Laman

Pengikut

Sabtu, 07 April 2012

TAUBAT YANG BENAR

BERTAUBAT  YANG  BENAR


Oleh Agus Mulyadi Utomo
Hidup dan Seni:goesmul.blogspot.com
gosmul@gmail.com

               A p a b i l a seseorang telah berkejangkitan penyakit yg disebut “dosa” atau telah “berbuat maksiat”, maka obatnya adalah ‘taubat’ kepada Allah SWT. Taubat adalah obat dari penyakit jiwa dan rusaknya amal. Allah telah mensyaratkan taubat ini kepada hambaNya dan mencintai orang – orang yg suka ber-taubat ini disetiap saat. Firman Allah SWT dlm QS. At Tahriim : 8 “Yaa ayyuhal ladziinaa aamanuu tuubuu ilallahi taubatan nashuuhaa” artinya: “Wahai orang-orang yg beriman (percaya) ber-taubat-lah kepada Allah dengan taubat Nasuha (semurni-murninya)”. QS. An-Nur: 31 artinya: “Dan taubat-lah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yg beriman supaya kamu beruntung”. QS. Al-Baqarah: 222 artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yg taubat dan mencintai orang-orang yg suci”. Pengertian taubat :  kembali kepada “jalan yg benar”, jalan yg diridhoi oleh Allah SWT. Hadits tentang taubat, Rasulullah bersabda Artinya:  “Wahai manusia ber-taubat-lah kepada Allah dan istighfarlah kepada-Nya, maka sungguh Aku bertaubat seratus kali dalam sehari” (HR. Muslim). Lalu yg artinya:   “Siapa yg ber-taubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah menerima taubat-nya” (HR. Muslim). Disamping itu yg artinya:  “Seorang yg taubat dari dosa seperti orang yg tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya” (Hadist diriwayatkan Ibnu Mas’ud dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Al-Hakim, At-Turmudzi).Berikut yang artinya : “Orang yg ber-taubat itu kekasih Allah SWT dan orang yg ber-taubat itu seperti orang yg tidak mempunyai dosa” (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud).Juga disebutkan artinya: “Tidak ada sesuatu yg lebih dicintai Allah melebihi seorang pemuda yang taubat” (HR. Salman (daif / lemah).Nabi SAW bersabda: “Andaikan kamu berbuat dosa, sehingga dosamu mencapai langit kemudian kalian ber-taubat, niscaya Allah memberi ampun kepada kalian”(HR. Ibnu Majah).  Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Azzawa jalla tetap menerima taubat seseorang hamba selama belum naza”. Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan :”Seseorang mungkin jika berbuat dosa maka berbintik hitam dalam hatinya, maka bila ia ber-taubat menghentikan dan membaca istighfar mengkilap kembali hatinya, dan bila menambah dosanya bertambah bintik hitamnya, sehingga menutup hatinya, maka itulah yg bernama ar roan yg hati mereka telah kotor (keruh,gelap) dari pada yg mereka lakukan” (HR. At-Tirmidzi).Taubat yg bisa mengobati dosa: adalah taubat nasuha atau taubat yg benar.
Taubat yg benar mempunyai tiga unsur, antara lain:

1. Menyadari (sadar) dengan betul-betul akan kejahatan, perbuatan-perbuatan dosa atau maksiat yg telah diperbuatnya dan merasa sangat menyesal telah melakukannya.
2. Berjanji dalam diri untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan tidak terpuji tersebut selamalamanya dan berusaha tidak mengulangi perbuatan dosa lagi.
3. Berusaha untuk menghilangkan bekas-bekas dosanya yg telah lalu dengan menutupnya dengan amal sholeh dan perbuatan yg baik.

              Dgn kesadaran, orang yg telah bertaubat berusaha segera mensucikan jiwanya dgn banyak ber-dzikir atau meng-ingat Allah SWT dan banyak beramal sholeh serta mengurangi kesalahan-kesalahan yg diperbuat. QS. Ali ‘Imraan : 135 yang berbunyi “Wal ladziina idzaa fa’aluu faahisyatan auzhalamuu anfusahum dzakarullaaha fas taghfaruu li dzunuubihim wa may yaghfirudz dznuuba illallaahu wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa hum ya’lamuun” artinya: “Dan (juga) orang-orang yang bila berbuat keji atau zalim terhadap dirinya, mereka ingat kepada Allah, lalu mereka memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampunkan dosa melainkan Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui”.QS. An Nisaa: 110 yang berbunyi: “Wa may ya’mal suu-an au yazhlim nafsahuu tsumma yastaghfirillaaha yajidillaaha ghafuurar rahiimaa” artinya:” Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.Berdasarkan hal tsb, dapat diambil suatu pelajaran bahwa Allah menyukai orang-orang yg ber-taubat atas dosa-dosanya dan pintu taubat terbuka hingga matahari terbit sampai akhirnya kiamat datang. Apabila telah bertaubat dgn benar dan ikhlas, sehingga Allah menerima taubatnya dan berkenan melimpahkan rahmatNya serta dapat membersihkan jiwa mereka hingga menjadi dekat dgn Allah, maka semua kejahatan akan berubah menjadi kenikmatan, kejelekan menjadi kebaikan dan diberi nur-cahaya yg menerangi serta memperoleh hidayah dan taufiq. Namun ada juga taubat yg tidak diterima oleh Allah SWT, yaitu taubatnya orang-orang yg telah mencapai sakaratul maut dan dalam keadaan kafir. QS. An Nisaa’: 18 berbunyi “Wa laisatit taubatu lil ladziina ya’maluunas sayyi-aati hattaa idzaa hadhara ahadahumul mautu qaala innii tubtul aana wa lal ladziina yamuutuuna wa hum kuffaarun ulaa-ika a’tadnaa lahum ‘adzaaban aliimaa” artinya: ”Dan tidak akan diterima taubat dari orang-orang yg berbuat kejahatan hingga ajal mendatangi salah seorang dari antara mereka, lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku ber-taubat sekarang”. Dan tidaklah (pula akan diterima taubat) orang-orang yg mati sedang mereka itu dalam kekafiran. Bagi mereka Kami sediakan  azab yg pedih”. Apabila seseorang hendak masuk Islam secara keseluruhan (kaffah / lengkap) pada hakekatnya berarti hendak ber-taubat, disunahkan baginya untuk melaksanakan mandi taubat. Orang-orang yg hendak bertaubat, sebelumnya diawali dengan niat dan dilanjutkan dengan mandi taubat.Hadits Nabi diterangkan: ‘An Qais bin ‘Ashim qola: Ataihu Nabiyya sholallahu ‘alaihi wassalama uridul Islama fa amara an agtasila bimain wasidrin, artinya: Dari Qais bin Ashim; Ia berkata: Saya mendatangi Nabi SAW hendak masuk Islam, lalu Beliau menyuruh saya mandi dengan air dan daun bidara  (HR. Abu Dawuid dan Tirmidzi).SHOLAT Sunnah Taubat dalilnya hadits: “Ma mim rajulin yudznibu dzanaban tsuma yaqumu fayatatohharu tsumma yusholli tsumma yastagfirullaha illa ghafarallau lahu” artinya: “Tiada seorang laki-laki yang berbuat dosa, kemudian berdiri maka ia berwudhu, kemudian shalat, kemudian mohon ampun kepada Allah, melainkan diampuni baginya” (HR. Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Baihaqi). Dari Abu Bakar; Ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Apabila seseorang berbuat dosa kemudian bangun, lalu berwudhuk, shalat, kemudian minta ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni kepadanya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Lalu tidur taubat,Sabda Rasulullah SAW : “Wa’udda nafsaka min ashabil qubur” artinya:  “Anggaplah / andaikanlah / rasa-rasakanlah dirimu dari golongan orang-orang penghuni yg di kubur (ahli kubur)”, oleh Ulama Tasawuf (Tarikat Naqsabandiyah) dilaksanakan rangkaian kaifiyat bertaubat, dgn melaksanakan tidur dlm keadaan bersuci, miring kekanan serta diselimuti kain putih. Tidur sesudah mandi dan berwudhuk serta shalat sunnah, tata caranya seperti orang mati, yaitu berbaring di atas lambung / rusuk kanan, seolah-olah mati  atau “matikan dirimu” yg artinya “patuh” atau  “mati hakekat”, merupakan cerminan dari rukun iman yg percaya pada hari akhir.Firman Allah SWT QS. Az Zumar: 30   “Innaka mayyituw wainnahun mayyituun”, artinya: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati”.  Penjelasan: Hal ini dilakukan agar mereka memperoleh kesan  mendalam, bahwa mereka satu kali kelak akan mati juga, hingga benar-benar harus bersiap-siap untuk itu, yakni harus hidup suci dan lurus senantiasa, karena mati datangnya tidak memberi tahu. Bagaikan timun bisa dipetik muda ataupun tua.Tidur dlm keadaan suci dari hadast (ber-wudhuk). Hadits: Dari Ibnu Abbas; Sesungguhnya Nabi SAW bangun malam, lalu masuk kakus menyelesaikan hajatnya, kemudian membasuh wajah dan kedua telapak tangannya (berwudhuk), kemudian tidur (lagi) (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Ketika tidur berbaring di atas rusuk kanan ditutup kain putih seperti mayat terdapat dalam hadits “Qaala lii Rasuulullaahi SAW: Idzaa ataita madhja’aka fatawaddha wudhuuaka lisshshalaati tsummadhthaji’alla syiqqikal aimani”(HR. Bukhari). Juga hadist :“‘Anil barra ibnu ‘Azib qola, qola lii rasulullahu shollallhu ‘alaihi wa salamma: idza ataitamddoji’aka fa tawadho’, katawadhu’ika lisholati tsummadhtoji’ ‘ala syaqqikal aima”, artinya: Dari Barra bin Azib; Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Apabila engkau hendak tidur, maka berwudhuklah terlebih dahulu seperti wudhukmu untuk shalat, kemudian berbaringlah ke sebelah kananmu “(HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).Lalu hadits yg berbunyi “Inna nabiyya shollallahu ‘alaihi  wa sallama kana idza aroda ay yarqudawadho’a yadahu yumma tahta khaddihi “, artinya: Dari Hafshah istri Nabi SAW; Sesungguhnya Rasulullah SAW apabila berkehendak untuk tidur, maka beliau meletakkan tangan  kanannya di bawah pipinya (HR. Abu Dawud).Selanjutnya sabda Rasulullah yg berbunyi “Ilbisu min tsiyabikumul bayadho fa innaha khairu tsiyabikum wa kaffinu fiha mautakum”, artinya: “Pakailah olehmu pakaian yg putih (termasuk selimut), seungguhnya kain putih itu kain yang paling baik, dan kafanilah mayat kamu dengan kain putih pula (HR. Abu Daud). Demikian pula: Dari Ibnu Abbas, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Pakailah olehmu pakaian kamu yg putih, sesungguhnya (pakaian putih itu adalah) pakaian kamu yg terbaik, kafanilah mayat kamu dalam kain putih (pula) dan sebaik-baik celakmu itu utsmud, Ia bisa memperjelas penglihatan dan menumbuhkan rambut” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi) .Kemudian berdzikir dengan bimbingan Guru-Mursyid, dengan dzikir khafi adalah dzikir yg samar yaitu dzikir didalam hati. Firman Allah SWT QS.Al A’raaf : 205 “Wadz kur rabbaka fii nafsika tadharru’aw wa khiifataw wa duunal jahri minal qauli  bil ghuduwwi wal aashaali wa laa takum minal ghaafiliin”, artinya: “ Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dgn merendahkan diri, takut dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang. Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai”. Rasulullah SAW  bersabda: “Sebaik-baik dzikir itu yang samar dan sebaik-baik rizki itu yang mencukupi” (HR. Ahmad bin Hambal). Hadits : Dari Qais bin Ubbad, Ia berkata: Para Sahabat Rasulullah SAW tidak suka meninggikan suara dalam tiga perkara, yaitu: tatkala berperang, ketika mengantar Jenazah dan dalam dzikir (HR. Baihaqi).  Juga : Dari Aisyah RA, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Dzikir yg tidak didengar oleh malaikat Hafazhah (khafi) itu lebih banyak pahalanya daripada dzikir yg didengar oleh malaikat Hafazhah (jahar), dgn tujuh puluh kali lipat  (HR. Baihaqi). Dalam berdzikir taubat diharapkan untuk tidak berniat selain karena Allah SWT, bukan untuk kekeramatan dan bukan pula untuk memperoleh kekayaan atau pun memperoleh kesenangan. Hadits berikut: Dari Abu Hurairah, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Perbanyaklah ingat akan yg memutuskan kelezatan-kelezatan  (maut) ” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasai). Dan, “Campurkanlah majlismu dengan mengingat akan yg mengkeruhkan kelezatan-kelezatan (maut)” (HR.Ibnu Abiddunya dari Anas). Mursyid (Guru) adalah seorang Wali, firman Allah SWT dlm QS. Al Kahfi : 17 berbunyi “May yahdillaahu fahuwal muhtadi wa may yudhlil falan tajidalahu waliyam mursyidaa”, artinya: “Barang siapa yg Allah memberi petunjuk (:kepadanya), dialah yg mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yg Allah menyesatkan (:kepadanya), maka tidak akan menjumpai Wali Mursyid”. QS. Yunus: 62 artinya: “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran yg menakutkan mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.  Mursyid Memberi Syafa’at atau Pertolongan . Memohon untuk didoakan oleh Mursyid secara ruhaniah (batin), yaitu semoga Allah berkenan menghilangkan was-was yg datang dari segala penjuru kehidupan. Dan inilah yg dikatakan tawasul. Mursyid memberi syafa’at karena hakekat Mursyid adalah ruhani guru atau Arwahul Muqaddasah Sang Guru yg telah bergabung dengan ruhani Guru-guru sebelumnya hingga ruhani Rasulullah SAW , yang pada masa kini dhahirnya atau jasmaninya masih hidup sebagai Imam atau Sang pemimpin Peramalan. Firman Allah SWT  QS. Thaahaa: 109   “Yaumaidzil laatanfa ‘usysyafas’atu illaa man adzina lahur Rahmaanu wa  radhya lahuu qaulaa”, artinya: “Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali syafa’at dari orang yg telah diberi izin oleh Allah Yang Maha Rahman dan Dia /  Allah telah me-ridhoi perkataannya”. Berikut QS. An Nisa: 85 “May yasyfa’ syfaa’atan hasana-ay yakul lahuu nashiibun minhaa”, artinya: “Barangsiapa yg memberi syafa’at yg baik (syafa’at menunjuki ke jalan Tuhan) niscaya akan memperoleh bahagian (pahala) dari pada-Nya”. QS. Al Ambiya: 28 “ Ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum walaa yasyfa’uuna ilaa limanirtadhaa wahum minkhayyatihii musyfiquun”, artinya: “Dia (Allah) mengetahui apa-apa yg dihadapan mereka dan apa yg dibelakang mereka, dan mereka tiada dapat memberi pertolongan (syafa’at) selain orang yg disenangi-Nya sedang mereka gemetar karena takut kepada-Nya”. Hadits disebutkan: Dari Utsman bin Affan; Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dihari kiamat yg memberi syafa’at tiga golongan , yaitu: Para Nabi, kemudian Ulama, kemudian Syuhada” (HR. Ibnu Majah). Lalu : Dari Anas, sesungguhnya Umar bin Khaththab RA apabila kaumnya ditimpa kemarau panjang, Dia minta hujan dengan wasilah Abbas bin Abdul Muthallib RA, lalu Dia berdoa: Ya Allah, kami telah ber-wasilah kepadamu dgn (wasilah) Nabi kami Muhammad SAW, lalu engkau menurunkan hujan. Dan pada hari ini kami ber-wasilah kepada-Mu dgn (wasilah) paman Nabi kami SAW maka turunkanlah hujan. Lalu mereka diberi hujan (HR. Bukhari dan Baihaqi). juga : Dari Abu Said, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebahagian dari ummatku ada yg memberi syafa’at kepada golongan besar dari manusia, sebahagian dari mereka ada yg memberi syafa’at kepada satu suku, sebahagian dari mereka ada yg memberi syafa’at kepada golongan kecil dan sebahagian dari mereka ada yg memberi syafa’at kepada satu orang, sehingga mereka masuk syorga semuanya (HR. Tirmidzi). Berikut dikisahkan dlm hadits : Diriwayatkan dari Aisyah r.a yg menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman: “Barangsiapa menyakiti kekasih-Ku, berarti ia telah menghalalkan permusuhan-Ku. Seorang hamba yg mendekat kepada-Ku tidak cukup dengan melaksanakan kewajiban yg Aku perintahkan. Ia harus mendekatkan diri kepada-Ku dgn perbuatan-perbuatan sunat sampai Aku mencintainya. Tiadalah perbuatan yg memberatkan-Ku seperti kebimbangan-Ku ketika mencabut ruh Hamba-Ku yg beriman karena ia tidak suka mati, dan Saya tidak mau menyakitinya, padahal ia harus mati” (HR. Imam Ahmad, At-Turmudzi, Ath-Thabrani). Setiap kaum dan zaman ada yg memberi petunjuk atau Mursyidnya (secara fisik masih hidup) seperti disebutkan dlm QS. Ar Ra’ad: 7  Aayatum mir rabbihii innamaa anta mundziruw wa li kulli qaumin haad”, artinya: “Sesungguhnya engkau (ini, ya Muhammad) seorang pemberi peringatan. Dan bagi tiap-tiap golongan ada yg memberi petunjuk”.
Setelah itu diperlukan kesungguhan dan keikhlasan. Kesungguhan dlm menjalankan al-Islam sangat diperlukan.  QS. Al Maidah : 35 disebutkan “Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wab taghuu ilaihil wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la ‘allakum tuflihuun”, artinya: “Hai orang-orang yg beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan carilah wasilah (metode untuk mendekatkan diri kepada-Nya) dan mujahadalah (sungguh-sungguhlah beramal) dalam jalan-Nya (dgn metode itu) supaya kamu menang / beruntung”.  QS. Al Ankabut : 69  “Wal ladziina jaahaduu fiinaa la nahdiyannahum subulanaa wa innallaaha la ma’al muhsiniin”, artinya: Orang-orang yg ber-mujahadah (bersunguh-sungguh) dalam (menuntut keridhaan) kami, niscara Kami tunjukkan jalan-jalan (metode-metode) kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yg berbuat ihsan”. Tahapan tahsfiyat (penyucian diri) yaitu tahapan peningkatan peramalan dlm bentuk pengintensifan amalan  dalam metode tarekat sehingga memperoleh pelajaran atau pengalaman ruhani adalah sbb:
 
1. Takholli / Takhallii :   -- Kosongkan diri dari sifat / perangai tercela dan rendah serta maksiat lahir  batin (pembersihan), yaitu bersih dari najis dan hadas,  maksiat lahir-batin serta hati rabbaniyyah, dll
2. Tahallii   :  -- Mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji dan taat lahir batin menuju hakekat (pengisian), yaitu ber-syariat, ber-tarekat  dan ber-hakekat (mendekat dan mengenal Allah) menuju makrifat
3. Tajallii ( percikan terang zat Allah)  :  -- Merasakan akan rasa ketuhanan dan sampai memperoleh     pada suatu kenyataan Allah  atau  Tuhan (makrifatullah) –  masuknya bayangan al-Haqq dan al-Khalq ke dalam hati –  sebagai puncak segala tujuan.
 
              Teknologi Al Qur’an memang tersimpan dlm tharekatullah yg asli dan lurus (benar) . Termasuk dlm ilmu tasawwuf Islam. Firman Allah dlm QS. Al Jin : ayat 16  Wa al lawis taqaamuu ‘alath thariiqati la asqainaahum maa-an ghadaqaa”, artinya:  “Sekiranya mereka berketatapan hati pada jalan Allah (tarekat yg benar), niscaya Kami memberi minum mereka dgn air yg berlimpah (segar)”.  Dan bahwasannya jika mereka selalu tetap berdiri teguh / memakai cara / metodologi yg tepat dan benar / tarekat yg benar, maka Allah akan melimpahkan untuk mereka (minum air segar / kurnia seperti berlimpah) hujan lebat (dari langit). Dan apabila kemudian ada berita dari orang-orang fasiq agar diperiksa lebih dahulu dgn seksama. QS. Al Hujuraat:  6 berbunyi “ Yaa ay-yuhal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabay-yanuu an tushibuu qauman bijahaalatin Futushbihuu ‘alaa maa fa’altum naadimiin”, artinya:Hai orang-orang yg beriman, apabila orang-orang fasiq datang membawa berita kepadamu, maka periksalah lebih dahulu dgn seksama. Supaya kamu jangan sampai mencelakakan orang lain, tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu akan menyesal atas kecerobohanmu itu”.  Sangat merugi apabila kita sebagai orang yg beriman berprasangka buruk atau mengolok-olok mereka yg masuk tarekat (bertaubat) dan mengamalkan dzikir . Firman Allah SWT dlm  surat QS. Al Hujaraat : 11  Yaa ayyuhal ladziina aamanuu laa yas khar qaumum min qaumin ‘asaa an yakuunuu khairam minhum”, artinya: “Hai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yg lain (karena) boleh jadi mereka (yg diolok-olok) lebih baik dari mereka (yg mengolok-olokkan)”. QS. Al Hujaarat : 12 “Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiiram minazh zhanni inna ba’dhazh zhanni itsmuw walaa tajassasuu walaa yaghtab ba ‘dhukum ba’dhaa”, artinya: “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yg lain”.
 









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar