Laman

Pengikut

Jumat, 24 Februari 2012

Keramik Indonesia Zaman Kemerdekaan

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR  2002
Keramik Zaman Kemerdekaan
 Ole Agus Mulyadi Utomo

            Perkembangan keramik setelah memasuki masa kemerdekaan tumbuh dari dua “rahim”, yaitu dari sektor industri baik besar dan kecil (industri rumah tangga), maupun dari kreator perorangan yang kebanyakan dari kalangan seniman dan akademisi (pendidik senirupa).  Perguruan tinggi senirupa banyak melahirkan keramikus-keramikus muda yang mengangkat citra keramik tradisional menjadi keramik modern yang eksklusif dan menarik.

A. Keramik Industri Padat Modal

             Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, sektor industri mulai ditumbuhkan. Namun masa itu situasi masih belum aman dan masih berlangsung perjuangan fisik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Keadaan ini, membuat banyak pegawai dari Balai Penelitian Keramik di Plered mengungsi ke Jawa Tengah dan meneruskan usahanya di Kebumen.Ada pula yang pergi mengungsi ke Yogyakarta dan oleh pemerintah ditampung dengan mendirikan Balai Penelitian Keramik disana. Karena tidak sesuai dengan kondisi Yogyakarta, maka Balai Penelitian lalu dipusatkan di Bandung. Laboratorium keramik di Bandung pada tahun 1950 dikembangkan dan ditingkatkan fungsinya menjadi Balai Penelitian Keramik, yaitu mengembangkan refractory, gelas, ubin keramik, porselin, isolator listrik, saniter dan keramik baru lainnya. Kegiatan lain dari Balai Penelitian Keramik Bandung ini adalah mendidik kader-kader perajin dan pengusaha, kursus-kursus singkat maupun yang berjangka waktu sampai dua tahun. Namun demikian karena, karena perekonomianj masih sulit dan lemah dari tahun 1950 sampai tahun 1960 baru merupakan tahapan dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi keramik dan belum banyak berdiri industri yang besar. Industri keramik halus di Indonesia baru dimulai pada tahun 1950-an, yang menghasilkan barang-barang rumah tangga dan benda hias. Saat itu bahan baku didatangkan dari luar negeri. Sejak tahun 1953 barang porselin mulai diproduksi dan tahun 1955 telah memanfaatkan bahan baku dari dalam negeri, yakni setelah diketemukan bahan kaolin dan kwarsa di Bangka dan Belitung.
              Pada tahun 1953 di Belitung, seorang yang bernama Oie Jong Tjioe, sarjana Hukum lulusan Leiden Belanda, mendirikan perusahaan (pabrik) keramik putih yang pertama di Indonesia dengan nama “Keramika Indonesia Asosiasi” atau “KIA” yang berada di Belitung, karena Oie melihat deposit kaolin melimpah disana dan sekaligus memperistri wanita asal Belitung. Dua puluh tahun kemudian sebuah perkumpulan pengusaha keramik yaitu Asosiasi Aneka Keramik Indonesia atau ASAKI yang terbentuk tahun 1972, memberi gelar Oie (panggilan Oie Jong Tjioe) sebagai Bapak Industri Keramik Indoneia atas keperintisannya. Pada tahun yang sama (1972) Oie Jong Tjioe memperoleh Satya Lencana Pembangunan dari Menteri Perindustrian yang ketika itu dijabat oleh M. Yusuf.
             Ketika Mohammad Hatta menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, dimana usia R.I. masih sangat muda, beliau seringkali melakukan perjalanan keliling nusantara melihat potensi yang dapat dikembangkan demi masa depan bangsa; Maka Bung Hatta pun melihat keramik mempunyai nilai ekonomis dan perludihidupkan kembali. Pada akhirnya pabrik keramik peninggalan Belanda di Sukaraya (Jawa Tengah) dan di Tulungagung (Jawa Timur) dibuka kembali sebagai Perusahaan Industri Daerah atau Pinda dan yang berada di Belitung pengelolaannya diserahkan kepada swasta yakni KIA. Semua itu atas saran Bung Hatta yang meminta agar industri tidak dipusatkan di Pulau Jawa dan  ada KIA di Sumatera.  Sejak itulah dari tahun 1956 hingga tahun 1960 banyak didirikan perusahaan negara, baik perusahaan induk maupn pengelolaan bahan mentah dan peralatan rumah tangga. Perusahaan negara tersebut pada akhirnya banyak yang menjadi perusahaan daerah atau PINDA.
             Namun demikian , pada tahun 1960 sampai 1965 merupakan tahun-tahun sulit dan masa “kelesuan keramik Indonesia”. Saat itu faktor keamanan dan ekonomi Indonesia masih dalam keadaan belum stabil. Keramik sebelum masa Orde Baru dirasakan seperti hidup dan mati, karena kesulitan akan bahan baku, suku cadang, transportasi, pemasaran, pengelolaan , tenaga-tenaga trampil dan tenaga ahli. Dari tahun 1965 hingga tahun 1970 perkembangan Industri keramik masih sangat suram; Produksi sulit ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga barang-barang rumah tangga masuk dari Republik Rakyat China (RRC) dengan sangat derasnya, dengan mutu  yang      tinggi dan  harganya juga rendah (murah). Barang-barang impor masa itu mewarnai pasaran dalam negeri.
              Kebangkitan keramik Indonesia diawali dengan KIA bekerjasama dengan pabrik Sphinx dari Belanda pada tahun 1968. Kemudian titik terang dunia industri keramik Indonesia kelihatan hasilnya dengan adanya Undang-undang Penanaman Modal Asing tahun 1970. Tonggak kebangkitan industri keramik Indonesia bisa dikatakan dimulai tahun 1970-an, ketika dikembangkan fasilitas penanaman modal asing dan dalam negeri atau adanya PMA dan PMDN, terutama industri keramik halus yang baru dikembangkan. Dimulainya PELITA Pertama investasi modal asing mengalir ke Indonesia yang sangat mendukung terhadap perkembangan industri keramik. Selain itu, kebijakan pemerintah R.I. untuk memproteksi terhadap barang-barang  keramik impor sangat membantu pengembangan keramik di Indonesia dan yang terpenting lagi stabilitas politik, keamanan dan ekonomi semakin baik. Hal tersebut terbukti dari daya beli masyarakat Indonesia semakin baik dan meningkat akibat pembangunan disegala bidang kehidupan. KIA yang bernaung dalam Ongko Group mendatangkan mesin-mesin baru dan modern dari Belanda serta mengirimkan tenaga kerja untuk mempelajari pengetahuan dan alih teknologi keramik.  Pengiriman tenaga kerja ke Belanda ini dengan suatu harapan agar bisa menjadi kader-kader  perkeramikan di Indonesia. KIA yang bekerjasama dengan Departemen Perindustrian R.I. telah melahirkan tenaga-tenaga ahli keramik sebanyak 64 orang yang kemudian disebar keberbagai pabrik atau industri keramik yang ada di Tanah Air Indonesia.
              Pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1962, masuk secara besar-besaran keramik Jepang ke Indonesia dengan merek TOTO, sebagai bagian dari pampasan perang. Pemerintah Jepang mengirim keramik TOTO untuk membangun Hotel Indonesia, Ambarukmo Palece Hotel, Samudra Beach Hotel dan Bali Beach Hotel, Sarinah dan Gelora Senayan. Tak heran hingga kini TOTO masih menjadi “market leader” di Indonesia dengan nama perusahaan Surya Toto Indonesia, sebagai perusahaan patungan antara TOTO Ltd dan CV. Surya serta Kashima di Tangerang (Jabar) pada tahun 1978.  Tersebutlah nama  Mardjoeki Atmadiredja, adalah Presiden Komisaris Multi Fortuna Group yang pada tahun 1968 memperoleh hak keagenan tunggal produk saniter merek TOTO Limited Jepang. PT. Surya Toto Indonesia atau STI ini begitu pesat berkembang dan menjadi perusahaan industri saniter terbaik dan terbesar di Indonesia. Pada tahun 1989 STI ini merupakan satu-satunya industri saniter yang sudah go public.  Prestasi yang mengesankan ini membawa nama Mardjoeki identik dengan TOTO dengan julukan “Raja Saniter” (Kompas, 4-8-1995). Produk STI menguasai pasar di dalam negeri Indonesia hampir 50%. Juga perusahaan ini memasuki pasaran internasional dengan mengekspor produknya ke Taiwan, Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa negara di Asia Pasifik lainnya. Mardjoeki dengan Multi Fortuna Groupnya  membawahi 11 perusahaan yang berhubungan dengan industri bahan-bahan bangunan dan bisnis properti.
              Dalam rangka pengembangan industri, Balai Penelitian Keramik di Bandung, mengadakan penelitian dan pengembangan teknologi keramik serta pembinaan dalam pemakaian mesin-mesin atau peralatan, proses produksi dan pemakaian bahan baku, terutama untuk keramik halus, keramik berat dan mortar, gelas, email dan keramik yang bersifat khusus. Di samping itu lembaga ini menyusun dan mengeluarkan suatu konsep standar mutu yang disebut Standar Industri Indonesia ( SII ) untuk produk-produk hasil industri keramik. Juga memberi saran, informasi, konsultasi, bantuan teknik, pendidikan dan latihan kepada masyarakat dan industri. Dampaknya membuahkan hasil, industri keramik Indonesia semakin tumbuh dan berkembang, perusahaan-perusahaan baru mulai bermunculan, seperti pabrik keramik di Purwokerto, Mayong, Tulungagung, pabrik semen di Gresik, Cibinong dan  Tonasa, pabrik-pabrik gelas dan kaca di berbagai kota.
             Usaha pengembangan pabrik-pabrik keramik di Indonesia sangat memungkinkan, karena bahan mentah yang cukup melimpah, terutama kaolin yeng terdapat di Pulau Bangka, Beliton, Jawa dan Kalimantan Barat. Lalu feldspar terdapat di Lampung dan Lodoyo (Malang). Batu kapur dan tanah liat banyak terdapat disetiap daerah. Magnesite, dolomite, chromite bisa diperoleh di Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara dan Flores Timur. Namun demikian masih belum banyak perusahaan yang memurnikan dan menyiapkan bahan mentah menjadi bahan baku siap pakai. Industri kaolin yang diproduksi PT. Kaolindo, anak perusahaan PT.Timah di Pulau Beliton, hasil produksinya banyak yang terserap kepasaran Jepang dan sebagian kecil diekspor ke Philipina, Korea Selatan dan Sabah serta pasaran dalam negeri. Pulau Batam pada akhirnya  menjadi final processing zone kaolin yang diproduksi Bangka dan Beliton.
               Industri keramik di Indonesia tampak berkembang seperti keramik putih terdapat di Purwokerto Jateng), Tanjungpandan (P. Beliton), Bandung (Jabar), Malang dan  Probolinggo serta  Tulungagung (Jatim).  Dan industri gelas yang terdapat di Surabaya, Jakarta, Medan, dan Semarang. Pabrik bata tahan api dan semen api serta chamotte terdapat di Bandung, Mayong, Surabaya dan Malang.  Industri bahan bangunan dari keramik terdapat di Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Malang, Tangerang, Bandung, Kebumen, Medan, Ujung Pandang, Belitung dan Bogor.
              Barang-barang pecah-belah seperti peralatan rumah tangga yang berupa piring, gelas-cangkir atau benda tableware mencapai puncak pemasaran atau “Boom” pada tahun 1973 dan 1977. Barang-barang saniter mencapai  puncak penjualan atau “Booming” pada tahun 1980. Sedangkan puncak pemasaran ubin keramik (tegel dinding dan lantai) pada tahun 1977 dan 1982. Dengan meningkat dan pesatnya perkembangan industri keramik, maka pada tahun 1980 Balai Penelitian Keramik di Bandung ditingkatkan pula menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri, Departemen Perindustrian R.I. yang disingkat BBK Bandung.
               Dalam kurun waktu dua dasawarsa yang terakhir, sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka produk-produk keramik tidaklah  begitu tertinggal dengan industri bidang yang berbeda. Pembangunan dengan penekanan pada ekonomi ( PELITA  Ketiga) dan pada industri (PELITA Keempat) memberikan dampak yang sangat luas dan positif kepada peningkatan pendapatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ini memberikan pengaruh terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat, yaitu pembangunan rumah dan gedung-gedung yang juga berkembang, desain-desain baru dengan mutu barang lebih baik serta kebutuhan akan cita-rasa “seni” atau keindahan yang lebih tinggi dan meningkat. Masyarakat sejak tahun 1976 -1977 sudah memiliki kemampuan untuk membeli barang-barang keramik dari perkotaan hingga ke pedesaan.
Menurut data dari ASAKI pada tahun 1984 orang Indonesia mengkonsumsi keramik 1,3 kilogram pertahun. Sedangkan negara maju mencapai 10 sampai 20 kilogram pertahun.  Pada tahun 1983 telah diproduksi 13,3 juta meter persegi ubin untuk lantai dan dinding. Dan pada tahun 1984 tercatat 650.000 unit saniter yang diproduksi oleh 13 pabrik keramik keperluan bangunan yang tergabung dalam ASAKI dengan menyerap tenaga kerja 15.000 orang. Pabrik yang cukup besar diantaranya adalah Lucky yang memproduksi keramik pecah-belah sebanyak 167 juta buah pada tahun 1972. Pabrik lainnya yang cukup besar adalah Jatikusuma Indah di Sidoarjo, Serinco Djaya Marmer Industries atau Super Italia, Industri Keramik Mutiara, Asia Victory Industri atau Asia Tile, Keramik Diamond Indah, Mulia Ceramics, Danto Indonesia (DIT) dengan merek DK, Saki dan Paolo di Probolinggo, Ina Seito (kerjasama Jepang), Indo American Ceramics (kerjasama KIA dengan American Standart) dan Industri Keramik Angsa Daya atau IKAD.
             Teknologi telah membawa kemajuan-kemajuan, banyak mesin-mesin industri yang dirancang di dalam negeri dengan mutu yang baik, seperti ballmill, mesin press, extruder, brander, tungku dan lain sebagainya. Kini hasil-hasil industri keramik produksi Indonesia telah banyak diekspor ke berbagai negara dengan mutu standar, seperti Singapura, Hongkong, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Italia, Belanda, RRC, Inggris, Malaysia, Negara Timur Tengah dan lainnya.
             Yang menarik dari hasil industri keramik untuk bangunan ini adalah pembangunan proyek Teater IMAX Keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah, dimana tegel untuk melapisi dinding yang berbentuk keong dengan struktur yang rumit.  Ide Tien Suharto ini didukung Joop Ave untuk memberi lukisan pada tegel keramik dengan teknologi granito berujud Legenda Keong Emas yang bekerjasama dengan seniman dan pelukis Soekirno dan Adam Lay. Kemampuan orang Indonesia membuat keramik-lukisan yang pertama dan besar itu, membuat ahli keramik dari Italia heran dan kagum, sehingga dapat dianggap sebagai karya “masterpieceTekman dari Keramik Diamond. Setelah sukses dengan Keong Emas yang besarnya 10 X 15 meter itu, keramik Diamond menangani karya yang lebih besar lagi dengan luas 496 meter persegi yang telah menghiasi bagian depan dari gedung Graha Pemuda di Senayan Jakarta. Keduanya merupakan karya agung bangsa Indonesia yang memperoleh pengakuan International, karena pembuatannya harus menguasai seni dan teknologi secara baik dan merupakan suatu kerjasama yang kompak dan serasi.            Perusahaan Korea Selatan yang terkenal, yaitu Han Kook Chinaware Ltd., telah melakukan investasi di Indenesia dengan memproduksi keramik rumah tangga yang bahan-bahannya memanfaatkan campuran tanah liat dengan tulang-belulang sapi. Melalui fasilitas PMA lalu menjadi PT Han Kook Ceramik Indonesia ( HCI ), sebagai industri keramik yang pertama di Indonesia dan yang kedelapan di Dunia yang memanfaatkan tulang sapi. Adapun ketujuh negara lainnya yang memanfaatkan tulang adalah seperti Inggris, Jerman, Cina, Perancis, Swedia, Jepang dan Korea sendiri. Pabrik ini dibangun pada bulan Agustus 1991 di Tangerang, Jawa Barat dan produksi pertamanya dimulai bulan Agustus 1992 dengan perincian 65% hasil produksi untuk pasar luar negeri dan 35 % untuk dalam negeri. Pasar luar negeri yang potensial adalah Norwegia, Afganistan, Korea, Taiwan, Australia, Singapura, Nigeria, USA, Swedia dan Italia. Komposisi kepemilikan modal HCI ini adalah 80% Han Kook Chinaware dan 20% oleh PT. Indomas Tata Perdana. Perusahaan HCI ini juga melakukan  transfer teknologi, dengan mengirimkan tenaga sebanyak 60 orang untuk belajar dan bekerja setiap angkatan ke Korea.
B.  Organisasi dan Lembaga Profesional

             Pada tahun 1972 hingga tahun 1986 terbentuk beberapa organisasi seperti asosiasi, himpunan, kelompok atau group serta lembaga baru dibidang perkeramikan antara lain sebagai berikut:

a)    A S A K I

             Asosiasi Aneka Keramik Indonesia yang disingkat ASAKI, terbentuk pada tanggal 22 Nopember 1972 di Kota Bandung. Kelahirannya diprakarsai oleh Danubroto yang saat itu menjadi pimpinan Balai Keramik Indonesia. Pada saat itu industri keramik belumlah berkembang seperti sekarang ini dan anggotanya terdiri dari para pejabat pemerintah, Institut Riset yang ada dan pengusaha industri keramik yang masih langka. Ketua ASAKI yang pertama adalah Danubroto sendiri dengan Komisaris terdiri dari wakil-wakil pabrik keramik dan institusi pemerintah terkait dengan industri keramik. ASAKI menjadi anggota Ceramic Industrial Club of Asean ( CICA ) pada bulan Desember 1980. Pada bulan September 1981 berhasil memilih ketrua baru di bawah pimpinan Ir.Thamrin Tedja dari KIA. Kini anggota ASAKI sudah lebih di atas 100-an perusahaan keramik yang memproduksi bata api, mosaik, genteng, keramik dinding dan lantai, saniter, peralatan rumah tangga, super bata, refraktory, kaca-gelas, keramik teknis, keramik hias, prototype, eksprerimen produk (riset) dan desain keramik.

b)   The Geoceramic Group

   Di samping ASAKI, terdapat pula suatu kelompok perhimpunan ahli-ahli keramik yang disebut “The Geoceramic Goup” yang diketuai oleh Ir. Herman Setyadi, alumni Institut Teknologi Bandung. Perkumpulan ahli-ahli ini menyiapkan data-data keramik dan menyusun data sumber daya alam (SDA) serta  data sumber daya manusia (SDM) untuk meningkatkan dan mengembangkan dunia perkeramikan Indonesia.

c)  Himpunan Keramik Indonesia

              Himpunan Keramik Indonesia atau ( HKI ) dibentuk pada tanggal 30 Oktober 1973. perintis HKI adalah kolektor Museum Adam Malik yang bernama Sumarah Adhyatman, seorang ahli keramik kuno. HKI bernaung di  bawah Yayasan Derita Cita dimana ketua  kehormatannya semula dipegang oleh Adam Malik (alm Mantan Wapres RI).       
Ketua harian himpinan ini diserahkan kepada Sumarah Adhyatman. Tujuan dari himpunan ini adalah untuk menggalakkan minat dan perhatian masyarakat pada keramik seni dan terutama pada keramik kuno di Indonesia dengan menyelenggarakan pameran-pameran dan penerbitan buku-buku tentang keramik.

d)  BPPT-UPT PSTKP BALI

              Bermula dari keinginan dan usaha pemerintah untuk mewujudkan ide pelestarian seni budaya Bali melalui keramik tahun 1980-an, maka didirikanlah suatu lembaga resmi yang diberi nama Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin Bali atau disingkat P3SKP-Bali. 
 
Lembaga ini bertujuan untuk membina dan mengarahkan pemanfaatan potensi seni keramik Bali yang ada. Disamping itu guna meningkatkan kegiatan dari masyarakat perajin dalam rangka memperkuat kepribadian dan kebanggan nasional yang dapat pula menunjang kegiatan pariwisata dan ekspor komoditi. P3SKP-Bali didirikan atas gagasan dari Menteri Ristek / Ketua BPP. Teknologi Prof. DR. B.J. Habibie, Gubernur KDH Tk.I Provinsi Bali Prof. DR. Ida Bagus Mantra dan Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. Ida Bagus Oka. Peletakan batu pertama dari pembangunan sarana dan prasarana lembaga ini dilakukan pada tanggal 17 Oktober 1981 oleh Menristek yaitu Prof. DR. B.J. Habibie dan operasional dimulai bulan September 1982, dengan fasilitas dari BPPT, Pemda Bali, Departemen Perindustrian dan tenaga pelaksana dari Universitas Udayana. P3SKP-Bali dibangun di pulau kecil bernama Tanah Kilap, termasuk kawasan Desa Suwung Kauh, Denpasar. Ketua pelaksana pertama adalah Drs. I Made Yasana, staf pengajar Jurusan Kriya Keramik di PSSRD Universitas Udayana. Kini lembaga ini dikelola murni dari BPPT dan ditingkatkan menjadi  Unit Pelayanan Teknis atau UPT-PSTKP Bali, yang melayani sampai wilayah Nusa Tenggara dan mahasiswa praktek.
               
e)   Panitia Nasional Mineral dan Alumunium Silikat

              Pada tahun 1986 telah terbentuk Panitia Nasional Mineral dan Alumunium Silikat, yang berpusat di BPPT dan bekerjasama dengan Departemen Perindustrian (sekarang Deperindag) dan Depdikbud           ( sekarang Depdiknas) serta Depdagri.

C.   Pendidikan Keramik

              Pendidikan keramik sebenarnya telah dilakukan yakni dimulai dari Taman Kanak-kanak (membentuk dengan tanah liat atau plastisin), pendidikan Sekolah Dasar (keterampilan / prakarya), Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) dan Sekolah Lanjutan Atas (SMA) yang dimasukkan dalam mata pelajaran “membentuk” atau “keterampilan” atau “senirupa”, baik dalam kurikulum maupun dalam bentuk ekstra kurikuler. Disamping itu, juga terdapat sekolah lanjutan atas kejuruan yang khusus dibidang ini yaitu Sekolah Menengah Industri Keramik (SMIK) dan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang sekarang masuk kelompok Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). 
Penciptaan bentuk / wujud keramik ada  hubungannya dengan konsep “Seni” khususnya “senirupa”, karena menyangkut cara penyusunan unsur – unsur sat – mata (element visual) dan latar belakang atau tujuan dari pembuatan keramik yang menyangkut fungsi, bahan, ekspresi dan kreativitas. Berdasarkan hal tersebut keramik juga merupakan pendidikan ketrampilan atau kriya, seni dan desain.
            Dari sudut ilmu pengetahuan (Iptek), keramik bisa digolongkan dalam lingkup Silika Enjinering (Teknik Kimia) karena bahan materialnya merupakan titik pusat perhatian dan karakteristiknya. Bisa digolongkan dalam lingkup Fisika Enjinering (Fisika Teknik) bila ditinjau dari cara pemanasan/pembakaran.  Dengan demikian pengetahuan ilmu  keramik  telah masuk dalam lingkup bidang Teknik  dan  MIPA tetapi tidak secara khusus dan merupakan bagian kecil dari ilmu kimia dan fisika. Iptek material yang kini meneropong berbagai segi keramik modern, dari bahan mentah, bahan baku, pemrosesan sampai dengan analisis dan penerapannya untuk rekayasa teknologi mutakhir. Juga menyangkut teknik mikroskopi, sinar, analisis permukaan atas pemrosesan dan simakan retakan – patahan, serta berbagai terapannya. Pendidikan tinggi keramik di Indonesia cenderung berada dalam lingkup pendidikan senirupa, karena ilmu bahan dan teknologi keramik di indonesia tertinggal jauh dengan Dunia Barat serta kurang menonjol. Disamping itu ilmu senirupa yang cukup kaya dengan seni tradisional Indonesia sangat lumrah memasukan keramik kedalam lingkup perguruan tinggi seni, senirupa, kriya dan desain. Disamping itu dalam ilmu pendidikan, keramik dimasukan dalam lingkup sastra dan seni. Perguruan tinggi yang mengelola program studi keramik diantaranya adalah ITB, ISI Yogya, STSI Denpasar, PSSRD Universitas Udayana Denpasar, Universitas Trisakti Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Sebelas Maret Surakarta, IKIP Bandung, IKIP Padang, IKIP Semarang, IKIP Jakarta, IKIP surabaya, IKIP medan, IKIP Malang, IKIP Ujung Pandang, IKIP Singaraja – Bali,  ISI Denpasar (gabungan STSI Denpasar dengan PSSRD Universitas Udayana), STISI Bandung.

1)  Institut Teknologi Bandung (ITB)

Bermula dari tahun 1947 yang dirintis oleh Simon Admiral dan Ries Mulder (Seniman Belanda) sebagai usulan untuk menebus tindakan Belanda diwaktu lalu dalam penjajahan kolonial. Konsep Admiral dianggap cocok untuk bangsa Indonesia maka Ia ditugaskan untuk mempersiapkan pendidikan tersebut. Tepatnya tanggal 1 Agustus 1947 diresmikanlah dengan nama “Universitaire Leergang Voor de Opleiding van Tekenleraren” yang kemudian diganti dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar”, ditempatkan pada: Faculteit Voor de Technische Wetenschappen” atau Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknik Universitas Indonesia di Bandung, dibantu oleh tenaga pengajar Ries Mulder, Jack Zeylemaker, Hopinan, Piet Pijpers, Hans Frans, Prof. Frielman dan Prof. Bernett Kempers, serta Prof. Sjafei Sumardja. Pendidikan ini berkembang dan menyandang nama baru sebagai Seksi Seni Rupa, Bagian Arsitektur dan Seni Rupa dari Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, yaitu pada tahun 1956 di ketuai oleh Prof. Sjafei Sumardja dan berkedudukan di Bandung. Keabsahan pendidikan
guru gambar ini berlanjut dan perkembangan berikutnya diintegrasikan kedalam Fakultas Keguruan (IKIP) jurusan senirupa, di berbagai daerah. Menyesuaikan dengan institusi yang baru sebagai lembaga yang mandiri, maka pada tanggal 2 Pebruari 1959 diresmikanlah Institut Teknologi Bandung. Perkembangan selanjutnya tahun 1973 Dpartemen Seni Rupa menjadi Jurusan Senirupa ITB dibawah Fakultas Teknik Sipil dan Percanaan. Seni Rupa ITB yang telah mengalami berbagai status dari Balai menjadi Seksi, kemudian menjadi Bagian, Departemen dan Jurusan. Bidang keahlian seni keramik mulai dikembangkan di Seni Rupa ITB pada tahun 1963 yang dibina oleh Prof. Drs. Edie Kartasubarna dan Drs. Angkama S, waktu itu sebagai Jurusan Keramik. Dan tahun 1973 Jurusan diganti menjadi “studio”, mengkuti reorganisasi di ITB menggunakan waktu studi 4½ tahun. Berdasarkan PP.No. 5 tahun 1980 dan SK. Mendikbud No. 0211/4/1982 status Seni Rupa ITB ditingkatkan menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain - ITB dengan Dekan Prof. Drs. A. D. Pirous. Keramik di ITB termasuk dalam kelompok jurusan seni murni, PS. Seni Keramik,  cenderung mengolah bentuk untuk tujuan ekspresi dan penelitian. Selain di Seni Rupa ITB, ilmu keramik juga masuk dalam bagian teknik kimia dan teknik fisika serta planologi. Alamat : Jl. Ganesha 10 Bandung 

2)  Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

Akademi Seni Rupa Indonesia dengan SK. Menteri PP. dan K Nomor 32/Kebudayaan tanggal 15 Desember 1949 dan peresmiannya pada tanggal 15 Januari 1950 langsung oleh Menteri P.P. dan K.S., Mangunsarkoro, yang disingkat “ASRI”. Pemrakarsa pendiriannya adalah S.Mangunsarkoro dan R.J.Katamsi, Direktur Kursus Guru Gambar yang memiliki “Middlebare Akte” dari negeri Belanda seperti halnya Syafei Sumardja dari Bandung dan Soemarno dari Jawa Timur. R.J.Katamsi dibantu oleh Djayeng Asmara yang waktu itu sebagai ketua dari Persatuan Tenaga Pelukis Indonesia. Perkembangan selanjutnya dengan SK. Menteri P dan K No: 100/1968, tanggal 4 Nopember 1968, stautusnya meningkat menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia dan nama  ASRI masih melekat atau disingkat STSRI”ASRI”. Program Studi Keramik masuk pada Jurusan Desain Kriya. Kini STSRI”ASRI” meningkat statusnya menjadi Institut Seni Indonesia  (ISI) Yogyakarta dan PS. Keramik dibawah Jurusan Kriya dari Fakultas Seni Rupa dan Desain.

3)  Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar
          
          Institut Seni Indonesia Denpasar adalah gabungan dua intitusi pendidikan tinggi seni yang ada di Bali yaitu Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSSRD) setingkat fakultas di Universitas Udayana dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar.
          Pada tanggal 1 Agustus 1965 didirikan Fakultas Tenik Seni Rupa yang bernaung di bawah Universitas Udayana. Tanggal 20 Oktober 1965 dengan SK Menteri PTIP R.I. No:240/Sek/PU/1965 Jurusan Senirupa bersama Jurusan  Arsitektur disyahkan menjadi Fakultas Teknik dengan Dekan pertama Drs. A.A. Rai Kalam. Lalu Seni Rupa dan Desain dipisahkan menjadi PSSRD sebagai progran studi antar fakultas atau embrio Fakultas Senirupa dan Desain yang pengelolaannya di bawah Rektor dengan SK. 482/SKPT.17/R/VIII/1983, tanggal 16 Mei 1983 dan SK. Dirjen Dikti No.55/Dikti/Kep/1984. Dan Program Studi Keramik di bawah Jurusan Kriya Seni, PSSRD Universitas Udayana. Para pendiri dan pemrakarsa Seni Rupa Unud adalah Prof. DR. I B Mantra, Prof. Dr. R Moerdowo, Abdul Azis, dll.  Pada tahun 1980 lembaga ini dipimpin Prof. Drs. A.A. Rai Kalam.
          Pada tanggal 28 Januari 1967 didirikan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar dengan SK. Gubernur Bali No: 2/PEM/5/I/A/1967 atas prakarsa Listibya Bali.  Departemen  P dan K dengan No: 066/1969, tanggal 17 Agustus 1969 dinyatakan sebagai salah satu Jurusan dari ASTI Yogyakarta. Dengan Kepres R.I. No. 22 tahun 1992 ditingkatkan statusnya menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia  ( STSI ) Denpasar dan memiliki empat jurusan yaitu Seni tari, Kerawitan, Pedalangan, Seni Rupa dan Kriya yang dipimpin oleh Prof. Dr. I Made Bandem, dilanjutkan oleh Prof. DR. Dibya dan Prof. DR. I Wayan Rai. S., MA. Studi keramik pada STSI Denpasar masuk pada bidang keahlian Kriya.
Melalui keputusan Presiden RI,  No: 33/2003, tertanggal 26 Mei 2003, STSI Denpasar berintegrasi dengan PSSRD Universitas Udayana Denpasar menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Peresmian ISI Denpasar pada tanggal 28 Juli 2003 oleh Menteri Pendidikan Nasional RI, Prof. Drs. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Dan Rektor ISI Denpasar pertama dijabat adalah Prof, DR. I Wayan Rai S., MA.  Alamat Kampus: Jl. Nusa Indah Denpasar, Telp. 0361-227316 / Fax. 0361-236100.

EMAIL : goesmul@gmail.com 
BLOG: blogspot.goesmul.com / Hidup dan Seni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar