Laman

Pengikut

Rabu, 22 Februari 2012

SENI KERAMIK 1


KERAMIK -  PENDAHULUAN 
 oleh Agus Mulyadi Utomo
Hidup dan Seni.blogspot.goesmul.com.keramik
goesmul@gmail.com
     Lempung atau tanah liat adalah bahan baku keramik, yang mempunyai sifat plastis dan mudah dibentuk dalam keadaan basah (lembab). Pada umumnya tanah liat memiliki karakter yang tidak menentu dan tidak memperlihatkan sesuatu yang alami seperti yang dimiliki batu dan kayu. Karena sifat-sifat yang penurut itu dan tidak banyak memberikan resistensi apapun sehingga lempung dapat dipergunakan untuk keperluan yang luas dan tidak terbatas, misalnya untuk bangunan, tembok pembatas pekarangan, perabotan rumah tangga, benda teknis, benda hias dan benda ekspresi. 



                


 
                                                                    
HIDUP DAN SENI :


 
Memaknai hidup dan kehidupan.
Hubungannya dengan seni, karena seni
itu terus hidup selama masih ada kehidupan. Untuk itu perlu diungkap & terungkap, untuk memahami dan memaknai serta memanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan umum dan kemanusiaan serta perkembangan ilmu dan kehidupan.
Minat


SENI, SENIRUPA (LUKIS, KERAMIK, GRAFIS, PATUNG, KRIYA), DESAIN, AGAMA-ISLAM, HUMANIORA, SOSIAL, BUDAYA, PENULISAN, INFORMASI.




facebook: Agus Utomo & ISI Denpasar








Sebenarnya, apapun yang terkandung dalam suatu benda keramik, baik sebagai benda teknis, benda praktis (pakai), benda estetis, maupun sebagai benda spiritual (magis), adalah berasal dari daya “imajinasi” penciptanya saja. Namun demikian sifat yang penurut itu, tidak akan banyak bermanfaat apabila tidak didukung oleh ilmu, pengetahuan, teknologi dan seni untuk merekayasa lempung menjadi keras, kedap air, tahan panas, tahan dingin, awet, berfungsi pakai dan mempunyai bentuk yang indah serta menarik. Disamping itu arah pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang ilmu keramik sampai sekarang ini telah semakin meluas dan kompleks, sehingga pengertiannya pada masa kini dan mendatang tidak lagi sederhana, dikarenakan riset bahan, seni , sosial-budaya-ekonomi dan teknologi terus bergulir serta berkembang dengan pesatnya di era keterbukaan (kesejagatan / globalisasi) yang sarat dengan persaingan.
            Tidak dipungkiri lagi bahwa spesialisasi ilmu terus dilakukan, karena semakin dirasakan perlu untuk dapat lebih mendalaminya dan apalagi akan mengembangkannya. Dunia senirupa, khusus ilmu keramik dalam pandangan seni memerlukan suatu wawasan tertentu untuk memudahkan dalam mendudukkan, mencirikan, mengkonsep penciptaan karya dan memahami akan arah pengembangannya, baik sebagai seni pakai (fungsional), seni kerajinan maupun sebagai seni murni.
                Dalam kenyataan sehari-hari, seringkali terlihat secara visual produk atau karya keramik hanya berupa kecenderungan-kecenderungan dan perpaduan dari seni pakai, seni kerajinan dan seni murni. Belum banyak kalangan dan para pegiat senirupa serta keramikus yang mencoba menonjolkan “ciri khas” masing-masing  dari ketiga bagian ilmu seni tersebut sebagai spesialisasi ilmu tersendiri. Apalagi kini pandangan seni dan teknologi dalam ilmu keramik ada yang bersifat teknis (fisika & Kimia), ilmu pakai-guna (fungsi praktis), kriya (seni kerajinan) dan ekspresi (seni murni), dimana kini strata pengembangannya pun sangat relatif.
            Membuat bentuk dari keramik bagi kalangan tertentu ternyata cukup menyenangkan, dapat kembali bernostalgia seperti sewaktu belajar di Sekolah Dasar (SD) atau Taman Kanak-kanak (TK) ditahun 1970-an. Dimana saat itu, didalam pelajaran prakarya (membentuk) dipergunakan bahan lempung atau tanah liat yang dicari di sawah atau dipinggir sungai untuk membuat bentuk mobil-mobilan, patung atau asbak dan bentuk-bentuk lainnya. Lempung atau tanah liat pada masa kini tidak lazim lagi dipergunakan disekolah-sekolah karena tidak praktis (dianggap kotor dan bisa “cacingan”). Kini bahan untuk membentuk tersebut diganti dengan plastisin berwarna-warni (sejenis lilin atau malam) yang mudah dibentuk dan mudah pula diperoleh di toko-toko buku.
            Bagi penghobi keramik, bahan tanah liat atau lempung itu mudah  sekali dibentuk karena sifatnya plastis, sehingga bermacam bentuk bisa dibuat. Untuk itulah diperlukan buku penuntun yang dapat mengarahkan pegiat keramik, perajin dan pecinta keramik agar tidak membuat benda keramik yang bersifat “iseng tanpa arti”, tetapi mampu membuat bentuk-bentuk keramik yang berkualitas, berintelektual tinggi, bermakna dan bernilai ungkap atau berguna bagi kehidupan sehari-hari serta hasilnya dapat dibanggakan sebagai warisan berharga yang diperuntukkan untuk generasi mendatang.
Kebebasan yang teramat besar dan penggunaan yang begitu luas dari pemanfaatan tanah liat, tentu dapat merangsang daya cipta, imajinasi dan pengembangan IPTEKS itu sendiri. Disisi lain dari dampak kebebasan itu, dapat berakibat buruk karena benda keramik bisa menjadi tidak bermutu akibat kehilangan “arah” dan “tujuan” yang jelas, dengan kata lain menjadi “benda iseng” yang ”tanpa arti”.
            Sejalan dengan perkembangan budaya manusia, maka kehadiran seni keramik mengalami peningkatan baik kuantitas maupun kualitasnya. Disertai pula kandungan makna dan filosofis serta konsep penciptaan yang semua itu bergayut dengan nilai-nilai yang mencakup segi-segi material, teknologi, ilmu pengetahuan, seni, spiritual, fungsi-fungsi religi, ekspresi pribadi sampai pada kemanusiaan itu sendiri. 
Tanah liat atau lempung ternyata memberikan banyak kemungkinan bentuk-bentuk dengan berbagai variasinya, karena bahannya yang mudah dibentuk, termasuk dalam pengungkapan ekspresi dari pancaran emosi dan kesadaran tentang nilai-nilai tertentu yang dianggap bermakna.     
             Perkembangan keramik Indonesia dewasa ini ditandai dengan perkembangan industri, yang melibatkan banyak desainer dalam perancangan produk yang berkualitas secara massal melalui mesin-mesin berteknologi canggih. Selain keramik yang berada di jalur industri massal, adapula keramik yang diproduksi terbatas oleh kriyawan atau perajin berupa benda hias, benda rumah tangga dan cenderamata. Disamping itu terdapat pula keramik yang dibuat khusus dan benda tersebut merupakan benda tiada duanya atau merupakan satu-satunya di Dunia, yang dibuat oleh seniman individu, benda tersebut sering disebut sebagai benda “ekspresi” yang memiliki daya tarik tersendiri.
             Kelompok perajin dan seniman keramik di Indonesia belumlah berkembang sebagaimana mestinya, bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan industri massal padat modal. Hal ini karena kurangnya apresiasi dan langkanya penyelenggaraan pameran-pameran keramik, disamping itu penguasaan teknologi keramik bakaran madya dan tinggi masih relatif baru di Indonesia.
             Pengembangan konsep penciptaan keramik yang terarah dan berwawasan ke depan kini memang dirasakan perlu untuk meningkatkan kreativitas, produktivitas dan kualitas keramik. Kebutuhan dan minat terhadap keramik juga perlu ditumbuh kembangkan serta didorong kepermukaan untuk masuk millennium ketiga dan pasar bebas. Dengan terpenuhinya kebutuhan masyarakat dan selera pasar melalui seni dan desain, akan dengan sendirinya masa depan perkeramikan, produksi dan penciptaan keramik akan cerah. Sentuhan tangan-tangan trampil yang berwawasan ke depan dan bercitarasa tinggi  mempunyai harapan untuk bersaing dalam kegidupan global dan pasar Dunia.

Email agusmulyadiutomo:  
goesmul@gmail.com  
blogspot.goesmul.com / Hidup dan Seni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar