Laman

Pengikut

Jumat, 16 Maret 2012

O R N A M E N

O R N A M E N
oleh Agus Mulyadi Utomo
Hidup dan Seni:goesmul.blogspot.com/ornamen
goesmul@gmail.com

Bangsa Indonesia terdiri banyak suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, terdiri dari berbagai daerah dan suku-suku yang hampIr pada setiap daerah tersebut telah mewariskan hasil-hasil karyanya berupa kesenian yang besar dan bernilai tinggi serta meyakinkan. Hasil kesenian tersebut ternyata hingga saat sekarang masih hidup dan terpelihara. Kenyataan itu memberi harapan tentang kelangsungan hidup dari seni-seni tradisi yang memiliki nilai-nilai tinggi dan adhiluhung dengan berbagai variasinya, serta semakin besarnya perhatian masyarakat dan pemerintah dalam mengelola masalah tersebut. 

 Atas dasar kenyataan tersebut amatlah disayangkan apabila kesenian yang sudah sedemikian itu sampai mengalami kepunahan karena adanya arus globalisasi dengan masuknya budaya barat ke Indonesia. Untuk itulah sudah sewajarnya bangsa Indonesia dan para generasi mudanya ikut andil dalam melestarikan keterampilan warisan nenek moyang,  sekaligus mengembangkan seni budaya yang dimiliki. Sebagaimana diketahui bahwa cabang kesenian tradisi yang ada di Indonesia diantaranya meliputi bidang senirupa, seperti keramik, patung, lukisan, bentuk arsitektur dan percandian, mebelair, kain dan busana, peralatan atau perabotan sehari-hari dan sebagainya. Dalam bidang senirupa inipun masih terbagi-bagi lagi menjadi bermacam-macam jenisnya, dan salah satunya adalah seni ornamen.

Ornamen merupakan salah satu unsur dari cabang senirupa yang tidak kalah pentingnya dalam usaha memenuhi tuntutan jiwani. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa ornamen memiliki peran yang sangat besar, hal ini dapat di lihat melalui penerapannya di berbagai hal, meliputi segala aspek kehidupan manusia baik bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Seperti misalnya penerapannya pada alat-alat upacara, alat berburu, angkutan, rumah-rumah adat, alat-alat pertanian, souvenir dan sebagainya. Ornamen merupakan salah satu unsur senirupa yang sudah selayaknya mendapat perhatian besar dari masyarakat luas, demi suatu kemanfaatan dan untuk menjaga kelestariannya.


Pengertian Ornamen                                                                                                                                  

Herbert Read menyebutkan bahwa kebutuhan akan ornamen sebenarnya bersifat psikologis, karena pada diri manusia terdapat suatu perasaan yang disebut: “H o r r o r   V a c u i i “, yang dapat diartikan sebagai berikut, yaitu sebagai: “ Katakutan akan ruang kosong ”, atau bahwa perkataan ornamen berasal dari kata horror of a vacuum (Bhs.Inggris) yang berarti perabot, pakaian, arsitektur dan lainnnya, kesan menakutkan atau  aroma kebencian dan kengerian terhadap ruang  atau komposisi kosong. Istilah ini sering dipergunakan dalam sejarah tradisional atau ornamentasi dan pada seni primitif.  Kritikus Italia Mario Praz, menggunakan istilah ini untuk menggambarkan atmosfir yang mencekik dan kesemrawutan desain interior pada masa Victorian. Pergerakan dari daerah Timur, mengisi ruang kosong dengan menyerap seni Islam (Arabesque) dari masa lampau hingga kini. Sebagai contoh penerapan lainnya, adalah yang berasal dari seni Yunani Kuno yaitu masa Geometrik (1100-900 SM), ketika horror vacuii dianggap sebagai unsur gaya dari semua seni. Ada yang berpendapat bahwa horror vacuii  dalam seni, datangnya dari ketidakstabilan atau dipengaruhi secara mental atau psikologis para seniman, arsitek dan pemerhati karya seni.

Banyak para ahli berpendapat Ornare (bahasa Latin) yang berarti menghiasi, dalam Ensiklopedia Indonesia, ornamen dijelaskan  sebagai setiap hiasan bergaya geometrik atau yang lainnya; ornamen dibuat pada suatu bentuk dasar dari hasil kerajinan tangan. Ornamen berasal dari kata “Ornare” (bahasa Latin) yang berarti menghias. Ornare  yang berarti menghiasi ini, ornamen dibuat pada suatu bentuk dasar dari hasil kerajinan tangan berupa perabot, pakaian dan arsitektur. Pengertiannya berasal dari kata “Ornare” ini (bahasa Latin) yang berarti menghias, juga berarti “dekorasi” atau hiasan, sering disebut pula sebagai desain dekoratif atau desain ragam hias, dimana setiap hiasan bergaya geometrik atau bergaya lain, ornamen dibuat pada suatu bentuk dasar dari suatu hasil kerajinan tangan (perabotan, pakaian dan sebagainya) termasuk juga arsitektur. Juga dapat diartikan ‘memberikan’ atau ‘menambah’ atau ‘sengaja untuk tujuan sebagai hiasan’, misalnya sebuah produk diberi hiasan dengan tujuan agar lebih tampak estetik atau pun lebih indah. Terjadinya ornamen dikarenakan adanya suatu kebutuhan dari produk itu sendiri, begitu juga adanya dorongan sosial-kultur dan lingkungan kehidupan umat manusia serta lingkungan alam. Ornamen sebagai komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan, baik sebagai ornamen aktif (hias & fungsi) dimana hiasan langsung aktif menanggung beban dan makna tertentu atau pun berfungsi, misalnya sebagai penyangga (kuda-kuda pada tiang bangunan canggah wang di Bali), maupun sebagai ornamen pasif (penghias saja) misalnya hiasan dinding berupa relief.

 Motif pada ornamen juga merupakan bentuk dasar dalam penciptaan atau perwujudan suatu karya ornamen. Motif dalam ornamen meliputi: motif, geometris, motif tumbuh-tumbuhan, motif binatang, motif manusia, motif gunung, motif air, motif awan, motif batu-batuan, motif kreasi atau khayalan dan lainnya.

Motif geometris, adalah motif yang tertua sejak zaman pra-sejarah. Ragam hias ini pada mulanya dibuat dengan guratan-guratan sederhana mengikuti bentuk benda yang dihias.  Kemudian memanfaatkan unsur-unsur dalam ilmu ukur seperti garis-garis lengkung dan lurus, lingkaran, segitiga, segiempat, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin, patra mesir “L/T” dan lain-lain. Selanjutnya dalam perkembangannya motif ini bisa diterapkan pada berbagai tempat dan berbagai teknik apakah digambar langsung, dipahat, dicetak, bahkan memanfaatkan  teknologi computer dan digital. 

Ornamen merupakan  komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja di buat untuk tujuan sebagai hiasan. Di samping tugasnya sebagai penghias secara implisit menyangkut segi-segi keindahaan, misalnya untuk menambah keindahan suatu barang sehingga lebih bagus dan menarik, di samping itu dalam ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (falsafah hidup, simbolisasi dan keagamaan) dari manusia atau masyarakat pembuatnya, sehingga benda-benda yang diterapinya memiliki arti dan makna yang mendalam, dengan disertai harapan-harapan yang tertentu pula. Pada perkembangan-perkembangan lebih lanjut, pemanfaatan ornamen, di samping memiliki maksud-maksud tertentu dan pada waktu yang lebih kekinian banyak penekannya hanya sekedar sebagai penghias saja, dengan demikian ornamen betul-betul merupakan komponen produk seni yang di tambahkan atau sengaja di buat  untuk tujuan sebagai hiasan semata. Dengan demikian jelas bahwa tugas dan fungsi ornamen adalah sebagai penghias suatu objek. Apabila ornamen tersebut di letakkan atau diterapkan pada benda lain akan memiliki nilai tambah pada benda tersebut. Apakah benda yang dihias akan bertambah indah, antik, angker, cantik, dan atau predikat sebagai ungkapan seni lain. Tentunya dalam cakupan yang sesuai dengan bagaimana dan di mana suatu ornamen harus di gunakan. Ternyata pengertiannya tidak semudah itu, sebab dalam ornamen menyangkut masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan luas. Karena dalam hubungannya perlu diuraikan tentang motif, atau tema maupun pola-pola yang di kenakan pada benda-benda seni, bangunan, dan pada permukaan benda apa saja tanpa memandang kepentingannya bagi struktur dan fungsinya. Selanjutnya apabila diteliti lebih mendalam dari pembahasan di atas, cakupan ornamen menjadi sangat luas. Karena sesuatu yang mempunyai tugas menghiasi serta menambah nilai dari benda yang ditempatinya berarti disebut sebagai ornamen. Pengertian ini akan lebih menyulitkan dalam memahami apabila ingin mengembangkannya. Tidak sepenuhnya pengertian ornamen demikian, sebab ornamen juga memiliki ciri, sifat dan karakter yang sangat khusus. Sehubungan dengan itu, coba dibandingkan persoalan-persoalan berikut ini, dalam sebuah kelompok ornamen, sebuah patung yang berdiri sendiri bisa berubah menjadi suatu unit bila di letakkan di taman kota atau ditempatkan pada pintu-pintu masuk gedung, di dalam ruang bangunan tertentu. 

Begitu juga seandainya sebuah lukisan yang di pasang pada dinding suatu ruangan atau ruang tamu beserta mebel-mebelnya yang begitu serasi, membuat suasana ruangan tersebut menjadi lebih menarik dan indah. Dari uraian di atas jelas fungsi patung, lukisan serta mebel-mebel adalah sebagai hiasan pada taman kota, ruang tamu, maupun pintu gerbang. Dengan demikian patung, lukisan, patung dan mebel tersebut dapat diartikan sebagai ornamen dari taman Kota, ruang tamu maupun pintu gerbang tersebut. Perlu di ketahui pula, bahwa hal yang demikian itu bukanlah yang di maksud dengan ornamen sesungguhnya, sebagai mana yang penulis maksudkan. Contoh lain, ada sebuah mebel yang di dalamnya terdapat ukiran-ukiran yang melilit-lilit ke seluruh bagian mebel, atau ukirannya hanya pada beberapa bagian saja. Dalam kasus seperti ini mudah dijelaskan kedudukan ukiran tadi, yaitu sebagai hiasan atau ornamen dari mebel tersebut. Sejalan dengan hal itu, adalah sama juga persoalannya bila gelang, kalung, liontin dapat di anggap sebagai ornamen dari orang yang memakainya. Diketahui pula, pada di sisi lain benda-benda perhiasan tersebut juga terdapat ornamen yang menghiasinya. Dari pengertian di atas, tentu agak cukup menyulitkan dalam menarik kesimpulan yang memadai, terlebih lagi apabila dikaitkan dengan pengertian dekorasi. Sebab arti dari dekorasi juga menghiasi, sekalipun demikian dapat di pahami bahwa pada umumnya pengertian ornamen dengan dekorasi dalam banyak hal terdapat kesamaan, namun tetap saja ada perbedaan-perbedaan yang signifikan, karena dekorasi dalam banyak hal lebih menekankan pada penerapan-penerapan yang bersifat khusus, misalnya dekorasi interior, dekorasi panggung dan lainnya. Dalam menanggapi masalah tersebut, barangkali akan menjadi lebih terbuka dalam pemikiran, apabila menyadari bahwa ornamen dapat menjadi elemen  atau unsur dekorasi, tetapi tidak untuk sebaliknya (dekorasi sebagai unsur ornamen). Oleh sebab itu pengertian ornamen akan bergantung dari sudut mana  melihatnya, dan setiap orang bebas menarik kesimpulan menurut sudut pandangnya.  

Ornamen juga berarti “dekorasi” atau hiasan, sehingga ornamen sering disebut sebagai desain dekoratif atau desain ragam hias. Dan ornate, mempunyai arti arsitektur yang sangat dipenuhi hiasan dan ornamen.  Dalam Ensiklopedia Indonesia (1979: 1017), ornamen adalah setiap hiasan bergaya geometrik atau bergaya lain, ornamen dibuat pada suatu bentuk dasar dari suatu hasil kerajinan tangan (perabotan, pakaian dan sebagainya) termasuk arsitektur. Dari pengertian tersebut jelas menempatkan ornamen sebagai karya seni yang dibuat untuk diabdikan atau mendukung maksud tertentu dari suatu produk, tepatnya untuk menambah nilai estetis dari suatu benda produk yang akhirnya pula akan menambah nilai finansial dari benda atau produk tersebut. Dalam hal ini ada ornamen yang bersifat pasif dan aktif. Pasif maksudnya ornamen tersebut hanya berfungsi menghias, tidak ada kaitanya dengan hal lain seperti ikut mendukung konstruksi atau kekuatan suatu benda. Sedangkan ornamen berfungsi aktif maksudnya selain untuk menghias suatu benda juga mendukung hal lain pada benda tersebut misalnya ikut menentukan kekuatanya, contohnya: kaki kursi motif belalai atau kaki gajah, juga motif kaki elang dan sebagainya.
          Pendapat lain menyebutkan bahwa ornamen adalah pola hias yang dibuat dengan digambar, dipahat, dan dicetak, untuk mendukung meningkatnya kualitas dan nilai pada suatu produk atau karya seni dan sering dihubungkan dengan berbagai corak dan ragam hias yang ada. Menurut Vinigi L. Grottanelli yang menyebut ornamen sebagai motif-motif dan tema-tema yang dipakai pada benda-benda seni, bangunan-bangunan atau permukaan apa saja tetapi tidak memiliki manfaat struktural dan guna pakai dalam arti semua pengerjaan itu hanya dipakai untuk hiasan semata.  Ornamen juga merupakan perihal yang akan menyertai bidang gambar, lukisan atau jenis karya lainnya, sebagai bagian dari struktur yang ada didalamnya (Susanto, 2003). Pendapat ini agak luas, ornamen tidak hanya dimanfaatkan untuk menghias suatu benda atau produk fungsional saja tapi juga sebagai elemen penting dalam karya seni (lukisan, keramik, patung, grafis), sedangkan teknik visualisasinya tidak hanya digambar seperti yang dikenal selama ini, tapi juga dipahat dan dicetak. Namun Ismail Raji Al-Faruqi (1986), menjelaskan bahwa pendapat Grottanelli sebagai pendapat universal saja. Sedang dalam seni Islam, ornamentasi memiliki nilai dan arti yang lebih luas serta nilai tambah yang lain, tidak hanya sekedar hiasan permukaan, tetapi berfungsi sebagai pengingat akan tauhid (transedensi Ilahi), tranfigurasi bahan (perpaduan bahan dengan penggunaan pola ornamen) dan transfigurasi struktur.

 Pengertian yang lebih luas, bahwa ornamentasi memiliki fungsi sebagai motivasi dasar berkarya dan juga mempunyai kelebihan sebagai lintasan ideologi dan bersikap (trans-ideologi). Dalam perkembangan selanjutnya, penciptaan karya seni ornamen tidak hanya dimaksudkan untuk mendukung keindahan suatu benda, tapi dengan semangat kreativitas seniman mulai membuat karya ornamen sebagai karya seni yang berdiri sendiri, tanpa harus menumpang atau mengabdi pada kepentingan  lain. Karya semacam ini dikenal dengan seni dekoratif, termasuk lukisan atau karya lain yang mengandalkan hiasan sebagai unsur utama.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ornamen merupakan salah satu karya seni dekoratif yang umumnya dimanfaatkan untuk menambah keindahan suatu benda atau produk, atau merupakan suatu karya seni dekoratif (seni murni atau ekspresi) yang berdiri sendiri, tanpa terkait dengan benda atau produk fungsional. Dari sesuatu yang tidak jelas dan kurang menarik, lalu diberi ornamen untuk lebih memperjelas bentuk secara keseluruhan dan lebih menarik serta indah penampilannya.

Esensi dari penggunaan ornamen juga diibaratkan bagai “wanita yang dasarnya sudah cantik”, agar lebih menarik dan tampak lebih hidup lagi, maka dibubuhi lipstick untuk memperjelas bentuk bibir yang indah, dan dibubuhi dengan makara atau gincu di wajah dengan teliti dan tidak berlebihan agar penampilannya lebih baik lagi dan memancarkan nilai keindahan serta lebih menonjolkan kecantikannya itu. Pemberian gincu atau makara bisa juga menutupi kelemahan atau kekurangan fisik, bisa juga bila penerapan yang terlampau berlebihan dan ceroboh akan mengubah citra atau karakter seseorang dan bahkan terlihat seperti murahan.

Struktur Ornamen

Struktural ornamen ini, dapat lebih mudah untuk dimengerti terutama dalam mendekorasi yaitu mengolah ornamen keramik. Terjadinya ornamen tersebut, umumnya  disebabkan ada dua hal antara lain:

1. Karena bahan atau materialnya, yaitu ornamen terjadi karena kebetulan secara visual sudah ada atau terdapat pada material atau bahannya (lihat Gambar). Bahan yang dipergunakan sudah memiliki efek-efek yang bersifat ornamental dan alami. Sebagai contoh yaitu adanya bintik-bintik oksida logam dalam tanah liat atau yang terdapat pada serat-serat kayu, tekstur bahan sintetis atau corak tertentu pada bebatuan dan lain sebagainya.  
2.   Karena adanya proses atau karena penggunaan peralatan. Terjadinya ornamen dikarenakan adanya suatu proses dari pembuatan dan yang sengaja dikeluarkan atau ditampilkan. Efek-efek ornamental muncul secara sengaja atau dari akibat proses pengerjaan. Contohnya seperti adanya alur atau jalur-jalur pada benda keramik bekas tangan atau alat terim yang diputar (lihat gambar). Juga adanya efek-efek ornamental pada pada bekas telapak (kaki / tangan / sepatu), kerang, tali, anyaman, tenunan dan sebagainya. 

Type-type Ornamen

Permulaan sejarah semua ornamen atau hiasan itu, bermula dari ornament structural, baik yang timbul sesudah tersimpulkan dalam bahan maupun yang timbul karena cara-cara pengerjaan. Kemudian kualitas-kualitas atau efek-efek yang muncul secara sadar ditiru dan dikembangkan serta  menjadi ornamen  yang diterapkan atau dibubuhkan. Sesuai dengan asal-usulnya terdapat dua type ornamen, yaitu structural ornament dan applied ornament.

Ornamen dan Cakupannya    

Ornamen merupakan  komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja di buat untuk tujuan sebagai hiasan. Di samping tugasnya sebagai penghias secara implisit menyangkut segi-segi keindahaan, misalnya untuk menambah keindahan suatu barang sehingga lebih bagus dan menarik, di samping itu dalam ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup  (falsafah hidup) dari manusia atau masyarakat pembuatnya, sehingga benda-benda yang dihasilkannya memiliki arti dan makna yang mendalam, dengan disertai harapan-harapan yang tertentu pula.   

Pada perkembangan lebih lanjut dalam pemanfaatan ornamen, di samping memiliki maksud-maksud tertentu dan trend serta pada waktu yang lebih kekinian banyak penekannya hanya sekedar sebagai penghias saja. Ternyata ornamen betul-betul merupakan komponen seni yang di tambahkan atau sengaja di buat  untuk tujuan sebagai hiasan semata. Dengan demikian, telah jelas bahwa tugas dan fungsi ornamen adalah sebagai penghias suatu objek atau produk, dan apabila ornamen tersebut di letakkan atau diterapkan pada benda lain akan memiliki nilai tambah pada benda tersebut, bahkan ada sebagai nilai peribadatan dan magis, juga dalam seni ornamen Islam selain untuk memperindah, bisa saja memiliki nilai pengingat, nasehat, dakwah dan nilai spiritual.

Penerapan ornamen, apakah akan menambah indah, antik, angker, cantik, dan atau predikat yang lain lagi. Tentunya dalam cakupan sesuai dengan siapa yang melakukan, untuk apa dan bagaimana serta di mana suatu ornamen harus di gunakan. Ternyata pengertiannya, tidaklah semudah dan sesempit itu, sebab dalam ornamen menyangkut masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan luas. Karena dalam hubungan tersebut perlu pula diuraikan tentang pemilihan motif, atau tema maupun pola-pola yang di kenakan pada benda-benda seni, bangunan dan pada permukaan apa saja, untuk memperkuat karakter suatu objek dengan pertimbangan berbagai hal dan memandang kepentingan lain, baik struktur  maupun fungsinya, dan lain sebagainya.

Selanjutnya apabila diteliti lebih mendalam dari pembahasan di atas, cakupan ornamen menjadi sangat luas. Karena sesuatu yang mempunyai tugas menghiasi serta menambah nilai dari benda yang ditempatinya berarti disebut sebagai ornamen. Pengertian ini akan lebih menyulitkan atau merasa terbebani apabila perupa ingin mengembangkannya sesuai banyak kepentingan. Namun  tidaklah sepenuhnya pengertian ornamen demikian, sebab ornamen memiliki ciri, sifat dan karakter yang sangat khusus. Sehubungan dengan itu, coba dibandingkan persoalan-persoalan berikut ini dalam sebuah kelompok ornamen, sebuah patung yang berdiri sendiri bisa berubah menjadi suatu unit bila di letakkan di taman kota atau ditempatkan pada pintu-pintu masuk gedung atau bangunan. Begitu juga seandainya sebuah lukisan yang di pasang pada dinding suatu ruangan (ruang tamu) beserta mebel-mebelnya yang begitu serasi, membuat suasana ruangan tersebut menjadi lebih menarik dan indah. Dari uraian di atas jelas fungsi patung, lukisan serta mebel-mebel adalah sebagai hiasan pada taman kota, ruang tamu, maupun pintu gerbang. Jadi dengan demikian, adanya  patung, lukisan, patung dan mebel tadi dapat diartikan sebagai ornamen dari taman Kota, ruang tamu maupun pintu gerbang tersebut. Perlu kiranya di ketahui bahwa hal yang demikian itu bukanlah yang di maksud dengan ornamen sesungguhnya, sebagai mana yang dimaksudkan. Contoh lain, ada sebuah mebel yang di dalamnya terdapat ukiran-ukiran yang melilit-lilit ke seluruh bagian mebel, atau ukirannya hanya pada beberapa bagian saja. Dalam kasus ini mudah dijelaskan kedudukan ukiran tadi, yaitu sebagai hiasan atau ornamen dari mebel tersebut.

Sejalan dengan itu, adalah sama persoalannya bila gelang, kalung, liontin di anggap sebagai ornamen dari orang yang memakainya, padahal di sisi lain benda-benda perhiasan tersebut juga terdapat ornamen yang menghiasinya. Pengertian di atas agak cukup menyulitkan dalam menarik kesimpulan yang memadai, terlebih lagi apabila dikaitkan dengan penertian dekorasi. Sebab arti dari dekorasi juga menghiasi, sekalipun demikian dapat di pahami bahwa pada umumnya pengertian ornamen dengan dekorasi dalam banyak hal terdapat kesamaan, namun tetap saja ada perbedaan-perbedaan yang signifikan, karena dekorasi dalam banyak hal lebih menekankan pada penerapan-penerapan yang bersifat khusus, misalnya dekorasi interior, dekorasi panggung. Dalam menanggapi masalah itu, barangkali akan menjadi lebih terbuka dalam pikiran apabila menyadari bahwa ornamen dapat menjadi elemen  atau unsur dekorasi, tetapi tidak untuk sebaliknya  dekorasi sebagai unsur ornamen. Oleh sebab itu pengertian ornamen akan bergantung dari sudut mana cara melihatnya, dan setiap orang bebas menarik kesimpulan menurut sudut pandangnya. 

Motif dan Pola Ornamen

Kalau membahas tentang ornamen kita tidak terlepas dari pola dan motif karena pola dan motif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ornamen. Pola dalam bahasa Inggris di sebut “pattern”. Menurut H.W. Fowler dan F.G Fowler, pola disebut “decorative” design as executed on carpet, wall paper, clots etc”, sedangkan Herbert Read menjelaskan pola sebagai penyebaran garis dan warna dalam suatu bentuk ulangan tertentu. Gambaran tentang pola mungkin masih sulit dipahami apabila belum mengerti tentang apa itu motif. Dalam Ensiklopedia Indonesia, di jelaskan bahwa motiflah yang menjadi pangkal tema dari suatu buah hasil kesenian.

Sejalan dengan pendapat di atas kalau di gambarkan, apabila ada garis lengkung (hanya sebagai contoh) maka garis tersebut disebut sebagai motif, yaitu motif garis lengkung, kalau garis lengkung tadi diulang secara simetris, maka akan diperoleh gambar lain yaitu gambar ke dua, merupakan sebuah pola yang diperoleh dengan menggunakan motif garis lengkung tadi, selanjutnya apabila gambar ke dua tadi motif dan di ulang-ulang menjadi gambar ke tiga, maka gambar tersebut dapat di sebut sebagai pola atas motif yang ke dua tadi, demikian seterusnya.

Jadi dari satu jenis motif betapapun sederhananya, sebagaimana garis lengkung yang dijadikan contoh tadi, setelah mengalami pengulangan dapatlah diperoleh sebuah pola, bahkan tidak hanya sebuah saja, tetapi akan bergantung pada kemungkinan kreativitas seseorang dalam merangkainya. Selanjutnya apabila pola yang telah diperolehnya tadi diterapkan atau dijadikan hiasan pada suatu benda, misalnya dengan jalan di ukir (contoh: pada sebuah kursi), maka kedudukan pola tadi ialah sebagai ornamen dari kursi tersebut. Sampai di sini jelaslah bahwa motiflah yang menjadi pangkal atau pokok dari suatu pola, dimana setelah motif itu mengalami proses penyusunan dan dibuat secara berulang-ulang akan diperoleh sebuah pola. Kemudian setelah pola tadi diterapkan pada suatu benda maka jadilah suatu ornamen.  

Ornamen merupakan salah satu  seni hias yang paling dekat dengan kriya apalagi jika dikaitkan dengan berbagai hasil produknya. Untuk membuat suatu karya dan mengembangkan atau merintis suatu keahlian pada bidang kriya, tentu peranan ornamen menjadi sangat penting.

Disamping itu dalam hal hias-menghias, merupakan salah satu tradisi di Indonesia yang tidak kalah pentingnya dan tidak dapat dipisahkan dengan cabang-cabang seni rupa lainnya. Peranan ornamen sangatlah besar, hal ini dapat dilihat dalam penerapannya pada berbagai hal meliputi: bidang arsitektur, alat-alat upacara dan adat-istiadat, alat angkutan, benda souvenir, perabot rumah tangga, pakaian, perhiaan dan sebagainya. Juga untuk memenuhi berbagai aspek kehidupan, baik bersifat jasmaniah maupun ruhaniah.

Untuk mempelajari dan menghayati bentuk serta arti seni ornamen, terlebih sampai pada sejarah, makna simbolis, gaya, jenis, cara pengungkapan, fungsi atau penerapannya pada suatu benda atau bangunan dan lain-lain, diperlukan suatu pengetahuan serta kemahiran (skill) tertentu dan waktu yang panjang, mengingat seni ornamen mempunyai berbagai aspek seperti: jenis motif, corak, perwatakan, nilai, teknik penggambaran, dan penerapan yang berbeda-beda. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk mempelajari, mengerti, menghayati, dan menciptakannya secara baik. Secara bertahap semua itu dapat dipahami, apabila didukung oleh kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat.

          Motif dalam konteks ini dapat diartikan sebagai elemen pokok dalam seni ornamen. Ia merupakan bentuk dasar dalam penciptaan/perwujudan suatu karya ornamen. Motif alam ornamenmeliputi: a. Geometris, motif yang tertua dari ornamen adalah bentuk geometris. Motif ini lebih banyak memanfaatkan unsur-unsur dalam ilmu ukur seperti garis-garis lengkung dan lurus, lingkaran, segitiga, segiempat, bentuk meander, swastika, dan bentuk pilin, bermacam pepatran, patra mesir “L” atau “T” dan lain-lain. Ragam hias ini pada mulanya dibuat dengan guratan-guratan mengikuti bentuk benda yang dihias, dalam perkembangannya motif ini bisa diterapkan pada berbagai tempat dan berbagai teknik yang bisa digambar atau dipahat atau pun dicetak. b.   Motif tumbuh-tumbuhan. Penggambaran motif tumbuh-tumbuhan dalam seni ornamen dilakukan dengan berbagai cara baik natural maupun stilirisasi sesuai dengan keinginan senimannya, demikian juga dengan jenis tumbuhan yang dijadikan obyek/inspirasi juga berbeda tergantung dari lingkungan (alam, sosial, dan kepercayaan pada waktu tertentu)  tempat motif tersebut diciptakan. Motif tumbuhan yang merupakan hasil gubahan sedemikian rupa jarang dapat dikenali dari jenis dan bentuk tumbuhan apa sebenarnya yang digubah atau distilisasi, karena telah diubah dan jauh dari bentuk aslinya. c. Motif binatang. Penggambaran binatang dalam ornamen sebagian besar merupakan hasil gubahan/stilirisasi, jarang berupa binatang secara natural, tapi hasil gubahan tersebut masih mudah dikenali bentuk dan jenis binatang yang digubah, dalam visualisasinya bentuk binatang terkadang hanya diambil pada bagian tertentu ( tidak sepenuhnya) dan dikombinasikan dengan motif lain. Jenis binatang yang dijadikan obyek gubahan antara lain, burung, singa, ular, kera, gajah dll. Untuk mempelajari dan menghayati bentuk serta arti seni ornamen, terlebih sampai pada sejarah, makna simbolis, gaya, jenis, cara pengungkapan, fungsi atau penerapannya pada suatu benda atau bangunan dan lain-lain, diperlukan suatu pengetahuan serta kemahiran (skill) tertentu dan waktu yang panjang, mengingat seni ornamen mempunyai berbagai aspek seperti: jenis motif, corak, perwatakan, nilai, teknik penggambaran, dan penerapan yang berbeda-beda. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk mempelajari, mengerti, menghayati, dan menciptakannya secara baik. Secara bertahap semua itu dapat dipahami, apabila didukung oleh kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat. d. Motif manusia. Manusia sebagai salah satu obyek dalam penciptaan motif ornamen mempunyai beberapa unsur, baik secara terpisah seperti kedok atau topeng, dan secara utuh seperti bentuk-bentuk dalam wayangan. e. Motif gunung, air, awan, batu-batuan dll. Motif benda-benda alami seperti batu, air, awan dll, dalm penciptaannya biasanya digubah sedemikian rupa sehingga menjadi suatu motif dengan karakter tertentu sesuai dengan sifat benda yang diekspresikan dengan pertimbangan unsur dan asas estetika. misalnya motif bebatuan biasanya ditempatkan pada bagian bawah suatu benda atau bidang yang akan dihias dengan motif tersebut. f. Motif Kreasi / khayalan, yaitu bentuk-bentuk ciptaan yang tidak terdapat pada alam nyata seperti motif batik, motif makhluk ajaib, raksasa, dewa dan lain-lain. Bentuk ragam hias khayali adalah merupakan hasil daya dan imajinasi manusia atas persepsinya, motif mengambil sumber ide diluar dunia nyata. Contoh motif ini adalah : motif kala, motif ikan duyung, raksasa, dan motif makhluk-makhluk gaib lainnya. Sedangkan yang dimaksud pola adalah suatu hasil susunan atau pengorganisasian dari motif tertentu dalam bentuk dan komposisi tertentu pula. Contohnya pola hias batik, pola hias majapahit, jepara, bali, mataram dan lain-lain. Singkatnya pola adalah penyebaran atau penyusunan dari motif-motif. Di Bali ada yang disebut kekarangan adalah rekaan yang diciptakan oleh para undagi pada jaman dulu, dengan menyadur wajah binatang, wajah manusia, dibuat dengan ekpresi seniman itu sendiri. Kekarangan dapat digolongkan sebagai berikut: 1) Karang Guak /Manuk, 2) Karang Tapel, 3) Karang Gajah/Asti Karang, 4) Karang Sae, 5) Karang Boma, 6) Karang Bentulu dan ada kekarangan yang lainnya.

Pada umumnya pola hiasan biasanya terdiri dari :   
a.    Motif pokok.   
b. Motif pendukung /figuran.
c.  Isian /pelengkap.
Pola hias mempunyai arti konsep atau tata letak motif hias pada bidang tertentu sehingga menghasilkan ragan hias yang jelas dan terarah. Dalam membuat pola hias harus dilihat fungsi benda atau sesuai keperluan dan penempatannya haruslah tepat. Penyusunan pola dilakukan dengan jalan menebarkan motif secara berulang-ulang, jalin-menjalin, selang-seling, berderet, atau variasi satu motif dengan motif lainnya.

Macam-macam pola :

a)    Pola Pinggiran: yaitu ragam hias disusun berjajar mengikuti garis lurus atau garis lengkung yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pola pinggiran ini ada lima macam yaitu pola pinggiran berdiri, pola pinggiran bergantung, pola pinggiran simetris, pola pinggiran berjalan, dan pola pinggiran memanjat.

§  Pola pinggiran berdiri yaitu ragam hias disusun berjajar berat ke bawah atau disusun makin ke atas makin kecil. Pola pinggiran ini, contohnya sering digunakan untuk menghias pinggiran bawah rok, pinggiran bawah blus, ujung lengan dan lain-lain. 
§  Pola pinggiran bergantung yaitu kebalikan dari pola pinggiran berdiri yang mana ragam hias disusun berjajar dengan susunan berat ke atas atau makin ke bawah makin kecil sehingga terlihat seperti menggantung. Pola pinggiran ini digunakan untuk menghias garis leher pakaian atau leher bejana keramik, garis hias horizontal yang mana ujung motif menghadap ke bawah. 
§  Pola pinggiran simetris yaitu ragam hias di susun berjajar dimana bagian atas dan bagian bawah sama besar. Pinggiran ini digunakan untuk menghias busana pinggiran rok, pinggiran ujung lengan, tengah muka blus, gaun ataupun rok. 
§  Pola pinggiran berjalan yaitu susunan ragam hias yang disusun berjajar pada garis horizontal dan dihubungkan dengan garis lengkung sehingga motif seolah-olah bergerak ke satu arah. Pola pinggiran berjalan ini digunakan untuk menghias busana bagian bawah rok, bawah blus, ujung lengan, dan garis hias yang horizontal.
§  Pola pinggiran memanjat yaitu susunan ragam hias yang disusun berjajar pada garis tegak lurus sehingga seolah-olah motif bergerak ke atas/memanjat. Pola hias  seperti ini biasa digunakan untuk menghias busana bagian yang tegak lurus seperti tengah muka blus, tengah muka rok, garis princes dan lain-lain. 
                                                                             
b)   Pola Serak: penempatan motif pada seluruh permukaan benda dengan prinsip pengulangan dan irama, yang memiliki jarak, bentuk dan ukuran yang sama, serta dapat diatur ke satu arah, dua arah maupun ke semua arah. Pola serak atau pola tabur yaitu ragam hias kecil-kecil yang diatur jarak dan susunannya mengisi seluruh permukaan atau sebahagian bidang yang dihias. Ragam hias dapat diatur jarak dan susunannya apakah ke satu arah, dua arah, dua arah (bolak balik) atau ke semua arah.
c)    Pola berdiri:  penempatan motif pada tepi benda dengan prinsip simetris dan bagian bawah lebih berat dari bagian atas.
d)   Pola bergantung: penempatan motif pada tepi benda dengan prinsip simetris dan bagian atas lebih berat dari pada bagian bawah, semakin ke bawah semakin ringan.
e)    Pola beranting: penempatan motif pada tepi atau seluruh permukaan benda dengan prinsip perulangan, saling berhubungan dan ada garis yang berhubungan serta ada garis yang menghubungkan motif yang satu dengan yang lain.
f)     Pola berjalan: penempatan motif pada tepi benda dengan prinsip asimetris dan prisip perulangan, motif diatur dan dihubungkan, dengan atau seolah garis melengkung sehingga tampak seperti tidak diputus.
g)    Pola memanjat: motif disusun pada garis tegak lurus kemudian motif memanjat atau naik dengan cara membelit atau merambat pada garis tegak lurus.
h)   Pola menurun: moptif disusun pada garis tegak lurus kemudian motif menurun dengan cara membelit-belit atau merambat pada garis tegak lurus.
i)     Pola sudut: dengan tujuan menghidupkan sudut benda tersebut dan tidak dapat diletakkan pada bidang lingkaran, penempatan motif pada sudut mengarah keluar.
j)     Pola bidang berurutan: penempatan motif pada bidang geometris (segi tiga, segi empat, dan segi lainnya) secara berurutan atau beraturan. 
k)   Pola memusat: penempatan motif pada permukaan benda yang mengarah ke bagian benda atau ruangan.
l)     Pola memancar: penempatan motif pada permukaan benda yang bertolak dari focus Pola hiasan memancar keluar, seperti benda bersinar memancarkan cahaya.

Agar ragam hias di atas dapat digunakan untuk menghias suatu benda maka perlu dirancang bentuk susunan ragam hiasnya yang disebut dengan pola hias. Pola hias merupakan susunan ragam hias yang disusun jarak dan ukurannya berdasarkan aturan-aturan tertentu. Pola hiasan juga harus menerapkan prinsip-prinsip desain seperti keseimbangan, irama, aksentuasi, dan kesatuan sehingga terdapat motif hias atau desain ragam hias yang diinginkan. Desain ragam hias yang sudah berbentuk pola hias sudah dapat di gunakan untuk menghias sesuatu benda.

Pola hias selain pola serak dan pola pinggiran, ada pola yang sebagai pengisi bidang dan juga ada pola bebas.

·      Pola pengisi bidang, yaitu ragam hias disusun mengikuti bentuk bidang yang akan dihias. Contohnya bidang segi empat, bidang segi tiga, bidang lingkaran dan lain-lain.
a. Mengisi bidang segi empat, ragam hias bisa disusun di pinggir atau di tengah atau pada sudutnya saja sehingga memberi kesan bentuk segi empat. Pola mengisi bidang segi empat ini bisa digunakan untuk menghias benda yang berbentuk bidang segi empat seperti alas meja, blus dengan belahan di tengah muka seperti kebaya.
b. Mengisi bidang segi tiga, ragam hias disusun memenuhi bidang segi tiga atau di hias pada setiap sudut segitiga. Pola seperti ini digunakan untuk menghias taplak meja, saku, puncak lengan, dan lain-lain.
c.  Pola yang mengisi bidang lingkaran atau setengah lingkaran, ragam hias dapat disusun mengikuti pinggir lingkaran, di tengah atau memenuhi semua bidang lingkaran. Pola mengisi bidang lingkaran ini dapat digunakan untuk menghias garis leher yang berbentuk bulat atau leher Sabrina, taplak meja yang berbentuk lingkaran, dan lain-lain. 

·      Pola bebas, yaitu susunan ragam hias yang tidak terikat susunannya apakah arah horizontal atau vertikal, makin ke atas susunannya makin kecil atau sebaliknya, dll. Yang perlu diperhatikan adalah susunannya tetap sesuai dengan prinsip-prinsip desain dan penempatan hiasan pada  benda tidak mengganggu desain struktur benda.


    Hal-hal yang terkait dengan pembuatan pola adalah: a.    Simetris yaitu pola yang dibuat, antara bagian kanan dan kiri atau atas dan bawah adalah sama.  b.   Asimetris yaitu pola yang dibuat antara bagian-bagiannya (kanan-kiri, atas-bawah) tidak sama. c. Pengulangan yaitu pola yang dibuat dengan pengulangan motif-motif. d.   Bebas atau kreasi yaitu pola yang dibuat secara bebas dan bervariasi. 


                   Pola memiliki fungsi sebagai arahan dalam membuat suatu perwujudan bentuk artinya sebagai pegangan dalam pembuatan agar tidak menyimpang dari bentuk atau motif yang dikehendaki, sehingga hasil karya sesuai dengan ide yang diungkapkan.

 Perwujudan  Penggambaran Ornamen


Beberapa cara atau gaya yang dijadikan konsep dalam pembuatan karya ornamen adalah sebagai berikut:

a.    Realis atau naturalis pembuatan motif ornamen yang berusaha mendekati atau  mengikuti  bentuk-bentuk secara alami tanpa melalui suatu gubahan, bentuk-bentuk alami yang dimaksud berupa bentuk binatang, tumbuhan, manusia dan benda-benda alam lainnya.

b. Stilirisasi atau gubahan, yaitu pembuatan motif ornamen dengan cara melakukan gubahan atau merubah bentuk tertentu, dengan tidak meninggalkan identitas atau ciri khas dari bentuk yang digubah/distilirisasi, atau dengan menggayakan bentuk tertentu menjadi karya seni ornamen. Bentuk-bentuk yang dijadikan inspirasi adalah binatang, tumbuhan, manusia, dan benda alam lainnya.

c. Kombinasi atau kreasi,  yaitu motif yang dibuat dengan mengkombinasikan beberapa bentuk atau motif, yang merupakan hasil kreasi dari senimannya. Motif yang tercipta dengan cara ini biasanya mewakili karakter atau identitas individu penciptanya (idealisme)

Corak Seni Ornamen


Berdasarkan periode dan ciri-ciri yang ditampilkan, karya seni ornamen memiliki beberapa corak yaitu:

a.  Ornamen Primitif, yaitu karya seni ornamen yang diciptakan pada zaman purba atau zaman primitif. Ciri-ciri umum dari seni ornamen primitif adalah sederhana, tegas, kaku, cendrung bermotif geometris, goresan spontan, biasanya mengandung makna simbolik tertentu. Sedangkan komposisi yang diterapkan biasanya berderet, sepotong-sepotong, berulang, berselang-seling, dan sering juga dijumpai penyusunan secara terpadu. Karya seni primitif memberi gambaran kesederhanaan dan gambaran perilaku masyarakat pada zaman itu. Seni primitif bersifat universal karena ciri-ciri umumnya adalah sama diseluruh dunia.

b.  Ornamen klasik adalah hasil karya seni ornamen yang telah mencapai pada puncak-puncak perkembangannya atau telah mencapai tataran estetis tertinggi, sehingga sulit dikembangkan lebih lanjut. Ia telah mempunyai bentuk dan pakem yang standard, struktur motif dan pola yang tetap, memiliki susunan, irama yang telah baku dan sulit untuk dirobah dalam bentuk yang lain, dan yang terpenting telah diterima eksistensinya tanpa mengalami perubahan lagi. Contohnya ornamen Majapahit, Pajajaran, Jepara, Bali, Surakarta, Madura, mataram dan lain-lain. Seni klasik bersifat kedaerahan karenanya masing-masing daerah memiliki ragam hias klasik dengan corak dan ciri-ciri tersendiri.

c.  Ornamen Tradisional, adalah hasil ragam hias yang berkembang ditengah-tengah masyarakat secara turun-temurun, dan tetap digemari dan dilestarikan sebagai sesuatu yang dapat memberi manfaat (keindahan) bagi kehidupan, dari masa ke masa. Ornamen tradisonal mungkin berasal dari seni klasik atau seni primitif, namun setelah mendapat pengolahan-pengolahan tertentu, dilestarikan kemanfaatannya demi memenuhi kebutuhan, khususnya dalam hal kebutuhan estetis. Oleh sebab itu corak seni ornamen tradisional merupakan pembauran dari seni klasik dan primitif. Hasil atau wujud dari pembauran tersebut tergantung dari sumber mana yang lebih kuat yang akan memberi kesan/corak yang lebih dominan. Misalnya motif tradisonal Majapahit, Bali, Jogyakarta, Pekalongan beberapa daerah lainnya lebih dominan bersumber pada corak motif klasik, sedangkan motif tradisional Irian jaya, toraja, motif suku dayak dan motif Kalimantan corak primitifnya lebih menonjol. Ornamen tradisonal bersifat kolektif. 
d.  Ornamen Modern atau Kontemporer yaitu karya seni ornamen yang merupakan hasil kreasi atau ciptaan seniman yang baru dan lepas dari kaidah-kaidah tradisi, klasik atau primitif. Ornamen ini bersifat individu. Poses dan terciptanya seni ornamen modern terkadang bertolak atau mengambil inspirasi dari seni primitif atau tradisional atau merupakan hasil inovasi atau kreativitas seniman secara pribadi, sehingga karya yang tercipta merupakan cerminan pribadi senimannya. Adanya berbagai corak dalam seni ornamen bukan berarti antara corak yang satu dengan yang lainnya mempunyai nilai estetis atau nilai kegunaan lebih tinggi atau lebih rendah, karena masing-masing corak memiliki keunggulan karakter, ciri, dan nilai estetika tersendiri, perbedaan corak tersebut hanya berdasarkan pada periode perkembangan, tampilan fisik, dan sifat penciptaannya. Sedangkan menyangkut kegunaan dan nilai estetis pada dasarnya adalah sama. Adanya anggapan bahwa suatu corak lebih baik dari corak lainnya semata-mata karena selera individu.

1.8       Fungsi Ornamen                                                                                                                                     


Penciptaan suatu karya biasanya selalu terkait dengan fungsi tertentu,demikian pula halnya dengan karya seni ornamen yang penciptaannya selalu terkait dengan fungsi atau kegunaan tertentu pula. Beberapa fungsi ornamen diuraikan sebagai berikut:

a.   Sebagai ragam hias murni, maksudnya bentuk-bentuk ragam hias yang dibuat hanya untuk menghias saja demi keindahan suatu bentuk (benda) atau bangunan, dimana ornamen tersebut ditempatkan. Penerapannya biasanya pada alat-alat rumah tangga, arsitektur, pada pakaian (batik, bordir, kerawang)  pada alat transportasi dan sebagainya.

b.  Sebagai ragam hias simbolis, maksudnya karya ornamen yang dibuat selain mempunyai fungsi sebagai penghias suatu benda juga memiliki nilai simbolis tertentu di dalamnya, menurut norma-norma tertentu (adat, agama, sistem sosial lainnya). Bentuk, motif dan penempatannya sangat ditentukan oleh norma-norma tersebut terutama norma agama yang harus ditaati, untuk menghindari timbulnya salah pengertian akan makna atau nilai simbolis yang terkandung didalamnya, oleh sebab itu pengerjaan suatu ornamen simbolis hendaknya menepati aturan-aturan yang ditentukan. Contoh ragam hias ini misalnya motif kaligrafi, motif pohon hayat sebagai lambang kehidupan, motif burung phonik sebagai lambang keabadian, motif padma, swastika,lamak dan sebagainya.

Teknik Penyelesaian (Finishing)


Penyelesaian gambar ornamen bertujuan untuk membuat karya tersebut menjadi lebih indah dan gambar yang difinishing akan tampak lebih jelas serta menarik. Beberapa teknik yang bisa digunakan untuk melakukan finishing adalah sebagai berikut:

a.    Teknik hitam-putih yaitu penyelesaian suatu karya ornamen yang hanya memanfaatkan tinta atau pensil hitam, penyelesaian dengan cara ini dimaksudkan untuk menimbulkan kesan gelap-terang, penyinaran, kesan jarak, dan kesan volume pada keramik. Teknik penyelesaian (finishing) dilakukan dengan sistem: Arsiran (searah, bebas, dusel), Pointilis yaitu penyelesaian dengan menggunakan titik-titik. Sungging atau gradasi yaitu dengan seperti menggunakan tinta china atau tinta bak, finishing ini dilakukan melalui tahapan-tahapan dari tipis ke tebal atau dari warna gelap ke warna terang sesuai dengan keinginan.

b.   Teknik warna yaitu jenis finishing yang mengunakan warna (oksida warna glasir) sebagai unsur pokok. Finishing ini dilakukan dengan sistem plakat yaitu menerapkan warna secara plakat (seperti poster) sesuai dengan warna motif yang diinginkan. Gradasi (warna tersusun) yaitu dengan menerapkan warna secara tersusun baik dari warna gelap kewarna terang atau sebaliknya. Gelap-terang yaitu menerapkan warna dari warna gelap ke warna terang dengan menebarkan warna (bukan tersusun). Untuk mendapat hasil yang maksimal dalam melakukan finishing dengan warna adalah pengetahuan seseorang tentang teori warna glasir yang menyangkut: jenis warna, teknik pencampuran warna dan efek yang ditimbulkan, nilai warna, sifat warna, makna warna, suhu bakar dan lain-lain.

Imaji Ornamen


Imaji ornamen telah lama menjadi bagian yang melekat dalam sejarah senirupa di Indonesia. Publik dapat memberi petunjuk, misalnya pada seluruh bagian bangunan pada di banyak candi Hindu dan Buddha yang bertebar di berbagai kawasan di Indonesia. Sebagai contoh candi Borobudur yang dibangun mulai sekitar 824 M dan candi Prambanan sekitar 850 M. Di dalamnya, terdapat pada arca, relief, dan tubuh candi itu sendiri banyak sekali tergurat imaji ornamen yang mengisahkan fragmen-fragmen kisah Ramayana dan Mahabharata. Disana, ada terlihat detail njelimet yang bisa dimungkinkan menjadi salah satu representasi atas ketelitian cara kerja dan bahkan cara berpikir manusia Indonesia ketika itu. Demikian juga tatkala publik mencermati karya seni batik dari berbagai daerah. Mulai dari batik ala keraton Yogyakarta, Surakarta, atau batik pesisiran ala Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Gresik, hingga Madura, Riau dan berbagai kawasan lain.

Semua produk seni rupa memberi porsi yang besar dan menonjol atas ornamen sebagai tanda visual yang dominan. Berbagai motif, baik yang dikreasikan berdasarkan atas kelas sosial tertentu, seperti batik motif  parangrusak, udan liris,  kawung  atau  sidomukti  dari keraton Yogyakarta, hingga batik yang diciptakan dengan cara pandang egaliter di luar keraton, telah menempatkan aspek ornamen sebagai hal yang cukup penting, melekat dan dominan bersatu di dalamnya. Belum lagi dengan motif-motif pada bagian tertentu dalam bangunan atau arsitektur gaya Melayu, Minangkabau, Banjar, Dayak, Batak, Bugis, Lombok, Bali dan sekian banyak lagi kelompok suku dan etnis lainnya. Ornamen tidak sekadar menjadi tempelan sekadarnya, namun telah bersalin maknanya sebagai identitas kultural yang dihasratkan sebagai simbol kebanggaan masing-masing suku atau etnis. Demikian pula publik melihat seni tattoo yang pernah dan ada pada sebagian masyarakat di Indonesia, terutama di Mentawai dan Dayak. “Seni lukis tubuh” itu mengenal dengan sadar pola-pola tertentu yang mendepankan aspek ornamentik untuk memberi tekanan artistik dan semiotic dalam mengguratkan seni tattoo tersebut. Sikerei di Mentawai memiliki pemahaman yang cukup untuk memberi ornamen atas tubuh-tubuh orang tertentu saat hendak menattoo, berdasarkan profesi atau kelas-kelas tertentu yang ada dalam masyarakat.



Ornamen sebagai bagian dalam alam “bawah sadar” dan “tradisi” yang dikenal luas, diketahui atau bahkan melekat dalam diri masyarakat dan proses kreatif seniman di Indonesia, banyak dihasratkan untuk dijumput, diakrabi dan digali kembali, kemudian diaktualisasikan dan dikembangkan dalam konteks kebaruan cara pandang perupa atau seniman terhadap perkembangan jaman. Ini memang sebuah hasrat yang sebenarnya “klasik”, namun memang perlu kreativitas lebih lanjut dari para perupa itu sendiri untuk lebih mendinamisasikan lagi.

Publik bisa berkaca dari beragam contoh karya seni rupa kontemporer yang telah beredar di sekitar, misalnya mengolah aspek dasar wayang dengan pembaruan segi ornamentasinya atau memori personal atas dunia pewayangan yang menjadi akar atau dasar tradisi. Wayang digali dan digubah kembali dengan spirit baru bersifat “kontemporer” sesuai kapasitas estetik dan artistik yang dimiliki. Dan publik tentu juga tahu persis bahwa dunia rupa wayang sangat identik dengan dunia ornamen yang rumit penuh ketekunan. Bisa juga dengan menggali aspek visual dari batik pesisiran Cirebonan dengan motif mega mendung. Lalu  yang paling mutakhir sedikit banyak beranjak dari kemampuan untuk dapat mengeksplorasi dan menggubah kembali narasi-narasi visual lokal untuk diangkat dalam “narasi baru” yang dekat dengan konteks perbincangan masa sekarang, sesekali tokoh-tokoh Punakawan yang bernilai lokal itu dijadikan sebagai salah satu subyek utama karya dan dihadirkan dalam kerangka pandang sebagai “new pop art” yang kontekstual untuk masa sekarang. Dengan demikian, sesungguhnya, perhelatan kenusantaraan, memberi peluang seluas-luasnya bagi para perupa bergerak dalam banyak ragam medan dan medium seni rupa untuk terlibat memikirkan kembali (re-thinkhing), membaca kembali (re-reading), dan menemukan kembali (re-inventing) nilai-nilai dalam ornamen yang telah banyak bergerak di sekitar sebagai nilai lokal untuk dikembangkan lebih lanjut dengan bentuk ungkap dan sistem pemahaman yang sebisa mungkin lebih baru dan mendalam.

Kekayaan ornamen seni Indonesia tersaji dalam imaji ornamen  yang menghadirkan kekayaan ornamen seni Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pertumbuhan seni kontemporer di Indonesia semakin besar. Tak hanya memuat persoalan yang mengglobal, para seniman kontemporer juga biasa memuat detail dari ornamen-ornamen yang khas Indonesia dalam  karya. 

Ragam ornamen wayang yang dibuat bisa kontemporer. Meski demikian, telah memberikan sentuhan kontemporer dalam karya melalui sosok wayang yang seolah berperang di dunia modern, ada pesawat luar angkasa, sosok manusia dengan wujud kuda besi, dan robot-robot masa kini. Begitu pula halnya melalui karya Transformer, dalam karya-karya seperti ini, banyak sosok wayang yang digali dan digubah dengan spirit kontemporer sesuai dengan kapasitas estetik dan artistik, menggali gunungan pada pewayangan dalam karya. Dalam cerita wayang kulit, gunungan bisa menjadi pertanda kehidupan. Sebuah kritik sosial yang dihadirkan dalam ornamen yang menawan. "Memang, tak jarang ornamen itu berkait dengan masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan luas. Selain ornamen wayang yang banyak dikupas para seniman, juga memberi peluang seluas-luasnya bagi para perupa yang bergerak dalam banyak ragam medan dan medium seni rupa. Mereka terlibat untuk memikirkan kembali, membaca kembali, dan menemukan kembali nilai-nilai ornamen yang bergerak di sekitar sebagai nilai lokal yang dikembangkan lebih lanjut lewat beragam bentuk yang lebih baru dan mendalam.
 
DAFTAR  PUSTAKA





Anonim, Dictionary of Art, Pergamon Press Ltd, London

Anonim, Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru van Hoeve, 1992

Anonim, Everyman Encyclopedia

Anonim, Encyclopedia of World Art, 1965

Akhdiyat Karta Miharja, Seni dalam Pembinaan Kepribadian Nasional, Budaya X /1-2, 1961

Akhmad Parlan Mulyano, Dekorasi, 1984

Dewantara, Ki Hadjar, Pendidikan (1), Majelis Luhur Taman Siswa  Dewantara, Yogyakarta, 1962

Dogmy dan Carter,  Four Thousand Years of China’s Art, The Honel  Press Company, New York, 1951

Dufrene, Mikel, Dkk, Aesthetics and The Sciences of Art, 1978

Goris R., Atlas Kebudayaan, Pemerintah RI, Jakarta, 1953

Gronemen, Chris and Feirier, General Shop, Mc Grow-Hill, New York, 1969

Heskett, John,  Industrial Design, Thames and Hudson, London, 1980

Hildawati, Keramik Pada Zaman Majapahit, Skripsi SR-ITB, Bandung, 1971

Ismail Raji Al-Faruqi, Seni Tauhid, Esensi & Ekspresi Estetika Islam, Bentang Budaya,1986

Jacques  Havet, Dkk, Main Trends of Research in the   

           Social and Human  Sciences, Unesco

Jurnal Seni Rupa dan Desain, 1999-2003,  Prabangkara, ISSN 1412- 0380, Vol 1-6, No.1-8, PSSRD Univ. Udayana,  Denpasar

Komite Seni Rupa DKJ,  Seni Rupa, Berkala No. 4, Jakarta, 1984

Kempers, AJB., Bali Purbakala, PT. Ichtiar, Jakarta, 1960

Ki Hajar Dewantara, Pendidikan Majelis Luhur, Persatuan   Taman Siswa, Bagian I, Yogyakarta, 1962

Leo Tolstoy, What is Art ? Bobs-Merrill, Indiana polis, New York, 1960

Monro, Thomas, Evolution in The Arts, The Cleveland Museum of Art Clevend, 1963

Myers, Bernard.S., Dictionary of Art, 1951

Murdowo, Seni Budaya Bali-Balinese Art and Culture, Jakarta, 1963

Murtihadi, Ornamen, 1981

Mayer, Ralph, A Dictionary of Art Term & Techniques, Adan & Charler Black Ltd, London, 1969

Mills, John Fitz Maurice, The Pergamon , 1965

Mikke Susanto, Diksi Rupa, Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa, Dicti Art Lab. Yogyakarta & Jagat Art Space Bali, 2011

Papanek, Victor, Design for the Real World, New York, Pantheon Books, 1971

Poewodarminto, WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pn. Balai Pustaka, Jakarta, 1976

Radiawan, Konsep dan Aplikasi Ornamen Tradisi Bali, dalam Jurnal Imaji, Vol. 9, No.2 Agustus, 2011

Read, Herbert, The Meaning of Art, Faber and Faber Limited, London, 1962

Runes, Dagobert D. and Harry S., Encyclopedia of The Arts, USA, 1946

Santoso Doellah, Batik: The Impact of Time and Environment, Danar Hadi

Soedarso, Sp., Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi  Seni, Suku Dayar San, Yogyakarta, 1988

Sugriwa, I Gst Bagus, Dasar-dasar Kesenian Bali, Pemda Tk.I Bali, Denpasar, 1957

Tomas Munro, Evolution in the Arts, The Cleveland Museum of Arts, Cleveland, 1963

Utomo, Agus Mulyadi, Wawasan & Tinjauan Seni Keramik, Paramita, Surabaya, 2007

Utomo, Agus Mulyadi, Pengetahuan Teknologi Bahan Keramik, Udayana University Press & ISI Denpasar, 2010

Utomo, Agus Mulyadi, Produk Kekriyaan Dalam Ranah Seni Rupa danDesain, ISI Denpasar & Hijrah M, 2011

Yuliman, sanento, dkk, Lingkup Seni Rupa : Kumpulan Karangan Tentang Cabang-cabang Seni Rupa, ITB, Bandung, 1983


Ornamen Tradisional Bali, Keramik Tempat Tirta karya Made Rai Sunarini "Sangku Dewata Nawa Sanga"

 Hidup dan Seni:goesmul.blogspot.com/ornamen






 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar