Laman

Pengikut

Minggu, 18 Maret 2012

BEBERAPA TULISANKU DI KORAN HARIAN BALI POST


1. Seni Rupa di Bali Krisis Kritik
Ada kecenderungan, begitu pesatnya perkembangan senirupa di Bali tidak diikuti oleh perkembangan kritik tentang karya seni tersebut. Apakah karena kurangnya kritikus-kritikus handal yang menguasai teknik mengkritik sebuah karya seni? Ataukah menjadi seorang kritikus seni kurang menjanjikan dari segi finansial? Ada "permainan" apa sesungguhnya di balik itu sehingga kritik tidak lagi menggigit dan berfungsi sebagaimana mestinya?
ITULAH serangkaian pertanyaan yang mengemuka pada diskusi atau sarasehan seni rupa bertema "Krisis Kritik Seni Rupa di Bali" yang digelar mahasiswa PSSRD Universitas Udayana yang tergabung dalam "Mahasenrayana" pada 20 Februari 2002 di Wantilan Museum Sidik Jari, Denpasar. Pembicara dalam diskusi ini adalah Arif B. Prasetyo, I Nyoman Sukaya dan I Ketut Murdana, dengan moderator Pande Gede Supada. Disamping mahasiswa PSSRD, diskusi ini juga dihadiri mahasiswa dan pengajar STSI Denpasar, para perupa, serta peminat seni rupa.
Arif B. Prasetyo mengakui bahwa memang terjadi perkembangan pesat senirupa di Bali, namun tidak diikuti perkembangan kritik terhadapnya. Tidak saja di Bali, namun sudah pada tingkat nasional. Ia mensitir adanya kerancuan akan peran ganda para kritikus -- pengamat seni yang juga sebagai kurator galeri, sehingga pembahasan karya cenderung menonjolkan sisi-sisi baiknya saja, sehingga sisi yang jelek luput dari pengamatan dan pembahasannya. Hal ini tentu menimbulkan kecurigaan dan kecemasan terjadinya "krisis" kritik senirupa.
Menurut Arif, biang kerok terjadinya krisis adalah kurangnya kritikus handal. Meski para kritikus berasal dari lingkungan akademis, namun akhir-akhir ini mereka kebanyakan kehilangan kehandalannya dan memamerkan kedangkalannya demi kepentingan agresifitas pasar dan penetrasi besar-besaran arus kapital ke seni rupa. Pasar seni rupa dipandang berkuasa dalam praktik "kolonisasi", termasuk para kritikusnya. Akibatnya, lahir karya kritik yang kurang objektif. Ini menunjukkan kerancuan fungsi kritikus yang "merangkap jabatan" -- sebagai kurator, konsultan dan penulis katalogus, wartawan, dan seterusnya.
Arif yang dikenal sebagai penulis seni rupa, kurator di sebuah galeri, penyair, esais, penerjemah, serta mantan wartawan ini, lebih lanjut mengatakan bahwa tidaklah penting jika kritikus itu merangkap jabatan. Yang jauh lebih berharga adalah karya kritik itu sendiri, yaitu yang kreatif, sejajar dan mandiri (independen) serta seharusnya terasa lebih kaya dari apa-apa yang dilukis seniman. Kritik pada masa kini sangat diperlukan untuk membangun dan mencerdaskan bangsa. Tidak seperti masa Orde Baru, kritik dianggap menjelek-jelekkan saja yang harus dipangkas. Kalau teknik dan teori kritik kini sudah begitu banyak, canggih, dan dasyat, lalu bagaimana dengan penerapannya?
Ternyata pendekatan yang akademis dalam kritik belum pernah diterapkan dengan konsekuen dalam praktiknya. Kesenjangan antara teori dan praktik kritik seni rupa mirip dengan di dunia sastra Indonesia yang mengalami polemik dan perdebatan panjang. Menurut Arif, isi karya kritik tergantung dari posisi pengamat yang subjektif dan mengapa ngotot minta akan kritik yang objektif? Yang terpenting adalah tanggung jawabnya dari apa yang tersirat dalam seluruh pandangan terhadap karya seni itu yang dianggap sebagai "karya kreatif" juga. Dengan demikian, tidak perlu buang-buang energi atau kebingungan, cemas, khawatir kalau seorang kritikus seni rupa kedapatan merangkap jabatan sebagai perajin tulisan atau apapun namanya. Yang pokoknya adalah apa yang diungkapkan dan argumen apa sampai pada kesimpulan dari ungkapan tersebut.
Belum Tersentuh
Berbeda dengan Arif, I Ketut Murdana yang doses STSI Denpasar, alumnus PSSRD Unud, melihat banyak pameran seni rupa terlewatkan tanpa berita atau ulasan serta kritik yang memadai. Permasalahan yang cukup mendasar seperti perluasan pemahaman, tingkat pendalaman dan apresiasi serta iklim kritik yang dirasakan stagnan, sementara maraknya perkembangan proses penciptaan seni rupa terjadi.
Banyak wilayah kritis yang belum tersentuh wacana, apalagi muncul konsep seni yang berakar pada konsep budaya seni tradisi yang majemuk di Nusantara ini. Perdebatan panjang tentang makna dan nilai yang disodorkan seniman berbeda dengan cara pandang tentang kritik seni itu sendiri. Perguruan tinggi seni rupa di seluruh Indonesia banyak menggelar diskusi, seminar ilmiah tentang hal itu. Di satu sisi perpedoman dengan teori dan cara pandang Barat, sisi lainnya menyerap teori Barat dan melahirkan sistem sesuai dengan budaya sendiri. Usaha-usha para pakar di bidang akademik perlu diposisikan dan dikondisikan untuk membentuk wacana sistem nilai yang dibutuhkan masyarakat secara menyeluruh sesuai iklim budaya sendiri.
Sementara ini pemberitaan dan ulasan seni rupa tidak banyak menyentuh wilayah kritis dan esensial dari karya. Para pecinta seni banyak terjebak dalam bujuk-rayu para calo-calo dan peran kritikus hilang bagaikan ditelan bumi, menghapus kejujuran nilai dan makna yang disodorkan seniman. Tentu bisa dibayangkan bagaimana wajah dan kondisi apresiasi seni di masa mendatang. Murdana menyadari kondisi ini adalah tanggungjawab dari perguruan tinggi seni, bila perlu dibentuk program studi kritik seni. Suatu kenyataan bahwa mahasiswa datang ke perguruan tinggi hanya untuk menjadi pelukis daripada menjadi kritikus yang honornya sangat kecil dibandingkan beban tanggungjawab yang dipikul. Pemberdayaan pengajar di perguruan tinggi seni rupa untuk menulis pada majalah, surat kabar dan jurnal ilmiah untuk kenaikan pangkatnya, seperti anjuran dan adanya surat edaran Dirjen Dikti, memberikan dampak yang positif bagi iklim penulisan yang bermutu dan ilmiah serta sesuai kebutuhan publik apresian.
Menurut Murdana, diskusi juga merangsang tumbuhnya iklim penulisan yang kondusif. Kritik bagi orang Bali dilandasi mental sebagai "pemberi contoh" dan "menjadi contoh", suatu proses pendidikan yang aktif secara teori dan praktik. Juga, cara pandang yang memaknai hidup dengan "kerja" sebagai suatu persembahan dapat menghasilkan wujud budaya dan seni dengan bobot kemampuan yang tinggi, tetapi kurang mampu menjelaskan konsep yang melatarinya. Untuk itu seorang kritikus bukan berdiri sendiri, ia juga seorang praktisi sekaligus guru. Kenyataan ini sangat bertentangan dengan cara pandang Barat yang menganggap kritik sebagai "memberi komentar atau keputusan tentang baik dan buruk".
Jika kritik tersebut memberi jalan keluar, berarti kritik masuk wilayah sasaran yang tepat. Tujuan dari kritik adalah menghidupkan seni, melalui bahasa seni yang kritis, menjembatani bahasa rupa menjadi bahasa tulis yang dapat dimengerti masyarakatnya. Sudah saatnya muncul penulis lokal yang memahami konsep seni lokal untuk meluruskan pandangan keliru dari penulis asing.
Pembicara terakhir, yaitu I Nyoman Sukaya yang Ketua PSSRD Unud, menilai bahwa kemajuan seniman banyak ditunjang oleh para kritikus yang baik. Bagi Sukaya, Bali masih kurang kritikus yang handal dan bisa menunjang perkembangan seni rupa. Menurutnya, pengertian kritik perlu disepakati bersama, "kritik" (dalam bahasa Inggris: critician) berarti mencermati, membandingkan, memilah, menimbang dan menghakimi. Kritik juga berarti kecaman, tanggapan, pertimbangan baik/buruk suatu karya, pendapat dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988). Dengan demikian, Sukaya mencomot tulisan Budi Raharja (1996), bahwa kritik seni menyangkut masalah penyajian fakta, penafsiran, analisis, mencari kriteria dan memakainya, membuat rangkuman sampai akhirnya diperoleh keputusan nilai atas karya seni.
Seleksi karya yang bermutu ditentukan oleh kritikus yang berwawasan global, objektif dan memiliki tanggung jawab moral. Intimidasi perupa atau seniman yang berlebihan terhadap kritikus dapat mengganggu objektivitas profesinya. Dikemukakan pula bahwa realitas kesuksesan dan "pasar seni" mesti terpadu dengan idealitas pengembangan seni rupa yang juga ideal. Sukaya mengisyaratkan, Bali memiliki peluang adanya kritikus yang baik dengan analisis swot yakni adanya SDM cukup, paradigma perguruan tinggi dan multimedia yang canggih sebagai kekuatan. Peluang adanya kegiatan pameran/ seminar seni rupa dan kesempatan belajar terbuka lebar. Kelemahan dan hambatannya adalah SDM lemah dan kurang apresiasi, penguasaan bahasa asing dan teknologi informasi juga masih kurang.
Menurut Sukaya, krisis senirupa di Bali bisa diatasi dengan munculnya kritikus muda yang aktif dalam berbagai kesempatan, seniman tidak perlu tersinggung bila dikritik karena dibalik kritikan ada pujian tersamar yang berharga. Pada akhir diskusi, ada simpulan-simpulan yang lebih menitikkan pada harapan bahwa perlu ada pencerahan-pencerahan, dimana kekacauan intelektual harus diimbangi dengan "jiwa yang suci". Tidak perlu ada ketakutan akan kritik "pesanan". Biarkan masyarakat pembaca yang menilai, baik dan buruk suatu kritikan adalah tanggung jawab kritikus itu sendiri. Perlu dikembangkan iklim kritik di atas kritik, masing-masing mengungkapkan argumentasinya. Tolok ukur adalah apa yang dihasilkan yakni hasil karya itu sendiri, sejauh dan sedalam apa membedah seni yang dikritiknya, untuk mengakhiri krisis kritik yang kritis di Bali.
* Agus Mulyadi Utomo
 
2. Upaya Kreatif Mengolah Bentuk Telur
Keramik IGAM Dewi Rani Maharani
PENCIPTAAN bentuk-bentuk karya keramik sebenarnya tidak mandek. Ini terjadi selama masih ada insan yang memiliki kreativitas, minat, bakat seni dan tujuan fisik bentuk tertentu terhadap keramik atau sebagai pemenuhan barang yang bersifat ekonomis. Dan selama itu pula bentuk-bentuk keramik inovasi baru akan bermunculan dan berkembang. Bahkan bentuk yang sudah ada pun, seperti bentuk klasik dan tradisional, juga mengalami perubahan sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan zamannya.
Tidak dipungkiri lagi bahwa lembaga pendidikan tingi seperti senirupa dan desain, khususnya Jurusan Kriya Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, merupakan pusat pengkaderan tenaga kriya atau keramik terdidik (SDM) yang mengembangkan bentuk-bentuk keramik. Tidak saja menciptakan benda keramik fungsional dan benda kerajinan -- hiasan, cendramata, dll. -- tetapi juga menciptakan benda-benda yang bersifat ekspresi seni.
Salah satu kreativitas dari mahasiswa ISI Denpasar semester V yang mengambil minat studi keramik, yakni IGAM Dewi Rani Maharani, mengolah bentuk telur menjadi barang pakai. Secara umum, karya-karya keramik wanita berdarah Jawa (Sunda)-Bali, berasal dari ide dasar bentuk bulat telur yang dipotong-potong, dibagi dan disusun ulang. Pola-pola pengembangan yang sederhana ini, terbukti mampu menggerakkan unsur kreativitas dari para pengembang, perupa, dan desainer terhadap bentuk-bentuk keramik.
Berangkat dari bentuk telur, Rani mencoba mengolahnya menjadi bentuk vas bunga kering, kap lampu dan untuk meja pojok atau meja pinggiran sofa. Dari bentuk bulat telur ini, ada yang dipotong menjadi dua bagian, sebagai pasangan yang dapat disatukan kembali seperti bentuk semula yang difungsikan sebagai kap lampu, ada bagian atas dan bawah yang bisa dibuka (diangkat). Kap lampu ini pada bagian bawahnya ditunjang oleh penyangga logam (besi) berwarna tembaga, dengan hiasan kerawangan bentuk geometris yang akan menghasilkan cahaya tembus dan bayangan yang unik sesuai dengan motifnya. Bentuk telur lainnya ada yang dipotong sepertiga bagian atasnya, yang difungsikan sebagai vas bunga kering dengan warna coklat/krem seperti kulit telur ayam, yang juga disangga besi berwarna tembaga. Vas bunga kering ini juga dihiasi relung-relung geometris dan kerawangan. Lebih jauh lagi, bentuk telur dibagi empat bagian, yang kemudian disusun ulang secara terbalik, memperlihatkan bagian dalamnya yang diberi warna putih telur dengan goresan ornamen relung-relung garis. Bentuk ini kemudian pada bagian atas diberi kaca berbentuk lingkaran yang difungsikan sebagai meja. Rani juga memanfaatkan bentuk telur seperempatan yang difungsikan sebagai tempat lampu dinding.
Karya keramik Rani memanfaatkan warna glasir evori putih dan merah-coklat dan campuran keduanya serta tambahan Fe dengan suhu pembakaran 1200ø-1300øC. Dari kenyataan ini, ternyata seorang kreator atau desainer tak akan pernah kehabisan akal atau ide untuk membuat bentuk-bentuk baru yang segar dan menantang. Hanya saja perlu pelatihan yang kontinyu dan berkelanjutan serta menimba pengalaman, baik dari pengalaman pribadinya maupun dari orang lain yang lebih senior, sehingga karya-karya yang muncul nantinya memiliki kualitas tertentu sesuai dengan peruntukannya.
* agus mulyadi utomo
 
3. Citra Patung Bali dalam Lingkup Tradisi
Pameran Patung Kelompok BIASA
Bali Indonesia Sculptors Association (BIASA) menggelar pameran seni patung pada 27 Desember 2004 s.d. 5 Januari 2005 di Krane Gallery, Lungsiakan Ubud, Gianyar. Pameran yang dibuka oleh Ida Bagus Marka, pemilik Gallery Marka dari Kemenuh, Sukawati Gianyar ini, menampilkan 33 karya patung dari 11 pematung -- seorrang di antaranya pematung wanita asing yang tinggal di Bali.
--------------
SENI patung memang bernilai budaya yang cukup tinggi dalam  kehidupan bangsa-bangsa kuno di dunia maupun di Indonesia, termasuk di Bali -- terutama patung untuk sarana penghormatan, pemujaan dan upacara keagamaan.
Sisi lain yang menarik dari telaah seni patung Bali, bahwa bentuk tradisi lama masih digarap oleh sebagian kelompok masyarakat Bali kini. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan kehidupan di daerah ini tak banyak berubah terutama dalam kepercayaan masyarakatnya yang mayoritas masih memeluk agama Hindu. Di samping itu, ada realitas lain yang menunjukkan pelestarian nilai-nilai tradisional berjalan secara alami, berjalan lintas waktu yang sedikit toleran terhadap pengaruh luar atau bersifat ekonomis akibat sistem komunikasi modern dan perkembangan pariwisata, pendidikan serta apresiasi masyarakat Bali sendiri.
Kemampuan mengukir atau memahat patung bagi orang Bali sudah tidak diragukan lagi. Para pematung tidak perlu sekolah khusus, bahkan hanya melihat saja sudah bisa meniru. Namun demikian, dalam mengolah ide yang bernilai seni dan menuangkan ekspresi menjadi bentuk tertentu dengan bahan tertentu pula memerlukan pengetahuan tersendiri. Pengembangan dari bentuk seni patung tradisi, yang dirintis oleh I Nyoman Tjokot (awalnya tidak dikenal dan dibina oleh seniman R. Bonnet dan Walter Spies sekitar tahun 1940-an), memanfaatkan akar-akar kayu yang diambil dari bekas tebangan di hutan yang tidak terpakai untuk bahan patungnya dan di-finishing dengan warna arang serta kapur.
Kini, setelah I Tjokot, bentuk patung yang baru dan modern sekali pun, maupun bentuk patung tradisional yang telah meningkat jumlah dan variasinya itu, ternyata belum mampu mengubah citra patung tradisional Bali serta sepi dari wacana. Walaupun hasil seni tersebut sudah banyak menyebar ke mancanegara, bahkan ada yang diakui sebagai karya orang asing dengan menunjukkan hak ciptanya. Kebanyakan karya lukis dan patung Bali , baru terkenal setelah ditulis dan dibahas dalam buku-buku oleh orang asing. Akhirnya, seni patung Bali dalam perkembangannya kemudian nyaris tak terdengar gaungnya, tenggelam dalam arus bisnis/ekspor serta hiruk-pikuknya seni kerajinan dan budaya kerja semata.
Peniruan-peniruan dalam produksi patung tradisional memang sudah dianggap biasa yang dilakukan oleh masyarakat perajin di Bali, bahkan penciptanya merasa "bangga" kalau bentuk tersebut ditiru/disenangi dan berguna bagi orang lain, apalagi bentuk ciptaan tersebut laku dijual di pasaran. Dampaknya pun akan berbeda dengan kebutuhan yang besifat individual dari sudut pandang ekonomi modern yang berkembang kemudian. Hal-hal yang bersifat original dan inovatif tak selalu mendapat perhatian masyarakat perajin dan belum jadi suatu kebutuhan yang mutlak para perajin dalam upaya melindungi hasil karyanya. Apalagi untuk penelitian atau membuat buku, masih langka dilakukan oleh akademisi dan pematung Bali.
Para pengamat seni patung di Indonesia, agaknya, memang merasa enggan atau "sengaja" tidak memasukkan seni patung di Bali sebagai bagian dari perkembangan seni patung Indonesia, atau notabene memerlukan pembahasan atau kacamata khusus yang terkait dengan agama dan budaya Hindu Bali atau pembahasan yang berbeda serta perlu pengetahuan tersendiri akan hal itu. Satu-satunya pada masa kini yang dapat mengangkat citra patung tradisi Bali secara nasional dan internasional adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK) karya I Nyoman Nuarta (alumni ITB) yang spektakular dilihat dari ukuran dan fungsi sosialnya.
 
Memberi Harapan
Adanya Bali IndonesiA Sculptors Association (BIASA) ini tentu dapat memberi harapan untuk nantinya bisa mendata, meneliti dan membukukan perkembangan seni patung di Bali secara khusus dan berkala pula. Apalagi banyak pihak yang mendukung hal tersebut seperti galeri-galeri, kolektor, konsultan luarnegeri dan ISI Denpasar untuk dapat terwujudnya di masa mendatang literatur dan pendidikan seni patung Bali.
Kesebelasan pematung yang berpameran di Krane Gallery Ubud kali ini memajang 33 karya. Mereka adalah Ida Bagus Alit, I Made Brata Yasa, I Gusti Made Lod, Pande Wayan Mataram, I Wayan Mudana, I Ketut Muja, I Made Sukanta Wahyu, I Made Sujana, Made Sudiarta, Tjok Udiana dan Corola Cooges.
Menyimak karya para pematung secara keseluruhan, masih banyak yang menggarap bahan tradisional kayu -- waru, sonokeling, suar, jati, belalu, mahoni, frangipani wood, ketapang, sea hibiscus wood, dan ada juga yang mengolah bahan kertas bekas seperti Tjok Udiana. Para pematung masih banyak berkutat pada teknik pahatan tradisional, mengikuti alur dan struktur kayu yang memanfaatkan karakter dan tekstur yang natural, seperti bonggol, serat, akar, cabang, kayu yang lapuk, rusak, bolong dan yang bergelombang dalam membentuk ide seninya -- sebagaimana dikerjakan Muja, Mudana, dan lainnya.
Beberapa di antaranya seperti Bratayasa, Mataram, dan Sujana memanfaatkan sisa-sisa kayu potongan yang dirakit atau disusun sedemikian rupa menjadikan sinyal-sinyal untuk direspons daya imajinasi mereka menjadi bentuk ungkapan atau ekspresi. Berbeda dengan Sukanta Wahyu yang terkadang juga memanfaatkan kayu setengah terbakar untuk memperoleh efek-efek tertentu seperti kesan magis atau menyeramkan dalam mengusung simbol-simbol ritual. Made Sudiarta mewujudkan patungnya dengan kayu usang yang umumnya cukup tua. Ia tak mau memotong kayu yang masih hidup atau muda untuk berkarya, semuanya itu didasari oleh kepercayaan atau ajaran tertentu untuk menjaga keharmonisan dengan alam semesta.
Secara menyeluruh, bentuk patung masih menyisakan unsur tradisi, baik teknik dan finishing, maupun bentuk atau wujud patung-patungnya. Satu-satunya yang berbeda adalah wanita pematung asing yang tinggal di Bali yakni Carola Vooges. Perwujudan patungnya murni dari olah pikir dan rasa seni yang bersifat infividual (modern). Ia memperhatikan kejadian-kejadian di sekitar atau adanya sebab-akibat dari suatu hukum alam maupun keadaan alam itu sendiri yang diserasikan dengan unsur bahasa rupa universal kemudian disusun berdasarkan prinsip-prinsip keseimbangan, ritme, komposisi, tekstur dan bahannya menjadikan ekspresi tersendiri.
* agus mulyadi utomo

Catatan Tercecer Pameran Seni Rupa PKB 2002
4. Perbedaan Menjadi Keseimbangan
Pameran seni rupa serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-24 tahun 2002, 22 Juni - 20 Juli 2002, memang sudah usai. Pameran yang digelar di Gedung Kriya, Taman Budaya Denpasar, ini setidaknya pantas dicacat sebagai "bagian" dari gebyar pameran seni rupa di Bali belakangan ini. Tetapi, mengapa ada kesan gaung pameran seni rupa ini kurang bergema? Apapun itu, agaknya pameran seni rupa ini tetap berlangsung dengan idealismenya, walaupun gerakannya lambat dan kritik selalu menyertainya.
TEMA sentral PKB ke-24 2002 -- "keseimbangan jagat raya beserta isinya" atau "Jagaddita Sarwa Prani Hita" -- tersirat dalam pameran seni rupa yang diikuti sekitar 70-an seniman Bali ini. Para pelukis itu, dari Gianyar (22 orang) Badung (11), Karangasem (2), Denpasar (29), Bangli (1) dan Tabanan (2) serta Singaraja (3). Klungkung dan Jembrana tidak ada yang mewakili. Pameran yang digelar meliputi lukisan, grafis, patung dan keramik. Ada yang bernuansa tradisional, modern-kontemporer dan konseptual.
Karya yang dipamerkan terlihat beragam, ada yang mengangkat seni/budaya tradisi seperti wayang, cili, patima, adat istiadat Bali, pura, upacara-upacara, tarian, legenda, keramaian pasar hingga kehidupan sehari-hari dalam keluarga. Sebagian lagi menampilkan ekspresi individual -- terhadap aspek visual maupun material -- seperti komposisi, tekstur, warna, garis, bidang-bidang dan yang seakan-akan membentuk atau mengimajinasikan sesuatu yang bersifat khas bagi setiap seniman.
Lingkungan alam budaya tradisional memang seringkali menjadi sumber inspirasi seniman. Katakanlah I Nyoman Sukaya, seniman akademis yang ketua PSSRD Unud ini, karyanya berjudul "Pura Dalem" menyuguhkan pemandangan lingkungan alam Bali berlatarbelakang pura. Sukaya menampilkan kekuatan alam dan suasana keheningan. Karya pelukis yang banyak dipengaruhi Arie Smit -- terutama dalam teknik basah dan dusel -- ini lebih cenderung mengarah dekoratif. Yang juga menonjol dari karya Sukaya adalah penampilan alam tanpa adanya unsur sosok manusia di dalamnya. Ia menata lingkungan alam sedemikian rupa dan teratur indah, suasananya hening tanpa keributan oleh hiruk-pikuknya manusia.
Berbeda dengan I Made Surita yang justru sebaliknya, yakni menampilkan keramaian pasar tradisional. I Putu Rugeg menyuguhkan suasana dalam "Mekarya di Dalem Tamblingan". Juga DN Wardana lewat karya bertajuk "Banten Pajegan". Suasana pantai yang dipenuhi perahu nelayan ditampilkan I Made Oka. Lalu Tjok Istri Mas Astiti mengetengahkan pemandangan keluarga bahagia yang sedang melintas.
Penari Bali, tidak pernah ketinggalan dari incaran mata pelukis dan pegrafis seperti I Made Sudana lewat "Tari Baris"-nya, I Wayan Beratha Yasa dengan "Legong Keraton"-nya, IGK Suandi lewat "Tari Pendet", pun pada karya Dewa Made Pastika, I Wayan Swandi dan AA Rai Kalam. Selain penari, penonjolan sosok gadis Bali juga hadir dalam karya berjudul "Bercermin" karya Wartayasa, IN Sumiadi dalam "Dua Gadis", AAG Ngurah TY, Huang Fong yang sedikit menggoda dalam "Gadis Duduk", IG Ariawan lewat "Menanti Nusa Damai", hingga sosok wanita Bali yang sedang menenun lewat krya Ariawan.
Dunia pewayangan tidaklah luput dari goresan perupa Bali, seperti I Wayan Wartayasa dengan "Gatot Kaca Seraya"-nya, "Arjuna Wiwaha" oleh I Made Arka, dan NA Arnawa yang merangkainya dengan motif-motif kain klasik Bali. Lalu "Khrisna Murti" oleh Ketut Murtana, hingga "Legenda Kalarau" dan "Semara Murti" masing-masing oleh Pande Ketut Bawa dan Ketut Karsa.
Lukisan abstrak tidak pernah sepi, hadir setiap saat di Bali, terutama dari kalangan muda dan seniman akademis. Katakanlah Gede Arimbawa dengan karya "Denyut Kehidupan"-nya, Sudiana dan Ketut L Sugantika lewat "Balance", AA Gede Yugus dengan "Harmoni Garis", "Cahaya Alam" oleh Supena, "Pesona-pesona Alam" oleh Dewa Putu Budiarta, Pande Gede Supada dengan "Kharisma Citra", Wayan Surim dengan "Serakah", I Made Artayasa dengan "Persembahan", Kawi dengan "Memadu Kasih", Wirakusuma dengan "Stimulan", hingga IB Wartama yang menampilkan "Ekspresi Alam".
Falsafah dan Simbol Dewa Nyoman Batuan, pelukis yang tidak memperoleh pendidikan seni rupa secara formal, ternyata punya pengetahuan dan pandangan tersendiri. Ia mengangkat tema-tema filosofis yang bersumber dari tradisi dan agama Hindu, seperti mandala, swastika, hingga lingga yoni. Simaklah karyanya semisal "Mandala Lingga Yoni". Batuan mengambil falsafah dunia nyata yang dikaitkan dengan falsafah agama. Segala penjuru dilukiskan dengan bentuk lingkaran, sedangkan lingga yoni diartikan sebagai awal dari kehidupan dunia. Batuan memang banyak memunculkan simbol-simbol mahluk hidup, dari manusia, binatang, hingga dan tumbuh-tumbuhan. Terkadang ia juga mengambil bentuk Bedawang Nala, Naga Ananta Boga, serta Naga Basuki yang dianggap memiliki pengertian akan gerak keseimbangan.
Pada karya Gede Gunada berjudul "Renungan Pemburu" terdapat gambar kepala manusia dengan latarbelakang tulangbelulang yang berserakan. Sedangkan berburunya I Made Dipta lain lagi, ia melukiskan adanya proses alami perang dimensi, dimana mahluk ikan yang lebih besar akan memangsa ikan-ikan yang lebih kecil. I Wayan Setem mencoba menampilkan simbol mirip orang suci dengan latarbelakang bayang-bayang, juga terdapat teko yang berisi logo cocacola. Gunada mencoba menggiring pemirsa akan suatu kebutuhan dan faktor ekonomi yang bersifat komersial yang dikemas sedemikian rupa dalam "Globalisasi", I Made Djirna lewat "Terhimpit" yang melukiskan manusia kini terkotak-kotak, sesak, dan individual.
Topeng-topeng I Wayan Sukarya, secara keseluruhan memperlihatkan sekmen-sekmen komposisi penuh dan bagian atas terdapat kesan topeng-topeng. Demikian pula dengan AM Utomo yang menampilkan dua wajah mirip tokoh Tualen yang saling berbincang -- semacam punakawan, pengabdi, humoris yang sedang seolah-olah mengulas permasalahan rakyat dalam "Wakil Rakyat Jelata".
Patung dan keramik diikuti oleh 15 seniman, menggunakan bahan kayu, fiber glass, batu dan tanah liat. I Wayan Sutha mengetengahkan "Manusia Ular" berbahan batu dan agak masif. Lalu IB Alit dengan "Selamat Datang", terlihat cenderung primitif dari sosok wanita memberi salam. Patung berjudul "Ritual Lingga Buana" karya I Made Gerya berbahan kayu jati terlihat begitu semangat, kepala unggas jantan sedang birahi mencari pasangan ke segala arah. Patung lainnya masing-masing "GerakTari" karya Dewa Putu Merta, "Lahirnya Sang Adikala" karya Wayan Marya, "Menatap Diri" karya IB Gede Ari Munartha, dan "Integrasi Tiga Figur" karya I Made Suwarsa. I Ketut Muja lewat karya "Tindak-Tundik-Tanduk-Tunduk"-nya memperlihatkan kekuasaan dan kemampuan manusia menguasai alam. I Ketut Modern tampilkan "Kalika", Rugeg dengan "Sapu Leger", dan I Nyoman Mura dengan "Raja Pala".
Sedangkan keramikus Ida Ayu Gede Artayani menampilkan karya keramik berjudul "Lingga Yoni", suatu bentuk yang seolah-olah mirip anyaman. Keramikus AA Ketut Anom, seperti biasanya, tidak lepas dari konstruksi susunan cicak-cicak yang tersembul dari dalam wadah silinder yang seolah terkelupas dan karyanya ini diberi judul "Pergantian".
* Agus Mulyadi Utomo

Pameran Kriya Seni dari karya 20 Kriyawan Akademis

.5. Ekpresi Kriyawan pada Media Kayu

Oleh Agus Mulyadi Utomo



Bertempat di Gedung Kriya, Taman Budaya Denpasar, sejak tanggal 18 hingga 27 Nopember 2005 digelar pameran karya-karya kriya seni dari 20 orang kriyawan akademis dari Jurusan Kriya ISI Denpasar, yang terdiri dari Dosen, pegawai, mahasiswa dan alumni. Pameran yang disponsori UPTD Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini berjumlah sekitar 52 karya kriya yang kesemuanya terbuat dari berbagai bahan kayu, sekitar 40 karya relief dipajang didinding dan 12 karya berujud patung 3 dimensi. Secara umum penampilan kriyawan akademis ini menunjukkan kecenderungan sebagai karya seni murni sebagai ekspresi.



Seni  Kriya

Kerajinan memiliki ciri khas sebagai pekerjaan tangan (handicraft) yang termasuk kriya (craft).  Sedangkan “kriya” atau “kria” yang berasal dari kata “creat”  ini bahasa Sansekertanya berarti “kerja” dan bahasa Jawanya “pakaryan” dan masyarakat pada umumnya menyebut sebagai “kerajinan”. Jika diurai dari akar keilmuannya, masih terus terjadi perdebatan dikalangan praktisi maupun akademisi bidang seni rupa. Bidang kriya atau kerajinan ini menjadi ajang perebutan antara masuk disiplin ilmu seni murni atau desain sehingga muncul istilah “kriya seni”, “kriya desain” atau “seni kriya” dan “desain kriya”. Karena kriya memiliki fleksibilitas yang tinggi, bisa berupa kecendrerungan-kecenderungan, berada ditengah-tengah dan tergantung dari kedudukan dan wawasan yang dipergunakan,  yang bisa berada di wilayah atau kubu dari seni murni atau seni pakai (seni terapan /desain). 



Sudarso SP, mengatakan bahwa seni kriya adalah cabang seni rupa yang sangat memerlukan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi, seperti ukir kayu, keramik, anyaman, dsbnya (1988:14). Sedangkan Wardiman Djoyonegoro, Mendikbud R.I. dalam sambutan Pameran Seni Terapan 1994, menyatakan bahwa seni tersebut tidak hanya mengandalkan kerajinan dan ketrampilan tangan, melainkan hasilnya mengandung makna sebagai karya cipta seni (kriya seni) yang kreatif dan inovatif. Seni kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan (craftsmanship) yang memungkinkan lahirnya nilai seni terapan dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini. Seni kerajinan ini sering pula disebut sebagai “seni rakyat” karena pendukungnya banyak dari rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan seni-seni tradisional, Juga disebut pula “industri rumah-tangga” atau home-industry yang memproduksi secara terbatas dengan peralatan sederhana. Dan disebut sebagai “seni ladenan” karena sering membuat atau melayani pesanan, yang segala sesuatunya (sedikit atau banyak) ditentukan oleh pemesan, baik motif, bentuk, warna, desain maupun teknologinya. Barang-barang kerajinan bisa saja dipakai untuk kegunaan tertentu, tetapi bukanlah tujuan yang utama. Seringkali hadir sebagai benda yang bersifat dekoratif atau cenderamata. Karena ketidak jelasan batasan dari seni kerajinan ini, terjadi perpaduan antara seni seni pakai, seni murni dan seni kerajinan. Untuk menciptakan seni kerajinan yang khas, diperlukan wawasan agar dapat mendudukkan posisinya secara mandiri dan dapat mengembangkan ciri-ciri yang menonjol dari visualisasi  kegiatan kriya tersebut. Ciri khas yang sangat menonjol dari seni kerajinan ini adalah mengutamakan segi keindahan (dekorasi) yang menghibur mata , sebagai pajangan, pekerjaan tangan-tangan trampil luar biasa dengan produksi terbatas (manual-tradisional).



Banyak kalangan merasakan bahwa Seni kriya sebagai pengulangan-pengulangan bentuk yang sudah ada, baik yang tadisional atau yang klasik, dan pada umumnya memperlihatkan atau mempertahankan nilai-nilai lama. Kerajinan juga nenunjukkan konotasi negatif sebagai jenis suatu pekerjaan yang “mengulang-ulang” dari bentuk yang sama dan positifnya memiliki sifat “rajin” atau “teliti”. Kenyataan ini membuat perkembangan seni kriya termasuk lambat, terutama mengulang bentuk-bentuk yang laris dan laku dijual (selera massa) yang menambah kelambatan dalam pengembangannya, perubahan hanya sekitar bahan baku saja. Wiyoso Yudoseputro, mengatakan bahwa dalam pengembangan  seni kriya Indonesia sebagai seni terapan masa kini, diharapkan mampu menampilkan nilai-nilai guna baru berdasarkan imajinasi dan daya kreasi atau ekspresi para perupa. Kecenderungan untuk memandang produk kriya sebagai hasil produksi massal dan karya ulang sering mengecilkan arti dari kandungan nilai sebagai karya seni terapan. Lebih lanjut Wiyoso mengharapkan lahirnya bentuk-bentuk baru dan orisinil tanpa harus mengulang-ulang kaidah seni lama yang tidak sesuai dengan kebutuhan budaya masa kini. Jadi makna dasar kriya tertuju pada penekanan pada “bobot kekriyaan” (craftsmanship) yang melahirkan nilai seni baru sesuai tuntutan zaman. Ciptaan-ciptaan tangan ini sering “ jatuh “ sebagai benda “iseng” atau kitsch tanpa arti, tanpa tujuan yang jelas, yang tidak lagi menarik bagi orang yang memiliki intelektualitas tinggi dan bagi mereka yang haus akan arti kehidupan dan ilmu pengetahuan.  Namun demikian sentuhan tangan-tangan trampil ini justru merupakan daya tarik terbesar, karena menghasilkan barang yang tidak kaku  dan “dingin” seperti buatan mesin, terasa “hangat” dan akrab serta sangat manusiawi. Walaun di zaman teknologi komputer canggih seperti sekarang ini dimana dapat dengan mudah memprogram barang dengan baik, indah dan sempurna, namun tetap saja berkesan “tidak hidup” serta jauh dari manusia dan terasa “kering” akibat buatan mesin-mesin. Kerinduan manusia modern terhadap sentuhan tangan, membuat seni lama hidup kembali atau mengalami perubahan dan pengembangan atau ada semacam himbauan untuk “kembali ke alam” ( back to nature).



Hasil karya kriya yang bermutu tinggi adalah dambaan, kriyan dituntut untuk memiliki citarasa yang tinggi, ketrampilan yang tinggi, dapat mengembangkan seni ldengan citarasa baru, unik dan eksklusif, dan hasilnya tentu tidak mustahil menjadi duta-duta seni dan budaya bangsa yang membanggakan. Kebutuhan artistik dan estetik baru dalam kriya masa kini menjadi tugas pakar-pakar seni dan kriyawan akademis sehingga produknya menjadi komoditi ekspor non-migas yang handal serta mampu bersaing di pasar global.



Karya ekspresi

Irwin Whitaker berpendapat bahwa kriyawan dapat membuat ‘sesuatu karya kriya’ yang menyentuh perasaan / menyenangkan dipandang telah menjadi seniman ? Seniman disini tidak berarti hanya menyenangkan orang lain, bisa juga membuat sedih, marah, dll. Pameran kali ini khusus mengetengahkan kriya seni yang cenderung sebagai benda ekspresi (seni murni) yang tidak diperuntukkan sebagai benda pakai-guna tetapi khusus untuk pajangan dan bersifat terbatas bukan bersifat produksi massal. Mari kita simak karya mereka, seperti yang berjudul ‘Akhir Persahabatan” dari I Made Suparta yang menggambarkan beberapa makhluk yang saling berebut makanan yang menunjukkan sifat kebinatangan terbuat dari kayu jati. I Nyoman Suardina mengekspresikan bentuk “dakon” permainan  tradisi anak-anak dengan lubang cekungan dan mangkuk dari kayu yang disusun sedemian rupa berjudul “The Play”. Karya yang berjudul “Topeng” yang terbuat dari kayu kamboja ini adalah karya I Ketut Adi Kusuma, tidak lagi seperti mirip topeng pada umumnya, tetap berupa bongkahan kayu yang diukir mengikuti pola dasar kayu aslinya dan pada sudut tertentu dibagian bawah ada gambaran wajah serta bagian atasnya berbagai macam bentuk sebagai gambaran pikiran dan keinginan dalam hidup. I Gusti Agung Jaya CK, mencoba mengetengahkan “Nuansa Wayang” yang seolah bentuk relief candi Borobudur. Ekspresi gerakan “Tari Bali” yang didideformasi terbuat dari kayu suar diberi warna-warni dominant biru adalah karya I Gede Sumadi. Tak kalah menarik adalah karya dari I Nyoman Laba, yang terinspirasi dari 2 ekor burung angsa terbuat dari kayu suar disemir ini berjudul “Kebersamaan”, bentuknya  begitu luwes seolah meluncur cepat dan kepala bereaksi dengan gerakan yang terlihat serasi membuat nyaman dipandang. Jejak-jejak kaki manusia yang simbolik ini berbaur dengan lekuklikunya relung-relung ukiran relief dari A.A. Agus Putrayasa berjudul “Alam Pikiran Manusia”  tersbut terbuat dari kayu suar. Lalu rekannya I Made Suartana karyanya terinspirasi oleh mesin-mesin, ada bentuk pir-spiral, baut, kabel dan susunan metal, namun semuanya terlihat begitu lembut khas kayu suar yang jauh dari kesan metal. Ekspresi luka seperti tetesan darah, gambaran dalam tubuh manusia seperti usus, jantung, paru-paru dibuat oleh I Made Darmika dari kayu suar berjudul “Luka Abadi I & II”.  Segala usaha gagal digambarkan seolah diputar oleh dynamo ke gerigi roda gila yang semakin ke atas semakin besar dihubungkan tali kipas yang ternyata putus itu, menunjukkan tidak ada suatu kemampuan lagi diberi judul “Putus Harapan”  dari kayu suar adalah karya dari I Nyoman Gede Juwastra.

Keunikan barong dan rangda menjadi inspirasi dari I Made Surata, terbuat dari kayu jati dengan warna gelap hitam. Organ tubuh pencernaan manusia diekspresikan oleh I Wayan Aris Susila terbuat dari kayu suar. Suatu bentuk karya yang diberi judul “Menjelang Kehancuran” dari kayu suar ini oleh I Ketut Sutama diinspirasikan dua pengertian yang berbeda. Kaligrafi aksara Bali diekspresikan oleh I Wayan Wicana seperti yang berjudul “Mang” dan I Dw Gd Mandirawan dengan karya yang diberi judul “ Daye”  dari kayu suar dan kamper. Karya berbentuk 3 dimensi dari I Wayan Suarjana berjudul “Broken Hom” terinspirasi dari prilaku anak yang digambarkan secara simbolis bergaya naif dipadu dengan bentuk swegitiga kerucut terbalik. Gambaran roh jahat dibuat oleh I Made Sujana terbuat dari kayu kepelan dengan warna antik seperti barang kuno. Gambaran  pertemuan sperma dengan sel telur di ekspresikan oleh I Made Guntur dan relief uang kepeng diekspresikan oleh I Wayan Ardika berjudul “Pis Jaring” sebagai hiasan dinding. Semuanya adalah karya kriya yang menonjolkan  ekspresi  perupa dalam media kayu.      
  
Pameran “Lifestyles”
6. EKSPRESI  DAN  KREATIVITAS  WANITA  PERUPA
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Tanggal 20 Pebruari  s/d 20 Maret 2005 digelar pameran seni rupa yang bertajuk “Lifestyles” mengambil tempat di Danes Art Veranda.  Pameran diikuti sepuluh perupa perempuan yang berasal dari Bali, Yogyakarta dan Jakarta yang menampilkan sekitar 49 karya berupa lukisan, patung kayu dan keramik, karya relief dan digital print. Secara menyeluruh, karya yang mereka ditampilkan menunjukkan ungkapan dan kreativitas perupa wanita dalam memandang dan menyikapi serta merespon realitas gejala sosial dari “gaya kehidupan” masyarakat terutama dari para wanita itu sendiri.  Sudut pandang perempuan ini bisa disimak dari ungkapan curator pameran ini, Susi Andriani, dalam katalogus: “Saya Ada Karena Bergaya” tiada lain bermaksud untuk menarik perhatian khalayak dan bisa eksis dalam persaingan global.  

Citra Wanita
Membicarakan persoalan wanita memang terasa menarik dan khas, apalagi para perempuan itu membahas masalahnya sendiri dari kacamata mereka sendiri. Sesuatu yang wajar bila ungkapan mereka dalam karya berkisar masalah “gaya hidup”, baik dari kalangan perempuan, masyarakat dan lingkungannya, seperti dari persoalan mode atau fashion, pernak-pernik asesories, masalah kecantikan seperti tatarias rambut dan wajah serta perawatan tubuh, aktivitas rumah tangga, tentang “kapitalisme tubuh” sebagai komoditi dan konsumsi untuk politik-ekonomi, estetika, kegairahan, sesualitas, erotisme, seks dan hingga menjual produk-produk lainnya lewat potensi yang dimiliki para wanita. Pola hidup “materialitis” dan “konsumtif” telah menjadi realitas dan bagian yang tak terelakkan lagi dalam era kapitalisme global dewasa ini yang melipatgandakan produksi produk dan konsep kesenangan dengan teknologi mutakhir. Dan para wanita itu pula merupakan “pasar” yang potensial dalam penjualan produk,  baik yang bersifat tradisional maupuin yang bersifat modern. Sebagai wanita disamping memiliki daya tarik tersendiri dengan segala fasilitas yang dimiliki, terutama dengan “gaya hidup pergaulan bebas” tentu menjadi resiko tersendiri pula yang dapat mengangkat atau dapat menjatuhkan harga diri dan kehormatannya. Rupanya para perempuan yang memiliki peran ganda ini, juga bisa mengidolakan tokoh-tokoh wanita tertentu yang dianggap ideal dalam menjalani kehidupan.

Kesepuluh perupa wanita yang menampilkan karya dalam pameran kali ini diantaranya adalah Sri Haryani, Ni Nyoman Sani, Ludzy Septriana, IGAK Murniasih, Nisak Indri Hayati, Ayu Sri Jati, Grace Tjondronimpuno, Koniherawati, Titarubi dan  Lydia Poetrie. Menyimak karya mereka ada yang berujud lukisan seperti Sri Haryani yang berjudul “Consumtive” dan “Party” dengan warna agak transparan seperti teknik basah menampilkan aksi fashion dan glamor yang menunjukkan bahwa wanita merupakan ladang pasar produk yang potensial, dimana banyak wanita ingin tampil secantik mungkin, menarik, dapat mengenakan berbagai asesories yang berkelas atau elit untuk bisa “bergaya” yang tentunya menguras banyak uang untuk itu. Bagaimana tingkah polah para wanita dilukiskan oleh Ni Nyoman Sani dalam lukisan yang berjudul “Back I - V” yang menggambarkan secara naif seolah  wanita sedang bergaya dengan tubuhnya. Nisak Indri Khayati dengan karya “Look into The Mirror”  atau “Berkaca” dengan gaya sedikit naif pula menunjukkan bagaimana para wanita sedang mengolah dan merawat potensi tubuh dan wajahnya. Sedangkan Murniasih dalam karya “Mine” dan Ayu Sri Jati melihat realitas dari gaya hidup di era global, dimana penggunaan telepon seluler (HP) telah menjadi kebutuhan dan komuditas penting untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, yang kini bukan lagi menjadi barang mewah. Dengan HP dapat melakukan transaksi apa saja, tukar pandangan, memperoleh informasi, mengungkapkan kasih sayang dan perhatian, sampai dengan teknologi terkini yang dapat merekam dan menayangkan gamba / foto serta program komputer / internet dapat diperoleh disini. Ekspresi Murniasih dapat dilihat dalam karya lukisan “My Style in Kamboja” yang menggambarkan sosok 2 orang wanita telanjang naik sepeda gayung panjang masing-masing dapat berkomunikasi tersendiri melalui HP, yang ditengahnya ada seekor binatang seperti anjing yang menjulurkan lidahnya. Menunjukkan bahwa Dunia yang berjarak, memiliki ruang dan waktu tidak lagi menjadi permasalahan untuk bisa saling berhubungan. Juga karya patung kayu dari Ayu Sri Jati yang berjudul “Relax” menggambarkan sosok manusia seperti perempuan yang sedang berkomunikasi melalui HP sambil tiduran. Karya 3 dimensi lainnya adalah dari Grace Tjondronimpuno, wanita kelahiran magelang yang dipersunting pria asli Bali yaitu kartunis “Dedok” ini, menampilkan pernak-pernik lukisan di atas kayu (talenan) yang akrab bagi kaum wanita di dapur dan juga di atas kanvas. Penampilan yang feminim dari Grace terlihat dari ukuran karya yang relatif mungil (hingga 10 X 15 cm). Pada karya yang berjudul “Globalization” dan  “It’s my Life” , Ia menggambarkan pasangan pria-wanita, yang seolah-olah tampak bahagia walau ada yang berbeda suku, bangsa, negara dan agama. Dan apakah “pasangan antar bangsa” itu sudah merupakan “gaya hidup” dari sebagian kecil masyarakat kita?  Pasangan seperti ini sudah cukup banyak, ada yang dari kalangan orang biasa saja, artis, seniman, pengusaha, ataupun hanya sekedar “kawin kontrak”. Keramikus Lydia Poetrie dari IKJ ini, menuangkan  ekspresinya dalam bentuk patung figur atau sosok wanita dari bahan tanah liat jenis stoneware dengan glasir pada bagian tertentu saja. Keramik karya Lydia yang berjudul “Jamune Mas!” dan “For my Family” menggambarkan seorang wanita penjual jamu dengan memperlihatkan seolah tubuhnya yang seksi sebagai daya tarik untuk promosi. Lalu karya lainnya berjudul “Senandung Jiwa”, “Arranger D’Hair” dan “A Song for You”, yang terakhir ini menampilkan bagian atas figur wanita dari atas dada sampai kepala yang kupingnya terselip bunga,  seakan sedang menyanyikan sebuah lagu dengan penghayatan tertentu. Berbeda dengan rekannya yang lain, Koniherawati, dalam karya yang diberi judul “Lifestyle #1&2 (The Style of The Most Beautiful Woman & The Style of The Most Handsome Man)”  serangkaian gambaran yang mengidolakan “suatu gaya hidup”  sebagai pilihan seperti Bunda Maria, Ibu Theresa, Yesus, Budha, Gandhi sampai Lady Di. Apapun pilihan dan kondisi wanita, gambaran idealis itu pasti ada. Keinginan perempuan memang banyak, perjalanan panjang dan jauh itu, “Where am I Going”, dilukiskan oleh Ludzy sebagai “gaya hidup”, mulai dari keperluan akan gincu, pakaian, aksesories, TV, mobil dan rumah mewah hingga gambaran wanita telanjang dengan segitiga pengaman di ke atas alat vitalnya terdapat dalam karya yang berjudul “Woman’s Desire”. Dan karya digital print dari Titarubi yang berjudul “Bound with Shine” melukiskan seorang wanita dengan baju pengantin yang berjuntai berhiaskan manik-manik sedang melambaikan tangan dan menarik koper yang juga sarat berhiaskan manik-manik. Karyanya yang berjudul “Bralgeuraming Go Away My Child” , mengekspresikan bagaimana fitrah wanita mengandung janin dan berusaha memotong tali kehidupannya dengan “aborsi” yang sudah tampak menggejala sebagai “gaya hidup”, seperti praktek “dokter aborsi”  (Bali Post Minggu 20/2/05) yang baru terungkap di Denpasar sudah berjalan 4 tahun tanpa diketahui dan diperkirakan sebanyak 1000 lebih bayi tak berdosa mati dibunuh.


Keramik Karya Ni Putu Eka Arisanti dan Anton Darmawan
 7. Mengeksploitir Bentuk Polyp Terumbu Karang dan Tubuh Perempuan
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Karya Keramik Mahasiswa semester VI yang digelar di  studio keramik ISI Denpasar dari tanggal 15 sd 16 Juli 2005 lalu menampilkan ± 20-an buah karya. Eka Arisanti  menyuguhkan bentuk pengembangan dari polyp dan terumbu karang dalam ciptaan bentuk keramik, sedangkan Anton Darmawan menggarap tubuh perempuan sebagai sumber ide dalam menciptakan bentuk vas-vas keramik.

Terumbu karang adalah rumah bagi biota laut. Terumbu karang juga merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Telah diidentifikasi lebih dari 93.000 spesies hidup di terumbu karang, namun lebih dari satu juta spesies mendiami ekosistem ini. Terumbu karang adalah rumah lebih dari 2.000 jenis ikan, 5.000 jenis mollusca, 700 jenis karang  dan berbagai jenis kepiting, landak laut, ketimun laut (tripang), berbagai cacing dan binatang lainnya yang tak terhitung jumlahnya (David Lambert, 1986). Karang yang berukuran kecil saja terdiri dari kumpulan ribuan individu hewan polyp karang yang berproses ribuan tahun membentuk terumbu karang sebagai hewan pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Walaupun terlihat kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh dan mudah hancur. Karang yang berumur jutaan tahun bisa setebal 1000 meter. Sejumlah polyp karang ini memiliki ganggang yang mengandung klorofil hidup di dalamnya dan dapat berfotosintesis. Ganggang ini kaya oksigen tetapi miskin gizi dan membutuhkan zat nitrat dan fosfat, untuk alasan itulah makhluk-makhluk ini sangat membutuhkan kehidupan bersama, tidak bisa hidup sendiri dan saling memanfaatkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Polyp menyediakan makanan bagi ganggang dan tempat bernaung yang aman dari pemangsanya. Sebaliknya ganggang menyiapkan makanan bagi polyp melalui fotosintesis untuk membangun kerangka batu kapur. Ganggang / rumput laut melekat pada batuan/karang dengan alat pelekat ada yang seperti cakar, benang dan cakram sehingga tahan dari pukulan ombak besar. Para ahli menyebut perlu tenaga 0,7 kg / cm untuk melepaskan ganggang gelembung dari tempatnya menempel

Karya keramik Eka Arisanti mengambil bentuk-bentuk sederhana dari bentuk polyp yang merupakan bagian dari terumbu karang yang dianggap unik. Semua nama judul diambil dari bahasa ilmiah seperti berjudul “Mollusca” (kerang), “Tunicata” (semprot laut), “Crustacea” (hewan berperisai), “Bernakel” (hewan yang melekat pada batu / karang), “Castle Coral” (karang berbentuk istana), “Spons” (bunga karang) dan “Coral Reef” (karang yang ditempeli ganggang dll). Mollusca memiliki bagian tubuh yakni kaki yang kuat, organ tubuh di atas kaki dan jaringan pembuat kulit yang disebut mantel. Pada karya berdiameter 23 cm dengan tinggi 30 cm ini,  Arisanti menampilkan polyp dan kehidupan kerang-kerangan yang keluar masuk membuat terowongan dalam terumbu karang.  Tunicata mulai hidu[p seperti kecebong dan kemudian melekatkan diri pada batu karang dan ekornya menghilang menjadi gumpalan bubur kecil berwarna merah, coklat dan hijau dengan cambuk-cambuk kecil penghisap dan penyemprot air serta dapat mengkerut jika ada bahaya. Pada karya berdiameter 20 cm dan tinggi 39 cm ini, bentuk tunicata Ia tampilkan dililit dengan ganggang atau rumput laut yang bentuknya telah distilir. Pada karya “Crustacea”  Arisanti menggambarkan lubang-lubang pada karang yang dibuat oleh kepiting sebagai hewan berperisai (crustacea), disitu juga banyak ganggang laut yang menempel disekelilingnya dan bergerak mengikuti arus. Ganggang laut yang tampil mengalami sedikit digubah (stilir)  agar berkesan tradisi. Crustacea yang melekat pada benda lain disebut bernakel ini bermula dari makhluk kecil yang berenang-renang kemudian melekat pada benda keras dan membuat lapisan perisai disekelilingnya dan tubuhnya menjadi jaring-jaring untuk menjerat makanan dan oksigen. Arisanti menampilkan bernakel ini yang menempel pada polyp dan ganggang berdiameter 19 cm dan tinggi 39 cm. Pada “Castel Coral”  karya berdiameter 20 cm dan tinggi 55 cm ini, Ia mmenampilkan bentuk karang yang menyerupai castle (istana) karena bentuknya seperti cerobong (pipa) memperlihatkan susunan dari rendah menuju ke paling tinggi dengan hiasan ganggang laut. Spons atau bunga karang ini tidak memiliki mulut, organ tubuh atau susunan syaraf, untuk bernafas dengan menghisap air melalui lubang-lubang yang banyak terdapat pada tubuhnya, pada koloni yang besar merupakan tempat yang disukai oleh kepiting dan udang. Karya “Spons” berdiameter 25 cm dan tinggi 48 cm ini menyerupai tabung dan disekelilingnya dipenuhi lubang-lubang, pada bagian atas terdapat kepiting yang seolah baru keluar dengan merobek bunga karang dengan capitnya dan beberapa ganggang laut dan scallop menempel pada bagian bawahnya. Melihat karya-karya Arisanti yang mengungkap aneka kehidupan biota laut ini, memberikan pengertian bahwa sangat diperlukan pelestarian lingkungan, mengingat banyak sumber kehidupan manusia yang tergantung padanya, terutama sumber protein dari ikan laut dll, sebagai konsumsi. Sebagai himbauan, jagalah lingkungan hidup ini dan janganlah terumbu karang ini dihancurkan dengan alat peledak terutama dalam menangkap ikan, kepiting, udang karang dan sebagainya  karena memperbaiki memerlukan waktu cukup lama.

Berbicara tentang perempuan, dalam beberapa pandangan masyarakat di Indonesia kata ini mengalami degradasi semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna, dimana arti sekarang lebih rendah dari arti duhulu (www.angelfire.com 19/06/05). Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti tuan, orang yang mahir/berkuasa, atau pun kepala, hulu, atau yang paling besar; maka dikenal kata empu jari ( ibu jari), empu gending yakni orang yang mahir mencipta tembang. Juga berhubungan dengan kata ampu (sokong, penyangga,penjaga keselamatan), mengampu (menjaga agar tidak jatuh/runtuh), pengampu (menahan, penyangga, penyelamat). Disamping itu berakar dari kata empuan, yakni kata yang mengalami pemendekan menjadi”puan” yang artinya sapaan hormat pada perempuan sebagai pasangan “tuan” untuk sapaan hormat pada lelaki. Dari sinilah dapat dijelaskan bahwa pemaknaan sosok perempuan mengalami perubahan. Namun demikian perempuan merupakan sosok yang harus dihormati dan disegani terutama pada posisi sebagai Ibu. Hingga kini sosok perempuan masih menjadi obyek yang menarik untuk dituangkan ke dalam benda-benda seni.
Adalah Anton Darmawan, yang mencoba mengeksploitir bagian tubuh perempuan menjadi vas keramik. Perempuan dan vas; umumnya orang tertarik pada kecantikan wajah perempuan, namun Ia tertarik kepada keindahan sebagian bentuk tubuh lahiriah. Bagian wajah atau kepala diganti dengan bunga, bila dipergunakan sebagai vas bunga, yang menyimpan makna simbolis.  Juga untuk bagian tubuh dari vas sosok perempuan ini  Anton berusaha menyelipkan kritik sosial. Lihat karyanya yang berjudul “Perempuan” menonjolkan sosok perempuan mengenakan pakaian tradisional seperti kemben (sabuk) dan kamen yang melingkari tubuh dengan dekorasi mas-mas-an. Lalu “Gerak Sang Penari”  memperlihatkan posisi kaki sang penari, mamakai baju korset dan kain kamen.  Demikian pula dengan judul “Melenggok” memakai kemben dan kamen dengan dekorasi bunga-bunga. Judul “7 Bulan” adalah gambaran sosok perempuan yang hamil 7 bulan memakai kebaya yang dihiasi patra ulanda dan kamen motif kakul-kaulan serta mas-masan.  Vas lainnya berjudul “Under Wear” yakni sosok perempuan memakai pakaian dalam tradisional yang dikenal dengan kutang (BH) jaman dahulu sedikit terlihat kamen dan kembennya.  Sosok perempuan yang dipotong-potong , seolah gambaran tubuh perempuan yang siap diperjual-belikan, sindiran bagi PSK dan hidung belang dalam sisi kehidupan lain yang tetap marak hingga kini terlihat pada karya berjudul “For Sale” sebagai suatu kritik sosial. Menurut Anton, daripada membuka aurat yang mempertontonkan bagian tubuh yang memancing perbuatan asusila seperti perkosaan dan lainnya, lebih baik tubuh perempuan itu dibalut dengan tikar terlihat pada karya berjudul “ Dibalut Tikar”. Jadikan perempuan itu bernilai dan terhormat serta jangan menjadi “penyakit” dalam masyarakat dengan menjunjung tinggi etika dan martabat manusia.

Pameran Tugas Akhir & Sarjana Fotografi Pertama ISI Denpasar
 8. Mengolah Cahaya & Spektrum Warna Jadi Karya Seni
Oleh Agus Mulyadi Utomo
Dua orang sarjana pertama dari Program Studi fotografi, merupakan Jurusan termuda dari Fakultas Seni Rupa dan Desain,  Institut Seni Indonesia Denpasar, telah diuji dan diluluskan  dalam ujian karya Tugas Akhir  dan sidang yudisium pada tanggal 15 Juli 2006. Mereka itu adalah Cok Puspawati Nindhia dengan predikat sangat memuaskan, Tugas Akhirnya berjudul “ High Speed Fotografi pada Air dengan Efek Warna ”. Dan Putu Eka Gunatama dengan judul “ Ikan Sebagai Sumber Inspirasi dalam Penciptaan Karya Fotografi .

Air dan misterinya
Air terdiri atas molekul-molekul, setiap molekul terdiri dari 2 atom hydrogen yang terikat pada satu atom oksigen, rumus kimia ditulis H2O; terionisasi lemah menjadi ion hidrigen dan hidroksida; memiliki massa-jenis 4ºC, titik beku 0ºC dan titik didik 100ºC pada tekanan 1 atmosfir.  Sesungguhnya tiga perempat permukaan bumi diselimuti oleh air, baik di lautan dan danau, pegunungan, di angkasa berupa awan hitam tebal menjadi titik-titik air embun dan hujan maupun yang berasal dari perut bumi berupa sumber dan sungai-sungai yang mengalir. Bahkan dua pertiga dari tubuh manusia adalah air yang menjaga metabolisme tubuh. Setiap mahluk hidup di bumi memerlukan air untuk kelangsungan kehidupan.

Pengertian air bagi sebagian orang sebatas untuk mandi, minum, masak, mencuci, menyirami atau mengairi ladang dan sawah serta tambak atau kolam. Akan tetapi bagi orang yang ber-ilmu maka air bisa menjadi penggerak lokomotif, pembangkit tenaga listrik, meramu atau melarutkan bahan-bahan kimia (pelarut universal), bahkan air bisa menjadi bom hydrogen yang dahsyat akibatnya. Bentuk dan sifatnyapun bisa berubah-ubah, bisa berbentuk cairan, bisa menjadi uap, bisa menjadi padat atau membeku seperti es, salju, gletser, dan bisa menjadi berbentuk gas. Itu semua tergantung dari situasi dan kondisi serta perlakuan terhadap air. Air bagi manusia sangat dibutuhkan untuk bisa hidup, juga bisa berguna dan bisa menyulitkan, bahkan juga bisa menjadi malapetaka (banjir bandang, tsunami, dll)

Air juga berperan penting dalam kehidupan sosial, seni-budaya bahkan kepercayaan- agama. Misalnya dalam agama Hindu dikenal tirta (air suci), dalan agama Islam untuk bersuci dari hadas besar dan kecil, juga ada air zam-zam, air dzikrullah, pada agama Kristen air untuk membaptis dan sebagainya. Air dapat dibuat berbagai macam rasa dan warna, tergantung dari keperluan. Bagi pujangga-sastrawan sifat air yang tenang, mudah berubah, dinamis, tidak terduga dan sebagainya menjadi inspirasi  dan perlambangan yang tak habisnya.

Fotografi
Fotografi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu “foto” yang berarti cahaya dan “grafi” yang berarti menulis. Jadi fotografi artinya”menulis dengan cahaya”. Atau kata “photos” yang berarti mencatat dan “graphos” yang berarti matahari atau sinar / cahaya. Untuk menjadikan foto-foto yang menawan, diperlukan ketrampilan teknis pengendalian kamera dan metode cetak yang tepat. Untuk menjadikan foto bernilai seni diperlukan kepekaan artistik seorang fotografer, yang memenuhi kaidah seni dalam penampilannya.

Bagi seorang fotografer seperti Cok Puspawati Nindhia, menangkap bentuk tetesan butiran titik air yang mengikuti grafitasi bumi menarik perhatiannya. Dengan berbekal kamera sebagai alat yang mampu merekam gerakan air, Ia mencoba berkreasi memotret air yang dapat tembus cahaya atau memantulkan cahaya dan bahkan dapat membuat spectrum warna, Dengan bantuan camera yang memiliki berbagai fasilitas tertentu, terutama mengatur kecepatan bukaan rana atau ruang tajam dengan teknik high speed dikombinasi dengan warna dapat pula merefleksi keadaan sekelilingnya yang terekam dan kemudian diolah secara kasatmata (visual) untuk bisa dinikmati sebagai karya seni.

Pada karya Puspawati yang berjudul “Tetesan I, II, III”, “Terpercik”, “Tergenang”, “D Ujung Paku”, “Kesegaran”, “Tegar”, “Sendiri”, “Percikan Biru”, “Sama Tapi Berbeda”, “Tetes Beriak””Percikan Kuning”, ‘Gelombang”, “Bergolak”,”Menetes”, “Setetes”, “Dua Tetes” “Tiga”, “Di Ujung Air”,  Ia merekam tetesan air pada kecepatan yang bervariasi 125, 200, yang kebanyakan tinggi hingga kecepatan 400, 450 sampai 500,  bukaan diaframa 4, 5,6, 8, 11 dan 16, lensa makro 28-105 mm, film ASA 400, flash SB 600 yang di bounce 45, 60, 75 derajat. Dibantu pencahayaan lampu 100 watt dan reflector berbagai macam warna lensa  filter dalam air yang akan memantulkan berbagai macam warna pula. Juga ini dimaksud untuk menghentikan gerak dan sebagian sinarnya memantulkan warna background pada kertas linen dan print glossy serta Kodak Paper Colour bermacam warna. Dalam pengambilan gambar Puspawati melakukannya berulang kali hingga tepat sebagai golden moment.  Secara visual karya-karya Puspa terlihat sangat imajinatif dan “puitis”, terkadang  seperti lukisan abstrak, seperti ombak dilautan atau sebagai suatu benda angkasa yang sedang melayang di langit atau di tengah perairan atau samudra raya. Efek cahaya dan warna terlihat cukup menarik dan bervariasi.

Berbeda dengan rekannya Putu Eka Gunatama , yang terinspirasi oleh ikan, khususnya ikan konsumsi yang dijual dipasar serta ikan hias (koki). Ia menggunakan teknik sandwich yang menggabungkan beberapa teknik, seperti dua negative untuk menghasilkan gambar yang diinginkan. Pemilihan cahaya yang tepat dipertimbanmgkan agar obyek dapat menonjol sehingga perlu banyak eksperimen, terutama penambahan tekstur agar dapat menyatu dengan obyeknya. Terkadang Eka menggabungkan film berwarna dengan hitam-putih. Pengambilan gambar dengan focus pada obyek dengan latar yang blur (dof sempit) ataupun pengambilan gambar secara menyeluruh (dof luas) juga double expose.

Karya Eka sebanyak 20 buah diantaranya ada yang berjudul “ Antara Hidup dan Mati” tampak cukup berhasil memberikan suasana dimana terdapat ikan yang masih utuh dan ikan yang sudah tinggal tulang belulangnya. Karya berjudul “Keriput”, “Menggigit”, “”Mengintip”, “Terasing”, “ Membusuk I &II”, “Terhimpit”, semuanya hanya berkesan menata ikan-ikan dalam satu freme. Lalu “Polusi I & II”, khususnya ada penambahan teknik komputeraise dengan penambahan garis-garis berwarna merah untuk mengaburkan bentuk ikan. Pada karya yang berjudu “Berderet” dan “Bercumbu” terliohat Ia lebih berani dengan penambahan warna-warna cerah sehinga terdapat suatu kombinasi antara fakta dan kreasi imajinatif. Untuk juudul “Siap Menyerang” memperlihatkan ikan kakap dengan menonjolkan gigi-gigi ikan. Pada keseluruhan karya Eka menunjukkan berbagai komposisi, ada yang memusat, menumpuk, menyebar dan sebagainnya. Jika Eka mengamati ikan di alam sebenarnya atau di habitatnya, tentu akan lebih menarik lagi.

Pameran Tugas Akhir & Sarjana Kriya Keramik, FSRD- ISI Denpasar
9. Keramik Motif Padi Untuk Rumah Tinggal dan Tampilan Motif Tikar
Oleh Agus Mulyadi Utomo

 I Gusti Ayu Made Dewi Rani Maharani dan Anton Darmawan, adalah dua orang sarjana baru yang lulus ujian penciptaan karya dan ujian konprehensif,  disampaikan dalam yudisium dengan nilai memuaskan pada hari sabtu tanggal 15 Juli 2006 lalu dari Program Studi Kriya Keramik, FSRD-ISI Denpasar. Rani mengambil judul tugas akhir “ Keramik Pakai Motif Padi untuk Rumah Tinggal” dan Anton dengan judul “Eksperimen Pembuatan Bentuk Keramik Fungsi dengan Motif Anyaman”. Beberapa dari karya mereka  sebelumnya telah  dipamerkan di Museum Sidik Jari  Denpasar dari tanggal 29 Juni s/d 1 Juli 2006.

Tanah liat atau lempung yang dibakar suhu tinggi menjadi keras untuk waktu lama dan sifat demikian telah dimanfaatkan orang sejak dahulu kala untuk membuat berbagai bentuk produk pakai keperluan sehari-hari, seperti bejana, vas, periuk, kendi dan sebagainya. Umumnya produk yang terbuat dari tanah liat disebut dengan “keramik”. Dari sudut pandangan kualitas fisik struktur body yang paling rendah disebut dengan gerabah yang memiliki sifat rapuh dan berpori-pori serta menyerap air , dibakar dibawah suhu 1000ºC. Pada kualitas menengah disebut dengan stoneware atau “keramik batu” memiliki sifat seperti batu, tidak menyerap air dan dibakar pada temperatur di atas 1000ºC s/d 1250ºC. Dan sebutan “porselin” untuk keramik bakaran tinggi di atas 1300ºC s/d 1400ºC, bersifat sedikit menggelas, suara lebih nyaring, peka terhadap oksida pewarna. Keramik karya Rani menggunakan tanah liat putih dilapisi glasir dasar putih  hiasan kuning dan hijau. lalu Anton dengan tanah liat merah, dengan glasir Fe dan kuning, semuanya dibakar hingga temperatur 1200ºC. 

Pada umumnya di dalam rumah tinggal terdapat begitu banyak ragam hias dan dekorasi pada benda pakai, sehingga bagi seseorang yang merasa memiliki kepribadian atau keluarga tertentu yang ingin tampil beda, hal tersebut belumlah mencerminkan selera dan kepribadian sang pemilik rumah tinggal itu sendiri, tentu sesuatu yang bersifat khusus atau memiliki ciri khas. Berangkat dari permasalahan tersebut, timbullah ide yang menginginkan untuk memberi suatu ciri khas dalam kebutuhan pemakaian perabotan keramik di dalam rumah tinggal. Dewi Rani mencoba menawarkan sebuah alternatif keseragaman dalam penggunaan keramik bermotif padi pada benda-benda yang biasa dipakai dalam rumah tinggal, yang tentunya dapat mengangkat citra dan martabat atau gengsi seseorang seperti halnya dengan kepemilikan akan benda-benda seni. Ia mengambil motif padi karena sebagai bangsa Indonesia tentu merasa akrab dengan padi dan merupakan pemandangan umum persawahan terutama di pedesaan, apalagi  mengkonsumsi berasnya sebagai bahan makanan pokok sehari-hari. Rani mencoba memberikan suasana khusus, berwarna dasar putih dengan bentuk padi berwarna kuning dan batang kehijauan pada keramik pakai dengan bermotif padi tersebut yang diterapkan pada peralatan makan-minum, bentuk vas, mangkuk sayur, meja, tea set, kopi set, tempat makanan kecil, asbak, kap lampu dan lainnya sebanyak 10 macam fungsi guna untuk tugas proyek akhir yang memang terbatas waktu pelaksanaannya. Ia berharap, sebagai kriyawan ide tersebut dapat dikembangkan oleh masyarakat konsumen sebagai bentuk penawaran (proyek) untuk menggarap penerapan motif-motif lainnya sesuai dengan keinginan pemesan atau alternatif yang disuguhkan para desainer kriya, baik sebagai pemilik atau diperuntukkan rumah tinggal yang bersifat khusus.

Seperti halnya Rani, rekannya Anton juga menawarkan suatu alternatif penggunaan keramik untuk bisa dipakai keperluan sehari hari, sebagai benda pelengkap interior ruangan tamu, seperti vas dan pot bunga, kap lampu, tempat majalah , tempat makanan kecil / kue, pigura foto, tempat permen, tempat air dan lainnya. Anton lebih tertarik pada anyaman terutama pada motif bentuk tikar. Ia cenderung kepada ungkapan seni murni, terutama tampilannya dikemas secara unik atau lebih berupa ekspresi daripada pada penekanan fungsi benda pakai atau bernilai artistik (khas seniman). Lihat karyanya yang menampilkan tikar dengan pinggiran tidak beraturan, bahkan ada seperti tikar usang yang dijait dijadikan tempat sesuatu. Tentu kepemilikan barang tersebut bersifat khusus hanya untuk orang-orang tertentu yang mengerti seni.  Disamping itu, kerajinan anyaman tikar yang sesungguhnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan tidak bisa bertahan lama, dengan idenya ini diharapkan motif tikar dapat dibuat awet dan tahan lama. Pada karyanya, Anton menyatukan atau menyambung bentuk dengan jaitan seolah tali yang diberi warna kuning, dimaksudkan juga sebagai aksen.


Dari Pameran Kelompok Rupa Kata di Darga Gallery-Sanur
10. Usaha Menyelaraskan Kerja Olah Kata, Rasa dan Visual
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Tujuh orang perupa yang merasa memiliki kemampuan mengeksplorasi tekstual, baik sebagai pengamat seni, kritikus, kurator  maupun editor disuatu penerbitan,  bertempat di Darga Gallery, jalan By Pass Ngurah Rai 20/21 Sanur menampilkan sejumlah karya-karyanya dalam pameran bertajuk “Rupa Kata” berlangsung dari 17 Juni s/d 7 Juli 2006 lalu. Penyelenggaraan pegelaran pameran senirupa ini dimaksudkan untuk menunjukkan dan menyelaraskan pekerjaan baik sebagai kreator visual maupun  sebagai penulis, mereka itu adalah Hardiman, Ipong Purnama Sidhi, Deddy Paw, Made Bakti Wiyasa, Nani Sakri, Putut Wahyu Widodo dan Wayan Kun Adnyana.

Konsepsi yang menonjolkan ide bersama mulai dari yang bersifat multi media sampai dengan multi idea sekarang bergulir tanpa dapat dibendung, muncul sebagai fenomena di era komunikasi global yang canggih, dimana kini seni tidak lagi terkungkung pada pandangan yang bersifat tunggal, bisa hadir dalam bentuk penggalan atau potongan seni  bahkan dapat muncul sebagai “colaborasi seni”, sebagai suatu reaksi terhadap suatu kondisi tertentu. Seni pun kini tidak lagi terbatas dan tidak dibatasi, bersifat plural dan situasional. Seni tidak lagi integral sesuai dengan nafas masyarakat zamannya, tetapi bisa berubah menjadi bersifat individual atau kebersamaan kelompok terbatas (komunitas). Juga bisa lintas disiplin dengan beragam tafsir, sehingga seni masa kini dapat memberi wadah baru yang menawarkan berbagai kemungkinan yang mengangkat multi keinginan untuk bebas dan lepas dari ruang dan waktu, terkadang bisa juga berupa anti kemapanan, sebagai obsesi seni pembaharuan.

Ada semacam penilaian atau anggapan bahwa kritikus, penulis, editor senirupa kebanyakan tidak berkarya senirupa atau karyanya tidak sebaik tulisannya. Hal itulah yang ingin dibuktikan oleh kelompok Rupa Kata kali ini dan simaklah karya-karya mereka.

Deddy Paw, lulusan FSR-IKJ, School of Deign Interstudy Jakarta dan Pusat Grafika Indonesia Jakarta ini juga bekerja sebagai redaktur teks senirupa, artistik, foto dan illustrator dibeberapa harian umum dan majalah, menampilkan karya senirupa berjudul “Ambillah...!”, penampilannya cenderung sebagai seni grafis, bak poster yang menggambarkan dua tangan memegang buah apel, yang satu apel putih dan satu lagi berwarna biru keunguan yang terlihat seolah meleleh atau mencair, apel sebagai iming-iming tawaran yang menggiurkan tersebut atau pilihan alternatif ini sangat miris, rupanya ada tantangan atau rintangan atau hambatan yang tak mudah diterobos karena ada lintasan kawat berduri yang bisa melukai menghalangi. Suatu gambaran tentang kondisi yang aktual pada masa kini, dimana kasih sayang, bantuan sosial kemanusiaan dikelola dengan kerja pengabdian dan hati yang kurang tulus, bahkan tawaran pemberian atau bantuan sosial tersebut tidaklah sampai pada sasaran yang tepat dan atau mencair habis sia-sia dalam perjuangan menembus pembatas birokrasi yang menyusahkan dan melelahkan tersebut. Nani Sakri, yang pernah mengenyam pendidikan di IKJ dan menjadi foto model serta editor fashion stylist majalah Kartini dan lainnya menampilkan karya yang berjudul “Ghost in The Future”. Dengan latar belakang dunia fashion dan desain, Nani terlihat dalam karyanya seakan menghidupkan spirit dunia modelling di atas kanvas, dengan tampilan menonjol kerja terknis poster grafis dibagian atas dan dikombinasi dengan sapuan kuas pada bagian bawah dengan warna ringan, seolah ada 2 sosok manusia bersatu terangkat dalam dua kondisi menatap masa depan. Putut Wahyu Widodo, alumni IKIP Semarang dan bekerja sebagai editor artistik Suara Merdeka ini, dalam karya-karyanya  lebih cenderung memperlihatkan intensitas pada perenungan-perenungan yang cukup serius dari ceritera, mitologi atau kosmologi. Lihat karya yang berjudul “Myth of Banality”, yang menunjukkan bahwa sebagai manusia biasa juga memiliki imajinasi atau perenungan tentang ceritera kebinalan, kenakalan , ketidak patutan terhadap norma, kejalangan. Image sosok wanita dengan simbol sex seperti buah dada yang berderet melingkupi kepala di bagian bawah menun jukkan seolah isi kepala terdapat isi ceritera atau mitos tentang sexualitas dari Putut. Ipong Purnama Sidhi, alumni STSRI”ASRI” Yogyakarta ini, pernah studi di Konsthogskolan, Stockholm, Swedia, bekerja sebagai korator, redaksi dan desainer serta ilustrator beberapa penerbitan ini, menampilkan karya antara lain berjudul “Love and Beyond”, memperlihatkan garis-garis grafis yang cukup liar yang ekspresif, menunjukkan kekuatan cinta yang tak terkendali. Hardiman, staf pengajar Universitas Ganesha Bali-Singaraja, Penyunting beberapa jurnal, menulis (kontributor) di beberapa harian, penulis puisi dan pernah menyutradarai beberapa pertunjukan ini, menampilkan karya lukis diantaranya yang berjudul “Blues Kere Lauk 1”. Ia mencoba menggambarkan panganan ikan sebagai lauk pauk dan nyanyian para kaum pinggiran, terlihat pada karyanya tersebut seolah gambaran ikan yang dibelah dua. Kemudian Made Bakti Wiyasa, alumni ISI Yogyakarta yang rajin membuat ulasan dan kritik seni di beberapa harian ini, menampilkan karya-karya yang naratif tentang prilaku manusia yang kompleks. Pada karyanya yang berjudul “Kembang & Sepatu Lars”, mengangkat hal sepele seperti sepatu menjadikan sesuatu yang perlu dicermati, apalagi terlihat sosok wanita  sebagai kembang seolah duduk dan bermain di atasnya. Sepatu merupakan alas untuk melangkah, kemana tujuannya itu terserah pemakainya, apapun itu pasti ada jejaknya. Dan terakhir Wayan Kun Adnyana, staf pengajar FSRD-ISI Denpasar, penulis artikel dan kritik seni yang lumayan produktif ini, menampilkan karya-karya yang bertema diseputar dan problem-problem sosio-kontemporer sanpai dengan problem aktual kemanusiaan. Lihat karyanya yang berjudul “Penguak Tabir”, menampilkan sosok mbah Marijan yang kukuh dan berani, yang kondang bagaikan artis ini adalah juru kunci merapi, dengan membawa keyakinannya tentang prilaku mistik gunung Merapi akhir-akhir ini -- yang kontroversial dan bertentangan dengan akal sehat, sementara orang turun menghindari dan menjauh dari gunung Merapi ,  justru Marijan malah naik ke gunung. Kun menggambarkannya dalam lukisan bahwa di kepala Marijan terdapat gambaran tangga dan goa atau lubang menuju Merapi dan kupingnya ada tangga untuk orang-orang bisa mendengar informasinya tentang aktivitas kegiatan bahwa gunung sedang “bersolek” dan tak perlu dicemaskan.


Pameran Seni Rupa Murni FSRD-ISI Denpasar di Museum Neka
11. Bali Local Genius Menuju Global Action
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Sejumlah 57 seniman akademis dari FSRD-ISI Denpasar memajang karyanya di Museum Neka, Ubud-Gianyar. Pergelaran seni rupa murni ini berlangsung sebulan dari 9 Juli s/d 9 Agustus 2006 dengan mengusung tema “ Jejak Tradisi dalam Ekspresi Modern IV”, merpakan pameran regular tahunan Program Studi Seni Rupa Murni, yang sebelumnya pertama kali digelar di Taman Budaya Socitet Yogyakarta (2003), lalu ke II di Museum H, Widayat Magelang (2004)  dan yang ke-III di Puri Gallery Malang.

Perjalanan panjang seni rupa tradisi Bali yang diketahui bermula dari seni dekoratif dengan pakem dan ciri khas tertentu mengalami berbagai perubahan atau perkembangan sejak masuknya kebudayaan asing tahun 1930-an dari akibat adanya pariwisata. Kehadiran seniman Barat seperti Walter Spiies 1926, Rudolf Bonnet 1929, Arie Smit 1957 di Bali cukup berpengaruh dan menyebabkan terjadi interaksi kreativitas antara estetika Timur Bali Klasik dengan estetika Barat Modern. Seniman Bali dengan faham tradisi-klasiknya pada akhirnya dapat menerima faham baru yaitu tentang keterbukaan, kepribadian dan kebebasan berekspresi yang intensitasnya cukup berimbang untuk kemudian melahirkan seni tradisi dan klasik Bali modern tanpa kehilangan akar budaya aslinya, baik yang bersifat keindahan kolektif maupun ekspresi yang bersifat individual ala Barat.

Dua arus besar yang melanda dunia senirupa Bali yaitu seni tradisional-konvensional sebagai kekuatan utama yang mengusung seni tradisi sebelumnya disatu sisi dan  sisi lainnya adalah sebagai bentuk modernitas-kontemporer yang tampak lebih agresif-reaktif, yang sangat cepat merespon setiap perubahan yang terjadi, kini telah memiliki kekuatan yang sama besar dan dapat hidup secara berdampingan dan saling menghargai bahkan menjadi bentuk “kolaborasi” yang cukup menarik menempatkannya sebagai seni rupa Bali-kontemporer, yang menekankan pada aktivitas-kreativitas, ketrampilan dan konsepsi seni sebagai kekuatan baru, yang menunjang perjuangan bersifat pribadi, kolektif, lokal, regional dan global. People power menjadi keharusan untuk dapat bersaing di era kompetisi global. Keunggulan lokal Bali yang kaya dengan kekayaan seni dan budaya, menjadikan suatu kebanggaan tersendiri dan menjadi dasar atau modal utama menuju persaingan global. Tentu semua ini harus dibarengi dengan action yang juga bersifat global pula, di dalam era komunikasi yang serba cepat dan canggih, tentu dengan dibarengi manajemen yang tepat sesuai kebutuhan lokal dan global seperti yang diwacanakan berbagai pihak terkait seperti restrukturisasi, reposisi dan revitalisasi terutama pada institusi perguruan tinggi seni.

Menyadari akan keunggulan dan maraknya perkembangan seni rupa Bali, yang mampu menyerap pengaruh luar dengan sikap terbuka dan adanya sikap yang inovatif serta kerja   kreatif, juga sikap kompetitif yang tinggi, diharapkan perguruan tinggi dapat menempatkan seni tradisi lokal Bali (local genius)  menjadi unggulan untuk menuju global action, yang bisa menarik perhatian Dunia.  Seiring dengan tujuan tersebut para pendidik akademisi seni mencoba melakukan langkah-langkah evaluasi, dengan melihat kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan kedepan  sehingga pameran yang bertema ”Jejak Tradisi dalam Ekspresi Modern IV” yang digelar ini memperoleh masukan positif dan dukungan dari berbagai pihak, seperti kalangan permuseuman, kolektor, budayawan, politikus, seniman, perajin dan instansi terkait baik swasta maupun pemerintah.

Lukisan
Menyimak karya yang digelar ada suatu kecenderungan untuk mengangkat citra tradisi dengan ungkapan baru, mulai dari yang sangat kental tradisi ke-Balian-nya seperti I Dewa Made Pastika dengan judul “Penari Legong”, disitu cukup kentara Ia mengambil tema,  teknik dan citra tradisi yang dipergunakan. Lalu AAG Ngurah TY berjudul “Ongkara” menunjukkan simbol-simbol agama kepercayaan Hindu dan aksara Bali. Pengambilan obyek yang mencerminkan akan Bali ditunjukkan oleh IDPG Budiartha berjudul “Ekspresi Dewi”, dengan pewarnaan modern yang kontras-tajam  seperti hitam, merah, putih dan coklat. Pun demikian dengan I Wayan Suartha dengan judul “Gelap dan Terang”, jejak tradisi terlihat dengan warna kontras. Dari I Made Subrata, yang berjudul “Kampung Bali” sedikit impress dan dekoratif dengan warna cenderung muda atau keputihan seperti warna-warna pastel. Juga I Made Yasana dengan karya “Penari 1” yang terasa lebih realis seperti halnya I Wayan Kondra dengan karya berjudul “Gadis Tenganan”. Ada Tjok Istri Mas Astiti, yang menampilkan karya berjudul ”Perubahan” dengan tampilan bergaya dekoratif pada obyek para wanita khas Bali yang beriringan melaksanakan upacara. Juga I Made Rinu dengan tampilannya yang datar pada “Wanita dan Sajen” yang bergaya agak dekoratif.  Corak dekoratif lainnya ditampilkan pula oleh GN Putra dan Gede Yosef TJ serta Suwito dengan karya masing masing berjudul “Catur Sanak”, “Rotasi Kehidupan” (Batik) dan ”Play Boy”. Guru Besar AA Rai Kalam, sesepuh pelukis akademis di Bali ini, yaitu Dekan Fakultas Teknik dan Seni Rupa Universitas Udayana pertama, dan Ketua Panitia Pembentukan ISI Denpasar yang satu ini menampilkan karya yang berjudul “Uluwatu” , tampaknya Ia semakin selektif dan sensitif terhadap bentuk dan warna, karyanya terlihat lebih massif ketimbang pada karya-karyanya sebelumnya yang  menonjolkan garis yang bergerak lincah dari plototan dan sedikit terlihat puitis. Corak lukisan yang lebih modern lagi ditampilkan oleh I Ketut Murdana, I G P Mertana Mendala, Kun Adnyana, I Nyoman Sukaya, I M G Putra Jaya, Wirakusuma, Sri Supriyatini, AA Gede Yugus, Wayan Gulendra, I Wayan Stem, I Wayan Sujana, AANG Surya Buana dan NM Purnami Utami serta Bendi Yudha. Lain lagi dari I Made Ruta yang tampil dengan imaji garis hitam dan putih, lalu I Wayan Karja dengan karya yang berjudul “Yoni”. Sedangkan I Nyoman Marsa menampilkan pemandangan dengan karya berjudul “Temle Ceremony”  terasa  impresif dengan warna-warna cukup intens dan ritmis kecoklatan. Demikian pula dengan IGK Kasimiarta, menampilkan pemandangan alam Bedugul. Arimbawa menampilkan “Demokrasi” yang menonjolkan bentuk mulut yang mencibir dengan gambaran iringan semut-semut, sebagai bentuk kritik pada kondisi sosial pada masyarakat kita pada saat ini.

Patung dan Fotografi
Patung yang mengadobsi kerja kekriyaan ditampilkan oleh Cok Raka dengan judul ”Reinkarnasi”, dengan menghadirkan bentuk figur-figur dan berbagai pragmen obyek yang beragam dengan tekanan kerja halus dan meliuk. Juga karya I Made Supartha yang menggambarkan stilasi bentuk dari “Garuda Yasa”. Patung lainnya yang cenderung kerja kriya adalah “Gombel” dari Rupik, “Will be Tired” dari Suardiana, Budarma dengan “Gunjang Ganjing” , “Cinta dalam Damai” dari Sundita, Resben dengan “Kebebasan” dan Made Lod dengan “Flu Burung” serta Sandia dengan karya berjudul ”Milik Berdua” .
Demikian pula dengan “Luruh” dari Sukanta Wahyu dengan bentuk manusia anehnya berwarna kelam. Lalu Made Jana menampilkan “Terhempas Bayu” yaitu  bongkahan kayu yang diukir mengikuti serat kayu, seolah bentuk tertiup angin. Patung berjudul “Lingga Bumi Bhuwana” karya Gerya  terlihat seolah ada bentuk tonggak simbolik yang menancap pada bongkahan bentuk melintang dengan warna kayu berbeda. Gambaran bentuk Fosil ikan dengan menonjolkan durinya di buat oleh IB Sutama,  I Made Jodog menampilkan karya yang melayang-layang, digantung dan dapat bergerak terkena angin atau bila tersenggol berjudul “Lebar” seolah gambaran dari bagian dalam pada pencernaan makhluk hidup dengan warna ringan seperti usus atau lemak atau ulat putih kekuningan.  I Wayan Sutha tampil dengan patung batunya berjudul “Ceruk” terlihat agak massif.  IB Alit tampil dengan patung berjudul “Hamil Muda”, suatu bentuk wanita khas Bali yang seluruh bagian bentuk patung diisi dengan tekstur ornamen titik / bulatan kecil.  Bentuk fosil gajah dari kayu ditampilkan Tjok Udiana NP.  Berbagai bentuk topeng dengan warna-warna modern ditampilkan I Wayan Sukarya.  Patung fiber glass berukuran cukup besar warna putih ringan bergaya modern dengan judul “Three Management” ditampilkan oleh I Nyoman Suardina. Demikian pula “ Virus” dari Murnarta,   AM Utomo menampilkan “Citra Primitif” dari bahan keramik, dengan warna glasir coklat. Karya fotografi ditampilkan IBK Trinawindu berjudul “Gayot”, lalu AAGB Udayana dengan Judul ”Bleganjur” dan Komang Arba Wirawan berjudul “Light of Jogya” serta Anis Rahardjo dengan “Regenerasi”. Pada karya fotografi ini menampilkan kepekaan dan ketajaman obyek seperti relief Borobudur dan ada pula yang menampilkan gaya bias yang cukup unik dari Udayana serta Arba atau Anis dengan olah gerak dan komposisi dalam proses cetak.

Pameran  tersebut di atas  diperpanjang hingga 12 Agustus 2006 dan penutupan pameran yang jatuh pada hari Sabtu tersebut, dimulai jam 8.30 pagi s/d 13.00 siang bekerjasama dengan Ubud Art Festival bertempat di Museum Neka diadakan seminar sehari dengan tema: “Perkembangan Senirupa Bali dalam Tantangan dan Peluang ke Depan” . Seminar ini menampilkan 6 pembicara diantaranya adalah Drs. I Ketut Murdana, M.Sn, Arif B. Prasetyo, Drs. Gde Suyadnyana, Ir. Tjokorda Raka Ardhana Sukawati, M.Si, Tjokoda Kertyasa dan Drs. Nyoman Gunarsa.

Catatan Hasil Diskusi Kriya Seni, FSRD-ISI Denpasar di Paros Gallery
REPOSISI  PENDIDIKAN  TINGGI  KRIYA  SENI
Oleh Agus Mulyadi Utomo

Kamis tgl, 8/6/06 di Paros Gallery diadakan sarasehan atau diskusi masalah kriya seni, serangkaian acara penutupan pameran kriya seni, FSRD-ISI Denpasar. Pameran yang dilaksanakan di dua tempat secara bersamaan yaitu di Museum Sidik Jari (pembukaan) dan Paros Gallery (penutupan). Hadir 3 pembicara pada diskusi tersebut terdiri dari akademisi, praktisi / pengusaha dan curator yaitu Drs. I Made Yasana, M.Erg.; 
Ir. Ngurah Pratama Citra, MM.;  Dan Wayan Kun Adnyana, S.Sn. Diskusi ini dimoderatori oleh Drs. I Made Supartha, M.Hum.  Sejumlah 60-an orang hadir dalam diskusi terdiri dari para alumni, dosen, mahasiswa dan pengusaha serta perajin dalam suasana hangat dan bersahaja duduk dilantai.

Perlu Reposisi
I Made Yasana, akademisi berpengalaman pendidikan desain keramik di Jepang dan Advanced Profesional Design Produk di Jerman serta mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Seni Keramik dan Porselin Bali ini, pembicara pertama yang membawa makalah berjudul: “Dimensi dan Keragaman Produk Kriya”, mengulas dari persoalan bahasa sebagai start awal bahwa “kriya” dari kata “kerja” yang sepadan dengan kata Craft dan benda guna dengan ciri dan tujuan yang jelas, ada ketergantungan proses sentuhan tangan, dapat diproduksi (jumlah tertentu) dan dapat menjawab persoalan dari luar (masyarakat, bisa pribadi / golongan tertentu, kesenian / art, dll) dimana struktur dan bentuknya bisa bersifat fungsional atau dekoratif.  Yasana juga merunut perkembangan kriya mulai zaman purba, masa penjajahan hingga masa merdeka sekarang ini, yang dalam perkembangannya tidak hanya bersifat simbolik, peralatan, persembahan, souvenir, tetapi juga sebagai komoditas (eksport) dan untuk sesuatu yang bersifat pribadi atau keilmuan. Lebih lanjut Ia mengatakan bahwa Bali kaya akan potensi kriya yang bersumber dari senirupa dan budaya Bali, tarian, aksara dan suara dan sebagainya menjadi rancangan interior maupun eksterior menyesuaikan dengan iklim perubahan abad ke abad atau dari decade ke decade dengan cara berfikir baru bukan sekedar rasional tapi juga ekspresi. Umumnya dasar untuk membeli / memiliki produk kriya adalah karena perlu, murah, desain menarik, merek terkenal, buatan luar negeri/dalam negeri/khas daerah, juga bisa karena iklan dan promosi, pun juga karena status symbol (kebanggaan). Intinya ada keindahan, ada ciri khas,  murah, terjangkau dan berkepribadian. Pembicara ke dua, Wayan Kun Adnyana, kritikus yang curator ini membawakan judul tulisan “Kriya Seni: Mengayuh Antara Dua Tegangan”. Ia menyoal tentang “kriya seni” dikaitkan dengan terminology  “seni rupa murni” untuk mensetarakan kedudukan (modernisme) ataupun konteks kriya seni yang diimpor dari Barat dengan istilah “kriya kontemporer”  yang tidak mengakui pembagian seni dan menganggap semua cabang seni sederajat. Ia menyayangkan adanya pembagian program studi kriya seni dan program seni murni pada ranah yang berbeda. Sementara peluang pluralisme ekspresi  dan medium dalam seni kontemporer dimungkinkan bersatu. Penggunaan istilah kriya seni atau kriya kontemporer hanyalah untuk membedakan dengan hasil karya tradisi, seolah olah ada perbedaan hasil karya (Seni rendah vs seni tinggi) dan usaha pembebasan anti katagori medium, disamping belum mampu mereposisi kriya dari katagori marginal. Ia menangkap dua arus kecenderungan karya kriya seni seperti yang dipamerkan, pertama hanya untuk membedakannya dengan kerajinan rakyat dan kedua mengikuti arus kriya kontemporer namun tetap bersikukuh dengan citra tradisional, sehingga ada tegangan teoritik yang meliputi term kriya seni, sehingga terkesan ambiguitas sebagai seni rupa dua dunia: kriya yang berarti kerajinan tangan dan sekaligus senirupa sadar konsep ? Pembicara ke tiga adalah Ngurah Pratama Citra, praktisi dan Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI Bali) yang berkator di Disperindag Prov. Bali ini membawakan makalah berjudul” Pengembanagn dalam Keragaman”. Ia mengungkap persepsi awal bahwa kriya tak lebih merupakan seni terapan, seni dekoratif bahkan kerajinan, karena mengabdi pada kaidah ketrampilan penanganan teknis yang nilainya tidak sepadan dengan senirupa murni dimana dikotomi fine art diwariskan oleh seni modern Barat. Perlu adanya reposisi untuk menjawab tantangan zaman, termasuk mengisi permintaan pasar, walaupun tetap ada idealisme atau identitas (cirri khas). Lebih jauh Citra mengharapkan perguruan tinggi penghasil sarjana kriya memiliki output expected yang jelas, setelah pameran lalu mau apa? Harapannya juga kurikulumnya harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dengan penelitian, memanfaatkan tenaga praktisi dan program magang, yang menghasilkan lulusan siap kerja atau kelebihannya apa?. Strateginya adalah dengan revitalisasi persepsi dari stakeholders, menambah bekal ilmu pariwisata (cenderamata dan pasar eksport), kombinasi bahan, fasilitasi kegiatan pameran dalam & luar negeri, kolaborasi dengan lembaga di luar ISI, asosiasi, instasi lain, kriyawan / perajin dalam dan luar Bali. Kriyawan juga sebagai wirausahawan yang tertarik dengan imbalan berupa laba, kebebasan dan kepuasan hidup. Disini para mahasiswa diberi bekal ilmu kewiraswataan atau berwirausaha, sehingga memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengevaluasi peluang, mengumpulkan sumber daya,. Bertindak memperoleh keuntungan dari peluang itu. Esensinya untuk memperoleh nilai tambah di pasar melalui proses  pengkombinasian sumber daya, cara-cara baru atau berbeda (pengembangan teknologi, penemuan pengetahuan baru, perbaikan produk dan jasa), efisiensi dan lainnya  untuk dapat bersaing.  Dengan rangkuman nilai kewirausahaan: 1) berani mengambil resiko; 2) kemampuan menangkap peluang,; 3) berorientasi ke masa depan; 4) tidak cepat puas; 5) semangat untuk bersaing; 6) kemampuan melakukan inovasi; 7) kemampuan dalam memimpin.  Citra sebagai ketua asosiasi ASEPHI Bali mengaku menampung keluhan anggotanya (32 eksportir) di lapangan dan masyarakat, bahwa sementara ini sarjana kriya jarang ada yang berperanan dan sangat sedikit sekali yang mengisi peluang kerja (tidak dimanfaatkan alumni kriya-ISI Denpasar), kebanyakan desainer kriya terdiri orang asing (sekitar 38 orang) dengan bayaran cukup menggiurkan dengan hasil karya yang tak jauh berbeda dengan kriyawan ISI, dimana sekarang ini eksport Bali 80 % (nilai pulus).  Sampai kini ada masalah-masalah yang harus terjawab mau apa dan bagaimana, sehingga kesenjangan yang ada diperkecil dan dapat membangun publikan serta minat untuk menekuni kriya yang dapat memberi kesejahteraan. Dunia usaha sangat membutuhkan sarjana kriya, ada segmen pasar tertentu dan karier di Luar Negeri dan ISI mau mendengar keluhan-keluhan yang ada. Menurutnya perut lapar tidak bisa ditunda-tunda, menurutnya pula hampir kriyawan yang eksis tidak sarjana kriya. Sebagai Ketua ASEPHI, Citra berjanji untuk bisa bekerjasama (membantu) atau mengadakan M.O.U. dengan Kriya ISI Denpasar, dalam hal magang atau kerja praktek, pameran (buku / katalogus) dalam bentuk legal-formal atau maju secara institusi bukan individual. Ia menganggap fihak ISI yang belum bisa masuk ke wilayah yang berkembang di masyarakat (seperti menara gading) dimana handicraft merupakan andalan Bali, belum sepenuhnya dipahami para akademisi dan dicari solusi pengembangannya, sehingga perlu menggandeng praktisi dilapangan untuk menjembatani kesenjangan yang terjadi.

Berbagai tanggapan muncul dari diskusi ini, seperti Radiawan yang menekankan pada stuktur dan profesionalisme kekriyaan serta trend produk. Lalu Cok Udiyana menekankan pada nalar dan gagasan cemerlang “Naga saksaka” sebagai strategi terbaik. Anom mengemukakan pengalamannya sebagai rangkaian proses belajar dari mahasiswa hingga menjadi pengusaha dan eksportir. Ia mengharapkan pihak swasta, pemerintah dan perguruan tinggi ada dialog yang membangun memperkuat sector kriya ini. Kemudian Jana dengan arah pembelajaran sebagai fine art dan produk / desain. Yang tak kalah seru pernyataan Wirakesuma, bahwa semua kegiatan jangan disamakan, tidak bisa digeneralisasikan, disamakan seperti seni / art semua terkadang menggunakan perasaan / ekspresi, baik itu fotografi, kriya atau patung maupun lukis. Pembuatan kriya di ISI sudah baik, cuma payungnya adalah Seni Rupa dan Desain. Jangan hanya mengekor pemikiran Barat, lalu mengekor dan terus mengekor lagi, disini diperlukan idealisme membangun kepercayaan diri yang kuat.  Seni Bali dahulu sebagai prilaku yang hidup dan bukan teoritik dari Barat. Muka menganjurkan dalam kurikulum ada pengetahuan pariwisata, desain, art dan wuirausaha dalam prosentase yang tepat.
Pada akhirnya menjadi PR Kriya ISI Denpasar untuk Reposisi, diperlukan menghimpun masukan stakeholders, tracer study dan membuat kurikulum yang tepat dan mengikuti perkembangan zaman. Berikanlah semua ilmu yang bersifat ilmiah kepada mahasiswa dalam menunjang kesarjanaan kekriyaan itu sendiri, sehingga memiliki bekal dan juga berhak untuk menentukan arah (wawasan) pilihan hidup nantinya, apakah sebagai seniman, kriyawan, atau desainer produk, bahkan sebagai wirausahawan atau praktisi atau pengusaha. Seperti pernyataan Sekjen Depdiknas, Prof. Dr. Ir. Dodi Nandika, MS, ketika mengunjungi pameran kriya seni “Dimensi Kriya dalam Keragaman” di Museum Sidik Jari, tanggal 29 Mei 2006 lalu didampingi Rektor ISI Denpasar yang mengatakan: “Jika kita berpikiran jernih, sebenarnya “seni”lah yang merupakan keunggulan bangsa kita, bukan teknologi. Ya, Seni sebagai unggulan bangsa memang sudah sangat layak mendapatkan prioritas utama dalam dunia pendidikan karena sudah menjadi identitas bangsa”. Secara pribadi Ia kagum akan karya-karya yang ditampilkan oleh Jurusan Kriya, FSRD-ISI Denpasar. Dan karya kriya perlu sering ditampilkan dalam pameran seperti ini, agar dikenal luas masyarakat dan mampu menjadi unggulan pilihan calon mahasiswa / kriyawan.

Pameran Tugas Akhir & Sarjana Kriya Keramik, FSRD- ISI Denpasar
Keramik Motif Padi Untuk Rumah Tinggal dan Tampilan Motif Tikar
Oleh Agus Mulyadi Utomo

 I Gusti Ayu Made Dewi Rani Maharani dan Anton Darmawan, adalah dua orang sarjana baru yang lulus ujian penciptaan karya dan ujian konprehensif,  disampaikan dalam yudisium dengan nilai memuaskan pada hari sabtu tanggal 15 Juli 2006 lalu dari Program Studi Kriya Keramik, FSRD-ISI Denpasar. Rani mengambil judul tugas akhir “ Keramik Pakai Motif Padi untuk Rumah Tinggal” dan Anton dengan judul “Eksperimen Pembuatan Bentuk Keramik Fungsi dengan Motif Anyaman”. Beberapa dari karya mereka  sebelumnya telah  dipamerkan di Museum Sidik Jari  Denpasar dari tanggal 29 Juni s/d 1 Juli 2006.

Tanah liat atau lempung yang dibakar suhu tinggi menjadi keras untuk waktu lama dan sifat demikian telah dimanfaatkan orang sejak dahulu kala untuk membuat berbagai bentuk produk pakai keperluan sehari-hari, seperti bejana, vas, periuk, kendi dan sebagainya. Umumnya produk yang terbuat dari tanah liat disebut dengan “keramik”. Dari sudut pandangan kualitas fisik struktur body yang paling rendah disebut dengan gerabah yang memiliki sifat rapuh dan berpori-pori serta menyerap air , dibakar dibawah suhu 1000ºC. Pada kualitas menengah disebut dengan stoneware atau “keramik batu” memiliki sifat seperti batu, tidak menyerap air dan dibakar pada temperatur di atas 1000ºC s/d 1250ºC. Dan sebutan “porselin” untuk keramik bakaran tinggi di atas 1300ºC s/d 1400ºC, bersifat sedikit menggelas, suara lebih nyaring, peka terhadap oksida pewarna. Keramik karya Rani menggunakan tanah liat putih dilapisi glasir dasar putih  hiasan kuning dan hijau. lalu Anton dengan tanah liat merah, dengan glasir Fe dan kuning, semuanya dibakar hingga temperatur 1200ºC. 

Pada umumnya di dalam rumah tinggal terdapat begitu banyak ragam hias dan dekorasi pada benda pakai, sehingga bagi seseorang yang merasa memiliki kepribadian atau keluarga tertentu yang ingin tampil beda, hal tersebut belumlah mencerminkan selera dan kepribadian sang pemilik rumah tinggal itu sendiri, tentu sesuatu yang bersifat khusus atau memiliki ciri khas. Berangkat dari permasalahan tersebut, timbullah ide yang menginginkan untuk memberi suatu ciri khas dalam kebutuhan pemakaian perabotan keramik di dalam rumah tinggal. Dewi Rani mencoba menawarkan sebuah alternatif keseragaman dalam penggunaan keramik bermotif padi pada benda-benda yang biasa dipakai dalam rumah tinggal, yang tentunya dapat mengangkat citra dan martabat atau gengsi seseorang seperti halnya dengan kepemilikan akan benda-benda seni. Ia mengambil motif padi karena sebagai bangsa Indonesia tentu merasa akrab dengan padi dan merupakan pemandangan umum persawahan terutama di pedesaan, apalagi  mengkonsumsi berasnya sebagai bahan makanan pokok sehari-hari. Rani mencoba memberikan suasana khusus, berwarna dasar putih dengan bentuk padi berwarna kuning dan batang kehijauan pada keramik pakai dengan bermotif padi tersebut yang diterapkan pada peralatan makan-minum, bentuk vas, mangkuk sayur, meja, tea set, kopi set, tempat makanan kecil, asbak, kap lampu dan lainnya sebanyak 10 macam fungsi guna untuk tugas proyek akhir yang memang terbatas waktu pelaksanaannya. Ia berharap, sebagai kriyawan ide tersebut dapat dikembangkan oleh masyarakat konsumen sebagai bentuk penawaran (proyek) untuk menggarap penerapan motif-motif lainnya sesuai dengan keinginan pemesan atau alternatif yang disuguhkan para desainer kriya, baik sebagai pemilik atau diperuntukkan rumah tinggal yang bersifat khusus.


Seperti halnya Rani, rekannya Anton juga menawarkan suatu alternatif penggunaan keramik untuk bisa dipakai keperluan sehari hari, sebagai benda pelengkap interior ruangan tamu, seperti vas dan pot bunga, kap lampu, tempat majalah , tempat makanan kecil / kue, pigura foto, tempat permen, tempat air dan lainnya. Anton lebih tertarik pada anyaman terutama pada motif bentuk tikar. Ia cenderung kepada ungkapan seni murni, terutama tampilannya dikemas secara unik atau lebih berupa ekspresi daripada pada penekanan fungsi benda pakai atau bernilai artistik (khas seniman). Lihat karyanya yang menampilkan tikar dengan pinggiran tidak beraturan, bahkan ada seperti tikar usang yang dijait dijadikan tempat sesuatu. Tentu kepemilikan barang tersebut bersifat khusus hanya untuk orang-orang tertentu yang mengerti seni.  Disamping itu, kerajinan anyaman tikar yang sesungguhnya terbuat dari tumbuh-tumbuhan tidak bisa bertahan lama, dengan idenya ini diharapkan motif tikar dapat dibuat awet dan tahan lama. Pada karyanya, Anton menyatukan atau menyambung bentuk dengan jaitan seolah tali yang diberi warna kuning, dimaksudkan juga sebagai aksen. 
 





 


































MENGIKUTI  PAMERAN  DAN TULISAN :
Nama                                          :  Drs. Agus Mulyadi Utomo, M.Erg
Tempat /Tgl. Lahir                     :  06 Agustus 1958
Pendidikan                                :  SR-ITB,  Magister Ergonomi Fisiologi Kerja,
                                                       Pascasarjana Unud
Alamat                                       :  Jl. Gunung Guntur / Padang Griya Gang VIII / No. 10
                                                       Padansambian Denpasar – Bali
Telp / HP                                   :   0361-7422671 /  081338504464
Fax / Email                                :   agusmulyadiutomo@yahoo.co.id 
Pengalaman pameran              : 

1.       Pameran lukisan  bersama SSRI Yogyakarta di Seni Sono Yogyakarta, 1975p
2.       Pameran lukisan  bersama SSRI Yogyakarta di Seni Sono Yogyakarta, memperoleh penghargaan “Pratitha Adhi Karya” untuk lukisan cat air, 1976
3.       Pameran seni rupa bersama SSRI Yogyakarta di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, 1976
4.       Pameran Seni Lukis bersama Sanggar Pringgading di Karta Pustaka, Yogyakarta, 1976
5.       Pameran lukisan dan patung bersama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Probolinggo (IMAPAPRO) di Probolinggo, 1976
6.       Pameran Seni Rupa bersama SSRI Yogyakarta di Jakarta, 1977
7.       Pameran Seni Rupa bersama SSRI Yogyakarta di Purna Budaya Yogyakarta, 1977
8.       Pameran lukisan dan patung IMAPAPRO dan KNPI di Probolinggo, 1977
9.       Pameran Seni Rupa bersama SSRI-SMSR Yogyakarta di Purna Budaya Yogyakarta, memperoleh penghargaan “Pratitha Adhi Karya” untuk karya lukisan , Intaglio Dry Point dan Cetak Saring, 1978
10.    Pameran lukisan, patung, grafis dan batik Kelompok Sembilan Muda Yogyakarta di Pasuruan, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Probolinggo, 1978
11.    Pameran Grafis bersama SSRI-SMSR di KONRI Yogyakarta
12.    Pameran seni rupa bersama Keluarga Besar Taman Siswa dan Pecinta Taman Siswa dalam “Apresiasi 79” di Yogyakarta, 1979
13.    Pameran grafis karya mahasiswa di Kampus STSRI “ ASRI” Yogyakarta, 1979
14.    Pameran sketsa di Kampus STSRI “ASRI” Yogyakarta, 1979
15.    Pameran seni rupa bersama STSRI “ASRI” Yogyakarta di Purna Budaya, Yogyakarta, 1980
16.    Pameran seni rupa bersasma di Gallery Soemardja ITB, Bandung, 1981
17.    Pameran keramik kreatif di Hotel Kartika Chandra Jakarta, 1982
18.    Pameran keramik di Balai Seni Rupa Jakarta, 1982
19.    Pameran keramik dalam rangka 35 Tahun Perguruan Tinggi Seni Rupa Indonesia di ITB Bandung, 1983
20.    Pameran keramik kreatif  sponsor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 1983
21.    Pameran keramik dalam rangka Lustrum ITB, di Gedung Serba Guna ITB (RSG) Bandung, 1983
22.    Pameran seni rupa di PPKIP (Cedust-Aliance Francaice) Bandung, 1983
23.    Pameran keramik ITB bertiga di PPKIP Bandung, 1984
24.    Pameran bersama “Sketsa Bandung Kota Kembang” keluarga ASRI Bandung dan Pemda Kodya Bandung,1984
25.    Pameran keramik Kelompok 5 Bandung di TIM Jakarta atas sponsor DKJ, 1984
26.    Pameran keramik di GSG-ITB Bandung atas sponsor Dharma wanita Unit ITB, 1984
27.    Pameran keramik kelompok 8 di PPKIP Bandung, 1985
28.    Pameran keramik berdua dengan Nuzurlis Koto di Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) Surabaya, 1985
29.    Pameran Besar Seni Rupa Surabaya di Museum Surabaya Post, 1985
30.    Pameran Industri dan Desain Tegel Keramik di Surabaya, 1985
31.    Pameran desain tegel keramik di Balai Pemuda Surabaya, 1986
32.    Pameran keramik dan lukisan di Malaysia dan Singapura, 1986
33.    Pameran lukisan Pesta Kesenian Bali ke VIII, Taman Budaya, Denpasar. 1987
34.    Pameran keramik di PKB ke IX Taman Budaya, Denpasar, 1988
35.    Pameran bersama Parade Seni Rupa dan Desain, PSSRD Univ. Udayana di Museum Bali, Denpasar, 1989
36.    Pameran seni lukis bersama ISSRI (Ikatan Sarjana Seni Rupa Indonesia) di Taman Budaya, Denpasar, 1989
37.    Pameran lukisan bersama ISSRI di Museum Neka Ubud, Gianyar, 1989
38.    Pameran Seni Lukis Non Tradisional Bali bersama 36 pelukis di Art Centre, Denpasar, 1989
39.  Pameran Pekan Seni dan Desain ( PSD-90 ) PSSRD unud di Museum Bali, Denpasar, 1990
40.    Pameran desain contoh Pusat Desain Bali pada PKB ke XXI di Taman Budaya, Denpasar, 1992
41.    Pameran seni rupa PSSRD Unud dan STSI Denpasar di Kampus STSI, 1993
42.    Pameran Dies Natalies XXXII Universitas Udayana di auditorium Unud, Denpasar, 1994
43.    Pameran Industri Kecil dan Kerajinan Jurusan Kriya PSSRD Unud di PKB ke XVI Taman Budaya Denpasar, 1994
44.    Pameran Industri Kecil dan Kerajinan Jurusan Kriya PSSRD Unud di PKB ke XVII Taman Budaya Denpasar, 1995
45.    Pameran Keramik Kreatif sponsor DKJ di Jakarta, 1995
46.    Pameran keramik dan lukisan bertiga di Surabaya, 1996
47.    Pameran keramik di Hotel Bali Beach Sanur, 1997
48.    Pameran Industri Kecil dan Kerajinan di PKB ke XXI Taman Budaya Denpasar, 1998
49.    Pameran Seni Rupa bersama PSSRD Unud di Art Centre Denpasar, 1999
50.    Pameran Seni Rupa bersama PSSRD Unud di Auditorium Unud Denpasar (Kunjungan Perguruan Tinggi & & Mahasiswa Jepang), 1999
51.    Pameran keramik “Gebyar Kreasi Keramik Seni Indonesia” di BPPT  -P3SKP Bali, Suwung Denpasar, 1999
52.    Pameran bersama Jurusan Kriya PSSRD Unud dan Alumni Kriya Keramik di Kampus PSSRD unud Denpasar, 2000
53.    Pameran Seni Rupa dalam rangka “ Hyogo Joint Summer Seasion At Sea 2000” (kunjungan mahsiswa Jepang) di Gedung Widya Sabha Unud Jimbaran, 2000
54.    Pameran  lukisan bersama HUT. PSSRD Unud ke-17 di Gallery SAHADEWA, Batuan Gianyar, 2000
55.    Pameran lukisan PKB ke XXII di Taman Budaya, Denpasar, 2000
56.    Pameran Seni Rupa dan Kerajinan dalam rangka Travel Mark & PKB ke XXII di Gedung Widya Sabha Gubernuran Bali, Puputan Denpasar, 2000
57.    Pameran Seni Lukis dalam Festival Nusa Dua Bali 2000 ke IV,  Nusa Dua, 2000
58.    Pameran Seni Seni Rupa bersama dalam rangka Festival Internasional Ramayana 2000 di Kampus Unud Bukit, Jimbaran, 2000
59.    Pameran Seni Lukis 2000 dalam rangka “Pelestarian dan Pengembangan Budaya 2000” di Nusa Dua, 2000
60.    Pameran lukisan di PKB ke XXIII di Taman Budaya, Denpasar, 2001
61.    Pameran lukisan dan keramik kerjasama PSSRD Unud , IJC LOM Bali dan GWK di GWK, Ungasan, 2001
62.    Pameran Besar Seni Grafis Eksplorasi Medium, sponsor Bentara Budaya Jakarta, di Jakarta, 13-22 Juni 2002
63.    Pameran lukisan di PKB ke XXIV di Taman Budaya, Denpasar, 2002
64.    Pameran lukisan “Kamaloka II”, kolaborasi Dosen dengan Mahasiswa PSSRD yang tergabung dalam kelompok “Mahasenrayana” di Satrya Gallery ( SAG ), Jl. Veteran Denpasar, 20 Juni – 18 Juli 2003
65.    Pameran Senirupa: Dosen dan Mahasiswa ISI Denpasar  bertajuk: Jejak Tradisi dalam Ekspresi Modern II di Museum H. Widayat, Letnan Tukiyat 32 Magelang-Jawa Tengah, 5 s/d 12 September 2004
66.    Pameran Patung dan Lukisan Kelompok  B.I.A.S.A (Bali, Indonesia Sculptors Association) di Bali Zoo Park, Singapadu-Gianyar dari 9 April s/d 9 Mei 2005
67.    Pameran Patung dan Lukisan kelompok B.I.A.S.A dan Bali Artis Painters Association (B.A.P.A.) di Melia Bali Villas & Spa Resort, Nusa-Dua, HUT ke-20 Melia dan HUT ke-60 RI, tgl 8 s/d 17 Agustus 2005
68.    Pameran Senirupa UMMI ISI Denpasar, di Taman Budaya Denpasar, 12-22 Oktober 2005
69.    Pameran Patung kelompok B.I.A.S.A (Bali, Indonesia Sculptors Association) dan Lukisan kelompok B.A.P.A (Bali Artis Painters Association ) di Pusat Informasi Mangrove Jl.By  Pass Ngurah Rai Suwung Kauh, Denpasar 16-28 Pebruari 2006, “Hidden Beauty” dan “Peduli Lingkungan Melalui Seni” sponsor JICA.
70.    Pameran Kriya Seni (keramik), Jurusan Kriya, FSRD-ISI Denpasar di Museum Sidik Jari , Jl. Hayam Wuruk 175 Denpasar, tgl.  28 Mei s/d 8 Juni 2006
71.    Pameran Kriya Seni (keramik), Jurusan Kriya, FSRD-ISI Denpasar di Paros Gallery, Br. Palak-Sukawati, Gianyar, tgl. 28 Mei s/d 8 Juni 2006
72.    Pameran Seni Rupa Dosen ISI Denpasar: “Jejak Tradisi dalam Ekspresi Modern IV” di Museum Neka Ubud Gianyar, Tgl 9 Juli s/d 9 Agustus 2006
73.    Pameran Kriya ISI Denpasar di Bajra Sandhi Renon-Denpasar 2007
74.    Pameran Senirupa di ISI Denpasar 2007
75.    Pameran Senirupa di ISI Denpasar dalam Rangka Festival Kesenian Indonesia V  Tgl. 21-25 Nopember 2007
76.    Pameran Senirupa dan Desain ISI Denpasar dalam ‘Truly Bagus’di Cullity Gallery, Faculty of Landscape and Visual Arts, The University of  Western Australia, M433, 35 Stirling Highway, Nedland WA 6009, 16 Agustus s.d 3 September 2010 (woodcut print on paper )
77.    Pameran patung dan kriya ‘Bina Rupa Tunggal Raga’ for Beautiful Bali, I-MHERE-ISI Denpasar & Bali Indonesia Sculptor Association di Museum Puri Lukisan, Ubud-Gianyar , 7 s.d 25 Oktober 2010
78.    Pameran Kriya Seni/Produk ‘Inovasi Produk Kriya Menuju Industri Kreatif’, Museum Bali 12 s.d 16 Maret 2012

 
NO.
BALI POST
TGL.TERBIT
EDISI & HALAMAN
JUDUL TULISAN
1.
Minggu, 14-10-2001
No.57 Th.54, Hal.7
Menyiasati Perkembangan Keramik Bali
2.
Minggu, 21-10-2001
No.63 Th.54, Hal.10
Tema-tema Lokal Bali, Nuansa Modern: Pameran Lukisan & Keramik PSSRD Unud dan IJC LOM Bali
3.
Minggu, 12-11-2001
No.90 Th.54, Hal.7
Sentuhan Ekspresi Pada Desain Keramik: Melirik Karya Suthawigraha & Patra Budiada
4.
Minggu, 25-11-2001
No.97 Th.54, Hal.10
Gung Wayan Tjidera: Purna Tugas tetapi Tetap Berkarya
5.
Minggu, 9 -12-2001
No.110 Th.54,Hal. 10
Sri Supriyatini: Menuai Tekstur dan Warna
6.
Minggu, 23-12-2001
No.122 Th.54, Hal.10
Lukisan Cok Istri Mas Astiti: Wanita Sebagai Ibu
7.
Minggu, 13-01-2002
No.140 Th.54, Hal. 10
Pameran”Back to Nature 2002” : Arok Berpulang Ke Hati
8.
Minggu, 20-01-2002
No.147 Th.54,Hal.10
Seni Keramik Berhias Aksara Bali dan Rerajahan
9.
Minggu, 27-01-2002
No.154 Th.54,Hal.10  & 14
Pameran Kelompok “Galang Kangin”: Ekspresi dan Pengembaraan Yang Variatif
10.
Minggu, 10-02-2002
No.168 Th.54, Hal.7
Membaca Hubungan Indonesia China Lewat Karya Keramik
11.
Minggu, 10-02-2002
No.168 Th.54, Hal.10 & 14
“In Memoriam” RH Abdul Aziz: Keluarkan Obyek Dari Bingkai
12.
Minggu, 24-02-2002
No.181 Th.54, Hal. 9
Ciptakan Komunikasi Seni Kalangan Akademis: Dari Pameran Patung – Lukis HMJSM PSSRD Unud
13.
Minggu, 3-03-2002
No.188 Th.54, Hal.10 & 14
Seni Rupa di Bali Krisis Kritik
14.
Minggu, 24-03-2002
No.209 Th.54, Hal. 10
Lukisan Charles Cham :” Sosok dan Wajah Bertebar Tanpa Beban”
15.
Minggu, 31-03-2002
No.215 Th.54, Hal.7
Estetika Topeng: Dari Penutup Wajah Ke Wujud Patung
16.
Minggu, 5-05-2002
No.245 Th.54,Hal. 7
& 14
Mengenal Seni Keramik (1) : Diperlukan Konsep Penciptaan Yang Terarah
17.
Minggu, 12-05-2002
No.251 Th.54, Hal. 7
Mengenal Seni Keramik (2) : Seni Murni dan Seni Pakai
18.
Minggu, 12-05-2002
No.251 Th.54, Hal. 9
Kreativitas Yang Perlu “Ditiru dan Digugu” : Dari Pameran Senirupa Guru SLTP Se-Kota Denpasar
19.
Minggu, 19-05-2002
No.258 Th. 54, Hal. 7
Mengenal Seni Keramik (3 Habis) : Seni Keramik Kerajinan
20.
Minggu, 26-05-2002
No.264 Th. 54, Hal. 10
Ungkap Makna Lewat Cicak-cicak : Pameran  Keramik A.A. Kt. Anom
21
Minggu, 2-06-2002
No.271 Th  54, Hal. 9
“Dua Warna “:Ekspresi  Para  Kriyawan
22
Minggu,30-06-2002
No.297 Th  54, Hal. 10
Gagasan 3 – D .Berkonsep Organis  Patung Karya      I Wayan  Sutha  S.
23
Minggu,21-07-2002
No.310 Th 54, Hal. 10
Lukisan “Abstrak” Dari Kampus : Dari Doni Duarsa dan I. Md. Kembang Adnyana
24
Minggu,4-08-2002
No.330 Th 54, Hal. 10  & 15
Catatan  Tercecer  Pameran  Seni  Rupa  PKB. 2002 Perbedaan  Menjadi  Keseimbangan
25
Minggu, 11-08-2002
No.337  Th 54, Hal. 7
Mengkombinasikan Keramik dengan logam: Desainer Mesti Peka Pada “Trend”
26
Minggu,   8-09-2002
No.23   Th.55, Hal. 10
Keramik Bali Mutakhir, Tantangan bagi Seniman
27
Minggu, 22-09-2002
No.37   Th.55, Hal  10
Jo Odessa Ungkap Hubungan Manusia
28
Minggu,   6-10-2002
No.50   Th 55, Hal.   9
Mary Nortthmore:
Olah Perca Kain Jadi Karya Seni
29
Minggu, 20-10-2002
N0.64   Th.55  Hal. 10
I Wayan Jedag, Pematung Tradisi, Mengabdi Agama
30
Minggu, 10-11-2002
No.85   Th.55  Hal. 10
Ni Made Trisnawati : Mengolah Cipratan dan Lelehan
31
Minggu, 17-11-2002
No.92   Th.55  Hal.   9
Keramik- Patung Bersosok Perempuan: Karya Ida Ayu Made Gayatri
32
Minggu,   8-12-2002
No.109.Th 55 Hal.  10
Paradigma Seni Rupa Kontemporer (1)
Seni Modern, Unsur Perasaan Ditinggalkan ?
33
Minggu, 15-12-2002
No.116.Th 55  Hal.  10
Pradigma Seni Rupa Kontemporer (2-Habis)
Semangat Post-mo Cocok Untuk Indonesia ?
34
Minggu, 12-01-2003
No.142.Th.55, Hal.  9
H. Widayat : Fragmentasi Sang Seniman Sejati
35
Minggu, 26-01-2003
No.156.Th.55, Hal.  9
Lukisan Kontemporer dari PSSRD Unud
36
Minggu, 02-02-2003
No. 162.Th.55. Hal. 9
Wanita Dalam Bingkai Realis sampai Naif: “Pameran Lukisan Multi Color”
37
Minggu,09-02-2003
No.169.Th.55,Hal.9
Kaitkan Wanitan dengan Anggur dan “Cacalan”: Karya Keramik Vera Artini dan Ayu Prabandari
38
Minggu,16 -02-2003
No.175.Th.55,Hal. 9
Kelestarian Alam, Perempuan Materialistis: Karya Keramik Indah Poppy dan Margaretha Dhesy
39
Minggu, 23-02-2003
No.182.Th.55.Hal.10
Citra Topeng, Pita dan Anyaman “Berungkap Seni dengan Lempung”
40
Minggu,09-03-2003
No.195.Th.55.Hal..9
I Gusti Ngurah Gede Pemecutan: “Melukis dengan Jari Karena Kesal”
41
Minggu, 13-04-2003
No.228. Th.55. Hal.10
Lestarikan Alam dan Budaya Lewat Lukisan
42
Minggu,27-04-2003
No.241. Th.55.Hal.9
Pameran Patung I Nyoman Sentana Yasa : Menikmati Patung Abstrak-Figuratif
43
Minggu,11-05-2003
No.255. Th 55. Hal 9
Mendobrak Belenggu Konvensional: Pameran Lukisan Putra dan Selamet
44
Minggu,08-06-2003
No.281 Th 55. Hal 7
Riak-Riak Kreatif Dunia Desain: “ Anyaman” pada Keramik dan Mebel Aklektik
45
Minggu,29-06-2003
No.300 Th 55. Hal  7
Keramik Bali Kuno
46
Minggu,06-07-2003
No.307 Th.55. Hal 9
Pameran “Kamaloka II”: Kebebasan Ekspresi Bernuansa Modern
47
Minggu, 03-08-2003
No. 335 Th.55. Hal 9
Bentuk-bentuk Patung Berbahan Lempung : Pameran Keramik IDP Mustika dan IGNG Dharmawijaya
48
Minggu, 24-08-2003
No.8  Th. Ke 56. Hal. 9
“Rerajahan” Batik sampai Lukisan Surealis :
Karya Widiarta dan Mandi Yoga
49
Minggu, 21- 09-2003
No.35  Th.56. Hal  9
Pameran Patung I Made Swanda Adi :
Visualisasikan Perkembangan Figur
50
Minggu, 19-10-2003
No.61 Th. 56 Hal. 9
Kreativitas “Penyimpangan” ala  Seniman Keramik Karya Anak Agung Ketut Anom
51
Minggu,09-11-2003
No.83 Th. 56 Hal. 9
Indah Poppy Susanti: Ungkap Makna Teratai pada Karya Keramik
52
Minggu, 25-01-2004
No.152  Th.56 Hal. 9
Pameran Tugas Akhir di ISI Denpasar: Memahami Beragam Ekspresi Perupa Muda
53
Minggu, 08-02-2004
No.166  Th.56 Hal. 9
Upaya Kreatif Mengolah Bentuk Telur: Keramik IGAM Dewi Rani Maharani
54
Minggu, 29-02-2004
No.187 Th.56  Hal. 9
Keramik Bermotif Wayang Punakawan ala Adiputra
55
Minggu, 18-04-2004
No.234 Th.56 Hal. 7
Mengusut Asal Mula dan Pemahaman Desain
56
Minggu, 25-07-2004
No.330 Th.56 Hal. 9
Seni Rupa Tradisi di PKB Ke-26: Kerinduan dalam Kejenuhan ?
57
Minggu, 05-09-2004
No.21` Th. 57 Hal. 1&15
Menjalin Pematung Antargenerasi di Bali: Pameran Patung “Bali Indonesia Sculptors Association”
58
Mi nggu,17-10-2004
No.63 Th.57 Hal.9
Ekspresi Bali di Atas Kanvas dan Keramik Davina Stephens
59
Minggu, 31-10-2004
No.77 Th.57 Hal.9
Ekspresi Michael Pugh di Atas Media Lempung
60
Minggu, 12-12-2004
No.117 Th.67 Hal.7
Keramik, Wayang Kamasan dan “Jepun”: Keramik Karya Tjok Yuda Ardian dan Made Asri Puspadewi
61
Minggu, 2-01-2005
No.136 Th.57 Hal. 9
Citra Patung Bali dalam Lingkup Tradisi: Pameran Patung Kelompok BIASA
62
Minggu, 16-01-2005
No.150 Th. 57 Hal. 9
Ungkap Seni dengan Beda Pandang: Pameran “Interaksi” Galang Kangin & Art of Humanity
63
Minggu, 13-02-2005
No.175 Th.57 Hal. 7
Bentuk dan Dekorasi Benda-benda Keramik
64
Minggu, 20-02-2005
No. 182 Th.57 Hal. 7
Patung Binatang, Karya dan Pelestarian : Patung-patung I Ketut Santika
65
Minggu, 13-03-2005
No. 198 Th.57 Hal. 9
Mengamati Ekspresi Wanita Perupa: Pameran “Lifestyle”
66
Minggu, 20-03-2005
No. 205 Th.57 Hal.  8
Kelompok Coret , Proses Mencari Jati Diri
67
Minggu, 24-04-2005
No. 238 Th.57 Hal.. 9
Sindir Situasi Sosial Lewat Patung Satwa: Pameran Patung Kelompok BIASA
68
Minggu, 15-05-2005
No. 258 Th.57 Hal. 9
Lukisan-lukisan “Semangat” Anom Giri
69
Minggu, 29-05-2005
No. 271 Th.57 Hal. 9
Ungkap Suasana Alam Tropis: Pameran Tunggal Lukisan Doho Sendjojo
70
Minggu, 26-06-2005
No.299 Th.57  Hal.9
Berangkat dari Hal Sederhana: Pameran Kelompok “sandal Jepit”
71
Minggu, 10-07-2005
No..313 Th.57 Hal 9
Supena dan Ciptaan Kreatif Seolah Alam
72
Minggu, 31-07-2005
No. 334 Th. 57 Hal. 9
Eksploitasi “Polyp” Terumbu Karang dan Tubuh Perempuan
73
Minggu, 21-08-2005
No.5 .  Th. 58 Hal.9
Geliat Perupa Bali dalam Asosiasi: Pameran Patung Kelompok BIASA dan Lukisan BAPA
74
Minggu, 25-09-2005
No. 38 Th. 58 Hal. 9
Membaca Dongeng Seni Rupa Tradisi Bali: Catatan tentang Kelompok Pawitra
75
Minggu, 02-10-2005
No.45  Th.58 Hal.9
Bentuk dari Keresahan dan Harapan:
Patung-patung karya I Ketut Putrayasa
76
Minggu, 23-10-2005
No. 63 Th.58 Hal.11
Indahnya Perbedaan dalam Seni :
Pameran Senirupa UMMI ISI Denpasar
77
Minggu, 6-10-2005
No. 75 Th.58 Hal. 11
Memberi Kesan Arkeologis pada Keramik: Karya I Wayan Patra Budiade
78
Minggu,20-11-2005
No.89 Th. 58 Hal. 14
Fiksi Pan Sulur di Lukisan Kaca
79
Minggu, 4 -12-2005
No. 103 Th. 58 Hal. 11
Ekspresi Kriyawan pada Media Kayu : Pameran 20 Kriyawan Akademis
80
Minggu, 8- 01- 2006
No.137 Th.58 Hal.11
Abstraksi Kelembutan Sapuan Kuas dan Warna: Pameran Lukisan I Made Mahendra Mangku
81
Minggu, 5-02 -2006
N0.162 Th.58 Hal.11
Kriya sebagai Suatu Seni Alternatif
82
Minggu, 5-02 -2006
N0.162 Th.58 Hal.11
Kriya Seni atau Desain ?
83
Minggu, 5-03, 2006
No.189, Th. 58 Hal.11
Menjembatani Seni dengan Sadar Lingkungan: Mangrove Art Exhibition
84
Minggu, 12-03-2006
No.196, Th.58 Hal. 11
Mencitrakan Pemandangan Alam di Kanvas: Pameran Lukisan Galung Wiratmaja
85
Minggu, 21-05-2006
No. 257, Th.58 Hal 11
Keragaman , Semangat Berkesenian Perupa Legian
86
Minggu, 4-06-2006
No.270, Th.58 Hal. 1 &15
Wanita dan Bunga, Citra Khusus Keindahan
89
Minggu, 18-06-2006
No.283, Th.58 Hal 11
Pendidikan Tinggi Kriya Seni Perlu Reposisi
90
Minggu, 16-07-2006
No.331, Th.58 Hal.11
Mengubah Cahaya, Terinspirasi Ikan
91
Minggu, 23-07-2006
No.318, Th.58 Hal.11
Keramik dalam Motif Padi dan Tikar
92
Minggu, 30-07-2006
No.325 ,Th.58 Hal.11
Upaya Selaraskan Kata, Rasa dan Visual: Pameran Kelompok Rupa Kata
93
Minggu,13-08-2006
No.339.Th.58 Hal.11
Menuju “Global Action” Seni Rupa Bali: Pameran FSRD-ISI Denpasar di Museum Neka
94
Minggu, 10-09-2006
No.24. Th 59. Hal. 15
Nusa Dua di Ragam Lukis
95
Minggu, 19-11-2006
No.91. Th.59. Hal. 15
Lukisan Cat Air dan Feminimitas: Pameran Lukisan BIWA Art Group

Tidak ada komentar:

Posting Komentar