Laman

Pengikut

Rabu, 22 Februari 2012

ISTILAH DAN PENGERTIAN KERAMIK


Istilah Keramik
Oleh Agus Mulyadi Utomo
Hidup dan Seni.blogspot.goesmul.com.keramik
goesmul@gmail.com 

             Buku Dictionary of Art yang ditulis Bernard S. Myers menyatakan bahwa, kata keramik berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu “keramos” yang berarti tanah liat (Myers, 1969:429). Dictionary of Art tulisan Mills J.F.M. menyebutkan bahwa kata keramik berasal dari bahasa Gerika yaitu kata “keramikos” yang berarti benda–benda yang terbuat dari tanah liat; yang merupakan suatu istilah umum untuk studi seni dari pottery dalam arti kata yang luas, termasuk segala macam bentuk benda  yang terbuat dari tanah liat dan dibakar serta mengeras oleh api ( Mills, 1965:39). Ruth Lee, dalam bukunya yang berjudul Exploring The World of Pottery menjelaskan bahwa istilah Yunani untuk kata keramik ialah “keramos” yang berasal dari kata “keramikos” suatu daerah di Athena di sekitar pintu gerbang Dypilon tempat tinggal kebanyakan kaum perajin tanah liat, dimana mereka juga bekerja dan menjual keramik (Ruth Lee, 1971:25). Ditelusuri lebih jauh oleh para peneliti, ditemukan bahwa sebenarnya “keramos” itu merupakan nama salah satu dewa di Yunani. Encyclopedia of The Arts menjelaskan bahwa di dalam mitologi Yunani, “Keramos”, adalah putra Dewi Ariaduc (Ariadne) dengan Dewa Baccus, yang merupakan dewa pelindung para pembuat keramik (Runes, 1946:151). Seperti telah diketahui bahwa orang Yunani juga sangat percaya kepada banyak dewa (lihat mitologi Yunani), dimana setiap jenis pekerjaan atau kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan manusia ada dewa-dewanya yang diharapkan selalu dapat membantu serta melindunginya.

Pengertian dan Cara Pandang Tentang Keramik

Pengertian keramik adalah cakupan untuk semua benda yang terbuat dari tanah liat (lempung), yang mengalami proses panas / pembakaran sehingga mengeras. Balai Besar Keramik Bandung, mendefinisikan keramik sebagai berikut:
“Keramik adalah produk yang terbuat dari bahan galian anorganik non - logam yang telah mengalami proses panas yang tinggi. Dan bahan jadinya mempunyai struktur kristalin dan non-kristalin atau campuran dari padanya (Praptopo Sumitro, dkk, 1984:15).
Definisi keramik yang pengertiannya luas dan umum adalah “bahan-bahan yang dibakar tinggi”, termasuk didalamnya adalah semen, gibs, besi (metal) dan lain sebagainya. Karena hal itulah sebutan keramik bervariasi seperti gerabah, tembikar, mayolika, email, keramik putih, terracota, porselin, keramik batu (stoneware), benda tanah liat, barang pecah-belah, benda api, cermet (keramik-metal), gelas, semen api, keramik halus, kaca, silikon dan lain sebagainya.
Pengertian keramik dapat pula dipandang dari bentuk visualnya (wujud rupa), dari bahan material ( kimia - fisik ) dan teknologinya ( teknik kimia, teknik fisika, teknologi proses, dll. ), serta dari fungsi praktis, konsep seni dan desain.                                 
Bila ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), keramik dapat digolongkan dalam lingkup silika enjinering (Teknik Kimia) karena bahan materialnya menjadi titik pusat perhatian dan karakteristiknya. Bisa juga digolongkan dalam lingkup fisika enjinering ( Teknik Fisika ), hal ini bila ditinjau dari sifat fisik dan cara pemanasan atau pembakarannya.  Iptek- material ini meneropong berbagai segi keramik modern. Dari bahan baku, bahan mentah, pemrosesan, sampai dengan analisis dan penerapannya untuk berbagai rekayasa teknologi mutakhir. Rekayasa canggih tersebut meliputi elektronika dan outomotif serta komputer, juga akhir-akhir ini telah merambah ke bidang biologi (tulang dan gigi)  yang mengetengahkan keramik modern yang menakjubkan. Dengan demikian keramik juga termasuk dalam lingkup bidang ilmu Teknik dan MIPA.
Arah baru dari pengembangan riset bahan keramik pada akhir abad 20 ditandai dengan Iptek-bahan yaitu “Material Multifungsi” yang penggunaannya teramat banyak, termasuk piranti  (komponen) elektronika (elektro-keramik), komponen bertegangan tinggi dan suhu tinggi seperti mesin dan cerobong pesawat, komponen untuk industri produksi seperti permrosesan gelas dan logam serta piranti dari proses manufaktur (alat potong dan lainnya). Lapisan pelindung pesawat antariksa dan kendaraan hipersonik Angkatan Laut Amerika memakai bahan multifungsi yang tahan pada suasana oksidatif dan reduktif serta menghambat suhu dingin dan aliran cepat suhu yang amat panas (Anton J.H., 1994:100). Gelas-keramik alumunium silikat sebagai bahan pelapis dan komposit karbon-karbon (C-C), sangat stabil pada suhu panas 1500°C. Pemrosesan sol-gel sangat baik untuk membuat bahan-multifungsi misalnya optika silikat, keramik-metal (cermet) dan lainnya. Selain itu, pengembangan baru IPTEKS yang menggabungkan biologi, kimia-fisik dan DNA-rekombinan, para ahli telah dapat menciptakan bahan untuk perbaikan enamel gigi manusia. Teknologi canggih dan eksperimentasi terus berlangsung dan kemudian Zircone-Y merupakan hasil temuan cemerlang, sehingga para ahli mampu menjadikan keramik sebagai bahan mentah terkeras dan sangat kuat, tahan terhadap goresan, panas dan berbagai bentuk efek kimia dan mekanik. Temuan tersebut telah diterapkan dan dimanfaatkan oleh pabrik jam tangan merek Rado La Coupole ‘Ceramique’ dipadukan dengan batu sapir dan oksidasi metal serta kilauan berlian di beberapa sudutnya membuat nyaman dan menyatu  dengan keindahan desain. Lalu pemanfaatan tulang sebagai komposit keramik yang mengandung serat organik (kolagen) dan mineral, merupakan bahan baku (biologi-material) yang cukup potensial. Dan kini telah dimanfaatkan oleh perusahaan patungan dalam negeri yaitu PT. Han Kook Keramik Indonesia, yang meramu tulang sapi dengan tanah liat sebagai bahan baku peralatan rumah tangga.
Pengertian keramik secara “khusus” dikaitkan dengan bidang senirupa, yang ditinjau dari segi perwujudan bentuknya. Secara umum disebut sebagai “seni keramik”, yaitu suatu pengertian dari proses pengubahan atau penciptaan benda yang bernilai “seni”.  Hasil dari pengolahan, penyusunan  dan proses kreasi seni tersebut biasa disebut sebagai “keramik seni”.  Penciptaan bentuk keramik ada hubungannya dengan penyusunan dari unsur-unsur sat-mata (element visual) dan latar belakang atau tujuan dari pembuatan, yang tertuang dalam kegiatan perancangan atau men-desain, disamping menyangkut kreativitas juga bisa berupa ungkapan (ekspresi).  Cara pandang keramik di dalam bidang senirupa bisa berada dalam kajian seni murni atau bisa dalam kajian seni kriya atau bisa dalam kajian seni pakai (terapan) dan kajian desain.
Riset bahan keramik dan seni keramik terus bergulir dengan wawasan yang semakin luas, kompleks, rinci serta mendalam; sehingga pengertian keramik masa kini dan mendatang tidak lagi sederhana atau sekedar keterampilan dan ketekunan mengolah lempung belaka, tetapi sudah berwajah Iptek tinggi. Dengan demikian, spesialisasi keahlian perlu dikembangkan untuk memudahkan dalam mengarahkan dan mendalami keramik (lihat bagan 1 s/d 6).      
            Untuk memudahkan dalam menanggapi persoalan-persoalan keramik,  dalam hal ini ada beberapa cara pandang yaitu keramik sebagai “meterial” (bahan), yaitu pembahasan yang meliputi bahan baku dan bahan mentah serta Iptek-material seperti masalah tanah atau lempung, batuan, bahan galian, air, bahan glasir, komposisi bahan, yang meliputi pembahasan ilmu kimia dan fisika. Keramik juga bisa dilihat dari sudut “teknik”, yang meliputi proses pembuatan, teknologi proses, penerapan kimia dan fisika, bahan konstruksi dan arsitektur,  tungku dan pembakaran, komponen rekayasa teknologi pesawat, komputer, elektro, dapur tinggi (pengecoran) dan lain sebagainya. Dan cara pandang yang khas adalah keramik sebagai “konsep visual”, yang berhubungan  dengan pengorganisasian dan penyusunan unsur-unsur sat-mata (element visual)  berkaitan dengan bidang  senirupa dan desain.
Ciri-ciri keramik sebagai pengetahuan ilmiah bila dipandang dari filsafat ilmu berfungsi untuk menjelaskan secara logis (masuk akal), meramalkan dan membuktikan kenyataan (hipotesis) serta untuk pengontrol. Semua itu bertujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan sehari-hari dan digunakan sebagai penawaran berbagai kemudahan dan sebagai alat manusia untuk memecahkan masalah. Dengan tinjauan sudut pandang filsafat ilmu sebagai landasan proses lahirnya atau diakuinya sebuah ilmu, tentu dapat memberikan kerangka dasar, mengarahkan dan menentukan corak dari keilmuan yang dihasilkan. Untuk menjawab keramik sebagai ilmu, maka diperlukan tinjauan filsafat yang menjelaskan dari sudut tinjauan ontologi yaitu tentang “ada” dan “keberadaannya”, lalu suatu tinjauan epistemologi yakni tentang pengetahuan ilmiah, teori-teori pengetahuan dan yang menyangkut metode (bersistem), dan suatu tinjauan aksiologi yang merupakan “kelayakan” atau  kepantasan, ada analisis, tata nilai dan memiliki ciri khas.
Bakhtiar  menyatakan, bahwa kata ilmu berasal dari bahasa Arab: Alima yang berarti mengerti, memahami benar-benar (Bahtiar, 2005:12). Dalam bahasa Inggris science, dari bahasa Latin scientia (pengetahuan) dan scire (mengetahui dan belajar). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, bahwa Ilmu merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu (KBBI, 1994: 370). Kemudian Suriasumantri menjelaskan bahwa ilmu merupakan salah satu dari buah pikiran manusia, kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu (Suriasumantri 1991: 3, 4). Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani Ontos: ada, keberadaan. Dan logos: ilmu tentang, studi atau On= being, dan logos= logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being / teori tentang keberadaan sebagai keberadaan (Feldman,1976: 219). Suriasumantri menjelaskan, bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui, seberapa jauh keingintahuan, atau dengan perkataan lain suatu pengkajian mengenai teori tentangada” (Suriasumantri. 1985:5). Kemudian Dardiri menjelaskan ontologi adalah penyelidikan sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (obyek fisis, hal universal, abstrak) dapat dikatakan ”ada” (Dardiri,1986:17). Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ”ada”. Dalam konteks dengan ilmu keramik akan ditelusuri dari sejarah keramik. Menurut Suriasumantri, epistemologi, atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Metode inilah yang membedakan ilmu dengan buah pikiran / pengetahuan yang lainya (Suriasumantri. 1985: 9). Keramik sebagai ilmu akan diperjelas lebih lanjut dalam tinjauan aksiologi. Aksiologi terdiri kata aksios berarti layak, pantas, dan logos yang berarti ilmu, studi mengenai. Aksiolgi yang artinya studi mengenai hal yang layak (meliputi analisis nilai-nilai). Menurut Bakhtiar, beberapa pengertian tentang aksiologi seperti berikut ini: Aksiologi berasal dari bahasa Yunani  axios  yang berarti nilai dan logos berarti teori. Jadi Aksiologi berarti teori tentang nilai.

1.        Aksiologi juga diartikan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
2.      Aksiologi terbagi dalan tiga bagian; Pertama merupakan produk moral; Kedua ekspresi keindahan; Dan ketiga kehidupan sosial politik.

Sebagai ilmu, seni keramik harus dapat diajarkan. Misalnya di Sekolah dari TK, SD, SMP, SMU / SMK baik sebagai mata pelajaran atau ekstrakurikuler (ketrampilan / senirupa / membentuk / kerajinan) maupun di sekolah khusus keramik pada tingkat menengah seperti SMIK / SMSR / SMK.
Pada perguruan tinggi, ilmu keramik bisa masuk sebagai mata kuliah penunjang / pengkayaan jurusan & fak-fak tertentu atau mata kuliah khusus yang dikelola oleh program studi keramik, semua itu terdapat dalam kurikulum yang akan membentuk profil lulusan yang diinginkan oleh perguruan tinggi. Disiplin ilmu keramik pada pendidikan Sarjana (S1) pada Fakultas Seni Rupa dan Desain, bisa masuk di Jurusan Seni Murni atau Kriya atau Desain dengan Program Studi Keramik.  Dimasukkannya ilmu keramik sebagai salah satu cabang ilmu senirupa yang mempelajari tentang seluk beluk penciptaan barang / produk keramik khusus seni (art) mulai dari seni murni (kesenimanan), desain keramik pakai - fungsional (produk guna-pakai massal / industri) dan keramik kerajinan / kriya seperti: perabotan rumah tangga, benda hias dan lain-lainnya, semuanya sebagai penunjang aktivitas manusia. Keramik sebagai mata kuliah mayor (utama) tersirat pelajaran yang bersifat paket dan mempunyai fleksibelitas yang tinggi, tergantung dari kreatifitas pengajar dan perkembangan zaman atau kepentingan ilmu serta sesuai pula dengan kebutuhan masyarakat pengguna. Sedangkan sebagai mata kuliah minor memberikan tambahan ilmu sesuai pilihan / minat mahasiswa, untuk memperkaya dan memperluas wawasan keilmuan sebagai bekal nantinya hidup dimasyarakat.
Khusus ilmu dan profesi keramik tertuang dalam mata kuliah mayor keramik, dengan materi mulai dari pengolahan bahan mentah berupa material tanah (lempung), lalu teknik-teknik pembentukan sederhana dan masinal (industri massal), mempelajari tungku dan sistem pembakaran, mempelajari kimia glasir sampai pada keterampilan teknik proses pembuatan produk keramik.  Juga praktek kerja dilapangan baik dalam bentuk teori maupun praktek. Sebagai tambahan wawasan diberikan juga minor desain Kemampuan berolah keramik yang didasari ilmu seni dan teknologi, diharapkan lulusannya dapat memiliki keahlian yang profesional dalam ilmu keramik, seni rupa dan desain. Sehingga semua mata kuliah yang diberikan merupakan kompetensi dasar yang dapat dikembangkan menuju spesialisasi sesuai dengan kemajuan masyarakat dan perkembangan zaman.
Secara implisit paradigma ilmu keramik merupakan bidang lintasan strategis antara  Ilmu Pengetahuan (sains), teknologi dan seni yang mengkonstruksi menjadi bangun keilmuan. Hal ini mengingat dalam lingkup yang lebih luas penciptaan keramik tidaklah semata-mata mengandalkan keahlian tangan (virtuosity), namun ditempuh dengan  pemikiran yang sistematis dan terarah dengan menggunakan metode-metode tertentu serta didukung oleh seni, teknologi dan pengetahuan lainnya.  Sehingga ilmu keramik dapat menyesuaikan untuk ditempatkan dibawah payung Institut atau Universitas atau di bawah bidang-bidang Teknologi, Seni, Keguruan, Kekeriyaan, Politeknik, Lingkungan, Produk  dan lainnya. Lintasan ini dapat digambarkan seperti bagan 1 berikut ini:  

 Pengertian keramik pada umumnya adalah cakupan untuk semua benda yang terbuat dari tanah liat (lempung), yang mengalami proses kimia-fisika atau dipanaskan dengan suhu tinggi, baik oleh proses alam (contoh batu lahar, batu gamping, intan-berlian, marmer, dll) maupun oleh pembakaran dengan panas api buatan dalam oven atau tungku (contoh piring, guci, dll) sehingga mengeras. 

Buku & Karya Keramik Agus Mulyadi Utomo

Berdasarkan penjelasan di atas, maka pengetahuan keramik sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Mengingat pengetahuan ini lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat praktis atau memiliki manfaat yang melingkup dua hal: yakni fisik dan psikhis; selain memberi solusi terhadap permasalahan yang muncul di masyarakat yang bersifat fisik berupa produk-produk keramik, juga memberi pertimbangan nilai keindahan dalam suatu produk yang terkait dengan masalah psikhis. Kebanyakan produk keramik yang diciptakan tidak bertentangan dengan kaidah moral, bahkan banyak produk keramik dipakai sebagai sarana upacara keagamaan (Hindu). Namun bagaimanapun juga keramik bisa berwujud apa saja, tergantung kemampuannya mengolah dan semua ini berpulang pada moral pelakunya, seperti seniman,  perajin, desainer, pengusaha atau pengembang.













Keramik Agus Mulyadi Utomo

  BUKU BERJUDUL "WAWASAN DAN TINJAUAN SENI KERAMIK" 2007
Daftar Pustaka

Astuti, Ambar, 1997, Pengetahuan Keramik, Gadjah Mada    University Press, Yogyakarta
Ardana, AA Putu., 1993, Tumbuh Kembangnya Kerajinan Gerabah Binoh, Skripsi, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Bastomi, Suwaji ,1986, Seni Kria Apresiasi dan Perkembangannya, Penerbit IKIP Semarang Press, Semarang
Bahriyah, Sulih Indra, 1997, Perkembangan Keramik Cendramata Dinoyo Malang, Skripsi PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Bagiotomo, Untung, 1994, Perkembangan Desain dan Motif Keramik Tradisional Kasongan, Skripsi, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Brian Alexander, 2001,  Kamus Keramik, Milenia Populer, Jakarta
Dufrene, Mikel,et.al., 1978, Aesthetics and The Sciences of Art
                Jacques Havet,ed., Main Trends of Research in the Social  and Human Sciences, Unesco
Dogmy, Carter, 1951,  Four Thousand Years of China’s Art, The Honel  Press Company, New York
Dep. Perindustrian, 1986, Gema Industri Kecil, Dirjen Industri Kecil, Jakarta
Dewantara, Ki Hadjar, 1962, Pendidikan (1), Majelis Luhur Taman Siswa Dewantara, Yogyakarta
Dorling Kindersley Limited, 1998, Art, A World History, A Dorling Kindersley Book, Great Britain, London
Geral, Colin, 1977, Practical Guide to Pottery, Willian Luscombe  
              Publisher Limited, London
Goris,R.,1953, Atlas Kebudayaan, Pemerintah RI, Jakarta
Gronemen, Chris and Feirier, John,  1969, General Shop, Mc Grow-Hill, New York
Hanover, Emil, 1925, Pottery & Porcelain, Ernest Benn Limited, London
Harrison, Tom, 1955, Ceramic Penetrating Central Boneo, SMJ,OA
Hartono, Aton J., 1994, Mengenal Keramik Modern, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta
Hildawati, 1971, Keramik Pada Zaman Majapahit, Skripsi SR-ITB, Bandung
Herman, Lloyd E., Porselen Amerika: Berbagai Pengungkapan Baru dalam Suatu Kesenian Kuno, Badan Penerangan Amerika  Serikat
Jurnal Seni Rupa dan Desain, 1999-2003,  Prabangkara, ISSN 1412-0380, Vol 1-6, No.1-8, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Jurnal Ilmiah, 2003, Dinamika Kebudayaan, ISSN 1411-1608, Akreditasi, Vol.V,No.2, Lembaga Penelitian Univ. Udayana, Denpasar
Komite Seni Rupa DKJ, 1984,  Seni Rupa, Berkala No. 4, Jakarta
Kempers, AJB., 1960, Bali Purbakala, PT. Ichtiar, Jakarta
Kedutaan Besar Kerajaan Negeri Belanda, Serba Serbi Negeri Belanda, Majalah Istimewa, Publikasi Bagian Pers dan Kebudayaan, PT. Intermasa, Jakarta
Lene,  Arthur, 1973, Style in Pottery, Faber and Faber Limited, London
Lee, Ruth, 1971, Exploring the World of Pottery, Ward Lock Ltd, London
Monro, Thomas, 1963, Evolution in The Arts, The Cleveland Museum of Art Clevend
Myers, Bernard.S.,1951, Dictionary of Art
Murdowo, 1963, Seni Budaya Bali-Balinese Art and Culture, Jakarta
Mustafa, 1997, Keramik Tradisional Bima dan Pengembangannya, Skripsi, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Mayer, Ralph, 1969, A Dictionary of Art Term & Techniques, Adan & Charler Black Ltd, London
Mills, John Fitz Maurice, 1965, The Pergamon Dictionary of Art,  
              Pergamon Press Ltd, London
Nelson, Glenn C.,1960, Ceramics, Holt Rinehart and Winston Inc, USA
Poewodarminto, WJS, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pn. Balai Pustaka, Jakarta
Read, Herbert, 1962, The Meaning of Art, Faber and Faber Limited, London
Rosental, Ernst, Pottery and Ceramics From Comon Brrick to Fine China
Runes, Dagobert D. and Harry S.,1946, Encyclopedia of The Arts, USA
Yuliman, sanento, dkk, 1983,  Lingkup Seni Rupa : Kumpulan                
              Karangan Tentang Cabang-cabang Seni Rupa, ITB,                  
              Bandung
Heskett, John, 1980,  Industrial Design, Thames and Hudson, London
Soedarso, Sp., 1988, Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar Untuk  
              Apresiasi  Seni, Suku Dayar San, Yogyakarta
Setiawan, I Ketut Japa, 1996, Perkembangan Keramik Figuratif di Desa  Pejaten, Skripsi, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Sugriwa, I Gst Bagus, 1957, Dasar-dasar Kesenian Bali, Pemda Tk.I Bali, Denpasar
Suartini, Luh, 1988, Keramik Tradisional Gaya Kuturan Sebagai
              Penunjang Tata seni Taman, Skripsi, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Susilawati, Dwi, 1977, Perkembanan Desain dan Motif Keramik
              Lombok, Skripsi, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Utomo, Agus Mulyadi, 1995, Tinjauan Keramik Kuno Indonesia, PSSRD Univ. Udayana, Denpasar
Utomo, Agus Mulyadi, 1995, Tinjauan Seni Keramik, PSSRD Unud, Denpasar
Volker.T,1954, Porcelain and The Dutch East India Company, Leiden
Vincent. A. Roy, 1969, Ceramics, McGroraw-Hill, Book Companny INC, New York-Chicago San Francisco, Toronto London

Majalah   :   Tempo, Kartini, Femina dan Gadis
Koran      :   Kompas, Bali Post, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan,
                     Kedaulatan Rakyat dan Bisnis Bali
Brosur & Katalogus Pameran-pameran Keramik
Makalah  :   Seminar  HaKI di Kuta Th. 2001 dan Sanur Bali Th.  
                     2002
Informan :   Patra Budiade, A.A. Kt  Anom, Artayani, Ketut Muka,
                    I Wayan Mudra  dan Yoga


email agus mulyadi utomo:   goesmul@gmail.com


4 komentar:

  1. infonya sangat membantu, terimakasih banyak ya. . . :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal Evi ......, trim's telah mengunjungi

      Hapus
    2. iya,, salam kenal juga..
      oke sama".. :)

      Hapus
  2. makasih atas infonya!! hedeh! untuk ulangan sejarah

    BalasHapus