Laman

Pengikut

Minggu, 25 Maret 2012

Bertaqwa Dengan Mengintensifkan Peramalan Dzikir & Ibadah (I'tikaf)


Iman-Taqwa Dengan Mengintensifkan Peramalan Dzikir & Ibadah (I'tikaf)
 Oleh Agus Mulyadi Utomo
Hidup dan Seni:goesmul.blogspot.com
goesmul@gmail.com
Taqwa
Kata taqwa berasal dari waqa, yaqi, wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi. Sesuai makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat diartikan sebagai sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh (kaffah) dan konsisten atau istiqomah.[1] Sesungguhnya taqwa itu juga berasal dari kata “waqa wa tawaqqa wa ittaqa” yang meliputi makna menjaga, menjauhi, takut dan hati-hati. 
 Taqwa kepada Allah, maknanya adalah menjaga diri dari sesuatu yang ditakuti yang datang dari Allah berupa kemurkaan dan azab-Nya. Taqwa juga mencakup sikap hati-hati dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang dan menjalankan apa-apa yang disuruh Allah, karena takut akan tergelincir pada hal-hal yang mendatangkan murka dan azab. Taqwa juga meliputi aktivitas pendekatan diri kepada Allah karena takut akan dijauhi dan tidak dicintai oleh Allah. Wal hasil dalam taqwa itu ada kepatuhan atau taat dengan rasa takut, sekaligus cinta kepada-Nya, semua itu menyatu dan berjalan seiring.
 Seseorang tidak memiliki keutamaan atas yang lainnya kecuali dengan ketaqwaan, Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al-Hujurat : 13). Demikian pula Allah Ta’ala berfirman sembari menganugrahkan ni’mat ini dan mengingatkan pula pada kondisi sebelum kedatangan Islam yang artinya: ”Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali (agama) Allah semuanya dan janganlah kalian bercerai berai” (QS. Ali-'Imran : 103).  
 Bagi mereka yang tidak mengikuti dan tidak beriman kepada para Rasul, tidak membe­narkan  berita-berita yang dibawa Rasul, dan tidak mentaati  perin­tahnya, maka orang-orang seperti itulah disebut bukan sebagai orang-orang yang beriman. Mereka  adalah  orang-orang yang dihubungi  dan dihampiri oleh setan-setan dan juga  dapat mengungkapkan beberapa perkara ghaib serta memiliki beberapa perilaku luar biasa yang merupakan bagian dari sihir. Mereka  itu kebanyakan tukang  sihir yang dihampiri setan-setan. Allah Ta'ala  berfir­man: "Apakah  akan  Aku beritakan kepadamu,  kepada  siapa setan-setan  itu  turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta  lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu,  dan  kebanyakan mereka adalah orang-orang  pendusta"  (As-Syu'ara: 221-223). Mereka  bersandar  kepada  Mukasyafat (penyingkapan perkara- perkara  yang ghaib) dan hal-hal yang luar biasa. Apabila  mereka tidak mengikuti Rasul, tentu amalan-amalan mereka mengandung dosa seperti kemusyrikan, kedzaliman, kekejian, sikap berlebihan, atau bid'ah terutama dalam ibadah. Mereka dihampiri  dan didatangi  setan-setan, sehingga mereka menjadi wali-wali dari setan. Allah Ta'ala berfirman: ”Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), dan setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya" (QS. Az-Zukhruf :36).    
 Pengajaran Allah (Dzikrur Rahman) adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya, yakni  dalam Al-Quran. Barangsiapa  tidak beriman (percaya) kepada Al-Quran, tidak  membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling  dari Al-Quran, kemudian setan  datang  menjadi teman setia baginya. Seseorang  yang  selalu berdzikir kepada  Allah, baik  malam maupun  siang, disertai dengan puncak kezuhudan  dan  kesungguhan beribadah  kepada-Nya, namun tidak mengikuti dzikir yang  Allah turunkan, sesuai Al-Quran dan petunjuk Rasul, maka dia termasuk walinya setan, meskipun dia mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air. Setanlah yang  membawanya  ke angkasa sehingga ia  mampu  terbang.  
 Coba renung-renungkanlah kembali, setelah ber-iman (percaya), apakah selanjutnya diri kita sudah ber-taqwa ? Seharusnya dengan berbekal iman, seluruh aktifitas yang dijalani harus lebih bermakna, berpengaruh dan berbekas. Ada semacam kerinduan akan keridhaan-Nya, kecintaan, ketaatan dan ketakutan akan azabNya serta usaha untuk meningkatkan kualitas hidup. Tentunya sebagai manusia muslim seharusnya kita demikian dan juga meningkat. Realitas taqwa harus menjadi hikmah, selalu dan senantiasa diperhatikan terutama oleh masyarakat sekelilingnya dan menjadi tolok ukur di dalam menjalankan agamanya (Islam), untuk itu perlu diusahakan, diperhatikan dan diupayakan secara maksimal agar terealisasi di saat menjalankan suatu aktivitas ibadah umum dan tertentu . Disamping itu harus pula ditanamkan ke dalam diri sendiri ke-taqwa-an tersebut sebagai perlindungan (pakaian) pribadi. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang  sesuatu,  maka kembalikanlah  ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika  kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari  kemudian" (QS An-Nisaa' : 59).
Yang pertama kali harus dipahami orang bertaqwa seperti dinyatakan dalam beberapa ketentuan Islam, bahwa dien (Islam) dibangun di atas pondasi yang dinamakan at-taslim, yakni penyerahan diri secara totalitas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Sedangkan at-taslim sendiri bermakna membenarkan seluruh yang diberitahukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk dan patuh kepada perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemudian membenarkan apa-apa yang disampaikan Rasul-Nya, tunduk kepada perintah beliau, menjauhi larangannya dan mengikuti semua petunjuk-petunjuk beliau. Jika kita sudah memahami kaidah-kaidah di atas, maka hendaklah seorang muslim untuk bertaslim terhadap apa-apa yang dibawa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Setelah bertaslim, merasa tenang denganNya dan percaya penuh dengan yang dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iman dengan segala yang disyari’atkan-Nya dan mewujudkan dalam perbuatannya, maka tidak dilarang baginya untuk mencari dalam sebab dan musababnya, yaitu mempertanyakan mengapa semua itu diharuskan. Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa faktor yang menyebabkan sesuatu dilarang sebagian besar dapat diterima oleh akal sehat dan fitrah yang suci. Adapun penyebab timbulnya larangan tersebut, diantaranya adalah semua perbuatan orang kafir pada dasarnya dibangun di atas pondasi kesesatan dlalalah dan kerusakan fasad. Inilah sebenarnya titik tolak semua perbuatan dan amalan orang-orang kafir, baik yang bersifat menakjubkan atau tidak, baik kerusakannya yang dzahir (nampak nyata) ataupun terselubung. Karena sesungguhnya yang menjadi dasar semua aktivitas orang-orang kafir adalah dlalal (sesat), inhiraf (menyeleweng dari kebenaran), dan fasad (rusak). Baik dalam aqidah, adat-istiadat, ibadah, perayaan-perayaan hari tertentu, ataupun dalam tingkahpolah lakunya. Adapun kebaikan yang mereka perbuat hanyalah merupakan suatu pengecualian saja. Oleh karena itu jika ditemukan pada mereka perbuatan-perbuatan baik, maka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberi arti apapun baginya dan tidak diberi pahala sedikitpun. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan Kami hadapi amal yang mereka kerjakan kemudian Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS: Al-Furqan: 23)
Dengan bertasyabbuh (meniru) terhadap orang kafir, maka seorang muslim akan menjadi pengikut mereka. Yang berarti dia telah menentang atau memusuhi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan dia akan mengikuti jalur orang-orang yang tidak beriman. Padahal dalam perkara ini terdapat peringatan yang sangat keras sekali, sebagaimana Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalannya orang-orang yang tidak beriman, Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa’: 115)
Musyabbahah (meniru-niru) itu mewariskan mawaddah (kasih sayang), mahabbah (kecintaan), dan mawalah (loyalitas) terhadap orang-orang yang ditiru tesebut. At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya. Karena bagi seorang muslim jika meniru adalah perbuatan yang baik-baik dan mencontoh apa yang dikerjakan Rasulullah, dalam hatinya akan ada rasa ilfah (akrab dan bersahabat). Dan rasa akrab dan bersahabat ini akan tumbuh menjadi mahabbah (cinta), ridla serta bersahabat kepada terutama kepada Rasul dan orang-orang yang beriman. Dan akibatnya dia akan mendekat kepada orang-orang yang shaleh, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengamalkan As-Sunnah, dan orang-orang yang lurus dalam berislam, beriman dan berikhsan. Hal tersebut merupakan suatu hal yang naluriah, manusiawi dan dapat diterima oleh setiap orang yang berakal sehat. Khususnya jika muqallid (si pengikut) merasa sedang terkucilkan atau sedang mengalami kegoncangan jiwa. Pada saat yang demikian itu apabila ia mengikuti yang haq maka ia akan merasa bahwa yang diikutinya agung, akrab, bersahabat dan terasa menyatu atau beserta dengannya. Kalau tidak, maka keserupaan lahiriah saja sudah cukup baginya. Keserupaan lahiriah ini direfleksikan ke dalam bentuk kebudayaan dan tingkah laku. Dan tidak bisa tidak, kelak dikemudian hari akan berubah menjadi penyerupaan batin. Hal ini merupakan proses yang wajar dan dapat diterima oleh setiap orang yang mau mengamati permasalahan ini dalam pola tingkah laku manusia (human being).
Kalau seseorang bepergian ke negeri lain maka ia akan menjadi orang asing di sana. Jika dia bertemu dengan seseorang yang berpakaian sama dengan pakaiannya, kemudian berbicara dengan bahasa yang sama pula pasti akan timbul mawaddah (cinta) dan ilfah (rasa akrab bersahabat) lebih banyak. Jadi apabila seseorang merasa serupa dengan lainnya, maka rasa persamaan ini akan membekas di dalam hatinya.
Karakteristik orang ber-taqwa terdapat dalam firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 177 yang secara umum menjadi indikator ketaqwaan adalah sebagai berikut :  “Laisal birra an tuwalluu wujuuhakum qibalal masyriqi wal maghribi wa laakinnal birra man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wal malaa-ikati wal kitaabi wan nabiyyiina wa aatal maala ‘alaa hubbihii dzawil qurba wal yataamaa wal masaakiina wabnas sabiiliwas saa-iliina wa fir riqaabi wa aqaamash shalaata wa aataz zakaata wal muufuuna bi ‘ahdihim idzaa ‘aahaduu wash shaabiriina fil ba’saa-i wadh dharraa-i wa hiinal ba’si ulaa-ikal ladziina shadaquu wa ulaa-ika humul muttaquun”, artinya: ”Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajah kamu ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu adalah barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang (terlantar) dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta dan membebaskan perbudakan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang memenuhi janjinya bila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesengsaraan, penderitaan dan pada waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang ber-taqwa”.
Allah memperingatkan kita sebagai manusia untuk selalu bertaqwa yaitu mematuhi dengan melaksanakan  segala perintah dan meninggalkan segala larangannya. Firman Allah dalam QS. Ath-Thalaaq: 10 yang berbunyi “A’addallaahu lahum ‘adzaaban syadiidan fat taqullaaha yaa ulil albaabil ladziina aamanuu qad anzalallaahu ilaikum dzikraa” artinya: “Allah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, maka ber-taqwa-lah kamu kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai pikiran (yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu peringatan”. Dan dalam kitab kitab Sunan diriwayatkan dari Irbadh bin Saariyah rodhiAllahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati kami dengan nasehat yang mantap, (jika mendengarnya) hati kami bergetar, dan air mata kami akan berlinang, maka kami berkata kepadanya : wahai Rasulullah, seakan akan nasehat itu seperti nasehatnya orang yang akan berpisah, maka berilah kami nasehat, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku wasiatkan kepada kamu sekalian agar selalu bertakwa kapada Allah, mendengarkan dan mentaati perintahNya, walaupun yang memerintah kamu itu seorang hamba, sesungguhnya barang siapa diantara kalian hidup ( pada masa itu ), maka ia akan menjumpai banyak perselisihan, maka ( ketika ) itu kamu wajib berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaurrasyidin yang telah mendapat petunjuk sesudahku, pegang dan gigitlah dengan gigi gerahammu sekuatnya, dan sekali kali janganlah mengada ada hal yang baru ( dalam agama ), karena setiap pengadaan hal yang baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat”. Ketika Allah telah mewajibkan orang-orang muslim itu agar saling nasehat menasehati dan saling menerangkan apa yang telah disyari’atkan Allah dalam agama, serta mengharamkan penyembunyian ilmu, maka dipandang perlu untuk mengingatkan akan kebenaran dan  menyebarnya, sehingga tercipta kedamaian dan kebahagiaan di dunia dan akherat nanti. Hanya Allah lah dan Rasulullah tempat bermohon, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin ini, dan memberi kepada mereka kemudahan dalam memahami agama Islam secara kaffah. Sesungguhnya jika selama di dunia tidak beramal sholeh dan tidak mencari keterangan yang benar, seperti halnya orang buta. Firman AllahDan Kami mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan kami dalam keadaan buta, padahal aku dulu (di dunia) dapat melihat” (QS. Thaahaa: 124-125). Para ulama ada berbeda pendapat tentang maksud buta dalam ayat di atas; apakah buta hati atau buta mata? Mereka yang  berpendapat bahwa itu adalah buta hati mengambil dalil dari firman Allah SWT, “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami” (QS. Maryam: 38). Dan lagi firman-Nya, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari hal ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, hingga penglihatanmu pada hari itu amat tajam” (QS. Qaaf: 22). “Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa” (QS. al-Furqaan: 22). “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘aunul yakin” (QS. at-Takaatsur 5-7). Ayat-ayat semisal lainnya yang menegaskan bahwa pada hari kiamat manusia akan melihat dengan mata kepala adalah, “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan duduk karena (merasa) hina. Mereka melihat dengan pandangan lesu” (QS. asy-Syuuraa: 45). Juga “Pada hari mereka didorong ke neraka dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakaanya. Maka apakah ini sihir ataukah kamu tidak melihat?” (QS. ath-Thuur: 13-15). “Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya” (QS. al-Kahf: 53). Sedangkan kelompok yang berpendapat bahwa buta yang dimaksud adalah buta mata, mengatakan bahwa susunan kalimat dalam surah Thaahaa ayat 124-125 hanyalah menunjukkan kebutaan mata kepala. Hal ini sebagaimana terlihat dalam kata-kata, “Dia berkata, ‘Ya Tuhan mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu melihat?’” (QS. Thaahaa: 125). Jadi orang tersebut tahu bahwa ketika di dunia ia buta dari kebenaran bukannya buta matanya, sehingga ia mengatakan, “Dan sungguh dulu aku melihat” Lalu bagaimana ketika kata-katanya itu dijawab dengan firman-Nya, “Demikianlah, karena kamu telah didatangi ayat-ayat kami, lalu kamu melupakannya. Maka, demikian pula hari ini kamu dilupakan” (QS. Thaahaa: 126). Jawaban ini menunjukkan bahwa kebutaan di akhirat tersebut adalah buta mata. ini adalah balasan baginya yang setimpal dengan perbuatannya. Yaitu, ketika dia enggan mengikuti apa yang diwahyukan kepada Rasul-Nya dan mata hatinya buta, maka pada hari kiamat Allah SWT membutakan matanya. Allah SWT membiarkannya di dalam siksaan karena dia telah meninggalkan petunjuk-Nya di dunia. Karena itu, Allah membalas kebutaaan hatinya dengan kebutaan matanya pada hari kemudian. Dia membalas keengganannya mengikuti petunjuk dengan membiarkannya tersiksa alam azab. Ini juga sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka sekali-kali dia tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli” (QS. al-lsraa: 97).
Akan tetapi, kelompok lainnya mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah mereka buta, bisu dan tuli dari petunjuk, bukan buta, bisu, dan tuli yang sesungguhnya. Hal ini juga mereka katakan pada ayat, “Dan Kami mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaahaa: 124). Kelompok ini mengatakan bahwa pada hari kiamat orang-orang tersebut berbicara, mendengar, dan melihat.
Kelompok berbeda lainnya lagi, berpendapat hahwa kebutaan, kebisuan, dan ketulian tersebut bersifat terbatas tidak mutlak. Artinya, mereka hanya tidak bisa melihat dan mendengar apa yang membahagiakan mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa a berkata, “Mereka tidak melihat sesuatu yang dapat menyenangkan mereka”. Ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang tersebut dikumpulkan dalam keadaan buta ketika para malaikat mencabut nyawa mereka dan ketika mereka dikeluarkan dari kehidupan dunia, serta ketika mereka bangkit dari kubur menuju ke padang mahsyar. Baru setelah itu mereka dapat mendengar dan melihat. Pendapat ini diriwayatkan dari Hasan Bashri. Pendapat lain mengatakan bahwa kebutaan ini terjadi tatakala mereka memasuki neraka dan berada di dalamnya. Pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bicara dicabut dari mereka tatkala Allah SWT berkata kepada mereka, “Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan Aku” (QS.al-Muminuun: 108). Ketika itu harapan mereka terputus dan akal mereka tidak berfungsi. Menjadilah mereka semua orang buta, bisu, dan tuli. Mereka tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak berbicara. Tidak ada yang terdengar dari mereka kecuali hembusan dan tarikan nafas. Pendapat ini dinukil dari Muqatil bin Sulaiman.
Sedangkan yang dimaksud oleh pendapat yang mengatakan bahwa mereka buta dari argumen, adalah bahwa mereka tidak mempunyai argumentasi sama sekali, bukan maksudnya mereka memiliki argumen dan mereka tidak mampu melihatnya. Akan tetapi, yang dimaksud pendapat ini adalah bahwa mereka buta dari petunjuk sebagaimana keadaan mereka di dunia yang buta dari petunjuk tersebut. Pendapat ini dikuatkan dengan alasan bahwa manusia mati sesuai dengan kondisinya ketika hidup, dan akan dibangkitkan sesuai dengan kondisinya ketika mati. Dari seluruh paparan di atas, maka tampak bahwa pendapat yang benar adalah kebutaan tersebut kebutaan mata kepala. Pasalnya pada hari kiamat orang kafir mengetahui akan kebenaran dan mengakui apa yang dia dustai ketika di dunia. Oleh karena itu, pada hari kiamat orang kafir tersebut tidak buta dari kebenaran.
Adapun al-hasyr (pengumpulan) terkadang yang dimaksud adalah ketika dikumpulkan pada hari kiamat, seperti sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang pakaian, dan tidak dikhitan” (HR Bukhari dan Muslim) “Dan Kami kumpulkan mereka dan tidak meninggalkan satu pun juga”  (QS. al-Kahfi: 47). Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan al-hasyr adalah bahwa mereka dihimpun, dikumpulkan, dan digiring menuju tempat kediaman yang abadi. Bagi orang-orang yang bertaqwa, maka mereka dihimpun dan digiring menuju ke surga. Sedangkan orang-orang kafir dikumpulkan dan digiring menuju neraka. Allah SWT berfirman, “(Ingatlah) hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat”  (QS. Maryam: 85). “(Kepada para malaikat diperintahkan), ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka” (QS. ash-Shaffaat: 22-23).  Dalam ayat ini,  al-hasyr  (pengumpulan) tersebut adalah setelah mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar, yaitu ketika mereka dikumpulkan di neraka, karena sebelumnya Allah SWT berfirman, “Dan mereka berkata, “Aduhai celakalah kita” Allah berkata, ‘Inilah hah pembalasan. Inilah hah keputusan yang selalu kamu dustakan” (QS. ash-Shaffaat: 20-21). Kemudian Allah SWT berfirman, “Kepada malaikat diperintahkan, ‘Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka” (QS.ash-Shaffaat: 22). Penghimpunan dalam ayat terakhir ini, adalah penghimpunan yang kedua. Dengan demikian, orang-orang zalim mereka “berada di antara dua al-hasyr (penghimpunan). Pertama, ketika mereka digiring dari kubur menuju Padang Mahsyar. Kedua, dari Padang Mahsyar menuju neraka. Ketika dikumpulkan pertama kali mereka mendengar, melihat, berdebat, dan berbicara. Sedangkan, ketika dikumpulkan kedua kalinya mereka dikumpulkan dan diseret di atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Jadi setiap kondisi mempunyai bentuk penyiksaan yang cocok dan yang sesuai dengan keadilan Allah.
Dan ayat-ayat Al-Qur’an saling mendukung satu sama lainnya, “Seandainya Al-Qur’an ini bukan dari sisi Allah, pasti mereka mendapatkan pertentangan yang banyak.” (QS. an-Nisaa: 82). Cucu Nabi Muhammad SAW, Al-Hasan, pernah mengatakan, bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang takut atau menjaga diri dari apa yang diharamkan dan menunaikan apa yang diwajibkan kepadanya. Senada dengan itu, Umar bin Abdul Azis berkata, bahwa : “Taqwa kepada Allah itu bukan dengan terus atau seringnya shaum di siang hari, seringnya shalat malam atau seringnya melakukan keduanya, tetapi taqwa kepada Allah adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang Allah wajibkan. Siapa yang melakukan kebaikan setelah itu,  maka itu adalah tambahan kebaikan di atas kebaikan. Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib kw, sering menyatakan bahwa taqwa itu adalah: “ al-khawf min al-jalil wa al-amal bi at-tanzil wa al-isti’dad li yawm ar-rahil “, yakni rasa takut kepada zat yang Maha Agung, mengamalkan Al-Qur’an dan menyiapkan diri untuk menyambut datangnya hari yang kekal / akherat.  Dengan kata lain taqwa merupakan kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan yang syar’i akan wajibnya dalam mengambil halal-haram sebagai standar nilai bagi seluruh aktivitas hidup dan merealisasikannya secara praktis dan amali di tengah-tengah kehidupan. Wujud dari ke-taqwa-an itu merupakan sesuatu yang mulia, juga mendatangkan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Janji Allah SWT dalam Al-Qur’an pada QS. Ath-Thalaaq ayat 2 “wa may yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrajaa”  yang artinya: “ Siapa saja yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. Lanjut dalam QS. Ath-Thalaaq: 3  “wa yarzuqhu min haitsu la yahtasibu wa may yatawakkal ‘alallaahi fa huwa hasbuhuu innallaaha baalighu amrihii qad ja’alallaahu li kulli syai-in qadraa”  artinya: “Dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dengan tiada terkira. Dan barangsiapa  bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupkannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah menjadikan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.
            Sifat taqwa itu tercermin dalam sikap kesediaan seorang muslim untuk selalu tunduk dan patuh pada hukum Allah, menjalankan semua ketentuan hukum Allah dan meninggalkan semua yang dilarang. Tunduk dan patuh itu merupakan realisasi dari ketaqwaan dan kesalihan personal. Termasuk ber-syariat yang pelaksanaannya bisa dilakukan secara individu dan kelompok, seperti shalat, puasa, zakat, ber-akhlaq mulia, berkeluarga secara Islami, beribadah haji bila mampu, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, ber-muamalah yaitu jual-beli dan sebagainya.

Beramal Sholeh
             Setelah jelas bahwa landasan atau sumber Islam itu yakni Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’, maka dalam hal pemahaman yang shahih adalah pemahaman yang sesuai dengan pemahaman para sahabat, tabi’ien, dan tabi’it tabi’ien. Karena merekalah sebagai generasi ummat yang terbaik, menurut hadits shahih yang menunjukkan: ”Barangsiapa hendak menjadikan teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah SAW. Sebab, mereka itu paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit takallufnya (tidak suka mengada-ada),  paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah kaum yang dipilih Allah untuk menemani NabiNya dan menegakkan Dien-Nya. Karena itu hendaklah kalian mengenal keutamaan jasa-jasa mereka dan ikutilah jejak mereka, sebab mereka senantiasa berada di atas jalan (Allah) yang lurus.”  (HR Ahmad dari Ibnu Mas’ud).              
            Islam yang  benar adalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.  Pemahaman Islam yang benar tersebut adalah yang sesuai amalan Islam, yang landasannya adalah Al-Qur’an, As-Sunnah / Hadits Nabi SAW, dan ijma[2] (kesepakatan) para sahabat. Setelah jelas bahwa landasan atau sumber Islam itu adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’, maka dalam hal sabda Rasul yang artinya: “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (Q.S. Ar-Ra’d :17). Dan karena merekalah sebagai generasi ummat yang terbaik, menurut hadits shahih dari Nabi SAW : “Sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya, dan orang-orang sesudahnya lagi. Lalu akan datang orang-orang yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya(HR Al-Bukhari).   
            Ijma’ sahabat juga dijadikan sumber dalam Islam, karena ada ayat yang mengatakan:  “Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. Dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS An-Nisaa’ : 115). Dari catatan kaki Mukhtashor Tafsir At-Thobari menjelaskan, ayat ini adalah dalil yang jelas atas ulama yang beristidlal (berargumentasi) tentang kehujahan ijma’ (sahnya ijma’ dijadikan dalil). Karena ummat Muhammad ini tidak menghendaki atas kesesatan, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih tersebut. Mengikuti jalan Allah dan Rasul dalam hal beribadah dan beramal tentu dalam keadaan masih hidup dan berada di bumi, karena bila sudah meninggal amalannya akan terputus, terkecuali sedekah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.
            Keseimbangan pada alam semesta yang telah tertata dengan baik dan sempurna, maka alam akan selalu bersahabat dengan manusia karena pada diri manusia telah terbentuk semacam ‘pola tawazun’ atau keseimbangan. Dalam QS. Ar Rahman 7-8 berbunyi: "Langit Ia tinggikan dan diadakan-Nya neraca (keadilan atau keseimbangan) supaya jangan kamu sebagai manusia melampaui batas timbangan". Manusia harus memadukan dan menselaraskan serta mengaplikasikan segenap potensi - potensi nikmat dengan:
1. Selalu berdzikirullah, maka akan merasa selalu diawasi dan dilindungi oleh Allah (muraqabah). Selain itu dengan mengingat dan menyebut-nyebut serta membesarkan nama-Nya, mengikrarkan keesaan-Nya (La ilaha illallah). Sehingga qalbu tunduk dan bersih, kelak menumbuhkan iman yang dapat merundukkan jiwa-raga kehadirat Allah dengan rasa haru, syukur, khusyuk dan tawakal. Merasa selalu tertuju dan terikat dengan karunia-Nya. Untuk selalu dapat mengenal Allah azza wajalla (marifat) dan Rasulullah (dan ulama pewaris), paradigmanya hanya untuk bergerak sebagai abdi-Nya, sehingga merasa mendekat dan terbuka serta memperoleh sinar terang-benderang di bawah cahaya (nuur) Ilahi yang indah yang meraga-sukma, serta menyentuh qalbu membakar nafsu setan untuk mereguk nikmat di dalam mahabbah-Nya, sehingga membuat hati tenang dan yang ada hanyalah nafsu ketuhanan (mutmainnah), yang lain tenggelam menghilang menuju ridha di sisi-Nya. Ilahi Anta maqshudi waridhaka math lubi, A'thini MahabbataKa wa Ma'rifataKa. (Ya Allah hanya Engkau yang kami tuju dan keridhaan-Mu yang kami cari, Berilah kami potensi untuk dapat Mencintai-Mu dan terang dalam Marifat-Mu).
2.Selalu berpikir ilmiah dan amaliyah, merenung serta tafakur, dan mengobservasi ciptaan Allah dari alam mikro-cosmos (alam kecil / buana alit) sampai alam makro-cosmos (alam besar / buana agung), sehingga akalpun kagum dan tunduk akan kebesaran-Nya dan keperkasaan-Nya. Dengan berharap memperoleh ilmu yang akan dapat mengantarkan jati diri manusia kepada tingkat martabat mulia menjadi manusia mukmin sejati. Berada dalam posisi Ilmiyyah-Amaliyyah, beramal sholeh dan berbekal ilmu yang shahih untuk meraih sukses dalam mengarungi bahtera kehidupan. Keseimbangan yang konstruktif disini dapat berfungsi mengeraskan daya tarik samawi (mental-spiritual) dan daya dorong bersifat ardhi (fisik-material). Sedangkan ketimpangan antara dzikir dan pikir akan melahirkan instabilitas dalam kehidupan. Dalam QS. An-Nahl:  97:” Barang siapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya Kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik; dan Kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.
Dalam beramal sholeh, terdapat istilah qiyamul lail yang berarti ‘berdiri atau berjaga malam’, adapun maksudnya adalah orang-orang yang bangun waktu malamuntuk melaksanakan amal ibadah, sholat, berdo’a dan berdzikrullah dengan menyebut-nyebut dan membesar-besarkan nama-Nya, baik secara individual maupun berjama’ah di masjid atau surau. Berjaga malam ini berarti juga menghidupkan waktu malam. Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa shalat Isya berjamaah, maka seolah-olah  dia telah talah berjaga-jaga separoh malam; Dan barangsiapa yang shalat Isya dan Shubuh (fajar) berjama’ah , maka seolah-olah dia telah berjaga-jaga sepanjang malam” (HR. Malik dan Muslim). Nabi SAW menetapkan bahwa sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling diberkati, berikut sabdanya: “Pada setiap sepertiga malam yang terakhir tiba, Tuhan kita akan turun ke langit yang terdekat dan berfirman, Barangsiapa bertanya kepada-Ku, maka akan Kujawab; Barangsiapa berdo’a, maka akan Kukabulkan; Barangsiapa yang memohon ampun, maka akan Kuampuni” (HR. Bukhari). Dalam QS. As Sajdah: 15, 16, 17 & 19, Allah melukiskan orang-orang yang berjaga malam dalam firmannya: “Hanya sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, apabila diperingatkan dengannya, mereka tunduk sujut dan mereka bertasbih dengan memuji Tuhannya sedang mereka tidak sombong. Mereka meregangkan lambungnya dari tempat tidur, mereka menyeru Tuhannya dengan takut dan penuh harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepaanya. Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari penyejuk mata (nikmat) sebagai balasan terhadap apa yang mereka telah kerjakan. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka bagi mereka surga tempat kediaman sebagai anugrah terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.
Kesabaran sebagai perbendaharaan hidup, dalam rangka perjalanan hidup manusia harus bisa bersabar untuk menuju ridha Allah dengan cara mengendalikan desakan hawa nafsu, memilihnya untuk bisa eksis di jalan Allah, termasuk dalam menghadapi berbagai cobaan dan ujian. Firman Allah dalam QS. An Nahl ayat 96 disebutkan: ”Apa-apa yang ada pada kamu akan lenyap dan apa-apa yang di sisi Allah adalah kekal. Dan sungguh Kami memberi balasan terhadap orang-orang yang sabar akan pahala yang lebih daripada apa yang telah telah mereka kerjakan”. Sabar bagi orang beriman merupakan tantangan dan sekaligus ujian dalam berhadapan dengan benturan-benturan kehidupan. Al-Hadits: "Sungguh luar biasa urusan atau perkara orang beriman, seluruh urusannya selalu baik. Bila bencana menimpa pada dirinya maka ia bersabar, hal itu baik baginya. Bila karunia datang kepadanya ia bersyukur, maka hal itu baik baginya”. Salah satu cobaan atau ujian hidup yang dominan adalah masalah keluarga (anak dan istri) dan harta. Allah SWT berfirman, "Ketahuilah bahwa kekayaanmu dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu, Dan bahwa Allah, pada-Nya-lah pahala yang besar” (QS.Al-Anfal : 28). Lalu: "Hai orang yang beriman, di antara istri-istrimu dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuh bagimu. Maka waspadalah terhadap mereka, akan tetapi bila kamu maafkan, kamu tiada marahi mereka, dan ampuni kesalahan mereka, sungguh, Allah maha pengampun, maha penyayang” (QS. At-Taghabun: 14).  Sungguh mulia nan luhur tuntunan Ilahi bagi insan pencari kebenaran yang hakiki dan fitri. Bila manusia mendapatkan atau menghadapi ujian atau cobaan hidup, dengan bersabar dan ketabahan serta dapat mempertahankan atau memadukan fungsi dzikir-pikir dan iman-ilmu-amal, juga ibadah sholat wajib dan sunnah taubat.
Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih pekerjaan yang baik dan makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Banyak ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa  dimasukkan ke surga disebabkan amal sholeh yang dilakukan. Seperti: Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka bagi mereka surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan (Q.S As Sajadah : 19). Lalu: ... tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka Itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga) (Q.S. Saba’ : 37). Dan: ….dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan” (Q.S. Al-A’raf : 43). Juga: ”… masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S. An-Nahl : 32). Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan (Q.S. Adz-Zukhruf : 72).
Manusia akan masuk neraka karena akibat perbuatannya sendiri, jadi harus saling mengingatkan tersebut Q.S. Al-An’am (6)  ayat  70: ”…Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri”.
Dan apapun permasalahan yang dihadapi orang beriman haruslah dikembalikan kepada Allah, yakni dengan mengakui dan menyesali kesalahan serta kealfaan diri, maka semuanya akan selesai, karena tiada lain merupakan takdir Allah. Hubungan hablum-minallah dan hablum-minannas sekaligus, ini dapat mengintrospeksi atau ber-muhasabah dan mengambil pelajaran dari kesalahan serta kealfaan diri tersebut. Dengan berdzikirullah, termasuk sholat taubat dan tahajud serta hajat sesungguhnya sebagai usaha untuk melepaskan ‘cobaan hidup’ yang dialami, agar Allah memantapkan dan menolongnya menjadi hamba mukmin yang ulet, tabah, sabar dan gigih serta istiqamah. Allah berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, sabarlah kamu dan teguhkanlah kesabaranmu (dalam menghadapi musuh) dan bersiap-siagalah (untuk berperang) dan taqwalah kepada Allah agar kamu memperoleh kejayaan” (QS. Ali Imran: 200).
Bila manusia mukmin mendapatkan dan merasakan kesenangan atau kenikmatan hidup, dan dia bersyukur dengan menunjukkan kesadaran akan seluruh nikmat-karunia Allah, karena dengan rahmat-Nya manusia masih diberi hidup dan sehat hingga sampai saat ini. Dengan rahmat-rahim Allah pulalah manusia mukmin masih sanggup menjalani amal-ibadah serta merasa senang, karena Dia masih menolong dan mengayomi orang beriman dalam menghadapi kesulitan hidup. Sikap selalu mempertahankan dzikir-pikir dengan amal-ibadah dan bersyukur serta mengaplikasikan segala potensi dan karunia Allah yang dianugrahkan pada diri manusia untuk dapat membuat kedamaian. Qalbu yang hanya tunduk kepada Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan RasulNya (Ulama pewaris) sebagai pembimbing ruhani dan bersifat metafisik (ghaib) serta menghadapi misteri dalam kehidupan. Akal yang sehat tertuju kepada Allah SWT yang maha mengetahui segala sesuatu yang nyata (Asy-Syahadah) dalam kehidupan. Tubuh yang kuat dapat melaksanakan seluruh suruh Allah yang maha Asy-Syakur atau bersyukur sebagai realisasi dari hablum-minannas akan ‘nikmat hidup’, agar Dia memantapkan dan menolongnya menjadi hamba yang pandai bersyukur, dan Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7: ”Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memberitahukan, ’Sungguh jika kamu bersyukur’, niscaya Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh azab-ku sangat keras”. Hanya dengan beramal sholeh bisa meneguhkan hati dan berdo’a, QS. Al-Baqarah 250: “Ya Allah Robb kami! Limpahkanlah kesabaran atas kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” , dan “Ya Allah Robb-kami! Ilhamilah kami, agar selalu mensyukuri nikmat yang Kau berikan kepadaku dan kepada orangtuaku, dan agar aku melakukan amal saleh yang Kau ridhai, masukanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba – hamba- Mu yang sholeh” (QS. An-Naml : 19).
            Janji Allah SWT bagi orang-orang beriman yang beramal sholeh adalah surga disebutkan dalam firman Allah QS. Al Baqarah ayat 82 berbunyi: “Dan orang-orang yang beriman serta beramal sholeh, mereka itulah penghuni surga. Kekallah mereka di dalamnya“. Dalam praktek amaliyah yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW yang diteruskan oleh para Ahli Dzikir (para Ahli Silsilah / Ulama Pewarisnya / dengan Wasilah-Nya) yang termasuk di dalam tarekat atau ilmu tasawwuf Islam. Hadits menyebutkan Tidaklah mendekat kepada-Ku orang-orang yang berusaha mendekat hanya dengan sebatas pelaksanaan apa-apa yang Saya wajibkan. (Namun), hamba selalu mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnat hingga mencintai-Ku dan Saya mencintainya. Jika Saya mencintainya, maka Saya baginya adalah pendengaran dan penglihatan. Dengan Saya dia melihat dan dengan Saya dia mendengar” (HR. Abu Hurairah, Imam Bukhari, Al Hakim, At-Turmudzi). Amal-ibadah yang berhubungan kepada Allah SWT (habluminnallah) tersebut tidak bisa dengan berupa “hanya titip salam” atau “diwakilkan dengan membayar orang lain” dalam pelaksanaannya terutama dalam bertaubat, dzikir dan shalat, semua itu harus dikerjakan sendiri dengan aturan yang benar.
            Dalam QS. Al-Najm ayat 36-41 dikatakan: ”Belumkah manusia diberi tahu tentang ajaran dalam lembaran-lembaran suci Nabi Musa, dan ajaran Nabi Ibrahim yang setia, bahwa seseorang yang berdosa tidak akan menanggung dosa orang lain, dan bahwa manusia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali yang dia usahakan sendiri, dan usahanya itu akan diperlihatkan kepadanya dan kemudian akan dibalas dengan balasan yang setimpal”. Jelas disini tanggungjawab manusia di akherat nanti penekanannya bersifat pribadi. Al-Qur’an memperingatkan: “Wahai manusia, kamu harus hati-hati, waspada, dalam menghadapi hari ketika saat itu tak seorangpun bisa membantu orang lain, dan ketika itu tidak diterima perantaraan (syafa’at), dan ketika pada saat itu juga tidak diterima tebusan”.
            Untuk itulah orang Islam agar bertanya kepada ahlinya seperti diterangkan dalam QS. An Nahl: 43 “Fas aluu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun” yang artinya: “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahuinya”. Peramalan tersebut bersumber dari pada kehidupan Rasulullah sebelum dan sesudah” menjadi Rasul, semua itu juga merupakan pancaran ilham dan wahyu dari Allah SWT.

Dzikirullah

Dzikrullah, berasal dari bahasa Arab ‘dzikr’ yang artinya mengingat, mengucap atau menyebut, dan apabila dikaitkan dengan Islam sebagai dzikrullah yaitu mengingat dan menyebut nama (asma) Allah SWT.
Hukum dasar dari amaliyah itu berupa dzikir yaitu mengingat Allah yang memang ada dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab sebagai berikut: “Ya ayyuhal ladzina aamanudz kurullaaha dzikran katsiira. Wa sabbihuuhu bukrataw wa ashiilaa” artinya: “Wahai orang-orang yang beriman berdzikirlah (ingatlah) kamu kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya(ayat 41) Dan ber-tasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang  (ayat 42). Juga dalam QS. Al Baqarah: 152 “Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruullii walaa takfuuruun” artinya: “Dzikir-lah kamu kepada-Ku, niscaya Aku dzikir kepadamu, bersyukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari akan nikmat-Ku”. Disebutkan pula dalam QS. Al A’laa:14 – 15 “Qad aflaha man tazakkaa. Wadzakaras marrabbihii fashallaa” artinya: “Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya. Dan dzikirlah akan Allah, lalu tegakkan shalat”. Dalam QS. Al Jinn: 16-17: “Seandainya mereka istiqamah di atas Thariqah niscaya Kami beri minum mereka dengan air yang melimpah (karunia yang banyak); untuk Kami uji mereka di dalamnya, dan barang siapa tidak mau berdzikir kepada Tuhannya, niscaya Dia menimpakan azab yang sangat pedih”. Dan ditegaskan lagi oleh Allah bahwa dzikrullah merupakan amalan yang paling akbar dengan firmannya: wa ladzikrullaahi akbar, “Dan sungguh dzikrullah itu maha akbar” (QS. Ankabut: 45). Mengenai kedudukan sebagai amalan terbaik disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dengan sanad hasan: ”Maukah kalian kuberitahu amal yang paling baik untuk kalian, amal yang paling suci di sisi Tuhan kalian, amal yang paling mengangkat derajat kalian, amal yang paling baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan amal yang paling baik bagi kalian daripada menghadapi musuh di medan jihad yang kemudian kalian dan musuh kalian saling menebas leher ?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah” Nabi bersabda:”Dzikrullah[3] Rasulullah pun bersabda pula: ”Hendaklah lidahmu basah karena mengngat Allah” (HR. Tirmidzi). Bahkan dalam kegiatan apapun dianjurkan untuk selalu berdzikir, sebab tanpa dzikir sesuatu itu yang akan dihasilkan sia-sia belaka, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap sesuatu yang tidak disertai dzikir kepada Allah  adalah perbuatan main-main dan kesia-siaan, kecuali empat hal: a) suami bercanda dengan istrinya, b) orang yang melatih kudanya, c) orang yang berlatih memanah, dan d) orang yang berlatih berenang” (HR. An Nasai). Untuk itulah orang yang beriman berusaha untuk mendekatkan diri dan melalui jalan Allah agar rahmat dan anugrah-Nya dapat segera diraih. Sabda Rasulullah SAWTak seorangpun akan masuk surga oleh amalnya”, Sahabat bertanya: ”Tidak juga engkau hai Rasulullah?”. Beliau menjawab:”Akupun juga. Kecuali Allah melimpahkan anugrah dan rahmat kepadaku. Karena itu, usahakanlah kamu benar dan istiqamah dan bersahajalah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lebih lanjut beliau Nabi SAW bersabda: “Apabila kalian melewati pertamanan sorga, maka ikutlah meramaikannya !” Ditanyakan: “Apakah pertamanan sorga itu ? Rasulullah bersabda: “ Majelis-majelis dzikir” (HR. Anas bin Malik – At-Turmudzi). Dalam Hadits-hadits lainnya disebutkan yang artinya sebagai berikut:  “ Hai manusia, merumputlah kalian di kebun surga! Kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa kebun surga itu? Beliau menjawab: “Majelis dzikir, Kalian makan pagilah (dengan dzikir), makan sore dan berdzikir. Barangsiapa cinta mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka pandanglah bagaimana kedudukan Allah di sisinya (dihatinya). Sesungguhnya Allah turun pada hamba menurut turunnya hamba di sisin-Nya” (HR. Abu Hurairah dan At-Turmudzi). Hadits berikutnya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mempunyai malaikat-malaikat yang berkelana di Dunia, selain makhluk. Apabila mereka melihat majelis-majelis dzikir, sebagian mereka memanggil sebagian yang lain - Kemarilah kepada kebutuhan kalian !, maka berdatanganlah para malaikat itu dan mereka mengelilingi majelis dzikir, serta mendengarkan.  Ingatlah ! Ber-dzikir kepada Allah dan ingatlah diri kalian”.[4] Hadits yang diriwayatkan Abi Dzar radliyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda: “Menghadiri majelis dzikir itu lebih utama daripada shalat seribu raka’at, menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada menengok seribu orang sakit dan menghadiri majelis ilmu adalah lebih utama daripada menyaksikan seribu jenazah”. Ada yang bertanya: ‘Ya Rasulullah ! Bagaimana kalau dari membaca Al Qur’an ?Rasulullah bersabda: ‘Adakah bermanfaat membaca Al Qur’an, kecuali dengan “ilmu‘Athaa rahimahullah berkata: “Majelis dzikir itu dapat melebur tujuh puluh majelis main- main”.[5]  Sabda Rasulullah berikutnya :  “Ingatlah, Saya akan memberitahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling sucinya amal kalian di sisi Raja kalian, paling tingginya amal kalian dalam tingkatan beberapa derajat, dan  paling baiknya pemberian daripada emas dan perak. Jika kalian bertemu musuh-musuh kalian, maka kalian memukul leher-leher mereka dan mereka (ganti) memukul leher-leher kalian! Para sahabat bertanya: “Apa itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Dzikrullah”. (HR. Al Baihaqi dari Ibnu Umar).[6] Karena tingginya dimensi dzikir dalam hadits disebutkan:  “Hari kiamat tidak akan datang kepada seseorang yang mengucap Allah, Allah” (hadits ini diriwayatkan Anas bin Malik dan dikeluarkan Imam Muslim no: 148 tentang iman bab ”Hilangnya Iman di Akhir Zaman”). Juga dalam hadits:  “Kiamat tidak akan terjadi sampai di bumi ini hingga tidak ada yang mengucapkan Allah, Allah”  (HR. Anas bin Malik dan dikeluarkan oleh At-Turmudzi ).
             Keistimewaan dzikir tidak dibatasi waktunya, bahkan tidak ada waktu kecuali seorang hamba diperintah dzikir, baik bersifat wajib atau sunnat. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran:190 -191 artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam adalah tanda-tanda bagi orang yang berfikir, (yaitu) Orang-orang yang mengingat (dzikir) Allah, baik dengan berdiri, duduk, dan (atau) berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi”. Dengan dzikrullah seorang hamba bisa menyelamatkan dari gangguan atau godaan setan yang menjadi musuh nyata manusia, seperti ditegaskan oleh Nabi SAW: ”Seorang hamba tidak akan bisa melindungi ‘diri’-nya dari setan kecuali hanya dengan dzikrullah” (Shahih Ibn Hibban XIV:125 dan Sunan At Tirmidzi V:148).
            Di kalangan penganut terekat ada yang menyebut kata Huwa sebagai hu (terdengar) sebagai amalan dzikir, sedangkan di hati terukir goresan yang bermaksud Dia Allah, jelas dihalalkan dalam syari’at dan akan memberi pengaruh positif pada sang pelakunya atau pengamal. Kelompok Naqsyabandi juga meyakini bahwa goresan hati mereka yang menyebut Dia Allah ketika mulut mengatakan Huwa (hu) pasti akan diganjar sebagai sebuah ibadah atau amalan di sisi Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, bila melalui saluran atau metode yang benar. Ilustrasi ini jelas tergambar pada peristiwa Bilal bin Rabah, Muadzin Nabi yang mulia pada saat menerima siksaan dari Umayyah bin Khalaf dan antek-anteknya. Beliau dijemur di padang pasir yang terik seraya dicambuk terus menerus. Namun saat itu hati (qalbu) beliau tetap teguh mengingat hanya Dia Allah tidak ada yang selain itu. Sementara mulut beliau tiada hentinya mengucapkan Ahad .... Ahad.... Dalam pandangan kelompok wahabi / salafy, yang secara hukum syari’at sebenarnya hal ini dianggap salah, apakah kelompok wahabi / salafy berani menyalahkan beliau ? Sebab menyebut nama Allah semestinya dengan memakai harfun nida’ (kata seru) “ي (YA)”. Jadi semestinya Sayyidina Bilal harus menyebutkan “Ya Ahad...Ya Ahad” atau “Allahu Ahad ....Allahu Ahad” bukan “Ahad...Ahad” saja. Tetapi kenyataannya, Sayyidina Bilal tetap hanya menyebutkan Ahad Ahad saja, bukan?  Perbuatan Sayyidina Bilal ini sesuai dengan hadits Nabi: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan harta kamu, tetapi Allah melihat hatiI-mu dan amalmu . Artinya meskipun di mulut secara dzahir beliau hanya mengucapkan Ahad Ahad, namun hati beliau, sekali lagi hati beliau dengan tegas dan nyata menggambarkan bahwa yang dimaksud adalah Allahu Ahad- Allahu Ahad ! Demikian juga serupa dengan mengucap Allah ... Allah...Allah. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam justru memuji dzikir yang dilakukan Bilal saat itu, bahkan menjamin beliau dengan imbalan surga kelak di Akherat. Tidak sedikit pun Nabi SAW mengkoreksi ucapan Bilal tersebut, apalagi menuduh Sayyidina Bilal melakukan amalan bid’ah. Padahal Nabi sendiri tidak pernah mengajarkan sayyidina Bilal untuk berdzikir Ahad..Ahad, seharusnya, amalan Sayyidina Bilal ini bid’ah menurut paham wahabi / salafi, pasalnya Sayyidina Bilal ini dianggap telah lancang dan terlalu berani membuat sebuah amalan yang tidak dibuat atau diajarkan oleh Nabi SAW). Di sisi lain Umayyah dan Abu Lahab berserta antek-anteknya pun memahami ucapan Bilal .. Ahad ... Ahad (yang berarti satu ... satu atau Esa ... Esa) itu dimaksudkan adalah  Allahu Ahad ... Allahu Ahad. Sehingga kemarahan mereka semakin memuncak dan berujung kepada siksaan yang lebih dahsyat mereka jatuhkan kepada Sayyidina Bilal. Dahsyatnya, kelompok mereka yang sejak dulu sampai sekarang ini tidak dapat memahami jenis-jenis dzikir seperti ini. Bukankah ini berarti lebih pandai mengkoreksi amal ummat Islam dan menuduh sesat alias bid’ah amalan kaum muslimin di luar kelompoknya, dibandingkan pula dengan diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada bersabda: “Aku diutus membawa agama yang cenderung kepada perkara yang haqq dan penuh toleransi !
            Shalat meski kedudukannya sebagai ibadah yang paling mulia, namun dalam waktu-waktu tertentu tidak boleh dilakukan. Sedangkan dzikir dilakukan sepanjang waktu dalam berbagai keadaan. Pelajaran dalam Al Qur’an itu seharusnya dikaji untuk dimengerti dan diamalkan atau dikerjakan, tidak hanya untuk dibaca-baca saja seperti fiman Allah dalam Surat Yaasiin: 69 “Wa maa ‘allamnaahusy syi’ra wa maa yambaghii lahuu in huwa illa dzikruw wa qur-aanum mubiin” artinya: “Dan kami tidak mengajarkan sya’ir kepadanya (Muhammad) dan tidak lah pantas baginya (Al Qur’an tidak lain hanyalah pelajaran / kajian, terkecuali dzikir / ingat Allah), berupa peringatan dan Al Qur’an yang amat terang”.              Keutamaan dzikir sebagai berikut: a) sebagai tanda cinta Allah,  b) sebagai tanda beserta Allah, c) sebagai tanda mempunyai martabat yang tinggi, d) tanda lebih utama dari jihad (fi sabilillah), e) tanda tak kalah dari pahala sedekah, f) sebagai tanda harta yang tak ternilai harganya, dan g) tanda akan berbalas masuk surga. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam beberapa hadits: ”Tanda cinta Allah adalah menyukai dzikrullah (dzikir kepada Allah) Dan tanda kebencian Allah adalah membenci dzikrullah azza wajalla” (HR.Baihaqi dari Anas ra). “Allah ta’ala berfirman, Aku bersama hamba-Ku apabila ia menyebut nama-Ku” (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Ibnu Hiban). “Akan selalu ada di antaramu orang-oprang yang mengingat Allah seraya duduk di atas hamparan-hamparan, sehingga mereka dimasukkan ke dalam martabat yang tinggi” (HR. Ibnu Hiban dari Abu Sa’id ra). “Seandainya seseorang memukulkan pedangnya kepada orang kafir dan musyrik hingga patah dan berlumuran darah, tentulah orang-orang yang berdzikir kepada Allah lebih utama daripadanya” (HR. Tirmidzi dari Abi Said Al Khudri ra). “Sekiranya seseorang mempunyai beberapa dirham yang dapat disedekahkan dan yang lain mengingat Allah, sesungguhnya yang mengingat Allah itu lebih baik” (HR.Thabrani). “Harta yang tak ternilai harganya adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri beriman yang mampu menegakkan keimanan suaminya” (HR. Ibnu Majah  dan At Tirmidzi). Dan “Abdillah bin ‘Umar bertanya kepada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, apakah balasan bagi majelis-majelis dzikir itu ? Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Balasan bagi majelis-majelis dzikir adalah surga” (HR. Ahmad).
            Undang-undang Al Qur’anul Karim adalah kitab yang berlaku bagi orang-orang yang ruhaninya sudah suci dan hidup. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut dalam QS. Yaasiin: 70, “Li yundzira man kaana hayyaw wa yahiqqal qaulu ‘alal kaafiriin” artinya: “Dia (Muhammad) agar memberi ingat kepada siapa-siapa yang hidup hatinya; dan tetap la hukuman  /  siksa buat orang-orang yang ingkar”. Tersebut dalam QS Al Waqiah: 77 – 81 “Innahuu la qur-aanun kariim, fii kitaabim maknuun, tanziilum mir rabbil ‘aalamiin. A fa bi haadzal hadiitsi antum mudhinuun” yang artinya: “Sesungguhnya Kitabullah (Al Qur’an) yang paling mulya adalah kitab suci yang disembunyikan, yaitu Al Qur’an yang tidak bisa disentuh kecuali orang-orang yang hatinya sudah suci.  Salah satu kalamullah yang datang dari Allah Tuhan semesta alam. Bisakah kamu cerita, kalau ini pekerjaan mudah ?
            Selanjutnya pendidikan budi pekerti dalam Islam dilakukan melalui jalan tarekatullah (dalam ilmu tasawwuf) sebagai metode atau melalui suatu “pendidikan ruhani” yaitu dengan dzikir, wirid (dzikir bersama), melaksanakan I’tikaf / Suluk yaitu mengintensifkan dzikirullah dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga Allah sendiri yang mencerdikkannya dan memberi petunjuk sebagai ilmu Laduni yang akhirnya membuahkan ahlaqul karimah.
            Iman dan taqwa saja tidaklah cukup untuk menjadikan orang yang berilmu dan ber-akhlaq mulia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah malu dan buahnya adalah imu”  (HR. Al Hakim)[7] 
[1] Departeman Agama, 1999, Hal. 157-158
[2]  Mukhtashor Tafsir At-Thabari, juz 1, hal 171
[3] Musnad Ahmad, V : 239
[4] Imam Al Ghazali , Ihya ‘Ulumuddin , suntingan KH.M Zainul  Musthofa, CV. Bintang, Pelajar,
     hal. 110
[5] Imam Al Ghazali , Ibid, hal  112
[6] Risalah Qusyairiyah: Sumber Kajian Ilmu Tasawuf, Umar Faruq (penyadur) Pustaka
     Amani,Jakarta,  2002: hal. 317.
[7] Al Ghazali , Ihya ‘Ulumuddin , ( KH. Zainul  Musthofa), CV. Bintang Pelajar,1989. Hal. 17                                                                   

 
MENGINTENSIFKAN  PERAMALAN
Ada kecenderungan banyak ummat Islam cenderung mengabaikan I’tikaf, buktinya hanya sebagian kecil tak sampai 10% jema’ah suatu masjid/Surau/Pengajian melakukan ibadah sunnah yang tergolong sunnah muakkadah (utama) itu[1]. I’tikaf disebut juga Suluk atau khalwat yakni secara syar’i sekelompok jema’ah ummat Islam yang berdiam diri di masjid dan sibuk melakukan dzikrullah (mengingat Allah), atau surau yang ditentukan oleh Guru Mursyid dalam melaksanakan peribadatan syariat Islam dan amal sholeh (peramalan dzikrullah) yang bersifat jasmani dan ruhani selama 10 hingga 40 hari.
         Pada saat inilah, seorang muslim berangkat memenuhi panggilan Allah dengan menjalani i’tikaf / suluk, yang sebelumnya telah tumbuh subur pertanyaan tentang Allah dengan kegalauan lalu bertanya “Siapa diriku sebenarnya?”. Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Nabi Musa as., dan sebagaimana diketahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya. Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir.
 Dalam mengikuti i’tikaf atau berkhalwat hanya menyibukkan diri selama 10 - 40 hari, dengan berbagai kegiatan ibadah dan beramal dari pagi, siang sampai  malam. Orang-orang yang i’tikaf harus memahami bagaimana melindungi diri mereka dari semua bisikan setan yang negatif di telinga, hati dan pikiran serta perbuatan dengan memohon perlindungan Allah, Rasulullah (pewarisnya / Guru-Mursyid).
          Seringkali manusia dihampiri berbagai pertanyaan-pertanyaan, misalnya seperti untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa datar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Merasa banyak melakukan dosa dan ingin bertaubat? Atau hanya pergantian episode senang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya? Semua ini mulai muncul dan terlitas di hati. Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ manusia (hai.... orang beriman/percaya!) untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini. Allah terkadang membuat kita terus-menerus gelisah, atau terus-menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan hidup saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian diri? Mencari akan kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq? Percayalah, Allah akan selalu menurunkan taufik, hidayah, dan pancingan-pancingan pada manusia untuk kemudian mencari-Nya. Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu. Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan. Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari, maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa, misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang maha raja yang terbesar sepanjang sejarah, Sethi I. Hidup dalam kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu ‘galau’ ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Kisah Musa as., sebagaimana juga semua manusia yang sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya dan dibekali kegelisahan dalam rangka pencarian akan  kebenaran. Bibit-bibitnya memang ada. Allah, menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu dengan menyiramkan ’air kebingungan’ yang lebih besar lagi. DipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh, dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil, keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya. Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang. Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya. Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram hingga subur oleh Allah dengan air kegalauan: “Siapa diriku sebenarnya?”. Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya. Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026)
          Maka dari itu, sahabat-sahabat, jika ada diantara anda yang mungkin ingin sekali bertemu seorang guru sejati, atau seorang mursyid yang Haqq untuk minta bimbingannya, maka terlebih dahulu anda harus benar-benar mencari Allah, mencari kebenaran, mencari Al-Haqq. Pertanyaan “Siapakan aku? Untuk apa aku diciptakan?” harus benar-benar telah tumbuh dalam diri kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak demikian, atau jika belum merasa benar-benar membutuhkan, percayalah, tidak akan ada seorang mursyid sejati yang akan mengutus anak-anaknya untuk menjemput anda. “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, bukan semata-mata artinya “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Kata ” ‘Arafa”, juga “Ma’rifat,” berasal dari kata ‘arif, yang bermakna ’sepenuhnya memahami’, ‘mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya’; dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh). Jadi, kurang lebih maknanya adalah “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya”. Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu. Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita, maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’. ‘Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal– perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimat yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah”, Awalnya diin adalah ma’rifat (meng-’arif-i) Allah, sebagai awal menjalankan agama adalah mengenal Allah lebih dahulu lalu mempercayai /beriman dan taat /taqwa.
Seringkali manusia disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan, mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir, atau kenyamanan lain bersama keluarga. Sangat sering pula muncul pertanyaan-pertanyaan esensial seperti halnya  potensi pencarian kebenaran yang dibawa sejak lahir, ketika kanak-kanak sangat nyata, semuanya terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu berubah menjadi dewasa, terkadang ketika tua dan tak berdaya pemikiran dan pertanyaan itu muncul kembali dan itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang Dia bekali untuk manusia sejak lahir. Dan jangan biarkan semua itu menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan. Ketika manusia tenggelam dalam urusan dunia seperti itu, bahkan tidak menyadari bahwa kehidupannya berputar-putar saja dari hari ke hari. Pergi bekerja (mencari nafkah), belajar, mengejar karir, pergi pagi dan pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu manusia hidup? Bukankah manusia tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja dan  tanpa makna? Celakanya, kebanyakan manusia mencetak anak-anaknya untuk mengikuti pola yang sama. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi pusaran-putaran tanpa makna yang pernah ditempuh. Sangat jarang orang yang masih memiliki potensi pencariannya akan Allah dan belum tenggelam. Dalam hal ini, jika masih saja gelisah mencari makna kehidupan, maka kegelisahan tersebut merupakan hal yang perlu disyukuri, dan segera mencarinya. Berapa banyak manusia yang masih mau mendengarkan kegelisahannya sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia saja. Dia ‘menjerit’ ingin mencari Al-Haqq, dan ‘rembesannya’ kadang naik ke permukaan dalam bentuk kegelisahan. Dengan demikian diperlukan suatu usaha pencarian yang dapat memberi petunjuk dan bimbingan serta pencerahan, sehingga Ia menemukan kembali visi dan misi dalam hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan makna untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026)
Firman Allah SWT melaksanakan i’tikaf / suluk / halwat terdapat dalam Q.S. Al A’raaf: 142 “Wa waa’adnaa muusaa tsalaatsiina lailataw wa atmamnaahaa bi ‘asyrin  fa tamma miiqaatu rabbihii arba’iina lailataw “ artinya: Dan telah kami janjikan kepada Musa (memberi Taurat setelah Riazhah / Suluk ) tiga puluh malam dan kami sempurnakan sepuluh (malam lagi). Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya (Musa) empat puluh malam”. Dalam Q.S. Al Baqarah : 125 yang berbunyi “Wa ‘ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa’iila an thahhiraa baitiya lith thaa-ifiina wal ‘aakifiina war rukka’is sujuud” artinya: Dan kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yang thowaf, yang i’tikaf dan yang ruku’ sujud (sholat)”. Ber-i’tikaf yakni berdiam di masjid / surau untuk beramal dan beribadah, Aisyah ra. menuturkan: Rasulullah SAW biasa ber’itikaf sepuluh (malam) yang terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau ber’itikaf juga sepeninggal beliau“ (HR.Bukhori dan Muslim). Lalu hadits lainnya berkenaan masalah halwat ini yakni “Nabi Muhammad SAW diberi kesukaan menjalankan khalwat (bersunyi-sunyi) di gua Hira’, lalu bertahanus di dalamnya, yaitu beribadat beberapa malam yang tidak sebentar” (HR. Bukhari)[2][3]
Dalam pelaksanaan i’tikaf, diakui memang banyak orang Islam yang belum mengerti dan mengetahui serta bisa saja menghalanginya, QS. An Naml ayat 4 menyebutkan bahwa Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada negeri akherat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Dan QS. Az Zukhruf ayat 78: “...kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu“.
Di tempat yang telah ditentukan seperti masjid atau surau (rumah suluk) tersebutlah, mereka-mereka yang i’tikaf  berusaha dan melatih diri (riadhah), berjuang (mujahadah), melepaskan diri dari hawa nafsu dan kebendaan yang merupakan hijab antara diri dengan Tuhannya. Juga mengintensifkan peramalan dzikrullah (training centre) dengan meningkatkan ilmu tentang ke Tuhan-an, sehingga memperoleh ilmu laduni yaitu Allah sendiri yang memberi pelajaran dan mencerdikkannya, sehingga memperoleh semacam ‘kaji rasa’ yang setiap orang tidak selalu sama atau bahkan bisa berbeda sama sekali, sesuai dengan pengalaman hidup pribadinya masing-masing. Disinilah kita dapat mengenal akan sesuatu dari bentuk perkampungan akherat agar untuk bisa lebih percaya (iman) pada hari akhir dengan keikhlasan, dan untuk introspeksi diri serta mengambil pelajaran dan manfaat. Mereka-mereka yang i’tikaf itu seakan keluar dari kuburnya (kelambunya) dan dikumpulkan, dimana wajah-wajah mereka seperti bulan, pada bulan purnama, mereka ini melewati shirat seperti kilat menyambar. Lalu ada pemanggil yang memanggil di hadapan dzat Yang Maha Penyayang. Mereka ini adalah orang-orang yang beramal sholeh dan menjauhi kemaksiatan, serta menjaga sholat lima waktu dengan berjama’ah, mereka “mati hakekat” (patuh) dalam keadaan bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah surga (mereka dalam) pengampunan, keridhaan dan rahmat serta kenikmatan, karena sesungguhnya mereka ini sama ridha pada Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala (juga ridha) kepada mereka. Dalam QS. Yusuf: 109-111 disebutkan: ”Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul) dan sesungguhnya kampung akherat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memikirkannya? (109). Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa (110). Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (111)”.  Dalam Al Israa ayat 9 -10, 15, 18 - 21: ”Bahwa sesungguhnya Al Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan membawa kabar gembira untuk orang-orang mukmin yang beramal sholeh, sesungguhnya bagi mereka pahala yang besar (9). Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih (10). Bacalah bukumu. Cukuplah engkau sendiri pada hari ini menghitung (amal)mu (15). Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha untuk itu dengan sungguh-sungguh dan dia mukmin, maka mereka itulah yang usahanya disyukuri (diterima) (19). Kepada setiap golongan ini dan golongan itu Kami bantu dari pemberian Tuhanmu. Dan tidaklah pemberian Tuhanmu itu dihalangi (20). Perhatikanlah, bagaimana Kami melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya akhirat itu lebih besar (tinggi) derajatnya dan lebih besar keutamaannya (21)”.
Kampung akherat ini pemimpinnya adalah Wali - Mursyid, yang memberikan petunjuk / contoh / praktek keteladanan dalam ber-adab, beribadah dan beramal sholeh, juga menekankan perlunya berjama’ah dan  bersilaturrahim untuk jalinan ukhuwah serta komunikasi yang terpimpin dan terjaga, secara persaudaraan dan kekeluargaan serta persahabatan.
Di dalam merabith itu yang diamalkan adalah dzikir khafi. Perbandingan antara dzikir dzahar dengan dzikir khafi adalah 1 : 70. Sesuai dengan hadist Nabi : Dari Aisyah r.a. Rasulullah SAW bersabda : “Dzikir yang tidak didengar oleh malaikat Hapazah (khafi) itu pahalanya lebih banyak dari pada dzikir yang didengar oleh malaikat hapaszhah ( jahar ) dengan lipat tujuh puluh kali”. Dalam ber-dzikir atau mengingat Allah, menyebut-nyebut Allah, diutamakan dengan dzikir yang tidak didengar oleh para malaikat. Disamping itu dalam melaksanakan dzikir khafi ini diutamakan berjamaah, sesuai dengan hadist Nabi : “Telah duduk suatu kaum dengan mengingat Allah SWT, maka melingkungi akan mereka malaikat-malaikat dan meliputi akan mereka rahmat dan Tuhan mengingat mereka pada sisiNya:”. (HR. Imam Muslim). Amalan ini hanya bisa dilaksanakan didalam I'tikaf atau khalwat atau tahnuts atau suluk di suatu halqah atau surau tempat sesuai dengan hadist Nabi: ”Apabila kamu melalui taman-taman surga, maka ikutlah atau masuklah kamu kepadanya. Bertanya salah satu sahabat : Apakah taman-taman surga itu ( ya Rasulullah? ) Sabda Rasul : Yaitu halqah-halqah dzikir. (HR. Ahmad dan Tarmizi).
 Jadi dalam hal ini Rasulullah SAW bukan belajar ruhani tetapi pelajaran utama adalah merabit, menyatukan ruhani atau mengingat Allah SAW. Sesungguhnya para Nabi dan Ulama pewaris ilmu Rasulullah atau Wali tidaklah mati tetapi tetap hidup abadi disisi Allah SWT dan terus membimbing ummatNya. Para Wali atau kekasih Allah SWT itu mempunyai 5 macam nama  yaitu: 1.Wali Qutub, 2. Wali Ghaust, 3. Wali Akhyar, 4. Wali Al-Futoh, dan 5. Wali Afdhal.
Apabila seseorang telah menetapkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,  maka sebaiknya Ia segera untuk mengikuti I’tikafKitab Mizan menyebutkan: “Tidak benar bagi seorang hamba sampai ke maqam yang tinggi melainkan dengan salah satu dua perkara: Adakalanya dengan mabuk ke Tuhan-an dan adakalanya dengan suluk atas tangannya Para Syaikh Shiddiq.[4]  Jika ada manusia terlihat dalam keadaan mabuk, padahal tidak ada sesuatu yang menyebabkan memabukkan (mabuk ketuhanan) atau seperti terlihat tersiksa (sedih), bagaikan anak-anak yang terlihat beruban atau wanita hamil yang melahirkan anak bayi berjenggot (walau sudah tua baru sadar bertaubat, ibarat kembali seperti anak-anak), sebagaimana juga  akan dirasakan firman-firman Allah sebagai berikut:
1) surat Al-Muzammil ayat 17: “Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu, jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban”.
2) surat Azzumar ayat 73: “Tidak ada siksa atas mereka, melainkan satu teriakan saja”.
3) surat Al-Zilzalah ayat 4: “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya”.
4) surat An-Nur ayat 24: “Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.
5) surat Yasin ayat 65: “Dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.
6) surat Al-Infithar ayat 10, 11 dan 12: ”Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (disisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
7) surat Al-Jaatsiyah ayat 29: ‘Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar”.
 Dikatakan dalam hadits: “Setiap hari ada pemanggil; Aku adalah hari yang baru, dan apa yang kamu kerjakan (lakukan) aku menyaksikan(nya)”. Diceritakan dari Abu Dzrain ra. Sesungguhnya ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidak ada dari seorang mukmin kecuali baginya mempunyai (catatan) buku baru, tatkala buku itu digulung dimana didalamnya tidak ada (bacaan) istighfar, maka buku itu menjadi gelap. Dan tatkala buku itu digulung dimana didalamnya terdapat (bacaan) istighfar, maka buku itu mempunyai nur yang bercahaya”.  Kitab lainnya ada yang menyebut: “Berbohonglah orang yang mengaku cinta kepada-Ku apabila malam telah larut dia tidur jauh dari pada-Ku. Apakah setiap orang yang bercinta tidak suka bersunyi-sunyi dengan kekasihnya ?”.[5] Juga terdapat dalam kitab lain yang bunyinya kurang lebih sama (Firman Allah dalam sebuah kitab yang diturunkan kepada Rasul terdahulu).[6]
 Dalam menempuh perjalanan sufi ini diperlukan kesabaran-kesabaran dalam menghadapi ujian bala’, Nabi SAW bersabda: ”Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian bala’ dan sesungguhnya siapa yang ridha (sabar) maka akan mendapatkan keridhaannya Allah, dan barangsiapa yang murka (tidak sabar) maka patutlah mendapat murka Allah[7]
           Peramalan dzikrullah diintensifkan, dinafikan, secara terus menerus selama waktu yang ditentukan dalam i’tikaf. Dalam Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 205 yang artinya: ”Sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan rasa rendah diri dan rasa takut dengan tiada bersuara, pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. Dzikrullah adalah sentral amaliah jiwa hamba Allah yang beriman, merupakan keseluruhan dari getaran hidup yang digerakkan oleh qalbu dalam totalitas ilahiah. Totalitas inilah yang dapat mempengaruhi setiap aktivitas, gerak-laku, semangat, tutur kata, kedudukan hamba, kontemplasi dan istirah dalam tidurnya. Al-Qur’an mengungkap lebih dari 200 ayat yang menyebut kata yang berakar dari dzikir, yang semuanya bermuara pada proses dzikrullah itu sendiri. Dzikrullah adalah gambaran berkait dengan usaha peningkatan kualitas iman, disamping untuk menyongsong manfaat yang dijanjikan Allah SWT dan dapat mengembalikan kesadaran akan eksistensi sebagai seorang hamba. Dengan ber-dzikrullah muncul efek ketenangan jiwa, pencerahan ilmu pengetahuan dan efek psikologis yang positif serta melahirkan harapan-harapan akan anugrah (karunia) Allah, dapat pula mengubah etika dan akhlaq kearah yang lebih baik serta tindakan preventif terhadap kemungkaran-kemungkaran. Pentingnya dzikir dalam hadits dikatakan bahwa Malaikat Jibril a.s berkata kepada Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah SWT berfirman: “Aku berikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Ku-berikan kepada ummat yang lain”. Kemudian Rasulullah SAW bertanya:”Apa itu wahai Jibril ?Jibril menjawab: ”Firman Allah, ingatlah (dzikir) kepada-Ku, Aku pun ingat (dzikir) kepadamu, Allah yang Esa tidak pernah berfirman kecuali kepada ummat ini”. Wahana dzikrullah berada dalam posisi yang penting, namun memiliki pengalaman yang bersifat individual, dimana perolehan perorangan yang satu dengan lainnya berbeda-beda, sesuai dengan kadar serta tingkat maqam spiritualnya. Dalam ber-munajat pada proses dzikirullah dan untuk mengagungkan namaNya diperlukan bimbingan ruhani dari seorang Wali yang Mursyid (QS. Al-Kafi : 17) yang telah mencapai Kamil Mukamil (sempurna dan dapat menyempurnakan yang lain). Para sahabat (khulafaur Rosyidin) sebelum berdzikir selalu ber-tawassul (ber-wasilah) kepada Rasulullah SAW, demikian pula para Wali, Ulama, Guru spiritual (Mursyid) dan Sufi serta orang beriman lainnya. Tawassul dengan para Nabi dibolehkan dengan ijma^ (kesepakatan) ulama. Tawassul ialah memohon kepada Allah akan kedatangan suatu manfaat (kebaikan) atau penghindaran pada suatu mudarat (keburukan) dengan menyebut nama seseorang Nabi atau Wali untuk memuliakan mereka disertai dengan iktikad bahwa hakikatnya hanya Allah sajalah yang mendatangkan mudarat dan manfaat. Allah ta^ala berfirman yang maknanya: “Kamu carilah perkara-perkara yang boleh mendekatkan diri kamu dengan Allah”. (QS. al-Ma'idah: 35). Dalam satu hadits ada satu peristiwa yang disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengajar seorang buta bertawassul dengan Baginda. Setelah orang buta itu bertawassul bukan di hadapan Rasulullah SAW, maka Allah SWT mengembalikan penglihatannya seperti semula. Hadits yang menceritakan peristiwa ini diriwayatkan oleh al-Tabrani dan hukum hadits tersebut kata beliau sebagai sahih. Bagaimana dengan tawassul kepada Wali Allah ? Tidak ada seorang pun di kalangan orang-orang yang berada di jalan kebenaran (Ahlu`l-Haqq) melingkupi generasi salaf dan generasi khalaf yang berlainan pendapat bahwa tawassul dengan para Wali itu memang dibolehkan. Dalam hadits disebutkan bahwa Sayyidina Umar bertawassul dengan al-^Abbas (bapak saudara Nabi) dengan berkata yang artinya: “Ya Allah kami bertawassul kepada-Mu dengan bapa saudara Nabi kami (supaya Engkau menurunkan air hujan)”.(Diriwayatkan oleh al-Bukhari). Tawasul memiliki fungsi kemuliaan yang menghantarkan wushul (sampainya) hamba kepada tujuan yaitu Allah SWT, menjadikan hamba dengan kemuliaan dan kesalehan serta kecintaannya, juga menjadikan sebuah pengakuan atau kesaksian bahwa dapat merasakan akan kedekatannya (beserta) dengan Allah yang sulit untuk digambarkan. Proses ruhani ini bukanlah berdasar pada kekuatan intektual belaka, lebih dari itu memerlukan kekuatan hati yang dieksplorasi lewat latihan (training) yang dijalankan pengamal tarekat-sufi. Karena itu Allah secara tegas memberi peringatan agar tidak lupa dzikir, QS. Al-Maidah: 91: ”Sesungguhnya setan itu menghendaki agar kamu terjerumus dalam permusuhan dan dendam, minuman keras dan perjudian, dan menjauhkan dari dzikrullah”. Juga QS. Al-Munafikun: 9: ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta, anak-anakmu, membuat alpa dari dzikrullah”. 
Berdzikir merupakan tradisi tarekat-tasawuf, tanpa Mursyid, dunia batin mudah tergelincir oleh tipu daya setan yang sangat halus, lembut, licik, tajam dan menyakitkan serta berbahaya. Jadi Mursyid ini merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan menuju puncak spiritual (makrifatullah).  Mereka yang menolak kemursyidan ini, sesungguhnya tak memahami tarekat dengan dzikir yang penuh rahasia Allah, bahkan ada yang mengklaim bisa ditempuh tanpa bimbingan ruhani. Dengan caranya sendiri, tentu hasilnya meragukan dan bisa tertipu seperti fatamorgana di padang pasir yang luas dan tandus atau hanya peroleh perkiraan-perkiraan belaka. Pandangan yang demikian itu hanya layak secara teoritis-verbal, namun dalam praktek hampir dipastikan meraih kegagalan spiritual. Ibarat sebuah perjalanan jauh menuju tempat yang kita idam-idamkan, tempat itu terasa asing dan menarik perhatian, maka bila belum pernah kesana perlu pembimbing (guide) yang paham dan ahli serta  bertanggungjawab, sehingga kecil kemungkinannya untuk membuat bingung dan tersesat serta hasilnya pun terukur, lebih jelas dan konkrit. Bahkan dengan menurut saja (patuh) pada mursyid dan petugasnya sudah dapat membawa banyak manfaat, kenikmatan, menambah ilmu dan pengetahuan serta kebahagiaan tersendiri. Fenomena ini seperti dalam sebuah perjalanan, tentu yang pertama kali harus diyakinkan dahulu ialah ‘siapa’ supirnya, punya SIM apa tidak, cekatan dan berpengalamankah ? terutama dalam hal pengendalian kendaraan yang akan membawa penumpangnya sampai tujuan. Lalu jalan ‘manakah’ yang akan dilalui (darat, laut, udara), dan apa pula jenis (merek dan kehandalan) kendaraannya yang akan dipakai pun ada berupa kendaraan yang super cepat, cepat saja, sedang atau lambat. Kemudian hasil dari sebuah pengalaman, setiap penumpang yang mengikuti perjalanan itu pun akan punya cerita berbeda-beda, tidak sama satu dengan lainnya, dan itu tergantung daripada letak duduknya (maqamnya) yakni ada yang berkelas Vip, ekskutif, ekonomi atau kelas I, 2, 3 dst... Misalnya perjalanan itu menggunakan bus di pulau Jawa jalur pantura yaitu dari Banyuwangi menuju Jakarta, apabila ada penumpangnya kebagian tempat duduk sebelah kiri kemungkinan Ia cerita tentang gunung, lembah dan ngarai. Dan bila duduk di sebelah kanan mungkin akan cerita pantai, laut, kapal dan perahu nelayan. Bagi yang duduk di depan tentu akan cerita lalu lintas yang ramai, hilir mudiknya berbagai kendaraan. Yang duduk ditengah-tengah hanya dapat melihat teman-teman penumpang lainnya di samping, depan dan belakangnya, bisa cerita tentang kebaikannya, kecantikannya dan bahkan sifat-sifat lainnya yang diperlihatkan temannya. Sedangkan bagi yang duduk dibelakang akan melihat punggung dan rambut atau tingkah laku dari penumpang lain yang ada didepannya. Bagi yang mabuk perjalanan dan sakit akan cerita disekitar apa yang dirasakannya. Demikian pula yang tertidur, Ia akan cerita bahwa perjalanan itu singkat saja atau seperti mimpi. Nah itulah sebagai gambaran atau illustrasi dari sebuah fenomena perjalanan, dan yang terpenting disini, walaupun ceritanya berbeda dari orang satu dengan yang lain, semua penumpang pada akhirnya sampai juga ditujuannya. Apalagi jalan dimaksud itu sebagai bentuk suatu perjalanan keruhanian, yang sama sekali awam dan sulit untuk diceritakan, hanya tangan dan kaki, pancaran sinar raut wajah dan air mata yang berbicara, ada yang tak berdaya dan taubat, rasa syukur dan rasa cinta kepada Allah SWT atas karuniaNya yang telah memberi kenikmatan ber-iman, ber-Islam, dan ber-ikhsan.
Bisa saja berdzikir dilakukan sendiri (tanpa mursyid), tetapi akibat buruknya dari sebuah perjalanan ruhani ditanggung sendiri. Bahkan Abu Hamid al-Ghazali (Hujjatul Islam) itu, akhirnya menyerah pada pengembaraan spiritualnya sendiri, dan mengakui bahwa dalam proses menuju Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid sebagai pembimbing. Mursyid disini sebagai metode dzikir, bahkan dalam tarekat mengandalkan pengetahuan yang sebenarnya diperoleh dari ajaran Al-Qur’an dan sunnah. Banyak ulama besar memberikan kesaksian bahwa kehebatan ilmu agamanya tak mampu menempuh jalan tarekat-sufi ini, kecuali atas bimbingan ruhani Mursyid. Seluas apapun ilmu agamanya, tetap sebagai “dunia ilmu” yang lahir dari amaliyah lahir dan rasional saja, hanya sampai pada tingkat ilmu yaqin dan ain’ul yaqin, belum sampai pada yang haqq al-yaqin. Seringkali ada yang beranggapan telah sampai pada kehadiratNya (Allah), jikalau sudah demikian tentu tidaklah mampu membedakan mana bisikan lembut (kawathif) yang datang dari sisi Allah, Malaikat, atau bisikan yang datang dari setan atau iblis atau Jin sebagai jabakan dan tipu daya dalam jalan sufi ini. Maka ada pernyataan kalam sufi yang cukup terkenal: ”Barang siapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru Mursyid, maka gurunya adalah setan”.
           Keutamaan dzikir dalam hadits riwayat At-Turmudzi : Dari Anas ra., dari Rasulullah SAW yang bersabda: “Allah SWT berfirman, ‘Keluarkan dari neraka orang yang pernah berdzikir kepadaku. Pada suatu hari dan orang yang takut pada kedudukanku”. Juga dari Abu Hurairah ra., dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, curahkan hidupmu untuk ibadah kepadaKu, penuhi dadamu berdzikir kepada kepadaKU dan luruskan pilihanmu, dan jika kamu tidak mengerjakan maka penuhi tanganmu dengan kesulitan dan Aku tidak meluruskan pilihanmu” (HR At Turmidzi). Berikut ini hadits-hadits tentang Dzikir: Laillaha illallah”,  Nabi Muhammad SAW bersabda: 

 ·         Barangsiapa setiap harinya mengucapkan “Lailla ha illallah Muhammadur Rasullullah” : Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah sebanyak seratus kali bilangan, maka Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang membaca kelak di hari qiyamat sebagai cahaya bulan purnama”.
·         Abud-Dardaa r.a berkata: Nabi SAW bersabda:”Tiada seorang yang : La illaha illallah seratus kali, melainkan akan dibangkitkan oleh Allah pada hari qiyamat dengan wajah yang bagaikan bulan purnama, dan tiada seorang yang berbuat amal lebih afdhal dari padanya pada hari itu kecuali yang membaca seperti itu atau melebihi dari itu” (HR. Atthabarani)
·         Sebaik dzikir yaitu kalimat “Laillaha illallah” dan seutama do’a yaitu kalimat “Alhamdullillah” (segala puji bagi Allah)
      Jabir r.a. berkata: Nabi SAW bersabda: ”Dzikir yang utama ialah La ilaha illallah, dan do’a yang utama ialah: Alhamdu lillah” (HR. Attirmidzi, Annasa’i)
·         Abuhurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Perbaharuilah iman kepercayaanmu. Ditanya: Bagaimana memperbarui iman ya Rasulullah ? Jawab Nabi SAW: “Perbanyaklah membaca : “La ilaha illallah”  (HR. Ahmad, Alhakim)
·         Usman bin Malik r.a Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka terhadap orang yang telah berkata: La ilaha illallah benar-benar mengharap keridho’an Allah (dengan ikhlas)” ( HR. Bukhari Muslim)
·         Um Hani’ r.a berkata: Nabi SAW bersabda: “Kalimat La ilaha illallah itu tidak dapat dikejar oleh lain amal, dan tidak meninggalkan dosa (Ya’ni tidak ada amal yang lebih besar dari padanya, dan semua dosa dapat dihapus sehingga tidak ada sisanya)”(HR. Ibn Majah)
·         Ali r.a berkata: Nabi SAW bersabda:”Jibril a.s berkata: Allah ta’ala berfirman: La ilaha illallah itu sebagai bentengku, maka siapa yang masuk kedalamnya aman dari siksaKU” (HR. Ibn Asakir)
·         Allah SWT telah berfirman (hadist Qudsi) kalimah : “Laillaha illallah sebagai kalamku, dan orang yang mengucapkan termasuk dalam penjagaanku dan siapa yang masuk dalam penjagaanku maka selamat dari siksaku “ (Rr. Syarodzi)
·         Abu Said Alkhudri r.a: Nabi SAW bersabda: Nabi Musa a.s. berdo’a: “ Ya Rabbi ajarkan padaku sesuatu untuk berdzikir padamu. Jawab Allah: Bacalah: La ilaha illallah. Musa berkata: Ya Rabbi semua orang membaca itu, dan aku ingin yang istimewa untukku. Jawab Allah: Hai Musa andaikata tujuh petala langit dan penghuninya dan tujuh petala bumi diletakkan disebelah timbangan La ilaha illallah, niscaya akan lebih berat kalimat: La ilaha illallah melebihi dari semua itu.  (HR. Annasa’i)
·         Abubakar r.a berkata: “Lazimkan selalu kalimat: La ilaha illallah dan istighfar, perbanyaknya membaca keduanya, sebab iblis berkata: Aku telah membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakan aku dengan membaca La ilaha illallah dan istighfar, ketika demikian maka aku binasakan mereka dengan hawa nafsu, maka mereka mengira bahwa dirinya telah mendapat hidayat (dan benar)” .(HR. Abu Ya’la)[8]
·         Abuhurairah r.a berkata: “Ketika Malakul-maut menghadiri seorang yang mati, maka ia menyelidiki semua anggautanya, dan tidak menemukan amal kebaikan, kemudian membelah hatinya juga tidak menemukan amal kebaikan, kemudian dibuka mulutnya, tiba-tiba menemukan lidah lekat pada bagian atas mulut membaca: La ilaha illallah, maka diampunkan baginya karena ada kalimat ikhlas itu” (HR. Ibn Abi Dunia dan Albaihaqi).
·         Nabi Muhammad SAW bersabda: “Supaya kamu memberi zakat pada badan dengan mengucapkan : Laillaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Tidak ada hambaku yang telah mengucapkan kalimah tauhid : (tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah), kecuali Allah telah mengatakan, benar apa yang diucapkan oleh hambaku, sesungguhnya aku telah dan tidak ada Tuhan selain aku dan saksikan wahai malaikat, sesungguhnya aku telah mengampuni dosa hambaku yang telah lalu dan yang kemudian”.
·         Barang siapa mengucapkan “Laillaha illallah” dengan hati yang suci dan  ikhlas maka akan masuk surga”.

 Dzikir Khafi (dalam hati) :

Khairu dzikri al-khafiyyu wa khairu rizki ma yakfi. “Sebaik-baiknya dzikir adalah yang khafi (tersembunyi) dan sebaik-baiknya rizki adalah yang cukup
‘An Aisyata radiyallahu ‘anha qolat, qola rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallama: Adzikrulladzi la tasma’uhul hafazhah yadzidu ‘ala dzikri ladzi tasma’uhul hafazhah bi sab’ina di’fain. “Dari Aisyah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Dzikir yang tidak didengar oleh malaikat Hafazhah (khafi) lebih utama dari pada dzikir yang didengar oleh malaikat Hafazhah (Jahar) dengan tujuh puluh kali lipat” (HR. Baihaqi).

Jika berdzikir hendaklah menghitung dengan jari-jemari tangan, sabda Rasul: “Hendaklah engkau membaca tasbih, tahlil, dan taqdis. Janganlah kamu melalaikannya. Jika kamu lalai, maka lalailah Tuhan memberi rahmat kepadamu. Dan hitung bacaanmu itu dengan anak-anak jari, karena anak-anak jari itu akan mempertanggung-jawabkan perbuatannya(HR. Ahmad dan Abu Dawud). Jika menghitungnya pakai tasbih, maka memutar tasbihnya sebaiknya dengan tangan kanan. Ibnu Umar r.a. mengungkapkan, “Saya melihat Rasulullah menyimpulkan tasbihnya dengan tangan kanan”.


[1] Wasil Abu Ali, Redaktur khusus Mimbar Islam Bali Post, 2006
[2]  Kitab: Matnul Bukhari, Hadits 3, Jilid 1
[3]  Kitab: Mizan al Kubra hal.21 lis Sayyidi Abdilwahhab Asy Sya’rani
[4]   Kitab: Mizan al  Kubra, hal: 21
[5]  Kitab Al Mu’awanah wal muszhaharah wal muazarah, hal.8
[6]  Kitab: Al Mu’awanah wal Muzhaharah wal Muasarah hal. 8 lis Sayyid Asy Syarif Abdillah bin    
      Alawi bin  Muhammad al Haddad al Husaini
[7]  Khalili Al-Bamar, dkk. Ajaran Tarekat, CV. Bintang Remaja Surabaya, 1990, hal. 151
[8]  Petunjuk Ke Jalan Lurus, Darussaggaf, Surabaya, 1977, hal. 13

I ’ t i k a f atau Suluk (khalwat) :   Sekelompok jema’ah ummat Islam berdiam diri di Masjid atau Surau yg ditentukan oleh Guru Mursyid melaksanakan peribadatan syariat Islam dan peramalan dzikrullah, bersifat jasmani dan ruhani selama 10 hingga 40 hari.  Firman Allah SWT dlm Q.S. Al A’raaf : 142 “Wa waa’adnaa muusaa tsalaatsiina lailataw wa atmamnaahaa bi ‘asyrin  fa tamma miiqaatu rabbihii arba’iina lailataw “ artinya: “Dan telah kami janjikan kepada Musa memberi Taurat setelah Riazhah / Suluk ) tiga puluh malam dan kami sempurnakan sepuluh (malam lagi). Maka sempurnalah waktu yg telah ditentukan Tuhannya (Musa) empat puluh malam”. Dlm Q.S. Al Baqarah : 125 berbunyi “Wa ‘ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa’iila an thahhiraa baitiya lith thaa-ifiina wal ‘aakifiina war  rukka’is sujuud” artinya:  “Dan kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yg thowaf, yg i’tikaf dan yg ruku’ sujud (sholat). Hadits masalah halwat ini yakni “Nabi Muhammad SAW diberi kesukaan menjalankan khalwat (bersunyi-sunyi) di gua Hira’, lalu bertahanus di dalamnya, yaitu beribadat beberapa malam yg tidak sebentar” (HR. Bukhari). Ditempat yg telah ditentukan mereka-mereka yg i’tikaf  berusaha dan melatih diri  (Riadhah), berjuang (Mujahadah), melepaskan diri dari hawa nafsu dan kebendaan yg merupakan hijab antara diri dengan Tuhannya.



 
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar