Laman

Pengikut

Minggu, 04 Maret 2012

Pengertian Desain Dengan Kekriyaan

Pengertian Desain Dengan Kekriyaan
oleh Agus Mulyadi Utomo 
       Kata ‘desain’ merupakan kata serapan dari istilah asing ‘disegno ’, yaitu gambar atau rancangan yang dihasilkan oleh seniman patung dan seniman lukis sebelum mereka memulai bekerja. Gambar tersebut dapat berupa sketsa (coretan bebas) atau gambar yang telah terukur atau berskala. Dalam sejarah, arti kata ‘desain’ berkembang luas maknanya menjadi tidak sekedar merancang atau membuat karya seni patung dan lukis serta kekriyaan saja, melainkan menjadi segala kegiatan perancangan produk pakai untuk keperluan rumah tangga sehari- hari seperti alat-alat dapur, mebelair atau furniture, alat-alat elektronik, tekstil, pakaian, hingga berbagai keperluan manusia lainnya misalnya otomotif, pesawat terbang, produk pertanian dan sebagainya.
       Desain adalah suatu proses yang umum untuk menciptakan berbagai karya senirupa dan secara luas mencakup berbagai hasil kebudayaan material, baik dari masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang. Sehingga tidak ada perbedaan esensial antara desain lukisan dengan desain objek-objek produk atau barang keperluan sehari-hari lainnya. Oleh karena karya seni dalam berbaggai jenisnya menunjukkan pola-pola umum tertentu dari apa yang disebut sebagai prinsip-prinsip desain. Suatu prinsip yang pada akhirnya didasarkan pada cara pandang seseorang yang paling efektif dan menyenangkan serta pada proses pengolahan bahan-mentah, bahan siap pakai dan dapat dibentuk menjadi produk dengan sangat memuaskan produsen dan konsumen dari sudut pandang efektif yang dapat menyenangkan semua pihak.        
       Barulah setelah Perang Dunia ke II tatkala bisnis modern yang mencanangkan modal, pemasaran dan industrialisasi melanda Eropa Barat dan Amerika, persaingan tak terelakkan lagi dan konsekuensinya setiap industriawan atau pengusaha harus menyusun strategi untuk menjawab dan menjabarkan kebutuhan konsumen yang beraneka ragam, dari daya beli, latar belakang sosial-budaya, cita-rasa dan tuntutan lainnya. Dan mengangkat perancang yang disebut sebagai “desainer” yang berprofesi menelaah bentuk fisik produk dan memikirkan pula kelayakan psikologis, fisiologis-ergonomis, sosial, ekonomis,  estetis, fungsi dan teknis. Victor Papanek, seorang pemikir desain terkenal merumuskan, bahwa tujuan desain sebagai “pengubah lingkungan manusia dan peralatannya, bahkan lebih jauh lagi mengubah manusia itu sendiri”.
          Prinsip-prinsip desain merupakan hasil dari eksperimentasi jangka panjang baik secara empiris maupun intuitif. Desain merupakan suatu proses dan hasil dari proses tersebut yang berupa: bentuk, gaya, dan makna yang telah di rencanakan. Secara semantik kebermaknaan itu dikemas dalam bentuk ekspresi seperti: "indah", lucu", Sejuk", mungil", "tersernbunyi", "realistik", "abstrak", "baik”, “nyaman dipergunakan” dan lainnya, disamping itu juga terdapat makna-makna sosial lainnya.
         Banyak faktor yang mempengaruhi proses desain yakni: gagasan dari desainer; faktor teknologi yang menentukan
pembuatan produk; tuntutan sosio-ekonomis proses manufaktur dan konsumsi produk akhir; konteks kultural yang memberikan tumbuhnya kebutuhan terhadap suatu objek; dan kondisi manufakturnya. Demikian juga hasil atau produk, sebagai realisasi proses, merupakan objektivikasi dari kesadaran manusia. Sehingga desain, melalui produk yang diciptakan, dengan demikian dipengaruhi oleh kebutuhan dan pada gilirannya akan mempengaruhi ideologi dan perubahan sosial.     
       Selama perjalanan sejarah kriya dan desain, dimana teknologi telah diterima dan dipahami  oleh umat manusia serta menjadikan desain sebagai suatu kegiatan “khusus” atau “tersendiri” dari bagian kegiatan industri. Desain merupakan juga bagian dari aktifitas suatu penelitian dan pengembangan bentuk yang direncanakan, yang kemudian menjadi bagian tersendiri dari proses kerja untuk dapat merealisasikannya.
       Pengertian desain menurut terminologinya dari bahasa Latin yaitu “designare” atau bahasa Inggris “design” (to mark out). John Echols (1975) dalam kamusnya mengatakan sebagai potongan, pola, model, mode, konstruksi, tujuan dan rencana. Sedangkan Kamus Webster (1974), pengertiannya adalah gagasan awal, rancangan, perencanaan, pola, susunan, rencana, proyek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan dan sterusnya. Demikian Webster berfikir jauh lebih luas akan beban makna. Khusus dalam seni rupa, desain dapat diartikan sebagai pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual sedemikian rupa menjadi kesatuan organik dan harmonis antara bagian-bagian serta secara keseluruhan. Dalam proses desain dikenal beberapa “prinsip desain” atau principles of design sebagai berikut: 1) Kesatuan (unity); 2) Keseimbangan (balance); 3) Perbandingan (proportion); 4) Tekanan (center of interest / point of emphasis); 5) Irama (rhytme);  Dan  6) Keselarasan (harmony).
          Imam Buchori, berpedapat dan mengatakan bahwa desain mengalami perkembangan makna, tidak lagi suatu kegiatan menggambar, melainkan kegiatan ilmiah. Memang masih terdapat polemik antara desain sebagai kegiatan enjinering ataukah sebagai kegiatan intuitif, namun menekankan pada desain sesungguhnya adalah berurusan dengan nilai-nilai. Dan bersifat relatif terhadap acuan nilai yang dianut oleh pengambil keputusan. Oleh karena itu, desain akan terus berkembang dengan dua pendekatan, yakni: engineering dan humanities. Melatari lahirnya sains desain, membuktikan bahwa desain, baik konsep, teori maupun konfigurasi artefaknya, selalu bersifat kontekstual .
           Sedang Widagdo berpendapat bahwa desain selalu mengacu pada estetika, dan tidak semata berkenaan dengan persepsi visual-fisikal saja, namun mencakup konsep yang abstrak, yakni: yang benar, teratur, dan berguna. Ia memaparkan bahwa estetika memiliki watak transendental, keberaturan, dan pragmatik. Estetika memperoleh tantangan ketika modernisme memilah antara “kegunaan” dan “estetik”, sebagaimana antara desain dan seni. Selanjutnya post-modern juga melepas estetika, dari persepsi tentang keindahan menuju pada pluralisme makna. Metoda dasar yang digagaskan para pemikir dunia ribuan tahun lalu, khususnya desainer, hendaknya memperjuangkan kebenaran estetik, sebab “desain adalah suatu kearifan yang ditampakkan”.
          Kegiatan desain kemudian dipahami sebagai kegiatan mencari solusi suatu kebutuhan, maka dapat dikatakan bahwa bidang keahlian desain dalam rangka menyamakan persepsi dan mengkaji gagasan keserumpunan desain, dikenal akan hal-hal yang khusus tentang “mechanical engineering design”. Sebagai contoh desain yang berciri ”murni” mesin dan desain yang memerlukan keahlian multi-disiplin yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkaji kontribusi dari masing-masing bidang keahlian. Untuk menyamakan dan membangun  persepsi keserumpunan, diperlukan komunikasi dan sinergi kompetensi yang menyatakan kontribusi berbagai disiplin dalam suatu desain dengan permasalahan yang semakin rumit.
         Desain sebagai kegiatan interdisiplin bisa didekati dari berbagai sudut. Secara umum, Yuswadi Saliya menelusuri literasi sejarah untuk mengamati kecenderungan baru, seperti fenomena gerakan Renaisan dan pencerahan di Eropa (Barat) beserta dampak paradigmatik sosial-budayanya terhadap pemahaman ranah desain, atau seperti kebangkitan kembali akan kesadaran tubuh dan pengalaman pragmatik sehari-hari. Secara khusus, Ia juga menyoroti gagasan simbiosis Kurokawa dari Jepang yang mencerminkan pendekatan ketimuran bersandingan dengan gagasan adaptasi (Piaget / Norberg-Schulz) sebagai landasan desain yang baru. Cara-untuk tahu secara desain, sebagai budaya ketiga (Cross), diketengahkan sebagai pembanding terhadap kecenderungan dikotomik-hegemonik modernis yang dipandang bermasalah. Gagasan Richard Buchanan diajukan sebagai excursus, untuk membaca kategorisasi dalam wacana desain secara interdisipliner. Penjelajahan awal ini diakhiri secara terbuka dengan mengemukakan berbagai kemungkinan dalam bentuk amsal sesudah terbebasnya kembali berbagai variabel dalam desain.
      Desain (wikipedia) menterjemahkannya sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata.
          Pengertian desain sejauh ini membahas apa sebenamya yang dimaksud dengan “desain”. Istilah “disain” atau “desain” dalam ejaan bahasa Indonesia, berasal dari kata “design” dalam bahasa Inggris. Istilah desain, secara umum dapat berarti : potongan, model, moda, bentuk atau pola; konstruksi, rencana, mempunyai maksud, merencanakan; baik, bagus, atau indah bentuknya. Istilah “disain”, dalam ejaan bahasa Indonesia, merupakan suatu istilah yang dituliskan berdasar bunyi pengucapan (pelafalan) dari kata design dalam bahasa Inggris. Suku-kata “de” pada kata design dalam bahasa Inggris, umumnya diucapkan seperti mengucapkan sukukata Vi dalam bahasa Indonesia. Sedangkan suku-kata "sign" pada kata design dalam bahasa Inggris, umumnya diucapkan (dilafalkan) seperti mengucapkan suku-kata "sain" dalam bahasa Indonesia. Karenanya, istilah design dalam bahasa Inggris, kemudian dituliskan menjadi ”disain” dalam ejaan bahasa Indonesia, sesuai dengan bunyi pelafalannya. Istilah desain dalam ejaan bahasa Indonesia, juga merupakan suatu istilah yang dituliskan berdasar bunyi pengucapan (pelafalan) dari kata design dalam bahasa Inggris, tetapi dengan sedikit perbedaan pada bunyi pengucapan (pelafalan) suku-kata "de" pada kata "design" dalam bahasa Inggris, yang dilafalkan dengan penekanan lebih banyak ke arah bunyi "e", dari pada bunyi "i". Karena itulah  kemudian penulisannya dalam ejaan bahasa Indonesia, menjadi "desain". Bagaimanapun juga, kedua istilah ini, yaitu istilah disain atau istilah desain, adalah bermakna sama dan  arti kedua istilah ini tidak dibedakan dengan pengertian yang setara. Kata mendesain, mempunyai pengertian yang secara umum adalah merancang, merencana, merancang-bangun,atau mereka-yasa; yang artinya setara dengan istilah to design atau "designing" dalam bahasa Inggris. Istilah ini mempunyai makna melakukan kegiatan (aktivitas, proses) untuk menghasilkan suatu desain atau rancangan atau rancangbangun. Istilah-istilah ini, seringkali digunakan secara khas dalam bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini, kegiatannya kemudian disebut dengan istilah merencana, merancang dan mereka-yasa. Dalam bahasa Inggris juga dikenal adanya istilah "plan", "to plan" dan "planning"; yang maknanya secara umum  setara dengan istilah "design", "to design", dan "designing" dalam pengertian yang lebih luas dan mencakup lebih banyak aspek. Untuk menghindari kerancuan makna, selanjutnya istilah "plan" dalam ejaan bahasa Inggris, dituliskan "plan" dalam ejaan bahasa Indonesia. Istilah-istilah ini, semuanya mengarah kepada hasil dari suatu proses, atau menunjuk kepada sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses tertentu. Meskipun demikian, pada kenyataan penggunaannya ada  terdapat perbedaan. Istilah desain, lebih banyak digunakan untuk menunjukkan suatu rencana atau hasil suatu proses perencanaan yang bersifat mikro (kecil, khusus, sempit, khas, detail, rinci), seperti: rencana jembatan (bridge design), rencana jalan (road design), rencana rumah (house design), rencana interior (interior design), rencana produk (product design), rencana barang industri (industrial design), rencana kendaraan (automotive design), dan sebagainya. Sedangkan untuk istilah plan, lebih banyak digunakan untuk menunjukkan suatu rencana atau hasil proses perencanaan yang bersifat makro (luas, umum, global, menyeluruh). Contohnya : rencana strategis (strategic plan), rencana utama (master plan), rencana manajemen (management plan), rencana perusahaan (corporate plan), rencana proyek (project plan), rencana kota (city plan), dan sebagainya. Kedua istilah ini, yaitu desain dan plan, juga banyak digunakan untuk menyebut berbagai jenis rencana yang bersifat abstrak, tidak nyata, atau tidak terlihat mata, sepert gagasan (ide), konsep, strategi, atau pemikiran.. Istilah mendesain lebih banyak digunakan untuk menunjukkan kegiatan atau proses pelaksanaan pembuatan suatu rencana yang bersifat mikro (kecil, sempit, khas, detail, rinci), misalnya mendesain jembatan (bridge designing), mendesain jalan (road designing), mendesain rumah (house designing), mendesain interior (interior designing), mendesain produk (product designing), mendesain barang industri (industrial designing), mendesain kendaraan (automotive designing), dan sebagainya. Sedangkan istilah memplan lebih banyak digunakan untuk menunjukkan kegiatan atau proses pelaksanaan pembuatan suatu rencana yang bersifat makro (luas, umum, global, menyeluruh), misalnya : memplan strategi (strategic planning), memplan manajemen (management planning), memplan perusahaan (corporate planning), memplan proyek (project planning), dan sebagainya. Kedua istilah ini, yakni mendesain dan memplan, secara umum juga dapat digantikan dengan istilah merencana atau merencanakan. Untuk istilah rancang-bangun, meskipun maknanya setara dengan desain, tetapi dalam penggunaan pada umumnya lebih banyak dipakai dalam bidang konstruksi, bangunan, pekerjaan teknik sipil. Lalu istilah reka-yasa, meskipun maknanya setara dengan desain, tetapi dalam penggunaannya, lebih banyak dipakai di bidang enjinering (teknik. Istilah rancangan, meskipun juga setara dengan desain, tetapi dalam penggunaannya lebih banyak dipakai di bidang pakaian atau busana dan tekstil. Dengan contoh penggunaan di atas, jelas bahwa di antara beberapa istilah tersebut tidak terdapat perbedaan makna, kecuali dalam penggunaannya saja. Pengertian desain itu sendiri, sampai sekarang masih saja diperdebatkan, disebabkan banyaknya penjelasan para pakar tentang arti istilah desain, yang masing-masing disesuaikan dengan cara pandang yang berbeda. Beberapa pakar yang memberikan defisi istilah desain diantaranya Gregory yang mendefinisikan desain sebagai : "Relating product with situation to give satisfaction", yang lebih mengutamakan hubungan antara benda (barang) dengan suatu keadaan atau kondisi tertentu dengan tujuan memberikan suatu kepuasan bagi pengguna barang (benda, produk) tersebut. Sedangkan menurut Fielden : “Engineering design is the use of scientific principles, technical information and imagination in the definition of mechanical structure, machine or system to perform prespecified function with maximum economy and efficiency". Pernyataan Fielden ini lebih bersifat sempit, spesifik, dan kaku; karena hanya menghubungkan pengertian desain dengan dunia teknik (enjinering) dalam kaitannya dengan bidang ekonomi dan efisiensi. Sedangkan kenyataannya, desain sangat berkait erat dan dapat merambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang bisa sangat berbeda dan relatif luas. Dalam hal ini, enjinering hanya merupakan salah satu bagian dari mata-rantai berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang mendukung proses desain. Meskipun demikian, memang dapat dikatakan bahwa peran enjinering terasa semakin penting dalam suatu proses desain. Hal ini, terutama semakin terasa pada masa sekarang (setelah masa terjadinya revolusi industri di Eropa), yakni setelah memasuki abad keduapuluh, menjelang abad keduapuluhsatu. Perubahan pengertian desain juga dapat ditemukan pada pernyataan Anthony Bertram, dalam bukunya yang berjudul "Design", yaitu sebagai berikut : `By the word `design' has meaning `Purpose, aim, intention' : by the meaning ` The thing aimed at.' In 1938 it has gained the composite meaning of aim plus thing aimed at. It has come to stand for a though the plan and manufacture to the finished object. Yaitu “Dengan kata 'desain'  yang memiliki makna sebagai ‘tujuan, niat’, oleh ‘suatu hal’ yang artinya ‘ditujukan'. Pada tahun 1938 itu telah memperoleh arti komposit bertujuan ditambah hal ditujukan. Ia telah datang untuk berdiri merencanakan  manufaktur menjadi objek selesai. Plato, seorang filusuf terkenal dari Yunani kuno, dalam bukunya yang berjudul “Republic", menyatakan : "... Are not exellent, beauty and correctness of every manufactured articles, or living creature, or action, to be tried only by reference to the purpose intended in their construction, or in their natural constitution “, yaitu ’...Apakah tidak exellent, keindahan dan kebenaran setiap artikel diproduksi atau mahluk hidup atau tindakan untuk diadili hanya dengan mengacu pada tujuan pembangunan mereka  atau dalam konstitusi alam mereka’. Plato banyak dikaitkan dengan prinsip pembuatan produk atau barang (benda) yang banyak dihubungkan dengan masalah keindahan dan keserasian, karena pada zaman itu, faktor keindahan, seni (art), dan keserasian, merupakan bagian penting dari proses desain (proses pembuatan benda-benda pakai).
          Pada jaman zaman Yunani kuno, pembuatan benda-benda pakai, juga tidak dapat dilepaskan dari seni (terutama seni lukis, seni patting, dan seni ukir). Sehingga di antara keduanya, yaitu antara desain dan seni, terjadi hubungan yang sangat erat. Dari waktu ke waktu, telah terjadi pergeseran penafsiran dari pengertian istilah desain yang pada dasarnya disebabkan oleh perkembangan zaman dan kemajuan dalam kebudayaan, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang dialami manusia. Pada awal perkembangannya, pengertian desain juga sering dicampur-adukkan dengan berbagai bentuk seni (art). Ini dapat dilihat pada masa-masa sebelum jaman revolusi industri di Eropa. Pada masa itu, seorang seniman (artist), juga sering berperan sebagai seorang perencana (desainer). Sedangkan pada masa- masa selanjutnya, terutama setelah revolusi industri di Eropa, mulai terjadi pemisahan antara desain (design) dengan seni (art). Semakin lama, pemisahan ini menjadi semakin jelas dan tegas; bahkan merupakan dua hal yang sama sekali berbeda. Perlu juga disimak, adanya pepatah yang menyatakan bahwa "A life without design, in this sense is an animal life, the life of instinct and accident". Pepatah ini, dapat dianggap sebagai sebuah pepatah yang sangat bermakna bagi para perencana (desainer, enjiner); karena dengan sebuah kalimat yang singkat, sebenarnya dapat memahami, azas utama (hakekat) dari sebuah proses desain dalam arti yang sesungguhnya. Segala proses berpikir, menganalisis, menghitung, menentukan, mencoba, memperkirakan, menentukan, memutuskan, menggambarkan, dan menyatakannya secara obyektif dan sistematis; suatu gagas (idea), cara, rencana, atau sistem yang akan digunakan untuk "membuat suatu benda" (benda nyata atau benda tidak nyata)  yang bertujuan akhir membuat suatu benda atau produk, baik yang, berupa benda nyata yang bersifat "satmata" (dapat dilihat, diraba), maupun benda tak nyata yang bersifat "kasatmata" (tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba), dengan tidak membedakan apakah sederhana atau rumit yang semuanya dapat disebut sebagai suatu proses desain. Dengan demikian, produk (benda, barang) yang direncanakan tersebut pada akhimya dapat diwujudkan dan dapat digunakan oleh manusia secara aman, nyaman, mempunyai sifat, bentuk yang indah, dan efisien serta berdampak yang positif (setidak- tidaknya terhadap penggunanya), berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki. Karena merupakan benda yang akan digunakan (dipakai) oleh manusia, maka faktor hubungan (relasi) antara manusia dan benda yang direncanakan itu (benda yang akan dibuat), dalam proses desain merupakan faktor yang penting. Proses perencanaan untuk membuat suatu benda yang mempunyai fungsi tertentu, dapat dilakukan dengan berbagai cara (metoda, sistem) dan pendekatan yang berbeda-beda, serta dilaksanakan oleh pelaku proses desain yang berbeda pula. Dalam hal ini, para pelaku proses disain dan pembuat produk (barang), pada masa lalu, lebih banyak diperankan oleh para seniman (artist) sehingga inilah yang membuat beberapa definisi desain pada masa itu selalu dikaitkan dengan berbagai bentuk seni (art) tertentu. Pada masa modern, setelah memasuki abad keduapuluh, sesuai dengan perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, para pelaku proses desain dan pembuat produk tidak lagi diperankan oleh satu kalangan yang sama, melainkan diperankan oleh berbagai kalangan yang berbeda. Masing-masing kalangan itu, mempunyai sifat, keakhlian, dan spesialisasi tertentu; dengan latar ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga berbeda pula. Sehingga dengan demikian untuk membuat sebuah produk (terutama produk yang rumit), diperlukan perencana-perencana yang berasal dari berbagai kalangan atau disiplin ilmu yang berbeda. Sedangkan proses pelaksanaannya, lebih bersifat antar disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Para pelaku proses desain, para pembuat rencana, serta para pembuat produk masa kini, jikalau diperluas dapat meliputi berbagai kalangan yang sangat beragam, dengan lingkungan yang beragam pula. Para ilmuwan, enjiner, desainer, seniman, teknisi, perajin, dan bahkan tukang. Ilmuwan, yang pada awal perkembangan kebudayaan manusia juga berperan dalam proses desain, akhirnya mempunyai peran yang sangat khas. Yaitu, berperan melakukan berbagai penelitian dan penyelidikan dalam rangka pengembangan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lebih memusatkan perhatiannya pada berbagai hal yang sifatnya sebagai pendukung kegiatan para desainer dan enjiner. Dengan demikian, ilmuwan juga berperan sebagai mitra-kerja yang utama. Penemuan, pengembangan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi baru oleh para ilmuwan ini, sangat berpengaruh kepada proses desain dan proses produksi. Seniman, tidak  masukkan ke dalam kategori pelaku proses desain, disebabkan jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh seniman, lebih mengarah kepada suatu proses yang lebih bersifat individual (pribadi), lebih menekankan karyanya pada segi seni (art), dan seringkali bersifat subyektif serta tidak mengarah kepada pembuatan suatu produk (benda) yang dibuat berulang kali dan dalam jumlah yang besar (repeated and mass production). Karya seorang seniman, kebanyakan merupakan suatu hasil kerja yang bersifat individual dan tidak berorientasi kepada pembuatan secara berulang. Tetapi seorang seniman dapat juga berperan sebagai desainer, jika ia bekerja menggunakan kaidah-kaidah desain. Perajin, tukang dan teknisi, juga tidak dimasukkan ke dalam kategori pelaku proses desain. Hal ini, disebabkan kegiatan perajin dan tukang, lebih banyak berperan pada segi teknis, pelaksanaan, dan pembuatan atau produksi semata; meskipun perajin dan tukang dapat juga berorientasi untuk membuat benda (produk) dengan pola berulang dan dalam jumlah besar. Selain itu, perajin, tukang, atau teknisi lazimnya juga tidak begitu berperan dalam proses desain secara intensif. Dalam dunia perencanaan, akhirnya dikenal adanya pemisahan secara tegas dalam tugas, peran, tanggung jawab, dan wewenang desainer, enjiner, dan ilmuwan. Secara umum, perbedaan tugas, peran, dan wewenang masing-masing adalah sebagai berikut Disainer Berperan menganalisis, meneliti, menghitung, memperkirakan, menentukan, merencanakan, dan membuat benda (produk) berdasar azas pemenuhan berbagai fungsi hubungan (relasi) yang selaras antara benda (produk) yang direncanakannya dengan manusia sebagai penggunanya. Dalam masa sekarang, hal ini seringkali disebut dengan istilah "hubungan antara manusia dengan mesin" (man to machine relation). Selain itu, juga harus mempertimbangkan dan memperkirakan berbagai hal yang berkait dengan dampak keberadaan benda (produk) tersebut secara fisik dan psikologis terhadap pengguna dan lingkung sekitarnya, dan juga harus mempertimbangkan dan memperkirakan berbagai hal yang berkait dengan dampak keberadaan benda (produk) tersebut secara teknis terhadap pengguna dan lingkung sekitarnya serta memberikan berbagai masukan (input) merupa pertimbangan, solusi,  sesuai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat, pada akhirnya juga menghendaki adanya pemilahan dalam bidang pendidikan. Dengan demikian, melalui suatu jenjang pendidikan tertentu, seorang ilmuwan, enjiner, atau disainer secara bertahap, dapat menjadi seorang ahli, pakar, atau spesialis (specialist) dalam suatu bidang tertentu.
          Desain produk atau dalam bahasa keilmuan disebut juga Desain Produk Industri adalah sebuah bidang keilmuan atau profesi yang menentukan bentuk atau form dari sebuah produk manufaktur, mengolah bentuk tersebut agar sesuai dengan pemakaianya dan sesuai dengan kemampuan proses produksinya pada industri yang memproduksinya. Sebagai contoh: desainer produk yang mendesain kursi, Ia tidak hanya  membuat agar kursi tersebut tampak bagus atau indah, tetapi juga dibuat agar nyaman diduduki dan mudah untuk diproduksi.
          Tujuan dasar dari segala upaya yang dilakukan oleh  sebuah team desainer produk dalam kerjanya, adalah untuk membuat hidup lebih nyaman, menyenangkan, dan efisien. Misalnya kursi kantor yang nyaman, pisau dapur yang nyaman dipakai oleh orang berusia lanjut dan mainan yang aman dimainkan dan dapat merangsang kreativitas anak-anak. Desainer selalu belajar dan mengikuti trend yang berkembang dimasyarakat. Contoh-contoh hasil kreasi para desainer produk, dihasilkan dengan mempelajari manusia pada saat melakukan aktivitasnya, dalam kerja, baik dalam rumah (ruangan dalam / interior), maupun di luar rumah (eksterior) ataupun dilain tempat. Dengan mempelajari bagian-bagian produk, yang langsung beriteraksi dengan manusia pemakainya tersebut, diharapkan selain dapat menghasilkan produk-produk yang nyaman terhadap penggunaannya juga aman terhadap lingkungan. Pada akhirnya dari sentuhan seorang desainer / team desainer produk lahirlah sebuah produk yang elegant yang membuat masyarakat ingin untuk membelinya.
          Para desainer produk juga dapat bekerja diluar lingkup sebuah produk, meliputi packaging, pameran, interior, dan pada beberapa kasus corporate identity. Lebih jauh, dengan teknologi Informasi yang semakin berkembang menjadi kompleks, desainer produk juga dapat bekerja untuk menyederhanakan software yang menjalankan berbagai macam produk. Seorang desainer produk dibekali dengan pola pikir untuk mencari jalan yang lebih baik dan inovatif untuk mengerjakan sesuatu. Mereka melakukan berbagai pendekatan pada kerjanya dan sebuah system pemecahan masalah dengan mengajukan pertanyaan yang harus dijawab secara ilmiah dan masuk akal. Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, desainer produk mengembangkan dan menjelajahi ruang lingkup aleternatif yang lebar melalui gambar dan model, kemudian menyempitkan desainnya secara terarah dengan melalukan seleksi alternatif melalui tes tolok ukur kebutuhan kebutuhan pengguna akan manufaktur. Istilah desain produk muncul pada awal abad 20 sebagai pendeskripsian dari proses pendahuluan secara kreatif yang dilakukan oleh artis individu terhadap barang-barang yang diproduksi secara missal. Untuk mengatasi rumitnya sebuag produksi missal, desain produk bekerja sama dengan profesi lain yang terlibat untuk menghasilkan, mengembangkan, dan memanufaktur produk. Profesi tersebut diantaranya adalah ahli marketing, mekanik, teknisi desain manufaktur dan programmer software. Bersama dengan spesialis ilmu factor manusia, desainer produk menyelenggarakan tes daya guna produk untuk membuat produk-produk lebih efisien untuk memproduksi dan mudah untuk di rakit, diperbaiki dan didaur ulang.
          Desain produk menghubungkan pengetahuan tentang tehnologi dan seni visual dengan pengetahuan tentang manusia. Sebagai pelengkap dari pemahaman secara umum tentang sains fisika, prinsip-prinsip teknik, ergonomic, estetika, dan material dan pro-desain. Desainer produk harus memiliki dasar yang kuat dalam ilmu pengetahuan sosial, seperti psikologi, sosiologi dan anthropologi dan seni komunikasi, seperti fotografi, video, cetak, dan media elektronik. Keahlian yang harus dimiliki dan harus dipunyai oleh seorang desainer meliputi: Keahlian memecahkan masalah secara kreatif; Dan kemampuan untuk menuangkan konsep dengan sketsa cepat. Seseorang mengerti ilmu desain produk, memiliki kemampuan dalam hal sebagai berikut: 
1)   Intelektual (kemampuan barfikir ilmiah, kreatif-alternatif-inovatif); 2) Talenta (konsep produk, gambar, model, computer); 3) Participatif (konsep pemecahan masalah, rencana dan review, mengambil keputusan); 4) Speak Up (mampu mengutarakan pendapat); Dan 5) Open Mind (mampu menerima perubahan dan masukan).
          Desainer produk mempunyai kesempatan bekerja dalam area kerja yang luas dalam berbagai macam dan tingkatan industri seperti desain transportasi, produk medis, produk elektronik, special effect untuk industri hiburan, animasi computer, desain furniture, dan desain lingkungan meliputi interior bangunan dan sign.

          Pada dasarnya lingkungan kerja yang memberikan kesempatan bagi desainer produk terbagi menjadi 3 tingkat :

a. Tingkat produksi

Industri manufaktur (pabrik, bengkel – karoseri) mengambil peranan besar dalam tingkat ini. Fungsi kerja seorang desainer produk pada tingkat ini adalah : drafter, product engineering,- product planning, material adviser, detail design, packaging development baik untuk display atau untuk shipment (pengiriman).

b. Tingkat perantara

Disini yang banyak terlibat adalah industri trading, industri yang menghubungkan antara produsen dan konsumen dan suppliernya (pabrik) dimana produk itu dibuat dan dimanufaktur, dan industri konsultan desain. Untuk konsultan desain, pada beberapa kasus, lingkup kerja mereka terkadang juga berada pada tingkat principal. Fungsi kerja seseorang desainer product pada tahap ini adalah : Drafter, Packaging development untuk display, dan Ergonomic consept.

c. Tingkat Principal

Dalam tingkat ini, industri yang terlibat beraneka ragam, mulai dari took ( yang memiliki desainer sendiri ), konsultan desain, bahkan kadang-kadang juga menjadi satu dengan industri manufaktur apabila Industri manufaktur itu juga memiliki jalur langsung yang berhubungan dengan konsumen akhir (end user). Ditingkat ini proses yang memiliki peranan utama adalah perencanaan sebuah produk mulai awal, dimana konsep guna, konsep produksi, sampai konsep marketing terlibat secara intens. Fungsi kerja seorang desainer produk juga pada tingkat ini adalah : Product consept ( studi kelayakan, trend ), Market consept and development (segment-target-positioning), dan Product planning.

          Sebenarnya ada satu tingkat lagi yang tidak terkait dan sedikit hubungannya dengan 3 tingkat diatas yaitu: Tingkat Edukasi dan Riset Ilmiah, dimana pada tingkat ini fungsi kerja utama adalah sebagai pendidik atau peneliti Ilmiah yang banyak bernaung dibawah Universitas dan Institusi Pendidikan.

          Situasi ini sangat berlawanan dengan pola dan sistem pendidikan jaman dahulu, khususnya sebelum abad keduapuluh, yang lebih cenderung kepada dihasilkannya sarjana atau ilmuwan yang mempunyai keakhlian yang bersifat luas, umum, tidak begitu dalam, dan cenderung mencakup beberapa cabang disiplin ilmu pengetahuan sekaligus; yang lebih lazim disebut "generalis" (generalist). Tetapi keadaan ini tidak dapat dipertahankan secara terus-menerus. Dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi sedemikian cepatnya, sehingga tidak memungkinkan lagi bagi seseorang untuk mempelajari, menguasai, dan mendalami berbagai hal sekaligus. Para perencana yang bekerja sendiri atau berkelompok, seperti telah diuraikan, peran dan kemampuan perencana untuk bisa menghasil produk yang baik, sangat dipengaruhi oleh tinggi - rendahnya tingkatan pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan wawasan. Selain itu, tentu saja dipengaruhi juga oleh tinggi-rendahnya tingkat kerumitan suatu produk yang direncanakan hendak dibuat.

          Secara umum, cara kerja perencana dapat dikategorikan sebagai berikut

a). Perencana yang bekerja secara mandiri dan tidak         mempunyai kelompok kerja tertentu (freelance designer).

b).  Perencana yang bekerja secara berkelompok bersama - sama orang lain, yang mempunyai bidang keakhlian yang sama.

c).  Perencana yang berkerja berkelompok bersama-sama orang lain, yang mempunyai bidang keakhlian berlainan (tidak sama).

          Pada perencanaan untuk membuat suatu produk yang relatif sederhana, seluruh kegiatan perencanaan mungkin dapat dilakukan oleh seorang perencana. Dalam hal ini, bahkan tugas dan peran enjiner sering pula "dirangkap". Tetapi hal ini hanya dapat dilaksanakan pada berbagai jenis produk yang relatif amat sangat sederhana. Dalam kasus sebuah produk direncanakan (atau mungkin juga dibuat) oleh seorang perencana, maka karya desain tersebut memang dapat dikatakan sebagai hasil karya seseorang (hasil karya satu orang). Disebabkan tingkat penguasaan manusia atas suatu keakhlian, teknologi, ilmu pengetahuan, wawasan, dan pengalaman bersifat amat sangat terbatas, maka pada jenis jenis produk tertentu yang sangat rumit, proses perencanaannya tidak dapat dilaksanakan oleh satu orang perencana saja. Dalam hal ini, diperlukan kerja-sama antar pakar (akhli, spesialis) dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda untuk melakukan seluruh proses perencanaan. Kenyataannya, banyak produk yang hanya dapat dibuat berdasar proses perencanaan yang dilakukan dengan cara bekerja-sama antar pakar (akhli, spesialis) yang berasal dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang berda-beda. Para perencana yang berasal dari berbagai disiplin ilmu ini, bergabung dalam suatu kelompok kerja atau regu kerja (team work). Jika pola seperti ini yang diterapkan, maka produk yang dihasilkan tidaklah dapat dipandang sebagai hasil kerja seorang perencana saja; melainkan harus dipandang sebagai hasil kerja (hasil karya) sekelompok perencana yang tergabung dalam suatu regu kerja (team work). Setiap orang dalam regu kerja itu, mempunyai peran dan sumbangan masing-masing. Peran dan sumbangan setiap orang dalam regu kerja tersebut, tidaklah dapat dikatakan sama (tidak setara). Setiap anggota regu kerja tersebut, berperan dan menyumbangkan berbagai bahan pemikiran dan alternatif pemecahan masalah sesuai dengan keakhlian masing-masing dalam proses perencanaan. Tetapi yang pasti, semuanya bekerja untuk mencapai sasaran akhir (target) yang sama, yaitu dihasilkannya suatu produk tertentu, seperti yang dikehendaki; berdasar suatu konsep, ide (gagas), dan fungsi tertentu; yang telah disepakati sebelumnya.

          Perencanaan produk sejauh ini, sudah diuraikan berbagai hal yang berkait dengan perencanaan secara umum. Tetapi, karena buku ini bertujuan memberikan gambaran yang berkait dengan perencanaan produk (product design) yang dimasukkan ke dalam kategori perencanaan yang bersifat mikro, maka untuk selanjutnya pembahasan akan dibatasi pada segala sesuatu yang berkait dengan proses desain (proses perencanaan) dalam pembuatan suatu produk. Pengertian desain produk (product design), adalah suatu proses perencanaan (proses desain) yang dilakukan oleh "perencana produk" (product designer), untuk membuat suatu produk (barang); yang digunakan untuk memenuhi fungsi kebutuhan hidup manusia. Dalam hal ini, pembahasan dilepaskan dari berbagai spesialisasi tertentu yang menyangkut proses perencanaan untuk membuat suatu produk tertentu, misalnya: perencana mebel (furniture designer), perencana kendaraan (automotive designer) dan sebagainya. Sehingga dengan demikian, yang dimaksud dengan "perencana" (designer) dalam buku ini, untuk selanjutnya adalah perencana yang melakukan proses perencanaan (proses desain) dalam rangka pembuatan suatu produk secara umum yakni yang lebih dikenal dengan istilah "perencana produk" atau "desainer produk" (product designer).

          Dalam dunia perencanaan suatu produk, dikenal adanya dua istilah perencana (desainer), yaitu "perencana produk" (product designer) dan "perencana barang industri" (industrial designer). Pada dasamya, kedua jenis perencana ini berperan melaksanakan proses perencanaan (proses desain) dalam rangka pembuatan suatu produk tertentu. Perbedaan mendasar yang terjadi di antara keduanya, pada dasamya hanya terletak kepada cara, sistem, atau pendekatan yang digunakan untuk merealisasikan pembuatan produk. Perencana produk Perencana/desainer produk (product designer) bekerja melaksanakan suatu proses perencanaan (proses desain) dalam rangka pembuatan suatu produk tertentu, dengan lingkup kerja yang lebih luas dan menggunakan metoda serta pendekatan yang belum tentu bersifat industri; melainkan bisa menggunakan berbagai jenis pendekatan yang berbeda. Perencana barang industri (perencana / desainer barang industri (industrial designer) bekerja melaksanakan suatu proses perencanaan (proses desain) dalam rangka pembuatan suatu produk tertentu, dengan lingkup kerja yang lebih sempit, spesifik (khas), dan menggunakan metoda serta pendekatan yang bersifat industri (industrial approach). Dalam hal ini, yang dimaksud pendekatan industri, adalah sistem pembuatan produk secara massal. Disebabkan pembahasan dalam buku ini tidak dibatasi oleh metoda dan pendekatan industri (industrial approach) tertentu, maka untuk keduanya, digunakan satu istilah saja, yaitu "perencana" atau designer yang berlaku secara umum. Dengan demikian, tidak perlu dipersoalkan perbedaan yang ada di antara kedua istilah tersebut yaitu istilah "perencana produk" dan "perencana barang industri". Istilah perencana (desainer) yang digunakan dalam buku ini  tidak membedakan perencana yang berasal dari berbagai kalangan yang berbeda. Perencana yang berasal dari kalangan enjiner, ilmuwan, desainer, seniman, teknisi, tukang, perajin, kriyawan atau bahkan orang biasa. Ini didasarkan kenyataan bahwa mereka ini, dapat juga bertindak dan berperan sebagai perencana (desainer), jika dalam pelaksanaan kegiatannya menggunakan kaidah-kaidah desain. Meskipun demikian, umumnya untuk menjadi seorang perencana (designer) dan untuk bisa melaksanakan fungsinya dengan baik, seseorang harus mengikuti tahap dan jenjang pendidikan yang bersifat khusus selama bertahun-lahun untuk menjadi seorang perencana produk. Secara singkat, khususnya perencana produk haruslah menguasai sejumlah hal, sebagai berikut:

a.    Mempunyai bakat (talent), ini merupakan salah satu syarat yang bisa dikatakan terpenting. Tanpa adanya bakat, sangatlah diragukan bahwa seseorang bisa menjadi seorang perencana produk yang baik.  

b.    Menguasai sistem/cara untuk menyatakan gagasan, konsep, atau rencana, dengan baik dan jelas serta sistematis dalam bentuk bahasa gambar (drawing). Untuk itulah harus menguasai berbagai teknik menggambar, terutama menggunakan media dua dimensi, misalnya menyatakan rencananya dalam bentuk gambar di atas selembar kertas. Atau pun menggunakan media lainnya, seperti menggunakan komputer grafis dan audio-visual. Persyaratan ini, agaknya bersifat penting bahkan bisa mutlak dan wajib.

c.    Menguasai sistem/cara untuk menyatakan gagasan, konsep, atau rencana, dengan baik dan jelas dalam bentuk bahasa tulis (text). Untuk ini, haruslah menguasai dengan baik cara mendeskripsikan, cara mengkomunikasikan dengan  menggunakan bahasa tulis, menguasai bahasa tertentu, menguasai tata bahasa, cara menulis dengan bahasa menarik, dan sistematika menulis secara ilmiah.

d.    Menguasai sistem/cara untuk menyatakan gagasan, konsep, atau rencana, dalam bentuk bahasa lisan (verbal). Untuk hal ini harus menguasai berbagai cara untuk mengkomunikasikan hasil kerjanya kepada orang lain dengan cara berbicara lisan (talking).

e.    Menguasai sejumlah pengetahuan (knowledge) dan cara (knowhow), yang diperlukan untuk melaksanakan proses perencanaan. Tanpa penguasaan atas pengetahuan minimal yang diperlukan, maka sangatlah disangsikan bahwa seorang perencana produk bisa bekerja dengan baik untuk menghasilkan suatu rencana (desain) yang baik pula.

f.       Bekerja secara sistematis, ilmiah dan bermetoda. Tanpa ketiga hal ini, sangatlah disangsikan bahwa seorang perencana produk bisa menghasilkan suatu rencana (disain) yang baik. Termasuk ke dalam hal ini, adalah bekerja menggunakan berbagai kaidah disain dan melakukan berbagai percobaan (experiment) untuk menguji berbagai gagas yang hendak diungkapkannya.

g.    Bisa menyatakan gagasan, konsep, atau rencananya dalam bentuk bahasa tiga dimensi, untuk mempermudah pemahaman orang lain atas hasil kerjanya. Hal ini, misalnya bisa dilakukan dengan cara membuat model, mok-ap, atau prototipe. Berbagai persyaratan tersebut di atas, pada dasarnya bersifat mengikat dan mutlak harus dipenuhi oleh seorang perencana produk. Sedangkan persyaratan lainnya, digolongkan sebagai persyaratan tambahan yang bersifat tidak mengikat dan tidak mutlak harus dipenuhi. Jika seseorang tidak memenuhi salah satu persyaratan di atas, maka besar kemungkinan akan mengalami banyak kesulitan dalam merealisasikan berbagai gagasnya menjadi sebuah benda atau produk tertentu.

h.    Bidang kerja perencana produk pada masa sekarang, dikenal adanya berbagai jenis bidang kerja (spesialisasi) bagi para perencana produk dan perencana barang industri.

          Di bawah ini, dicontohkan berbagai bidang kerja yang memungkinkan untuk digeluti oleh seorang desainer produk, misalnya:

a. Desain mebel (furniture design). Ini menyangkut bidang perencanaan yang meliputi berbagai barang, produk atau peralatan kelengkapan mebel (furniture). Misalnya : kursi, meja, lemari, tempat tidur, dan sebagainya. Secara umum, bidang ini biasanya menangani berbagai -kelengkapan rumah tangga, kantor, gedung, atau bangunan, yang diletakkan di dalam ruang (in door).

b. Desain barang industri (industrial goods design). Ini merupakan bidang perencanaan yang meliputi berbagai barang, produk, atau peralatan kelengkapan industri dan pabrik. Misalnya: traktor, buldozer, katrol, peralatan tambang, peralatan pertanian, peralatan perkebunan, perlalatan kehutanan, peralatan geologi, dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bidang kerja seorang perencana atau desainer produk, pada dasarnya sangat terbuka luas. Bahkan pada masa sekarang, pembagian bidang kerja ini ada kecenderungan menjadi semakin sempit dan semakin spesifik (khas), sehingga menjadi semakin banyak dan semakin luas pilihannya.

          Proses perencanaan dan pembuatan produk (barang) suatu produk tertentu, apapun jenisnya, dengan tidak memandang apakah produk tersebut sederhana atau rumit, besar atau kecil, canggih atau tidak canggih, berdiri sendiri atau merupakan kelompok pasangan, merupakan suatu serf produk atau tidak; pada dasarnya selalu melalui dua rangkaian proses yaitu pertama rangkaian proses perencanaan (proses desain) dan kedua adalah rangkaian proses pembuatan (proses produksi). Kedua proses ini, berlangsung sejak produk tersebut belum ada (belum direalisasikan), sampai produk tersebut menjadi kenyataan perwujudan (direalisasikan). Untuk dapat merealisasikan keberwujudan suatu produk, diperlukan dukungan berbagai unsur desain, yang berfungsi mendukung berlangsungnya proses perencanaan dan proses pembuatan meliputi yaitu :

a.  Adanya masalah (problem), yang digunakan sebagai pemicu awal dimulainya proses perencanaan (proses desain); ini merupakan bagian terpenting dari awal proses desain. Secara umum, tanpa adanya masalah lebih dahulu, perencana tidaklah dapat bekerja. Masalah, bisa mempunyai "sumber" (source) atau "asal" (originate) yang berbeda - beda.

b.  Adanya gagasan (idea) dan jalan ke luar ( solution, way out), yang digunakan sebagai dasar awal bagi pemecahan / penyelesaian suatu masalah (problem solving) yang dihadapi. Ini merupakan bagian terpenting dari sistem untuk menghasilkan jalan ke luar (way out, solution) bagi sejumlah masalah yang dihadapi perencana. Gagasan (idea), bisa dikemukakan dalam bentuk lisan, tulis, gambar, sketsa, model, dan sebagainya.

c. Adanya dukungan berbentuk data dan fakta (fact), yang berkait erat dengan berbagai aspek desain; yang nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk melakukan proses analisis atas berbagai aspek / faktor desain, guna membuat berbagai keputusan yang diperlukan dalam pelaksanaan proses perencanaan (proses desain).

d. Adanya dukungan berbentuk proses analisis, yang dilaksanakan dengan cara mengurai, meneliti, melacak, memperhitungkan, memperkirakan, dan / atau mengamati secara sistematis, ilmiah, dan bermetoda, atas berbagai masalah, gagas, serta aspek desain; yang hasilnya akan digunakan untuk membuat berbagai keputusan, membuat konsep, dan menentukan berbagai pilihan yang diperlukan dalam proses desain.

e. Adanya konsep desain (design concept), yang akan digunakan sebagai pegangan, patokan, atau acuan (term of reference, TOR) oleh perencana selama proses perencanaan (proses desain) dilaksanakan, dan oleh pelaksana selama proses pembuatan (proses produksi) dilaksanakan; yang disusun atas sejumlah kesimpulan yang dihasilkan dari proses analisis atas berbagai aspek desain.

f. Adanya proses perencanaan atau proses desain (design process), yang merupakan suatu proses untuk merealisasikan gagasan (idea) menjadi suatu "rencana produk" (rencana pembuatan suatu produk) yang bersifat realistis dan masuk akal (ilmiah), yang didasarkan atas suatu konsep desain tertentu dalam rangka pencarian penyelesaian (problem solving) bagi satu atau sejumlah masalah tertentu.

g. Adanya proses produksi (production process) atau proses pabrikasi (fabrication process, manufacturing process), yang digunakan untuk merealisasikan suatu "rencana produk", sehingga menjadi produk yang berwujud nyata, seperti yang telah direncanakan lebih dahulu. Unsur-unsur inilah yang menjadi pendukung pelaksanaan proses perencanaan dan pelaksanaan proses produksi, yang pada dasarnya merupakan gabungan dua proses yang akan membuat suatu produk menjadi dapat diwujudkan (direalisasikan) keberadaannya.

          Unsur-unsur tersebut di atas, merupakan unsur-unsur yang sifatnya mutlak dan harus ada dalam setiap proses pembuatan suatu produk. Para perencana, baik secara sadar atau secara tidak sadar, selalu menggunakan unsur-unsur tersebut di atas. Mungkin ada suatu proses yang tidak terlihat secara nyata oleh orang lain; karena proses tersebut tidak dinyatakan dalam bentuk tulis, gambar, sketsa, diskusi, atau tidak dinyatakan secara visual atau verbal kepada orang lain oleh perencananya. Tetapi bagaimanapun juga, setiap perencana selalu menggunakan unsur-unsur tersebut. Masalah (problem), merupakan awal dari seluruh proses perencanaan (proses desain) dan bersifat sebagai pemicu bagi berlangsungnya sebuah proses perencanaan (proses desain). Tanpa adanya suatu masalah tertentu, perencana tidak dapat (dan tidak perlu) berbuat apa-apa, karena tidak ada yang harus dikerjakan (tidak ada yang harus diselesaikan). Dengan demikian, adanya suatu masalah, merupakan suatu hal yang mutlak harus ada lebih dahulu.

          Dalam sejumlah kasus, masalah sering terlihat seakan-akan seperti tidak ada masalah (no problem). Karenanya, masalah harus digali, diangkat, dipahami, dan kemudian dinyatakan; sehingga menjadi jelas keberadaan dan kebenarannya. Hal ini, seringkali merupakan kesulitan tersendiri. Untuk dapat melaksanakan hal tersebut, bahkan  diperlukan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang bersifat khas atau khusus.  

          Gagasan (idea), merupakan suatu pemikiran awal yang pada dasarnya berisi cara atau metoda pemecahan suatu masalah. Untuk mencari atau 'menemukan’ suatu gagas (idea), diperlukan masalah terlebih dahulu yang tentunya akan dicarikan pemecahannya. Tanpa adanya suatu masalah tertentu, tidak akan ada gagasan (idea) yang diperlukan. Gagasan juga merupakan awal dari seluruh proses desain dalam arti yang nyata. Kemampuan untuk dapat menghasilkan berbagai gagas (idea) yang akan digunakan dan dikembangkan untuk menyelesaikan suatu masalah atau pun beberapa masalah sekaligus, merupakan salah satu kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang desainer (perencana).

          Dukungan berbagai jenis data dan fakta, sangat  berperan sebagai bahan yang akan digunakan untuk melakukan analisis dan pembuatan keputusan dalam seluruh rangkaian proses desain. Data-data yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung, akan sangat menentukan apakah proses desain yang akan dilaksanakan tersebut, bisa dikatakan lengkap atau tidak. Artinya, baik atau buruknya dukungan, berupa jenis, mutu, validitas dan jumlah data, secara langsung akan sangat berpengaruh kepada baik atau  buruknya mutu proses desain yang dilaksanakan. Jika mutu proses perencanaan (proses desain) rendah (buruk), maka umumnya akan dihasilkan suatu produk yang bermutu rendah pula. Demikian pula sebaliknya. Berbagai data yang diperlukan oleh para perencana atau desainer, seringkali harus dicari dan tidak tersedia begitu saja. Karenanya, kemampuan untuk menggali, mengumpulkan, menganalisis, mengolah, merangkum dan menyimpulkan berbagai jenis data dan fakta, merupakan salah satu kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang perencana (desainer). .

          Proses analisis (analisys process), merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam pelaksanaan proses desain. Berbagai keputusan, pertimbangan dan konsep; sebagian besar didasarkan atas hasil kesimpulan atas berbagai analisis. Disebabkan oleh tingkat kepentingannya itu, maka adalah mutlak bahwa seorang perencana atau desainer harus mempunyai kemampuan untuk melakukan proses analisis secara sistematis, obyektif, dan rasional. Proses analisis, umumnya merupakan bagian yang sulit bagi para perencana, karena berdasar berbagai hal yang dihasilkan oleh proses ini, sejumlah keputusan desain (design decission) yang penting harus dibuat. Artinya, kemampuan dari seorang perencana dalam berpikir, mengolah, dan memutuskan suatu hal akan diuji dalam pelaksanaan proses ini.

          Konsep desain (design concept), merupakan pegangan atau acuan yang digunakan oleh perencana sebagai "patokan" atau "acuan" (term of reference, TOR) dalam pembuatan berbagai keputusan yang dilakukan selama pelaksanaan seluruh proses desain. Didukung oleh berbagai masalah (problem), gagas (idea), pemikiran, serta analisis atas berbagai aspek/faktor; konsep desain berperan sebagai "nyawa dari sebuah disain" (the spirit of design). Dalam konsep desain, berbagai pemikiran, gagas, kemampuan, wawasan, seorang perencana dicurahkan, untuk menyatakan suatu konsep. Karenanya, kemampuan seorang perencana untuk dapat menyusun, menyatakan, dan menyampaikan suatu konsep desain secara baik dan sistematis, merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan mutlak harus dimiliki.

          Disiplin ilmu yang mempelajari kegiatan perancangan barang pakai diatas adalah Desain Produk Industri. Dan orang yang ahli dan berkecimpung dalam dunia desain disebut sebagai praktisi desain atau desainer. Bagi yang secara khusus menguasai keahlian merancang pembuatan barang-barang kebutuhan manusia disebut sebagai Desainer Produk. Mereka bekerja di berbagai sektor usaha misalnya  pada industri manufaktur, industri kecil, sektor pendidikan, pusat riset atau pusat penelitian dan pengembangan teknologi, dan sebagainya.

          Dalam memecahkan masalah produk yang kompleks seperti misalnya furniture, dimana Desainer Produk menyadari keterbatasan kemampuannya dalam hal-hal lain diluar keilmuan desain. Untuk itu dalam rantai produksi manufaktur  Desainer Produk bekerja sama dengan para insinyur dan ahli-ahli yang menjalankan mesin agar barang yang dihasilkan memenuhi kualitas yang sesuai dengan rancangan Desainer Produk. Dalam proses penciptaan furnitur tidak semata - mata mengejar fungsi saja. akan tetapi harus mempertimbangkan juga segi ergonomi yakni keamanan dalam pemakaian, nyaman ketika digunakan, efisien dalam penggunaan bahan, dan bentuk yang menarik atau keindahan dipandang (estetis). Para Desainer Produk mempunyai kemampuan menggali kreatifitas untuk menemukan gagasan-gagasan baru yang disesuaikan dengan perkembangan sosial masyarakat.

          Perusahaan-perusahaan besar yang bekerja sama dengan pihak asing pada umumnya menyadari tentang pentingnya desain sebagai aspek penting dalam memenangkan kompetisi pasar. Lain halnya dengan industri di tanah air, mereka lebih merasa untung jika meniru atau memproduksi barang yang laku dalam jangka pendek, dan pola ini harus segera diperbaiki. Bagi mereka yang berpikiran ilmiah, desain adalah sebagai pusat riset dan pengembangan produk untuk jangka waktu panjang, juga merupakan investasi yang mahal dan membuang biaya, semua untuk kepentingan yang lebih besar dan berkesinambungan sesuai kebutuhan yang senantiasa juga berkembang.

          Pada proses desain umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang datanya didapatkan dari riset (penelitian), pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya. Akhir-akhir ini, proses (secara umum) juga dianggap sebagai produk dari desain, sehingga muncul istilah “perancangan proses”. Salah satu contoh dari perancangan proses adalah perancangan proses dalam industri kimia, dll.

          Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan-pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis desain produk lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan  yaitu desain. Karena ilmu semankin berkembang, maka penajaman masing-masing diperlukan untuk membedakan spesialisasi keahlian.

Dalam interior desain, yang merupakan disiplin desain yang didalamnya bersangkut-paut dengan persoalan seni merancang atau menyusun kelompok mebel / perabot rumah, permadani, gorden, hiasan dalam ruang dan dinding serta yang lainnya dalam suatu ruangan bangunan. Apabila persoalan interior berkait dengan system penyusunan, sudah tentu melalui perencanaan, terhadap elemen-elemen berupa barang atau benda yang ditujukan sebagai pendukung tampilannya, maka berbagai jenis produk kriya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan tersebut.  Oleh karena hubungan antara interior dengan produk kekriyaan seperti sebuah wadah dengan isinya, maka sering kali wadah yang bernama interior itu, walaupun tidak selalu, akan menentukan isinya, dalam hal ini jenis produk tertentu yang sesuai untuk kepentingannya. Dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa kesesuaian produk kriya yang dibutuhkan untuk mendukung tampilan interior mengacu kepada jenis, sifat, dan karakter bangunannya. Elemen pendukung interior itu dapat bermacam-macam jenisnya seperti gorden, gambar / lukisan, perabotan rumah tangga, mebel, almari, jam dinding, pas bunga, cermin, asbak, tableware, patung, dan lain-lain, yang masing-masing elemen tersebut dibutuhkan keberadaannya dalam mengisi ruang dalam. Ada kalanya kehadiran benda-benda tersebut dipertimbangkan aspek-aspek keserasian antar berbagai elemen dan interiornya, tetapi ada juga yang sekedar menempatkannya tanpa pertimbangan estetik, kecuali aspek fungsinya. Oleh karena itu dalam membuat produk kriya untuk interior perlu mencermati persoalan yang bertalian dengan jenis dan karakter interior sesuai dengan aspek-aspek yang melingkupinya. Aspek-aspek itu mencangkup: sosial, kultural, ekonomi dan psikologis.



Dalam membuat produk kekriyaan untuk keperluan mengisi ruang bagian dalam bangunan, penerapan perlu kecermatan dalam berbagai aspek akan berpergaruh terhadap jenis, bentuk, fungsi, bahan, teknik, finishing dan lain-lain. Identifikasi produk yang didasarkan pada pertimbangan semacam itu akan bermanfaat dalam upaya mencapai kesenangan, kenyamanan, dan kesesuaiannya.



Arsitektur eksterior, merupakan tampilan luar atau sisi luar dari bangunan, yang keberadaan mulai tampak bagunanan dari luar, halaman, teras, dan tamannya menjadi bagian dari keseluruhan bangunan. Apabila elemen eksterior terdiri dari teras, halaman, jalan, dan juga  taman, maka masing-masing elemen tersebut membutuhkan sejumlah bahan atau produk penghias (atap dan lantai) dan perabot pendukungnya misalnya teras yang biasa dipakai tempat relaksasi dan rekreasi seperti untuk membaca koran di sore hari membutuhkan prabotan mebel. Pada teras juga sering kali dapat dijumpai sejumlah pot atau tempat vas bunga dengan beragam jenis, tempat koran dan lain-lain. Pada halaman dan taman dapat dijumpai patung, lampu taman, kotak surat, mebel taman atau jenis produk lainnya. Dengan demikian cakupan produk kriya untuk kelengkapan eksterior memiliki banyak jenis sesuai dengan karakter eksterior masing-masing.


Dari buku: Produk Kekriyaan, 2011
email: gosmul@gmail.com / blogspot,goesmul.com / Hidup dan Seni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar