Laman

Pengikut

Kamis, 23 Februari 2012

PENGERTIAN DESAIN


Pengertian Desain
oleh Agus Mulyadi Utomo
           
         Revolusi Industri ( 1745-1770 M) di Eropa, dimana industri massal ini kemudian menghasilkan barang-barang pakai yang menjadi murah baik dalam mutu maupun ekonomi. Memasuki suatu masa spesialisasi dan otonomi seni, dimana bidang teknik dipisahkan dengan bidang seni, sehingga seni bukan lagi bagian penting dalam keteknikan. Kejenuhan akan hasil industri, membuat orang – orang tertentu mulai menolak buatan mesin yang dianggap kaku dan polos tanpa sentuhan tangan manusia. Hal inilah yang membuat para pengusaha dan pemilik modal kembali menarik seni disaat barang atau produk pabrik tidak laku dan menjadi murah. Dalam hal ini agar supaya produk terjual atau dapat menarik pembeli kemudian para pengusaha atau industriawan membeli seni seperti barang lepas yang tidak ada hubungannya dengan produksi, kemudian menempelkan begitu saja pada benda produksinya. Mereka membeli seni dari berbagai masa seperti zaman klasik Yunani, gaya Neo-clasic, seni Barok, Rococo dan Renaissance dengan menerapkannya pada produk industri dengan seenaknya saja. Tindakkan yang keliru ini menunjukkan belum adanya  pengertian terhadap persoalan yang sebenarnya dan beranggapan bahwa seni tidak ada hubungannya dengan mesin. Saat itu belum disadari bahwa masalah tersebut dapat di atasi dengan “perencanaan” bentuk yang akan dihasilkan oleh mesin yang dikenal sekarang sebagai industrial design atau desain produk. William Morris (1870) adalah salah seorang yang mempertanyakan kembali hasil industri, dan menganjurkan untuk kembali kepada ketrampilan atau kriya atau kerajinan  tangan, yaitu mencari kemungkinan baru dengan memadukan atau mempertemukan antara fungsi yang praktis dengan seni sebagai unsur keindahan. Pertemuan antara seni dan industri sebagai “seni tengah”, yang awal kemunculannya disebut sebagai “seni industri” atau “seni dekoratif” atau “seni terapan” dan pada akhirnya disebut sebagai “desain”. Melalui gerakan “Art & Craft”  (seni dan kerajinan) memberikan nafas baru kepada barang pakai dengan menekankan pada faktor fungsi dan dekorasi sesuai dengan metode industri atau sistem  pembuatan produk dalam jumlah banyak. Selain “desain” juga “kriya”  yang termasuk “seni tengah” ini memiliki persamaan yang berkaitan dengan proses penciptaan obyek pakai. Sedangkan perbedaannya, desain menghasilkan rancangan yang berupa gambar-sketsa, foto, diagram, model, spesifikasi verbal dan numerik, maka kriya hasil akhirnya adalah benda pakai. Dalam proses desain industri realisasi produk dilakukan dengan proses manufaktur. Sedangkan kriya, produk dikerjakan secara tradisional dan manual mulai dari bahan mentah hingga menjadi produk benda pakai, sebagai tradisi techne di masa lalu. Muncullah kemudian suatu istilah “machine art” atau “seni Mesin” yang menunjukkan perlunya unsur seni diterapkan pada produk yang dihasilkan mesin. Kemudian “seni industri” atau “industrial art” terjadi ketika mekanisasi semakin berkembang di berbagai industri manukfakturing. Sistem tersebut ternyata menuntut ketrampilan ketukangan dan wawasan industri si seniman dalam merangcang produk. Baru setelah Perang Dunia ke II tatkala bisnis modern yang mencanangkan modal, pemasaran dan industrialisasi melanda Eropa Barat dan Amerika, persaingan tak terelakkan lagi dan konsekuensinya setiap industriawan atau pengusaha harus menyusun strategi untuk menjawab dan menjabarkan kebutuhan konsumen yang beraneka ragam, dari daya beli, latar belakang sosial-budaya, cita-rasa dan tuntutan lainnya. Dan mengangkat perancang yang disebut sebagai “desainer” yang berprofesi menelaah bentuk fisik produk dan memikirkan pula kelayakan psikologis, fisiologis-ergonomis, sosial, ekonomis,  estetis, fungsi dan teknis. Victor Papanek, seorang pemikir desain terkenal merumuskan, bahwa tujuan desain sebagai “pengubah lingkungan manusia dan peralatannya, bahkan lebih jauh lagi mengubah manusia itu sendiri”.
            Selama perjalanan sejarah kriya dan desain, dimana teknologi telah diterima dan dipahami  oleh umat manusia serta menjadikan desain sebagai suatu kegiatan “khusus” atau “tersendiri” dari bagian kegiatan industri. Desain merupakan juga bagian dari aktifitas suatu penelitian dan pengembangan bentuk, yang kemudian menjadi bagian tersendiri dari proses kerja untuk dapat merealisasikannya.
            Pengertian desain menurut terminologinya dari bahasa Latin yaitu “designare” atau bahasa Inggris “design” (to mark out). John Echols (1975) dalam kamusnya mengatakan sebagai potongan, pola, model, mode, konstruksi, tujuan dan rencana. Sedangkan Kamus Webster (1974), pengertiannya adalah gagasan awal, rancangan, perencanaan, pola, susunan, rencana, proyek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan dan sterusnya. Demikian Webster berfikir jauh lebih luas akan beban makna. Khusus dalam seni rupa, desain dapat diartikan sebagai pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual sedemikian rupa menjadi kesatuan organik dan harmonis antara bagian-bagian serta secara keseluruhan. Dalam proses desain dikenal beberapa “prinsip desain” atau principles of design sebagai berikut:

1) Kesatuan (unity);
2) Keseimbangan (balance);
3) Perbandingan (proportion);
4) Tekanan (center of interest / point of emphasis);
5) Irama (rhytme);
6) Keselarasan (harmony).

Mendesain merupakan suatu proses berkreasi. Semakin baik perancangan dan perencanaan sebuah desain, semakin baik produk yang akan diselesaikan. Jika telah memiliki beberapa pengalaman yang aktual dengan beberapa macam teknik proses pengerjaan tanah liat atau lempung (clay-ceramics). Saat itulah diperlukan untuk bereksperimen atau mencoba untuk meningkatkan aktivitas proses desain dari produk-produk keramik.
Desain masing-masing bagian dari keseluruhan pekerjaan kini menjadi begitu penting. Seorang pengembang tanpa disertai dengan rancangan gambar, seolah-olah seperti sebuah buku tanpa sketsa, atau seorang wisatawan tanpa peta, semuanya terasa kurang terencana. Merencanakan sesuatu dengan baik adalah merupakan kebutuhan utama dalam hidup dan juga dalam seni dan desain. Perencanaan merupakan suatu jalan berpikir, demikian juga sebuah desain merupakan hasil dari melakukan pengamatan suatu objek terlebih dahulu, akan memungkinkan untuk dapat mempertimbangkan beberapa perbaikan maupun beberapa pemecahan masalah sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Dengan mendesain suatu objek secara berhati-hati, akan mencegah waktu, usaha dan material yang terbuang secara percuma.
Mendesain sesuai fungsi, hal pertama yang paling penting dalam mempertimbangkan suatu bentuk desain adalah kegunaan dari benda tersebut. Objek harus dibuat sesuai dengan kegunaannya. Tempat gula dan toples kue misalnya harus mempunyai lubang yang cukup besar untuk memungkinkan tangan untuk mengambil gula dan kue. Vas tinggi untuk tempat bunga bertangkai panjang harus mempunyai alas yang cukup besar untuk mencegah vas tersebut terbalik bila nantinya dipergunakan. Sebuah teko teh harus mempunyai ujung corot / ceret yang lebih tinggi dari batas bentuk teko tersebut. Ada benda keramik yang dibentuk dengan unik, penuh dihiasi ornamen dan diwarnai dengan warna-warna yang beragam, semuanya itu harus dapat didesain sesuai dengan lingkungan di sekitarnya. Namun terkadang ada saja seseorang seniman yang mendesain sebuah karya hanya untuk dirinya sendiri. Disini Ia dapat mengekspresikan suatu kegiatan atau ide khayalannya. Kemungkinan Ia hanya bermaksud untuk melihat bagaimana perwujudan dari sebuah ide, apakah itu berupa keindahan yang terdapat pada benda itu sendiri seperti halnya karya seni murni ataupun hanya berupa benda fungsi sekedarnya saja untuk bisa dipakai. Dalam membuat suatu desain yang baik, tentu keramikus / seniman / kriyawan tersebut harus melatih pikiran yang sehat dan masuk akal (ilmiah).

email: agusmulyadiutomo@yahoo.co.id   &   goesmul@gmail.com
blogspot.goesmul.com  / Hidup dan Seni 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar