Laman

Pengikut

Kamis, 14 Februari 2013

SEJARAH BALI KUNO

SEJARAH  SENI RUPA BALI  KUNO
Oleh 
AGUS MULYADI UTOMO

                 Di Bali, seni rupa dikenal sejak zaman Pra-sejarah atau dimulai zaman Mesolitikum-Megalitikum-Neolitikum, yaitu pada tahun 3.000 Sebelum Masehi, dimana manusia saat itu sudah mulai hidup menetap dan bercocok tanam serta membentuk kelompok-kelompok masyarakat. Sebagai masyarakat yg menetap, hidupnya memerlukan peralatan atau perlengkapan untuk kebutuhan sehari-hari, diantaranya adalah tempat menyimpan cairan (minuman) dan makanan yg dibuat dari gerabah (tanah liat), logam dan  bahan dari alam seperti kayu, daun, buah-buah berkulit keras, bambu, batok kelapa, dllPara pemuka masyarakat / pemimpin, kemudian sangat mempengaruhi kehidupan selanjutnya, dimana orang yg dihormati dan dipercaya tersebut dianggap dapat melindungi warganya, bahkan sampai meninggalpun tatap masih dianggap dapat mempengaruhi manusia yg masih hidup.
           Muncullah kemudian suatu bentuk kepercayaan yaitu penghormatan kepada nenek-moyang, maka  sbg penghormatan  dibuatlah  perlambangan-perlambangan dan pemujaan-pemujaan untuk menenangkan arwah nenek moyang mereka. Penyertaan benda kubur  seperti patung kecil (figurin), manik-manik (perhiasan) serta tempat makanan dan minuman merupakan bentuk dari penghormatan leluhur sebagai bekal dlm perjalanan ke alam baka. Periuk kecil berisi perhiasan dan periuk besar berisi tulang-belulang adalah hasil tradisi kepercayaan masyarakat di zaman Pra-sejarah. nTradisi penguburan jenazah dengan tempayan, ditemukan tersebar di berbagai tempat di Indonesia, seperti yang ditemukan di Gilimanuk, Bali  ( Kempers, 1960). Juga seperti di Anyer (Jawa Barat), Sa’bang (Sulawesi Selatan) dan  Roti (Nusa Tenggara Timur). Keramik untuk kebutuhan rumah tangga ditemuakan juga, terutama tempat makanan dan minuman masa Pra-sejarah, dibuat sangat sederhana dan kebanyakan dengan teknik tatap batu atau kayu, tanpa hiasan atau polos. Kendi, periuk, piring yang semuanya dari gerabah ada yang polos dan ada yang dihias. Berbagai fragmen gerabah ditemukan di Gilimanuk, Bali, dengan berbagai hiasan seperti tali, kulit kerang , hiasan jaring-jaring dan lainnya.
                Bersamaan dengan masa Megalitikum dan Perunggu, gerabah dibutuhkan sebagai sarana pemujaan arwah nenek moyang, selain sebagai peralatan rumah tangga. Benda kubur berupa tempayan gerabah, manik-manik perunggu, sarkofagus batu, telah menjadi kebutuhan relegi dan perlambangan pemujaan arwah yg berkembang.Benda-benda gerabah sudah banyak  yg diberi hiasan, seperti ditemukan di Gilimanuk, di pantai Cekik yang berhias tali dan jaring dengan teknik cap (R.P. Soejono). Pada masa tersebut (neolitik), kemahiran teknik membuat barang-barang perunggu berkembang.Juga saat itu seni hias menghias mencapai puncaknya yaitu dengan pola geometrik atau tumpal. Masa kemahiran teknik ini kemudian lebih dikenal sebagai masa “Perundagian” (awal produksi/industri).
    Aspek – aspek  teknis zaman Pra – sejarah tidaklah menunjukkan suatu perkembangan yg berarti. Yg perlu diketahui yaitu penggunaan alat pelarik /putar sudah mulai dikenal ketika akan memasuki masa Sejarah.Sebelumnya dikenal teknik tatap batu / kayu serta pembuatan langsung dengan tangan yg disebut teknik “pinching” atau tekan jari serta teknik “coilling” atau pilin atau teknik “tali”.Aspek lainnya adalah kemampuan dlm menghias dgn teknik cap dan torehan yg tumbuh secara alamiah.
   Ornamen Bali, diperkirakan sudah ada mulai sejak zaman pra-sejarah, yakni zaman Neolitikum. Zaman perunggu, dgn diketemukannya nekara berukuran besar (1,86 meter dengan garis tengah 1,60 meter), yang dianggap suci oleh penduduk Hindu Bali hingga kini, dipercaya bahwa nekara ini adalah bulan yang jatuh dari langit dan disimpan di Pura Penataran Sasih (Bulan) di Desa Intaran, PejengDi Desa Manuaba, telah ditemukan pula sebagian dari cetakan batu untuk membuat nekara dan dihiasi ukiran hiasan seperti yang terdapat di Nekara Pejeng, kini disimpan di Pura di desa tsb. Dgn demikian pada zaman Neolitik sudah ada  kemahiran untuk mengolah logam dan hiasan ornamen untuk suatu produksi, sebagai bagian dari sejarah adanya kegiatan industri.
                   Pada masyarakat agraris tradisional di masa yg lampau tidaklah membedakan atau mempermasalahkan antara seni, ilmu pengetahuan, teknologi dan keagamaan, melainkan lebih banyak menyatu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan keagamaan itu sendiri. Indonesia di Z. Neolitik masa Z. Perunggu, dikenal sebagai masa Perundagian” yaitu suatu masa “kemahiran teknik” terutama dlm mengolah bahan, memproduksi dan mengukir logam ―> ahli ketukangan disebut sbg Undagi”  Dan Orang-orang “cerdik pandai” atau “orang bijaksana” atau “ahli-ahli” pada masa lampau disebut Empuyaitu orang yg menguasai akan ilmunya atau “mumpuni”. 
    Ditemukannya stupa-stupa kecil dari tanah liat yang termasuk gerabah lunak di daerah Pejeng, Blahbatuh dan Batuan, Gianyar, dalam jumlah ribuan dan ada di antaranya terdapat tulisan Pallawa dan Sansekerta yg bermakna mantra-mantra Budha; Dan beberapa buah stempel tanah liat yang ditemukan di Pejeng (koleksi Museum Bali), tertulis data tahun 882 A.D memuat Mantram agama Budha dalam bahasa Sankrit yang mirip dengan yang ditemukan di Candi Kalasan (778 A.D). Berdasarkan penemuan tersebut, diperkirakan pengaruh agama Budha di Bali datangnya lebih dahulu dari agama Hindu.  
                    Suatu bukti perkembangan agama Budha dengan ditemukan  1).Berupa arca Budha Dyani Budha Aksobya2).Beberapa materai tanah liat berbahasa Sansekerta dlm stupa arca Budha dgn namaYe-Te: ‘Ye dharma hetu-prabhawa hentum tesantathagato hyawadat tesan ca yo nirodka evam wadi mahasra manah (Goris, 1948) Artinya: “Sang Budha berkata demikian bahwa Dharma ialah sebab segala kejadian dan sebab dari kehancuran dan penderitaan. Demikian ajaran Sang Maha Pertapa(Sumber: Pura Pagulingan, Tirta Empul-Goa Gajah). Masuknya agama Hindu ke Bali diperkirakan pada saat Raja Yaya Pangus ditaklukkan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam kekuasaan Majapahit , Bali diperintah oleh Raja Dalem Samprangan yang bertahta di Klungkung (Moerdowo, 1963). Masuknya agama Hindu di Bali sangat berpengaruh pada pembuatan benda-benda keramik, yaitu dengan adanya berbagai motif dewa dalam bentuk Trimurti (Tritunggal) Dewi Sri dan lainnya. Buku “Seni Budaya Bali-Balinese Arts and Culture (Moerdowo): ada tujuh tulisan diantaranya memuat data mulai tahun 882 s/d 914 A.D dan menyebut nama seorang Raja Kesari Warmadewa yg bertahta di di kerajaan SingadwalaSembilan tulisan tanah liat memberitakan adanya seorang raja lainnya yaitu Sang Ratu Ugrasena yg bertahta semasa dengan Empu Sindok dari Jawa Timur (914-942 A.D). Disebutkan pula adanya empat orang raja lagi dari keturunan dinasti Warmadewa yg menguasai pulau Bali. 





            

Senin, 15 Oktober 2012

CATATAN TERCECER DISKUSI KRIYA

Catatan Hasil Diskusi Kriya Seni, FSRD-ISI Denpasar di Paros Gallery
REPOSISI  PENDIDIKAN  TINGGI  KRIYA  SENI
Oleh Agus Mulyadi Utomo
Kamis tgl, 8/6/06 di Paros Gallery diadakan sarasehan atau diskusi masalah kriya seni, serangkaian acara penutupan pameran kriya seni, FSRD-ISI Denpasar. Pameran yang dilaksanakan di dua tempat secara bersamaan yaitu di Museum Sidik Jari (pembukaan) dan Paros Gallery (penutupan). Hadir 3 pembicara pada diskusi tersebut terdiri dari akademisi, praktisi / pengusaha dan curator yaitu Drs. I Made Yasana, M.Erg.; 
Ir. Ngurah Pratama Citra, MM.;  Dan Wayan Kun Adnyana, S.Sn. Diskusi ini dimoderatori oleh Drs. I Made Supartha, M.Hum.  Sejumlah 60-an orang hadir dalam diskusi terdiri dari para alumni, dosen, mahasiswa dan pengusaha serta perajin dalam suasana hangat dan bersahaja duduk dilantai.

Perlu Reposisi
I Made Yasana, akademisi berpengalaman pendidikan desain keramik di Jepang dan Advanced Profesional Design Produk di Jerman serta mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin Bali ini, pembicara pertama yang membawa makalah berjudul: “Dimensi dan Keragaman Produk Kriya”, mengulas dari persoalan bahasa sebagai start awal bahwa “kriya” dari kata “kerja” yang sepadan dengan kata Craft dan benda guna dengan ciri dan tujuan yang jelas, ada ketergantungan proses sentuhan tangan, dapat diproduksi (jumlah tertentu) dan dapat menjawab persoalan dari luar (masyarakat, bisa pribadi / golongan tertentu, kesenian / art, dll) dimana struktur dan bentuknya bisa bersifat fungsional atau dekoratif.  Yasana juga merunut perkembangan kriya mulai zaman purba, masa penjajahan hingga masa merdeka sekarang ini, yang dalam perkembangannya tidak hanya bersifat simbolik, peralatan, persembahan, souvenir, tetapi juga sebagai komoditas (eksport) dan untuk sesuatu yang bersifat pribadi atau keilmuan. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa Bali kaya akan potensi kriya yang bersumber dari senirupa dan budaya Bali, tarian, aksara dan suara dan sebagainya menjadi rancangan interior maupun eksterior menyesuaikan dengan iklim perubahan abad ke abad atau dari decade ke decade dengan cara berfikir baru bukan sekedar rasional tapi juga ekspresi. Umumnya dasar untuk membeli / memiliki produk kriya adalah karena perlu, murah, desain menarik, merek terkenal, buatan luar negeri/dalam negeri/khas daerah, juga bisa karena iklan dan promosi, pun juga karena status symbol (kebanggaan). Intinya ada keindahan, ada ciri khas,  murah, terjangkau dan berkepribadian. Pembicara ke dua, Wayan Kun Adnyana, kritikus yang curator ini membawakan judul tulisan “Kriya Seni: Mengayuh Antara Dua Tegangan”. Ia menyoal tentang “kriya seni” dikaitkan dengan terminology  “seni rupa murni” untuk mensetarakan kedudukan (modernisme) ataupun konteks kriya seni yang diimpor dari Barat dengan istilah “kriya kontemporer  yang tidak mengakui pembagian seni dan menganggap semua cabang seni sederajat. Ia menyayangkan adanya pembagian program studi kriya seni dan program seni murni pada ranah yang berbeda. Sementara peluang pluralisme ekspresi  dan medium dalam seni kontemporer dimungkinkan bersatu. Penggunaan istilah kriya seni atau kriya kontemporer hanyalah untuk membedakan dengan hasil karya tradisi, seolah olah ada perbedaan hasil karya (Seni rendah vs seni tinggi) dan usaha pembebasan anti katagori medium, disamping belum mampu mereposisi kriya dari katagori marginal. Ia menangkap dua arus kecenderungan karya kriya seni seperti yang dipamerkan, pertama hanya untuk membedakannya dengan kerajinan rakyat dan kedua mengikuti arus kriya kontemporer namun tetap bersikukuh dengan citra tradisional, sehingga ada tegangan teoritik yang meliputi term kriya seni, sehingga terkesan ambiguitas sebagai seni rupa dua dunia: kriya yang berarti kerajinan tangan dan sekaligus senirupa sadar konsep ? Pembicara ke tiga adalah Ngurah Pratama Citra, praktisi dan Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI Bali) yang berkator di Disperindag Prov. Bali ini membawakan makalah berjudul” Pengembanagn dalam Keragaman”. Ia mengungkap persepsi awal bahwa kriya tak lebih merupakan seni terapan, seni dekoratif bahkan kerajinan, karena mengabdi pada kaidah ketrampilan penanganan teknis yang nilainya tidak sepadan dengan senirupa murni dimana dikotomi fine art diwariskan oleh seni modern Barat. Perlu adanya reposisi untuk menjawab tantangan zaman, termasuk mengisi permintaan pasar, walaupun tetap ada idealisme atau identitas (cirri khas). Lebih jauh Citra mengharapkan perguruan tinggi penghasil sarjana kriya memiliki output expected yang jelas, setelah pameran lalu mau apa? Harapannya juga kurikulumnya harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan penelitian, memanfaatkan tenaga praktisi dan program magang, yang menghasilkan lulusan siap kerja atau kelebihannya apa?. Strateginya adalah dengan revitalisasi persepsi dari stakeholders, menambah bekal ilmu pariwisata (cenderamata dan pasar eksport), kombinasi bahan, fasilitasi kegiatan pameran dalam & luar negeri, kolaborasi dengan lembaga di luar ISI, asosiasi, instasi lain, kriyawan / perajin dalam dan luar Bali. Kriyawan juga sebagai wirausahawan yang tertarik dengan imbalan berupa laba, kebebasan dan kepuasan hidup. Disini para mahasiswa diberi bekal ilmu kewiraswataan atau berwirausaha, sehingga memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi peluang, mengumpulkan sumber daya,. Bertindak memperoleh keuntungan dari peluang itu. Esensinya untuk memperoleh nilai tambah di pasar melalui proses  pengkombinasian sumber daya, cara-cara baru atau berbeda (pengembangan teknologi, penemuan pengetahuan baru, perbaikan produk dan jasa), efisiensi dan lainnya  untuk dapat bersaing.  Dengan rangkuman nilai kewirausahaan: 1) berani mengambil resiko; 2) kemampuan menangkap peluang,; 3) berorientasi ke masa depan; 4) tidak cepat puas; 5) semangat untuk bersaing; 6) kemampuan melakukan inovasi; 7) kemampuan dalam memimpin.  Citra sebagai ketua asosiasi ASEPHI Bali mengaku menampung keluhan anggotanya (32 eksportir) di lapangan dan masyarakat, bahwa sementara ini sarjana kriya jarang ada yang berperanan dan sangat sedikit sekali yang mengisi peluang kerja (tidak dimanfaatkan alumni kriya-ISI Denpasar), kebanyakan desainer kriya terdiri orang asing (sekitar 38 orang) dengan bayaran cukup menggiurkan dengan hasil karya yang tak jauh berbeda dengan kriyawan ISI, dimana sekarang ini eksport Bali 80 % (nilai pulus).  Sampai kini ada masalah-masalah yang harus terjawab mau apa dan bagaimana, sehingga kesenjangan yang ada diperkecil dan dapat membangun publikan serta minat untuk menekuni kriya yang dapat memberi kesejahteraan. Dunia usaha sangat membutuhkan sarjana kriya, ada segmen pasar tertentu dan karier di Luar Negeri dan ISI mau mendengar keluhan-keluhan yang ada. Menurutnya perut lapar tidak bisa ditunda-tunda, menurutnya pula hampir kriyawan yang eksis tidak sarjana kriya. Sebagai Ketua ASEPHI, Citra berjanji untuk bisa bekerjasama (membantu) atau mengadakan M.O.U. dengan Kriya ISI Denpasar, dalam hal magang atau kerja praktek, pameran (buku / katalogus) dalam bentuk legal-formal atau maju secara institusi bukan individual. Ia menganggap fihak ISI yang belum bisa masuk ke wilayah yang berkembang di masyarakat (seperti menara gading) dimana handicraft merupakan andalan Bali, belum sepenuhnya dipahami para akademisi dan dicari solusi pengembangannya, sehingga perlu menggandeng praktisi dilapangan untuk menjembatani kesenjangan yang terjadi.

Berbagai tanggapan muncul dari diskusi ini, seperti Radiawan yang menekankan pada stuktur dan profesionalisme kekriyaan serta trend produk. Lalu Cok Udiyana menekankan pada nalar dan gagasan cemerlang “Naga saksaka” sebagai strategi terbaik. Anom mengemukakan pengalamannya sebagai rangkaian proses belajar dari mahasiswa hingga menjadi pengusaha dan eksportir. Ia mengharapkan pihak swasta, pemerintah dan perguruan tinggi ada dialog yang membangun memperkuat sector kriya ini. Kemudian Jana dengan arah pembelajaran sebagai fine art dan produk / desain. Yang tak kalah seru pernyataan Wirakesuma, bahwa semua kegiatan jangan disamakan, tidak bisa digeneralisasikan, disamakan seperti seni / art semua terkadang menggunakan perasaan / ekspresi, baik itu fotografi, kriya atau patung maupun lukis. Pembuatan kriya di ISI sudah baik, cuma payungnya adalah Seni Rupa dan Desain. Jangan hanya mengekor pemikiran Barat, lalu mengekor dan terus mengekor lagi, disini diperlukan idealisme membangun kepercayaan diri yang kuat.  Seni Bali dahulu sebagai prilaku yang hidup dan bukan teoritik dari Barat. Muka menganjurkan dalam kurikulum ada pengetahuan pariwisata, desain, art dan wuirausaha dalam prosentase yang tepat.
Pada akhirnya menjadi PR Kriya ISI Denpasar untuk Reposisi, diperlukan menghimpun masukan stakeholders, tracer study dan membuat kurikulum yang tepat dan mengikuti perkembangan zaman. Berikanlah semua ilmu yang bersifat ilmiah kepada mahasiswa dalam menunjang kesarjanaan kekriyaan itu sendiri, sehingga memiliki bekal dan juga berhak untuk menentukan arah (wawasan) pilihan hidup nantinya, apakah sebagai seniman, kriyawan, atau desainer produk, bahkan sebagai wirausahawan atau praktisi atau pengusaha. Seperti pernyataan Sekjen Depdiknas, Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS, ketika mengunjungi pameran kriya seni “Dimensi Kriya dalam Keragaman” di Museum Sidik Jari, tanggal 29 Mei 2006 lalu didampingi Rektor ISI Denpasar yang mengatakan: “Jika kita berpikiran jernih, sebenarnya “seni”lah yang merupakan keunggulan bangsa kita, bukan teknologi. Ya, Seni sebagai unggulan bangsa memang sudah sangat layak mendapatkan prioritas utama dalam dunia pendidikan karena sudah menjadi identitas bangsa”. Secara pribadi Ia kagum akan karya-karya yang ditampilkan oleh Jurusan Kriya, FSRD-ISI Denpasar. Dan karya kriya perlu sering ditampilkan dalam pameran seperti ini, agar dikenal luas masyarakat dan mampu menjadi unggulan pilihan calon mahasiswa / kriyawan.