empat saja dan yang lainnya tenggelam. Di Singkawang juga memproduksi pot, vas bunga, piring, serta bentuk tokoh yang mereka keramatkan berupa patung Kung-Tse. Hiasan naga dan bentuk awan sedikit stilistis sampai bentuk meander dengan teknik under-glaze. Keramik antik gaya China produksi Singkawang yang mirip dengan aslinya banyak di ekspor ke Hongkong, Singapura dan Eropa atas permintaan jaringan perdagangan barang antik. Disamping keluar negeri, pasarannya juga di kota-kota besar dalam negeri.

 Keramik Singkawang Terdesak China

Keramik Singkawang Terdesak China

SINGKAWANG, KOMPAS - Dalam setahun terakhir, kerajinan keramik Singkawang, Kalimantan Barat, terpuruk karena tidak bisa bersaing dengan produk sejenis dari China. Padahal, kerajinan Keramik Singkawang pernah menjadi produk ekspor ke Malaysia dan Filipina. Para perajin di sentra kerajinan keramik yang terpusat di Kelurahan Sedau, Singkawang Selatan, itu umumnya sudah tidak berproduksi lagi. Hari Selasa (1/3, 2011), para perajin tinggal memajang sisa keramik yang belum terjual. Alan (40), pemilik sentra usaha keramik Dinamis mengatakan, penurunan produksi terus terjadi dalam empat tahun terakhir akibat sepinya permintaan. ”Jangankan untuk ekspor, untuk masuk ke pasar lokal Kalimantan saja sekarang sulit. Tak ada pilihan selain menghentikan produksi,” tuturnya. Kerajinan keramik Singkawang umumnya berwujud tempayan, pot, dan berbagai suvenir. Kerajinan keramik Singkawang memiliki motif yang khas, didominasi naga. Harga kerajinan keramik Singkawang bervariasi, mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 3 juta per satuan. Ketika permintaan masih bagus, selain diekspor, kerajinan keramik Singkawang juga dipasok ke Pontianak, Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, hingga ke Banjarmasin di Kalimantan Selatan. ”Sejak ekspor turun, kami berusaha menjaga pasar lokal. Namun, setiap kali kami menanyakan kepada pemilik galeri di beberapa kota di Kalimantan, mereka selalu menjawab bahwa sekarang sulit sekali menjual kerajinan keramik Singkawang,” papar Alan. Alan menduga konsumen lebih menyukai produk China yang lebih halus. ”Kerajinan keramik Singkawang dibuat secara tradisional sehingga hasilnya berbeda dengan produksi China,” kata Alan. Semoi (50), pemilik sentra kerajinan keramik Sinar Terang, mengaku sama sekali tidak memproduksi kerajinan keramik Singkawang sejak tiga bulan lalu. ”Walaupun permintaan sedikit, saya tetap berusaha memproduksi kerajinan keramik. Apalagi, ada empat karyawan yang sudah lama bekerja. Namun, belakangan bahan baku tanah yang bagus makin sulit diperoleh. Kalaupun ada, keramik mudah pecah,” ungkapnya.
              
      Plered terletak daerah Purwakarta,  Jawa Barat, memang tidak asing lagi bagi penggemar keramik hias di tanah air. Salah satu perusahaan yang dipimpin Asep Abu Bakar dari PT. Asep Kwalita Keramik (AKK), mempunyai potensi besar dan telah masuk persaingan pasar Dunia. Perusahaan ini mengandalkan corak dan desain yang baru dan terus-menerus dikembangkan, dengan telah diakuinya daerah Plered sebagai pemasok bahan baku yang melimpah dengan bahan tanah Desa Citeko yang cukup baik mutunya. Di Citeko banyak berdiri pabrik genteng dan bata dengan menyerap tenaga wanita  cukup banyak. Keberadaan Pusat Pelayanan Keramik Plered, yang berada di bawah Kadin (Kamar Dagang Indonesia) Jabar ini yang berfungsi melayani Ekspor Nasional (BPEN), banyak pengusaha Belanda datang atau membantu para pengusaha dan perajin dalam memperoleh bahan baku dan informasi tentang keramik serta pendidikan manajemen.  Tersebutlah nama pengusaha yaitu Asep Abu Bakar yang memperoleh penghargaan “Upakarti”  tahun 1989 dan sering mengikuti pameran industri kecil di dalam maupun luar negeri. Promosi-promosi produk yang dilakukan Asep tidak sia-sia dan pada tahun 1985 banyak rombongan pembeli  yang datang ke Plered. Setelah Pameran di Belanda atas prakarsa Badan Pengembangan ke daerah ini dan meminta pengiriman barang secara rutin. PT. Asep Kwalita Keramik (AKK)  merupakan usaha patungan dengan “Asep Art Shop” dengan PT. Kwalita Eksporindo (anak perusahaan PT. Semen Cibinong). Terdapat nama Samani, seorang pekerja atau buruh keramik  sejak tahun 1953. Ia kemudian merintis sebagai pengusaha sejak tahun 1983 sampai 1985. Samani mengikuti lomba keramik internasional di Taman Mini Indonesia Indah dan berhasil menjadi juara pertama, sehingga Ia semakin terkenal dan produksi keramiknya  mengalami peningkatan drastis. Karena Samani kekurangan tenaga trampil, pada tahun 1987 mendirikan semacam kursus singkat atau sekolah keramik yang menampung pemuda putus sekolah. Anak didik Samani sebanayk 6 orang telah berhasil mendirikan usaha sendiri serta bergabung dalam “Kelompok Usaha Keramik Samani” atau KUKS. Ketika mengikuti pameran di Balai Sidang Senayan Jakarta, keramik kerajinan hasil Samani mendapatkan perhatian Wakil Presiden (ketika itu dijabat Sudarmono) dan berjanji untuk mengunjungi Plered  dan tahun 1989 terpenuhi. Samani, salah seorang produsen keramik Plered itu kemudian memperoleh penghargaan “Upakarti” dari pemerintah tahun 1990, dengan membantu masyarakat dengan sistem magang diperusahaannya. Dua orang perintis keramik Plered seperti Asep Abu Bakar dan Samani perlu dicatat perjuangannya, sehingga keramik Plered telah berubah hingga sampai sekarang ini, kerajinan tersebut pemasarannya telah meluas ke berbagai pelosok tanah air. Kerajinan Plered bentuknya cukup beragam dan banyak dipengaruhi seniman akademis dari ITB, IKJ dan para mahasiswa yang praktek kerja di daerah ini. Untuk mendukung perkeramik di Plered, pada tahun 1975 BIPIK mendirikan Unit Percontohan Keramik dan lima tahun kemudian mendirikan Unit Pelayanan Teknis, yang menyediakan bahan baku tanah liat yang telah diolah serta bahan glasir siap pakai.
  
               Di daerah  Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah,   terdapat empat pengusaha kecil kerajinan keramik yang cukup menonjol, disamping beberapa usaha kecil lainnya. Diantaranya yang terkenal adalah “Keramik Meandalai” yang terletak ditepi jalan Pertanian 17 / IV Desa Klampok sekitar 30 km ke arah barat dari kota Banjarnegara.  Perusahaan lainnya adalah PT. Keramika Banjarnegara, Usaha Karya dan Mustika. Produksi kerajinan keramik Klampok ini bentuknya beragam dari yang fungsional sampai bentuk yang hanya sebagai hiasan saja. Motif hiasan kerajinan Klampok yang banyak dipakai adalah  bunga-bungaan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan figur manusia. Yang menarik adalah dari kerajinan Klampok adalah motif-motif pewayangan dan motif-motif batik. Keramik kerajinan di daerah ini telah mengalami penyelarasan dengan budaya Indonesia asli, diman ragam hias tersebut cukup menonjol dan laku dipasaran. Di samping itu produksi keramik Klampok juga membuat motif bergaya Ming dari China, namun tiruannya sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi bentuk yang kelihatan baru.
               Kiara Condong, Bandung, adalah sentar industri rakyat yang cukup pantas untuk ditonjolkan. Tersebutlah nama kakak beradik yaitu Itong dan Pakih yang menggeluti kerajinan keramik sejak tahun 1930-an. Usaha pertamanya dimulai dari kota Garut, sekitar 60 km arah selatan kota Bandung, dengan memproduksi piring, cangkir, celengan dan wadah lainnya. Itong merasa kurang dan tidak puas dengan pekerjaannya, lalu pindah ke Bandung dan bekerja diperusahaan keramik Boscha di jalan Braga milik Kolonial Belanda. Disanalah Ia belajar sekaligus mengembangkan bakatnya. Pada tahun 1950, Itong mengajak saudaranya Pakih membuat pabrik keramik dengan modal seadanya dan diberi nama “Itong Saputra”. Dari tahun ke tahun pesanan meningkat diiringi jumlah karyawan bertambah pula. Pada akhirnya didirikanlah tempat produksi (pabrik) di kampung Sukapura, Kiara Condong. Pada tahun 1970 bertebaranlah pusat produksi Itong sebanyak 12 pabrik, dan pengelolaannya diserahkan kepada putra-putranya sebagai pucuk pimpinan secara terpisah, namun masih di bawah satu nama. Diantara ke-12 pabrik itu ada yang dikelola oleh cucu-cucu sang pendiri. Cucu Itong salah satu diantaranya bernama Didi Iskandar, sejak usia 26 tahun dipercaya untuk mengelola sebuah pabrik keramik. Bakat Didi dalam bisnis dan seni serta pengalamannya membuat banyak kemajuan-kemajuan.  Didi sering mengikuti pameran lokal, nasional maupun internasional. Keramik hias produksinya banyak dipengaruhi oleh para mahasiswa ITB yang praktek kerja ditempatnya dan juga dari para seniman di Bandung, sehingga produksinya banyak diminati atau laris, termasuk produksi barang-barang antik. Kontrak kerjasama dengan negeri Kincir Angin pun diperolehnya dan seorang pengusaha dari Belanda mempromosikan hasil produksinya. Produksi kerajinan keramik Kiara Condung sangat beragam, ada yang ala China, Jepang, Vietnam, Thailand, Khmer, Eropa dan tradisional Indonesia serta kreasi-kreasi baru. Salah satu perusahaan keramik yang juga meningkat produksinya adalah milik Nunu Iskandar, perusahaan ini mendapat dorongan secara teknis maupun desain dari mahasiswa ITB yang kerja praktek disana. 

                Perusahaan kerajinan atau industri kecil keramik yang terdapat di Kecamatan Klojen atau Dinoyo, Malang, Jawa Timur ini,  terdapat 10 perusahaan dan beberapa unit usaha kecil lainnya. Kesepuluh perusahaan keramik itu adalah “Djoko Suheri”, “Keramik Unit Betek II”, “Keramik Pendowo” atau “Rowie”, “Keramik Rakyat” atau ‘Moch. Syai’un”, “Keramik Sukardi”, “Keramik Dinoyo”, “Keramik Tanah Agung”, “Keramik Syamsuri”, ‘Keramik Loso”, dan “Keramik Ngatimun”. Sebagai daerah penghasil keramik yang cukup kondang, Dinoyo yang terletak 5 km arah barat kota Malang ini pada awal mulanya merupakan usaha kecil-kecilan yang dirintis sejak tahun 1950-an. Haji Achmad Rowie adalah perajin kawakan dari Dinoyo, yang pada tahun 1943 (Zaman Jepang) sudah membantu orang tuanya membuat keramik yang sudah berglasir. Usaha orang tua Rowie bertahan sampai tahun 1958, karena terpengaruh suasana revolusi dan meninggal. Sejak itulah pekerjaan orang tuanya diambil alih oleh Rowie beserta keempat saudaranya yang berhasil melanjutkan produksi seperti vas bunga, asbak, pot, guci dan peralatanh rumah tangga. Awal tahun 1960-an mulai tumbuh beberapa perajin di Dinoyo-Klojen. Apalagi disini pula didirikan perusahaan negara “Perindustrian Keramik Rakyat” yang memproduksi isolator listrik. Pabrik inilah yang kemudian menjal bahan mentah untuk digarap perajin hingga menjadi barang setengah jadi dan dibeli kembali oleh perusahaan negara ini untuk difinishing menjadi barang siap pakai. Namun pada tahun 1965 banyak perusahaan keramik yang gulung tikar dilanda revolusi, disamping itu sulit mendapatkan bahan bakar minyak. Usaha Rowie mulai bangkit kembali tahun 1966 sejak pemerintah RI menggelindingkan REPELITA. Sejak saat itulah angin segar membangkitkan semangat perajin dan pengusaha untuk mengembangkan usahanya. Pemerintah RI memberi  pekerjaan kepada pengusaha kerajinan di daerah ini untuk memproduksi penyimpul kawat instalasi listrik, sehingga mampu membantu perajin dalam pengembangan usaha keramik dan menghidupi para pekerja.  Perkembangan kerajinan keramik Dinoyo cukup pesat, sehingga tidak lagi tergantung kepada perusahaan negara dan berusaha mencari pangsa pasar sendiri bersaing dengan produksi pabrik industri besar. Keadaan ini tidaklah berlangsung lama, setelah sistem pelistrikan terjadi perubahan dengan tambahan bahan lain atau alat lain yang rumit dan berstandar khusus,  yang semuanya diluar jangkauan pengetahuan perajin Dinoyo. Maka dengan adanya kenyataan seperti itu, pada akhirnya banyak pengusaha mengalihkan jenis produksi dari isolator ke jenis keramik hias. Dengan perubahan-perubahan jenis produksi inilah kemudian Departemen Perindustrian mendirikan Unit Pelayanan Teknis (UPT) pada tahun 1979 dengan biaya sekitar 2 milyar rupiah bantuan Bank Dunia. Proyek Sarana Peningkatan dan Pengembangan Industri Keramik (PSP2IK) ini dilengkapi oleh mesin-mesin pengolah buatan Perancis. Tujuan UPT ini adalah untuk meningkatkan produksi keramik; Mengatasi kondisi pasok bahan baku yang tidak menentu; Melaksanakan pendidikan dan latihan; Pembinaan perajin dan meningkatkan struktur industri terkait dari yang kecil,menengah dan besar.  Produksi keramik Dinoyo selain bentuk yang sudah umum, juga meniru keramik gaya China dan menggabungkannya denga gaya Eropa terutama dengan gaya Delf (Belanda), yaitu hiasan warna biru, hijau dan coklat. Pasaran keramik Dinoyo adalah kota-kota besar di Indonesia sampai keluar negeri seperti Australia, Belanda, Singapura dan Jepang. Kini yang menjadi keluhan perajin adalah sempitnya lahan, dilarang menambah tungku (oven) minyak yang berdekatan dengan perumahan penduduk yang menyebabkan polusi udara. Tungku gas atau listrik belum banyak dikenal perajin sebagai salah satu usaha mengurangi polusi udara. Sementara permintaan terus mengalir dan mereka terdesak oleh pengembangan kampus Universitas Brawijaya dan proyek perumahan. UPTK memproduksi bahan baku keramik sebanyak 6o ton, dan hanya 20 ton yang terserap perajin, selebihnya dibeli oleh perajin dari daerah lain seperti Bali, jateng, Manado, Lombok dan Bandung. Permintaan terus meningkat dan memproduksi bahan lebih dari 300 ton perbulannya. Hanya perusahaan seperti yang dipimpin Rowie yaitu “Pendowo” dan perusahaan “Tanah Agung” yang dipimpin Ngadiman yang masih memanfaatkan hasil UPTK, selain itu para pengusaha mengolah sendiri bahan-bahan bakunya.

            Daerah penghasil gerabah yang menonjol di Bali adalah Pejaten  di Kabupaten Tabanan; Pering, Prangsada dan Bedulu di Kabupaten Gianyar; Tojan di Kabupaten Klungkung; Jasi dan Subagan di Kabupetan Karangasem; Bunutin di Kabupaten Bangli; Banyuning di Kabupaten Buleleng; Banyubiru dan Melaya di Kabupaten Jembrana dan Kapal dan Binoh di Kodya Denpasar. Berlangsungnya pembuatan gerabah tradisi di Bali ini karena diperlukan sebagai sarana peribadatan agama Hindu. Barang-barang gerabah dari tanah liat ini tidak dapat digantikan dengan bahan lain seperti plastik, alumunium, seng dan lainnya kecuali oleh emas, terutama dalam upacara ngaben dimana barang gerabah akan dipecahkan dalam upacara tersebut. Menurut beberapa sumber pendeta Hindu, dikatakan bahwa “gerabah” mengandung unsur-unsur seperti tanah, air dan api, yang bermakna bahwa manusia berasal dari tanah dan hidup dengan air dan matinya dibakar dengan api (ngaben). Disamping itu patung gerabah diperlukan untuk pemujaan yang diungkapkan melalui tokoh-tokoh pewayangan, dewa-dewi dan tokoh-tokoh sakti lainnya. Juga keperluan rumah tangga sehari-hari masih diperlukan seperti gentong atau Jedding, payuk (periuk), coblong (mangkuk), Caratan (kendi), dulang  (tempat buah/sesajen). Sentra-sentra pembuatan gerabah di Bali sebanyak 27 lokasi. Yang menarik dari cara pembuatan gerabah tradisional di Bali, seolah-olah perajin menari-nari dalam mengendalikan gumpalan tanah yang yang tidak senter ditengah-tengah atau pada as-nya dan diputar melalui goyangan perut atau paha. Teknik yang diperkirakan peninggalan masa lalu itu (pra-sejarah) hanya dilakukan oleh wanita tua yang lanjut usianya, dan bagi kaum muda hal tersebut sudah ditinggalkan.
Keramik Kerajinan sudah lebih cukup maju di Bali, terdapat di sentra-sentra produksi seperti di Kabupaten Tabanan sebanyak 21 perusahaan yang berada di daerah Pejaten ; Kabupaten Badung ada sekitar 19 usaha di daerah Kapal;  Kabupaten Buleleng  ada 5 pengusaha di daerah Banyuning; Kabupaten Gianyar ada 15 pengusaha di Ubud, Blahbatuh dan Bedulu; Kabupaten Karangasem terdapat 10 pengusaha yang berada di daerah Jasi  dan  Kodya Denpasar terdapat 15 pengusaha  yang tersebar di dalam Kota. Perusahaan kerajinan keramik tersebut diantaranya adalah  “Jati Agung” , CV. Bali Permata, PT. Jenggala Keramik, CV. Bali Keramik , UD. Merta sedana, UD.  Trinadi, “Tantri Keramik”, CV. Keramik Pejaten,  UD. Sadia, PT. Bali Moon, UD. Pertiwi  UD. Meryri Ceramic, UD. Alus, UD. Indah Karya, Calu’X Ceramics, CV. Cicak atau Studio Keramik “Cik Cak”, “Keramik Beji”, “Bali Pot Ceramic”, “Tana Mera”, “Mangku Banyuning” , “Keramik Binoh” dan masih banyak lagi yang lainnya. 
 Perajin seperti Made Tegeg yang akrab dipanggil Pan Sadia, adalah perajin berasal dari Basangtamiang, Kelurahan Kapal, Badung, telah memegang sertifikat penghargaan Gubernur Bali, Prof. DR. Ida Bagus Mantra dan “Upakarti”, atas usahanya memajukan keramik tradisional. Perajin yang cukup kondang lainnya di Pejaten adalah I Wayan Kuturan, bertempat tinggal di Banjar Pangkung, Kecamatan Kediri, Tabanan, tepatnya 10 km kearah selatan dari Kecamatan Kediri. Pria lulusan SD tahun 1966, sejak kecil sudah menekuni pembuatan keramik tradisional yaitu pembuatan patung yang diterapkan dipuncak bangunan suci (Kelentingan) dan peralatan upacara dari leluhurnya.  Dimulai tahun 1963, sepulang sekalah ia membantu keluarganya membuat peralatan upacara sambil membuat sesuatu yang baru berupa patung manusia khas Bali yang dibuat sederhana agak lucu memenuhi sudut-sudut rumahnya. Suatu ketika kedatangan seorang pelukis bernama Kay It, turut berkecimpung dalam pembuatan seni kerajinan gerabah, memberikan banyak inspirasi dan masukan berharga bagi Kuturan, dimana proporsi dan aksen artistik mulai diterapkan. Kay It turut membantu pemasaran dan akhirnya gaya “kuturan” 2005 lalu kuturan memperoleh penghargan “Anugrah Riset Kebangkitan Tenologi” dari pemerintah Republik Indonesia (lihat Kliping Bali Post, 3-9-2005).menjadi tradisi masyarakat sekitarnya, ditiru oleh perajin yang disebut sebagai “gaya Kuturan”, yang banyak dimanfaatkan sebagai pelengkap taman (eksterior) di hotel-hotel di Bali. Banyak wisatawan membelinya dan sebagai komoditi ekspor, seperti ke Australia, New Zeland, Belanda, Italia, Jerman, Inggris dan Perancis.Produksi keramik Bali ada berbentuk barang kebutuhan rumah tangga, peralatan makan-minum untuk Hotel dan Restoran, keperluan eksterior dan bangunan serta pertamanan, hiasan, patung, wadah-wadah, cenderamata, aksesories dan keperluan ekspor. Gerabah Bali mengalami “booming” pada tahun 1980 sanpai dengan 1990-an, sehingga pemerintah merintis pembentukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin Bali (P3SKP). Benda hias dan cenderamata menjadi andalan karena menunjang pariwisata. Banyak memanfaatkan hiasan tradisional Bali dan mereka sadar menjual nama Bali dan yang sedang nge-trend di mancanegara yaitu dengan menempelkan “trade mark Bali” hasil produksinya sampai dikenal di luar negeri. Lukisan gaya Ubud dan Batuan serta ukiran khas Bali banyak menghiasi piring dan bentuk-bentuk wadah lainnya, seperti guci, gentong, vas dan lainnya.  Para perajin dan usaha kecil kerajinan keramik di Bali banyak memperoleh bantuan dan bimbingan serta latihan menyangkut teknologi keramik, desain dan proses pengembangan usaha dari BPPT-UPT PSTKP Bali, PT. Sucofindo, PSSRD Universitas Udayana, Deperindag Bali, Dekranas Bali dan Instansi lainnya. Desa Pejaten pernah memperoleh bantuan yang bersifat kemanusiaan dan tidak mengikat dari Belanda yang dikenal dengan Humanistic Institute for Co Operation With Developing  Countries.  Pemerintah Belanda juga memdrop peralatan keramik bakaran madya yang dibelikan di Singapura sebanyak 11 unit lengkap dengan tungku dan seorang tenaga ahli keramik kebangsaan Belanda yang bernama Hester Tjebes untuk membina perajin Pejaten. Sebanyak 43 orang dididik yang tergabung dalam Koperasi Keramik Pejaten, terutama menyangkut pembuatan dan pengolahan bahan, teknik pembentukan, teknik pembakaran, pembuatan glasir, pembuatan desain, dan segala sesuatu menyangkut produksi dan manajemen. I Made Tantri, perintis pengusaha keramik dari Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan-Bali, yang juga memiliki Show Room  “Legong Bali” di Bona Indah Garden Blok A2/1 Jakarta Selatan ini, pada tanggal 10 Desember tahun 1986 lalu memperoleh Penghargaan dari Presiden RI berupa “Upakarti” atas usahanya memajukan kerajinan keramik tradisional. Karya-karya yang terhimpun dalam Koperasi yang dipimpinnya banyak yang dipamerkan dan  diekspor ke negara-negara Eropa dengan menonjolkan dekorasi motif tradisional yang telah diglasir. 

            Desa Kasongan terletak 7 km dari pusat kota Yogyakarta. Gerabah Kasongan sampai tahun 1969, masih mengikuti pola lama, seperti membuat anglo, pot, jembangan, celengan dan alat rumah tangga pada umumnya dipedesaan. Sejak tahun 1970-an mendapat perhatian masyarakat disekitarnya, penyuluhan dan latihan datang dari para seniman dan akademisi. Akhirnya keramik kerajinan Kasongan tidak asing lagi karena bentuk dan hiasannya terlihat sangat khas, juga produknya telah banyak tersebar dan terjual di berbagai daerah kota besar. Desa Kasongan yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini sudah menjadi Desa Pariwisata dimana hasil keramik daerah ini dengan memanfaatkan peralatan sederhana  memiliki ciri khas  tersendiri  dan sudah ada yang diekspor. Pada awal mulanya daerah ini sama dengan daerah lainnya memproduksi keramik tradisi berupa peralatan rumah tangga sederhana seperti kendi, celengan, pot, gentong, periuk dan lainnya. Kemudian mengalami perubahan setelah banyak mahasiswa ASRI dan para seniman hadir disana membuat karya seni. Yang mendorong perkembangan keramik Kasongan secara perorangan adalah Seniman (Pelukis) seperti Sapto Hudoyo yaitu memesan barang keramik  dengan membawa contoh gambar / lukisan kuda, yang dibawanya pertama kali yang diterapkan dengan teknik ukir-tempel, sehingga  menjadi corak atau gaya keramik kasongan seperti sekarang ini, menjadi tradisi masyarakatnya.Bentuk patung keramik yang khas tersebut berupa binatang gajah, ular naga, kambing, garuda, kuda, kodok, singa, angsa dan gabungan bentuk-bentuk binatang. Yang tak kalah berarti lagi pada tahun 1970-an adalah seorang pengusaha tanaman hias yang kebetulan seorang peneliti (akademisi) yaitu Ir. Suliantoro Sulaiman banyak memesan jenis pot hias bersama perkumpulannya yaitu Mayangsari  untuk dipromosikan, sehingga turut andil dalam memajukan kerajinan didaerah ini, di samping membantu penelitian tanah liat yang lebih baik untuk dimanfaatkan perajin. Bimbingan dan latihan dari lembaga terkait juga sering dilakukan, baik dari perguruan tinggi seni (ASRI waktu itu) tentang desain maupun Departemen Perindustrian DIY. Banyak turis asing yang berdatangan ke Kasongan dan produk-produknya dipasarkan dikota-kota besar di Indonesia. Bahkan menjadi komoditi ekspor seperti ke Amerika, Perancis, Balanda, Australia, Jepang, Philipina dan Singapura. Konon yang terbesar pesanan dari Australia dan Jepang. Pada akhir-akhir ini ada yang berbentuk primitif, seperti asmat atau agak abstrak dan berkesan aneh. Perajin seperti Temu, Tarji, Buang, Manto, Sunar, Hartono dan lainnya berusaha untuk peka terhadap selera pasar dan siap berinovasi sesuai dengan selera, juga siap menerima pesanan sebagai “seni ladenan”. Sekitar 250 lebih terdapat unit usaha di daerah ini. Di daerah Kasongan hampir sebagaian besar penduduknya kemudian menjadi perajin keramik, ada yg jadi tukang dan pengusaha keramik.

         Desa Tegowanuh berada di daerah Temanggung, Jawa tengah, suatu daerah yang agak terpencil, sekitar 5 km dari pinggiran kota. Daerah ini menghasilkan gerabah jembangan, kuali, kendi (ada yang 3 corot), pot bunga dan bentuk peralatan rumah tangga lainnya.
dan Wahono yang telah mengikuti pendidikan di Bentuk gerabah sedikit banyak memperoleh pengaruh dari keramik Kasongan. Selain itu banyak memperoleh bimbingan Sapto Hudoyo secara khusus, namun masih terdapat banyak kendala untuk mengembangkannya, baik secara teknis maupun permodalan. Masih di Temanggung, ada pula gerabah hasil produksi Desa Kundisari, Kecamatan Kedu, yang sama dengan yang ada di Tegowanuh. Perajin gerabah yang aktif adalah Suwandi Maguwoharjo Yogyakarta  yanitu membuat keramik hiasan. Kundisari memperoleh bantuan tungku dari Departemen Perindustrian, disini terdapat 75 unit usaha, namun pemasaran belum mulus hanya konsumsi lokal saja.

            Di daerah  Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah,   terdapat empat pengusaha kecil kerajinan keramik yang cukup menonjol, disamping beberapa usaha kecil lainnya. Diantaranya yang terkenal adalah “Keramik Meandalai” yang terletak ditepi jalan Pertanian 17 / IV Desa Klampok sekitar 30 km ke arah barat daria kota Banjarnegara.  Perusahaan lainnya adalah PT. Keramika Banjarnegara, Usaha Karya dan Mustika. Produksi kerajinan keramik Klampok ini bentuknya beragam dari yang fungsional sampai bentuk yang hanya sebagai hiasan saja. Motif hiasan kerajinan Klampok yang banyak dipakai adalah  bunga-bungaan, tumbuh-tumbuhan, hewan dan figur manusia. Yang menarik adalah dari kerajinan Klampok adlah motif-motif pewayangan dan motif-motif batik. Keramik kerajinan di daerah ini telah mengalami penyelarasan dengan budaya Indonesia asli, diman ragam hias tersebut cukup menonjol dan laku dipasaran. Di samping itu produksi keramik Klampok juga membuat motif bergaya Ming dari China, namun tiruannya sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi bentuk yang kelihatan baru.

         Bali Post 3-9-2005

  Sentra kerajinan keramik di Lombok Timur berada di Desa Masbagik terdapat 10 pengusaha, lalu Lombok Tengah berada di Desa Penujak sekitar 15 pengusaha dan Lombok Barat di Desa Banyumulek sebanyak 25 pengusaha. Banyumulek sebagai pusat kerajinan  gerabah  sudah kondang, diperkirakan kegiatan tersebut dimulai tahun 1860 (Alit, dkk, 1983). Keramik Lombok dikenal juga sebagai “Tembikar Sasak” dan sebutan daerah yaitu “Pemongkag” ini menjadi bagian penting dari kegiatan ritual masyarakat Sasak.Pada awalnya penduduk Banyumulek membuat gentong tempat air, periuk untuk menanak nasi dan tepak (bubungan rumah). Seorang bernama Rachmat membuat desain baru dan banyak penggemarnya sehingga pada tahun 1981, Pemerintah Selandian Baru menjadi pelopor pemberi dana pelaksanaan Pengembangan Kawasan Terpadu (PKT) dan    Pulau Lombok memilki sentra-sentra kerajinan keramik yang tersebar di tiga Banyumulek menjadi Prioritas dengan bantuan sebesar 235 juta rupiah, belasan juta diantaranya menjadi dana program khusus pengembangan gerabah. Kemudian Kanwil Perindustrian melatih sekitar 440 orang perajin, dengan penekanan pada mutu artistik. Proyek Kawasan Terpadu dari pemerintah pada tahun 1984 yang bekerjasama dengan pemerintah Selandia Baru, mendatangkan ahli dari Selandia Baru yang bernama Peter dan Jean. Mereka berdua melakukan pembinaan dan pelatihan kepada perajin bersama Departemen Perindustrian, lalu mengadakan studi banding ke Kasongan dan Plered serta Bali, untuk memacu perkembangan desain yang laku dipasaran, baik konsumsi dalam negeri maupun luar negeri, yang pemasaran keramik Lombok dibantu oleh Selandia Baru. Masing-masing daerah di Lombok memilki ciri tersendiri, seperti Masbagik memanfaatkan dekorasi toreh dan motif geometris  serta penggunaan kerang laut yang dimasukkan ke badan gerabah sebagai motif hias yang umumnya disebut “cukli”. Untuk  daerah Penujak ada dikenal bentuk cerek atau kendi yang disebut “ceret maling”. Disebut demikian karena lubang untuk memasukkan air berada di bawah sehingga tidak terlihat. Sedangkan daerah Banyumulek yang sebagian besar penduduknya menjadikan sebagai pekerjaan pokok yang sbelumnya sebagai usaha sampingan, menghasilkan bentuk-bentuk dan dekorasi yang lebih bervariasi serta banyak yang dipasarkan di Bali untuk difinishing keperluan diekspor. Rachmat bersama teman-temannya membuat desain tempat tisue dan pulpen, asbak, hiasan ruangan dengan ciri khas rajutan rotan untuk melapisi gerabah. Rajutan khas lainnya adalah dengan pohon “ketak” ini berukuran kecil hingga gentong raksasa. Gentong raksasa ini banyak digemari masyarakat dan dipajang di Hotel-hotel, baik yang polos maupun dengan rajutan. Pemerintah Swedia juga pernah bekerjasama dengan perajin Lombok. Pemasarannya banyak melalui Bali untuk ekspor. Ekspor langsung perdana oleh PT. Kujang Sekarbale dengan tujuan Kalifornia. PT. Kujang menjadi “Bapak Angkat” perajin gerabah sejak tahun 1981. Para perajin Banyumulek menghimpun diri di Kopinkra Selapu Ngepe. Hiasan tempel Keramik Banyumulek banyak merupakan simbol-simbol stilasi seperti bulan, matahari, padi, lumbung dan sebagainya. Lalu patung-patung terracota bermotif manusia untuk Otak Bale ( dekorasi atap rumah). Peniruan gerabah motif Mexico dan Selandia Baru serta motif primitif juga banyak ditemui di daerah ini.

           Gerabah Mayong, Jepara, Jawa tengah ini masih bersifat tradisional sekali. Terdapat 300 unit usaha gerabah seperti yang dihasilkan Kundisari. Namun di daerah ini juga menghasilkan keramik barang-barang “remitan” atau benda keramik berukuran kecil dan unik, benda khusus pesanan dan ada yang diekspor ke Perancis. Penampilan gaya ukiran Jeparadimulai pada tahun 1980-an dan mendominasi keramik Mayong. Pembinaan keramik Mayong tidaka lepas dari perguruan tinggi sperti IKIP Semarang Jurusan seni Rupa. Akademisi yang langsung terjun ke daerah ini adalah Drs. Punthadi, Dra. Sri Iswidayati, Drs. Triyanto dan Drs. Dewa Made K, mengabdikan diri dari tahun 1985 untuk mengangkat kehancuran produksi. Hampir semua aspek yang menjadi kelemahan keramik tradisional Mayong digarap, baik bahan baku, desain, bentuk, dekorasi dan manajemen. Pusat Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Bandung, turut berperan dalam mengentaskan  keramik Mayong dan memberikan bantuan teknik dan dana. Bahkan Menteri Sosial juga memberi bantuan sebuah tungku keramik bakaran tinggi, Pemerintah daerah membantu perajin dengan mengadakan pameran-pameran. Perajin yang aktif mengembangkan desain adalah Sardi, Murti dan Suharto. Dekorasi untuk atap (bubungan atau wuwungan) bangunan diberi hiasan dari pecahan beling atau porselin yang mengikuti motif yang ada. 






Email: goesmul@gmail.com  / Hidup dan Seni / blogspot.goesmul.com / agusmulyadiutomo@yahoo.co.id










Pameran “Lifestyles” EKSPRESI DAN KREATIVITAS WANITA PERUPA



Pameran “Lifestyles”
EKSPRESI  DAN  KREATIVITAS  WANITA  PERUPA
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Tanggal 20 Pebruari  s/d 20 Maret 2005 digelar pameran seni rupa yang bertajuk “Lifestyles” mengambil tempat di Danes Art Veranda.  Pameran diikuti sepuluh perupa perempuan yang berasal dari Bali, Yogyakarta dan Jakarta yang menampilkan sekitar 49 karya berupa lukisan, patung kayu dan keramik, karya relief dan digital print. Secara menyeluruh, karya yang mereka ditampilkan menunjukkan ungkapan dan kreativitas perupa wanita dalam memandang dan menyikapi serta merespon realitas gejala sosial dari “gaya kehidupan” masyarakat terutama dari para wanita itu sendiri.  Sudut pandang perempuan ini bisa disimak dari ungkapan curator pameran ini, Susi Andriani, dalam katalogus: “Saya Ada Karena Bergaya” tiada lain bermaksud untuk menarik perhatian khalayak dan bisa eksis dalam persaingan global.

Citra Wanita
Membicarakan persoalan wanita memang terasa menarik dan khas, apalagi para perempuan itu membahas masalahnya sendiri dari kacamata mereka sendiri. Sesuatu yang wajar bila ungkapan mereka dalam karya berkisar masalah “gaya hidup”, baik dari kalangan perempuan, masyarakat dan lingkungannya, seperti dari persoalan mode atau fashion, pernak-pernik asesories, masalah kecantikan seperti tatarias rambut dan wajah serta perawatan tubuh, aktivitas rumah tangga, tentang “kapitalisme tubuh” sebagai komoditi dan konsumsi untuk politik-ekonomi, estetika, kegairahan, sesualitas, erotisme, seks dan hingga menjual produk-produk lainnya lewat potensi yang dimiliki para wanita. Pola hidup “materialitis” dan “konsumtif” telah menjadi realitas dan bagian yang tak terelakkan lagi dalam era kapitalisme global dewasa ini yang melipatgandakan produksi produk dan konsep kesenangan dengan teknologi mutakhir. Dan para wanita itu pula merupakan “pasar” yang potensial dalam penjualan produk,  baik yang bersifat tradisional maupuin yang bersifat modern. Sebagai wanita disamping memiliki daya tarik tersendiri dengan segala fasilitas yang dimiliki, terutama dengan “gaya hidup pergaulan bebas” tentu menjadi resiko tersendiri pula yang dapat mengangkat atau dapat menjatuhkan harga diri dan kehormatannya. Rupanya para perempuan yang memiliki peran ganda ini, juga bisa mengidolakan tokoh-tokoh wanita tertentu yang dianggap ideal dalam menjalani kehidupan.

Kesepuluh perupa wanita yang menampilkan karya dalam pameran kali ini diantaranya adalah Sri Haryani, Ni Nyoman Sani, Ludzy Septriana, IGAK Murniasih, Nisak Indri Hayati, Ayu Sri Jati, Grace Tjondronimpuno, Koniherawati, Titarubi dan  Lydia Poetrie. Menyimak karya mereka ada yang berujud lukisan seperti Sri Haryani yang berjudul “Consumtive” dan “Party” dengan warna agak transparan seperti teknik basah menampilkan aksi fashion dan glamor yang menunjukkan bahwa wanita merupakan ladang pasar produk yang potensial, dimana banyak wanita ingin tampil secantik mungkin, menarik, dapat mengenakan berbagai asesories yang berkelas atau elit untuk bisa “bergaya” yang tentunya menguras banyak uang untuk itu. Bagaimana tingkah polah para wanita dilukiskan oleh Ni Nyoman Sani dalam lukisan yang berjudul “Back I - V” yang menggambarkan secara naif seolah  wanita sedang bergaya dengan tubuhnya. Nisak Indri Khayati dengan karya “Look into The Mirror”  atau “Berkaca” dengan gaya sedikit naif pula menunjukkan bagaimana para wanita sedang mengolah dan merawat potensi tubuh dan wajahnya. Sedangkan Murniasih dalam karya “Mine” dan Ayu Sri Jati melihat realitas dari gaya hidup di era global, dimana penggunaan telepon seluler (HP) telah menjadi kebutuhan dan komuditas penting untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, yang kini bukan lagi menjadi barang mewah. Dengan HP dapat melakukan transaksi apa saja, tukar pandangan, memperoleh informasi, mengungkapkan kasih sayang dan perhatian, sampai dengan teknologi terkini yang dapat merekam dan menayangkan gamba / foto serta program komputer / internet dapat diperoleh disini. Ekspresi Murniasih dapat dilihat dalam karya lukisan “My Style in Kamboja” yang menggambarkan sosok 2 orang wanita telanjang naik sepeda gayung panjang masing-masing dapat berkomunikasi tersendiri melalui HP, yang ditengahnya ada seekor binatang seperti anjing yang menjulurkan lidahnya. Menunjukkan bahwa Dunia yang berjarak, memiliki ruang dan waktu tidak lagi menjadi permasalahan untuk bisa saling berhubungan. Juga karya patung kayu dari Ayu Sri Jati yang berjudul “Relax” menggambarkan sosok manusia seperti perempuan yang sedang berkomunikasi melalui HP sambil tiduran. Karya 3 dimensi lainnya adalah dari Grace Tjondronimpuno, wanita kelahiran magelang yang dipersunting pria asli Bali yaitu kartunis “Dedok” ini, menampilkan pernak-pernik lukisan di atas kayu (talenan) yang akrab bagi kaum wanita di dapur dan juga di atas kanvas. Penampilan yang feminim dari Grace terlihat dari ukuran karya yang relatif mungil (hingga 10 X 15 cm). Pada karya yang berjudul “Globalization” dan  “It’s my Life” , Ia menggambarkan pasangan pria-wanita, yang seolah-olah tampak bahagia walau ada yang berbeda suku, bangsa, negara dan agama. Dan apakah “pasangan antar bangsa” itu sudah merupakan “gaya hidup” dari sebagian kecil masyarakat kita?  Pasangan seperti ini sudah cukup banyak, ada yang dari kalangan orang biasa saja, artis, seniman, pengusaha, ataupun hanya sekedar “kawin kontrak”. Keramikus Lydia Poetrie dari IKJ ini, menuangkan  ekspresinya dalam bentuk patung figur atau sosok wanita dari bahan tanah liat jenis stoneware dengan glasir pada bagian tertentu saja. Keramik karya Lydia yang berjudul “Jamune Mas!” dan “For my Family” menggambarkan seorang wanita penjual jamu dengan memperlihatkan seolah tubuhnya yang seksi sebagai daya tarik untuk promosi. Lalu karya lainnya berjudul “Senandung Jiwa”, “Arranger D’Hair” dan “A Song for You”, yang terakhir ini menampilkan bagian atas figur wanita dari atas dada sampai kepala yang kupingnya terselip bunga,  seakan sedang menyanyikan sebuah lagu dengan penghayatan tertentu. Berbeda dengan rekannya yang lain, Koniherawati, dalam karya yang diberi judul “Lifestyle #1&2 (The Style of The Most Beautiful Woman & The Style of The Most Handsome Man)”  serangkaian gambaran yang mengidolakan “suatu gaya hidup”  sebagai pilihan seperti Bunda Maria, Ibu Theresa, Yesus, Budha, Gandhi sampai Lady Di. Apapun pilihan dan kondisi wanita, gambaran idealis itu pasti ada. Keinginan perempuan memang banyak, perjalanan panjang dan jauh itu, “Where am I Going”, dilukiskan oleh Ludzy sebagai “gaya hidup”, mulai dari keperluan akan gincu, pakaian, aksesories, TV, mobil dan rumah mewah hingga gambaran wanita telanjang dengan segitiga pengaman di ke atas alat vitalnya terdapat dalam karya yang berjudul “Woman’s Desire”. Dan karya digital printdari Titarubi yang berjudul “Bound with Shine” melukiskan seorang wanita dengan baju pengantin yang berjuntai berhiaskan manik-manik sedang melambaikan tangan dan menarik koper yang juga sarat berhiaskan manik-manik. Karyanya yang berjudul “Bralgeuraming Go Away My Child” , mengekspresikan bagaimana fitrah wanita mengandung janin dan berusaha memotong tali kehidupannya dengan “aborsi” yang sudah tampak menggejala sebagai “gaya hidup”, seperti praktek “dokter aborsi”  (Bali Post Minggu 20/2/05) yang baru terungkap di Denpasar sudah berjalan 4 tahun tanpa diketahui dan diperkirakan sebanyak 1000 lebih bayi tak berdosa mati dibunuh.

htpp//blogspot.goesmul.com / Hidup dan Seni

Mengeksploitir Bentuk Polyp Terumbu Karang dan Tubuh Perempuan






Keramik Karya Ni Putu Eka Arisanti dan Anton Darmawan
 Mengeksploitir Bentuk Polyp Terumbu Karang dan Tubuh Perempuan
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Karya Keramik Mahasiswa semester VI yang digelar di  studio keramik ISI Denpasar dari tanggal 15 sd 16 Juli 2005 lalu menampilkan ± 20-an buah karya. Eka Arisanti  menyuguhkan bentuk pengembangan dari polyp dan terumbu karang dalam ciptaan bentuk keramik, sedangkan Anton Darmawan menggarap tubuh perempuan sebagai sumber ide dalam menciptakan bentuk vas-vas keramik.

Terumbu karang adalah rumah bagi biota laut. Terumbu karang juga merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Telah diidentifikasi lebih dari 93.000 spesies hidup di terumbu karang, namun lebih dari satu juta spesies mendiami ekosistem ini. Terumbu karang adalah rumah lebih dari 2.000 jenis ikan, 5.000 jenis mollusca, 700 jenis karang  dan berbagai jenis kepiting, landak laut, ketimun laut (tripang), berbagai cacing dan binatang lainnya yang tak terhitung jumlahnya (David Lambert, 1986). Karang yang berukuran kecil saja terdiri dari kumpulan ribuan individu hewan polyp karang yang berproses ribuan tahun membentuk terumbu karang sebagai hewan pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Walaupun terlihat kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh dan mudah hancur. Karang yang berumur jutaan tahun bisa setebal 1000 meter. Sejumlah polyp karang ini memiliki ganggang yang mengandung klorofil hidup di dalamnya dan dapat berfotosintesis. Ganggang ini kaya oksigen tetapi miskin gizi dan membutuhkan zat nitrat dan fosfat, untuk alasan itulah makhluk-makhluk ini sangat membutuhkan kehidupan bersama, tidak bisa hidup sendiri dan saling memanfaatkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Polyp menyediakan makanan bagi ganggang dan tempat bernaung yang aman dari pemangsanya. Sebaliknya ganggang menyiapkan makanan bagi polyp melalui fotosintesis untuk membangun kerangka batu kapur. Ganggang / rumput laut melekat pada batuan/karang dengan alat pelekat ada yang seperti cakar, benang dan cakram sehingga tahan dari pukulan ombak besar. Para ahli menyebut perlu tenaga 0,7 kg / cm untuk melepaskan ganggang gelembung dari tempatnya menempel

Karya keramik Eka Arisanti mengambil bentuk-bentuk sederhana dari bentuk polyp yang merupakan bagian dari terumbu karang yang dianggap unik. Semua nama judul diambil dari bahasa ilmiah seperti berjudul “Mollusca” (kerang), “Tunicata” (semprot laut), “Crustacea” (hewan berperisai), “Bernakel” (hewan yang melekat pada batu / karang), “Castle Coral” (karang berbentuk istana), “Spons” (bunga karang) dan “Coral Reef” (karang yang ditempeli ganggang dll). Mollusca memiliki bagian tubuh yakni kaki yang kuat, organ tubuh di atas kaki dan jaringan pembuat kulit yang disebut mantel. Pada karya berdiameter 23 cm dengan tinggi 30 cm ini,  Arisanti menampilkan polyp dan kehidupan kerang-kerangan yang keluar masuk membuat terowongan dalam terumbu karang.  Tunicata mulai hidu[p seperti kecebong dan kemudian melekatkan diri pada batu karang dan ekornya menghilang menjadi gumpalan bubur kecil berwarna merah, coklat dan hijau dengan cambuk-cambuk kecil penghisap dan penyemprot air serta dapat mengkerut jika ada bahaya. Pada karya berdiameter 20 cm dan tinggi 39 cm ini, bentuk tunicata Ia tampilkan dililit dengan ganggang atau rumput laut yang bentuknya telah distilir. Pada karya “Crustacea”  Arisanti menggambarkan lubang-lubang pada karang yang dibuat oleh kepiting sebagai hewan berperisai (crustacea), disitu juga banyak ganggang laut yang menempel disekelilingnya dan bergerak mengikuti arus. Ganggang laut yang tampil mengalami sedikit digubah (stilir)  agar berkesan tradisi. Crustacea yang melekat pada benda lain disebut bernakel ini bermula dari makhluk kecil yang berenang-renang kemudian melekat pada benda keras dan membuat lapisan perisai disekelilingnya dan tubuhnya menjadi jaring-jaring untuk menjerat makanan dan oksigen. Arisanti menampilkan bernakel ini yang menempel pada polyp dan ganggang berdiameter 19 cm dan tinggi 39 cm. Pada “Castel Coral”  karya berdiameter 20 cm dan tinggi 55 cm ini, Ia mmenampilkan bentuk karang yang menyerupai castle (istana) karena bentuknya seperti cerobong (pipa) memperlihatkan susunan dari rendah menuju ke paling tinggi dengan hiasan ganggang laut. Spons atau bunga karang ini tidak memiliki mulut, organ tubuh atau susunan syaraf, untuk bernafas dengan menghisap air melalui lubang-lubang yang banyak terdapat pada tubuhnya, pada koloni yang besar merupakan tempat yang disukai oleh kepiting dan udang. Karya “Spons” berdiameter 25 cm dan tinggi 48 cm ini menyerupai tabung dan disekelilingnya dipenuhi lubang-lubang, pada bagian atas terdapat kepiting yang seolah baru keluar dengan merobek bunga karang dengan capitnya dan beberapa ganggang laut dan scallop menempel pada bagian bawahnya. Melihat karya-karya Arisanti yang mengungkap aneka kehidupan biota laut ini, memberikan pengertian bahwa sangat diperlukan pelestarian lingkungan, mengingat banyak sumber kehidupan manusia yang tergantung padanya, terutama sumber protein dari ikan laut dll, sebagai konsumsi. Sebagai himbauan, jagalah lingkungan hidup ini dan janganlah terumbu karang ini dihancurkan dengan alat peledak terutama dalam menangkap ikan, kepiting, udang karang dan sebagainya  karena memperbaiki memerlukan waktu cukup lama.

Berbicara tentang perempuan, dalam beberapa pandangan masyarakat di Indonesia kata ini mengalami degradasi semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna, dimana arti sekarang lebih rendah dari arti duhulu (www.angelfire.com 19/06/05). Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti tuan, orang yang mahir/berkuasa, atau pun kepala, hulu, atau yang paling besar; maka dikenal kata empu jari ( ibu jari), empu gending yakni orang yang mahir mencipta tembang. Juga berhubungan dengan kata ampu (sokong, penyangga,penjaga keselamatan), mengampu (menjaga agar tidak jatuh/runtuh), pengampu (menahan, penyangga, penyelamat). Disamping itu berakar dari kata empuan, yakni kata yang mengalami pemendekan menjadi”puan” yang artinya sapaan hormat pada perempuan sebagai pasangan “tuan” untuk sapaan hormat pada lelaki. Dari sinilah dapat dijelaskan bahwa pemaknaan sosok perempuan mengalami perubahan. Namun demikian perempuan merupakan sosok yang harus dihormati dan disegani terutama pada posisi sebagai Ibu. Hingga kini sosok perempuan masih menjadi obyek yang menarik untuk dituangkan ke dalam benda-benda seni.
Adalah Anton Darmawan, yang mencoba mengeksploitir bagian tubuh perempuan menjadi vas keramik. Perempuan dan vas; umumnya orang tertarik pada kecantikan wajah perempuan, namun Ia tertarik kepada keindahan sebagian bentuk tubuh lahiriah. Bagian wajah atau kepala diganti dengan bunga, bila dipergunakan sebagai vas bunga, yang menyimpan makna simbolis.  Juga untuk bagian tubuh dari vas sosok perempuan ini  Anton berusaha menyelipkan kritik sosial. Lihat karyanya yang berjudul “Perempuan” menonjolkan sosok perempuan mengenakan pakaian tradisional seperti kemben (sabuk) dan kamen yang melingkari tubuh dengan dekorasi mas-mas-an. Lalu “Gerak Sang Penari”  memperlihatkan posisi kaki sang penari, mamakai baju korset dan kain kamen.  Demikian pula dengan judul “Melenggok” memakai kemben dan kamen dengan dekorasi bunga-bunga. Judul “7 Bulan” adalah gambaran sosok perempuan yang hamil 7 bulan memakai kebaya yang dihiasi patra ulanda dan kamen motif kakul-kaulan serta mas-masan.  Vas lainnya berjudul “Under Wear” yakni sosok perempuan memakai pakaian dalam tradisional yang dikenal dengan kutang (BH) jaman dahulu sedikit terlihat kamen dan kembennya.  Sosok perempuan yang dipotong-potong , seolah gambaran tubuh perempuan yang siap diperjual-belikan, sindiran bagi PSK dan hidung belang dalam sisi kehidupan lain yang tetap marak hingga kini terlihat pada karya berjudul “For Sale” sebagai suatu kritik sosial. Menurut Anton, daripada membuka aurat yang mempertontonkan bagian tubuh yang memancing perbuatan asusila seperti perkosaan dan lainnya, lebih baik tubuh perempuan itu dibalut dengan tikar terlihat pada karya berjudul “ Dibalut Tikar”. Jadikan perempuan itu bernilai dan terhormat serta jangan menjadi “penyakit” dalam masyarakat dengan menjunjung 
tinggi etika dan martabat manusia

email: goesmul@gmail.com