Laman

Pengikut

Kamis, 15 Maret 2012

SEJARAH SINGKAT PENEMUAN FOTOGRAFI

SEJARAH   SINGKAT   PENEMUAN   FOTOGRAFI
 Kenangan Ketika di PSSRD UNIV.. UDAYANA Tahun 2000, Purnawan, Radiawan, Mantra Fandy & Agus Mulyadi Utomo
oleh Agus Mulyadi Utomo
Hidup dan Seni: goesmul.blogspot.com
goesmul@gmail.com 

Istilah “fotografi’ berasal dari kata Yunani yang semula terdiri dari dua kata: foto yang berarti cahaya, dan grafi yang berarti menulis. Jadi fotografi artinya tak lain dari “menulis dengan cahaya”. Maka untuk selanjutnya dalam fotografi kita senantiasa harus berhubungan dengan cahaya, dengan kata lain, tanpa adanya “cahaya” tak mungkin  “berbicara” atau melakukan pemotretan. Kata istilah “Photography” dipopulerkan oleh Sir John Herschel pada tahun 1839, dimana saat itu proses memfoto telah menjadi bersifat umum.



1.  CAMERA OBSCURA


            Arti kata ‘camera’ adalah kamar atau ruang, sedangkan ‘obscura’ adalah gelap. Maka “camera obscura” sebenarnya tak lain berarti “kamar gelap” atau ruangan yang gelap. Mengapa dinamakan demikian ? Sebab kamera pertama yang ditemukan manusia memang merupakan suatu kamar atau ruangan yang dapat digelapkan. Saat itu kegunaan “kamar” tersebut adalah untuk melakukan penjiplakan bayangan / gambaran yang terpantul melalui sebuah lubang kecil dari benda-benda yang berada di luar “kamar” tersebut.
Camera obscura atau “kamar gelap” adalah kotak ruang gelap dan terdapat sebuah lubang di satu sisinya. Jika lubang dirasa cukup kecil maka bayangan sebuah bentuk akan terlihat di satu sisi lainnya. Ini berdasarkan prinsip yang dilontarkan oleh Aristotles (300 tahun sebelum masehi). Dikatakan juga bahwa Roger Bacon menemukan camera obscura sebelum tahun 1300-an tapi hal ini belum bisa diterima ahli lainnya karena dianggap dia hanya menggunakan sebuah alat untuk mengamati gerhana matahari. Nyatanya ahli dari sekolah Arab Hassan ibn Hassan atau dikenal dengan Ibn al Haitam pada abad 10 mengemukakan apa yang disebut camera obscura dari hasil penelitiannya yang tersimpan di perpustakaan India di London.

Dalam essay-nya yang berjudul “Bentuk dari Gerhana” dia menulis:



gambaran dari matahari saat gerhana matahari total terlihat bahwa ketika cahaya masuk melalui celah sempit dari sebuah lubang maka akan dipantulkan pada dinding dihadapannya seperti bentuk bulan sabit.”

Gambaran matahari akan terlihat jelas jika lubang kecil, ketika lubang diperbesar gambar akan berubah....................”



Catatan tentang penggunaan awal dari camera obscura dapat ditemukan pada tulisan Leonardo Da Vinci (1452-1519). Bersamaan dengan periode Daniel Barbaro seorang Venesia yang merekomendasikan camera sebagai alat bantu dalam melukis dan menggambar bentuk, dia menulis:



“...tutup semua celah cahaya dan pintu hingga tak ada cahaya masuk ke camera kecuali melalui lensa, disisi lain pegang selembar kertas dimana bisa digerakkan ke depan dan ke belakang sampai didapat gambar dengan detail dan tajam. Di kertas itulah akan terlihat gambaran seperti aslinya sesuai jarak, warna, bayangan dan gerakan awan gemercik air, burung terbang dan juga dengan memegang kertas tanpa guncangan anda bisa mengikuti gambaran dan bayangannya dengan pulpen, serta mewarnainya sesuai dengan aslinya



            Dalam perkembangan selanjutnya “kamar” tersebut dibuat lebih kecil. Namun fungsinya tetap sama: untuk menjiplak gambaran. Dalam versi modern, alat-alat ini masih tetap dipakai, hanya kegunaannya sedikit agak berbeda, serta juga dibuat lebih praktis. Alat atau pesawat yang kita kenal sekarang adalah epidiaskop dan overhead projector (OHP).
Pada pertengahan abad 16 Giovanni della Porta (1538-1615) mengemukakan tentang anggapan awal dari penggunaan alat bantu menggambar. Dikatakan dia yang membuat camera yang sangat besar dimana pengunjung bisa duduk di dalamnya, dengan mengatur sekelompok actor untuk melakukan pertunjukkan di luarnya sehingga pengunjung dapat melihat bayangan pada tembok, singkat cerita, karena ini pertunjukkan orang dengan berbagai gerakan maka gambaran yang terpantul di tembok terlihat kacau balau banyak pengunjung menjadi panik dan melarikan diri dan akhirnya Battista dibawa ke pengadilan dengan tuduhan sebagai penyihir.



Meskipun penemuan Battista yang sangat berminat pada rahasia ini. Tapi dirasakan ada kemungkinan bahwa banyak seniman akan menggunakan camera obscura untuk membantu mereka dalam menggambar, meskipun dirasakan perkumpulan mereka ini akan dirasa rahasia, atau mereka merasa bahwa cara kesenimanan mereka akan dikurangi. Namun beberapa dari mereka bahkan mengakui telah menggunakan cara ini  diantarannya adalah Giovanni Canale --- lebih dikenal dengan Canaletto (1697-1768), Vermeer (1632-1675), Joshua Reynold (1723-1793), dan Paul Sandby (1725-1809) sebagai anggota Akademi Royal. Dalam kelompok ini ada termasuk Joshua Reynold yang menolak pendeskriditan penggunaan camera obscura. Dukungan begitu juga datang dari Algarotti seorang penulis tentang seni, ilmu pengetahuan dan seorang yang cukup berpengaruh dikalangan artis. Bahkan ada juga seorang pengacara yang mencoba menggunakan alat tersebut pada lukisannya (1764):



Disebutkan:

“…….lukisan modern terbaik semasa orang Italia telah menggunakan alat ini, begitu juga ada kemungkinan mereka memiliki alat ini. Disamping dapat menggantikan beberapa alat dalam kehidupan………biarkan pelukis muda pemula mereka dengan kemungkinan mempelajari lukisan anugerah Tuhan ini.



Pelukis sebenarnya membuat penggunaan yang sama dengan camera obscura dimana naturalis dan ahli perbintangan membuat microscop dan telescop. Untuk semua alat ini yang dipergunakan untuk pengetahuan dan mengetahui alam.

           

            Bersamaan dengan itu, lensa mulai dikembangkan sekali lagi dan nama Roger Bacon terlibat didalamnya, namun beberapa ahli kemudian mengklaim bahwa Ia hanya menemukan kaca mata. Gerolomo (1501-1576) seorang Italia yang ahli matematika  menperkenalkan “lempengan kaca” yang ditempelkan dalam “kamera lubang jarum-nya” dan Barbaro juga memperkenalkan penggunaan “cermin cembung” (convex). Lalu timbul pertanyaan kenapa dinamakan Lensa ? Ini dikatakan karena sebutan “lensa Italia” dibuat dengan “lensa cembung” (convex) yang tampaknya seperti lentil (semacam tumbuhan) yang berwarna coklat yang biasa digunakan untuk sup, jadi kata “lensa” datang dari nama latin yaitu “lentil”.



Camera pertama yang berukuran sangat besar dibuat oleh Athanasius Kircher (lahir 1601-meninggal 1688) dalam bukunya yang ditulis tahun 1646 menggambarkan bahwa dibagian luar terdapat lensa  dan satu bidang ditengahnya dari dalam terdapat sebidang kertas transparan untuk menggambar dan artis atau seniman untuk masuk kedalam memerlukan alat seperti trap door.



Sebuah perkiraan yang mengejutkan yang dibuat oleh de la Roche (1729-1774) dalam sebuah karyanya Giphantic, dalam cerita khayalan tersebut disebutkan bahwa kita dapat menangkap gambar alam dalam sebuah kanvas yang telah dilapisi zat lengket, dalam cerita, permukaan tersebut tidak hanya menyediakan bayangan gambar tetapi gambar akan tinggal didalamnya. 


Versi lain dikemukakan, tanda telah diubah, kamera dengan tanda yang berubah pada awal tahun 1900-an yang semakin mengecil dan mudah dipindahkan semuanya, membuat camera obscura semakin populer sebagai alat untuk membantu dalam menggambar. Sebagai alat bantu dalam menggambar,  tapi kemudian bekerja dengan cara yang berbeda didesain oleh Dr. William Wollaston yakni camera lucida pada tahun 1807. Camera lucida adalah sebuah prisma refleksi yang memungkinkan seniman untuk menggambar garis pinggir dalam perspektif yang baik dan tiodak memerlukan kamar gelap. Kertas yang pakai diletakkan mendatar pada papan gambar dan si seniman harus melihat lewat lensa yang melewati prisma, maka akan terlihat bias diantara kertas dan gambar dari subyek yang akan digambar, lalu seniman harus mengisi gambar. Tetapi sebagai seorang yang mencoba menggunakan , kamera ini akan lebih baik jika digunakan oleh mereka yang memiliki kemampuan artistic, seperti foto yang ditemukan oleh Fox Talbot.

Untuk memberi gagasan tentang pembiayaan pada awal era photography dikenal bahwa pada 1839 Fox Talbot membeli beberapa alat termasuk camera obscura dengan harga 7 poundsterling 75 shiliing pada saat itu upah buruh berkisar 10 sampai 20 poundsterling per tahun. Camera obscura tetap memiliki nilai tersendiri dan ada beberapa saja jumlahnya.

 Camera Lucida

Athanasius Kircher memimpin sebuah sekolah tentang science dan matematika. Penelitiannya yang berjudul “Ars magna lucis et umbrae” diterbitkan di Roma pada tahun 1646. pada edisi yang direvisi diterbitkan 25 tahun kemudian dia memperlihatkan gambar camera obscura dengan bukaan di lantai dimana seniman bisa masuk.



Kircher juga memberi gambaran tentang lentera ajaibnya:



Buatlah…….kotak dari kayu dan taruh sebuah cerobong asap sehingga asap dari lampu dalam kotak sejajar dengan pembukaannya dan masuk pada pembukaan dari pipa atau tabung itu, tabung harus terbuiat dari lensa yang bagus tapi pada dasar tembus cahaya.”

Dan kemudian cahaya dari lampu yang menerobos lensa melalui image gambaran di atas lubang (dimana masuk menjadi terbalik) akan dibiarkan secara tegak lurus, dengan memperbesar gambar yang diwarnai dan dipantulkan pada sisi tembok putih dihadapannya. Dalam rangka meningkatkan kekuatan cahaya sangat diperlukan untuk menempatkan cermin cekung di belakan lampu”.



Sebenarnya ilustratornya melakukan kesalahan dimana ia meletakkan kertas transparan di depan lensa sehingga tidak bisa di proyeksikan.



            Prinsip dasar pembuatan “camera obscura”, mula-mula sekali tercatat nama seorang sarjana (orang cendikia) Arab bernama Hassan Ibnu al Haitam, pada abad ke-10. Penemuan tersebut sebenarnya terjadi secara tidak sengaja, bahwa pada dinding tenda cendikiawan Arab itu suatu ketika dilihatnya bentuk-bentuk bayangan hidup (gambar hidup). Setelah ia selidiki, ia temukan bahwa gambaran hidup itu berasal dari sebuah lubang (tenda yang berlubang) kecil di seberang gambar tersebut.

           

Tanpa diketahui rangkaian ceritanya, pada abad ke-13, seorang Inggris bernama Roger Bacon, lalu sarjana terkenal dari Italia yakni Leonardo da Vinci pada abad ke-15, juga menemukan prinsip dasar yang sama dalam mendapatkan dasar sebuah kamera, yang kemudian dinamakan “camera obscura’itu. Namun sesungguhnya dengan camera obscura mula-mula orang belum mengenal fotografi seperti yang kita kenal sekarang ini, melainkan alat tersebut benar-benar kegunaannya hanya membuat “jiplakan” (menulis) karena adanya pantulan cahaya.




2.  PINHOLE CAMERA



            Camera dalam arti yang lebih dekat dengan pengenalan sekarang adalah “pinhole camera”, yaitu kamera “lubang jarum”. Dari namanya saja dapat segera ditahui bahwa camera ini belum ber-lensa, melainkan hanya memiliki sebuah lubang yang besarnya hanya sebesar “lubang jarum”. Namun untuk melengkapi fotografi sebagaimana diharapkan manusia sejak dulu, dengan hanya sebuah alat yang bernama “camera”, tentu masih belum dapat membuat “foto”. Maka sejak abad ke-18 secara tiada henti-hentinya para sarjana menciptakan berbagai sarana untuk mewujudkan fotografi dengan lengkap secara berangsur-angsur.



3.  ANGELO SALA dan HEINRICH SCHULZE (1727)



            Angelo Sala di awal abad 17 menjelaskan bahwa serbuk nitrat perak dapat digelapkan atau dihitamkan oleh sinar matahari. Tahun 1727-an telah ditemukan oleh Heinrich Schulze, bahwa “garam perak” adalah bahan yang peka terhadap cahaya.  Perubahan warna dari putih atau bening menjadi hitam dari bahan “garam perak” bila terkena cahaya sangat menarik perhatian ahli kimia dari Jerman ini.



4.  THOMAS WEDGWOOD (1802)



            Thomas Wedgwood adalah putra seorang pembuat barang pecah belah (keramik) berkebangsaan Inggris. Ia pun menemukan hal yang sama dengan mencelupkan selembar kertas ke dalam larutan kimia bahan yang peka cahaya. Bila pada salah satu bagian dikenakan cahaya, maka bagian lainnya tetap putih. Karena kesehatan terganggu, percobaannya dihentikan. Ia juga yang menemukan hubungan cetakan negative-positive yang kemudian dihubungkan atau dipadukan dalam penggunaannya dengan camera obscura. Namun sayang sekali perintis ini tak dapat  meneruskan percobaan-percobaannya dikarenakan sakit.

5.  JOSEPH  NICEPHORE  NIEPCE (1826)

Joseph Nicephore Niepce (1825 - 1826). Ini adalah penemu yang berkebangsaan Perancis. Bila Schulze dan Wedgwood gagal, Ia sebagai “penerus” telah berhasil membuat permanen gambaran yang tercipta dari hasil “pemotretan” nya, maka ia yang populer sebagai Joseph Niepoe (Niepoe) ini dapat dianggap sebagai “pemotret pertama” di dunia.


Pertama Niepoe membuat ulang gambar di Belanda pada Abad 17 yang menggambarkan lukisan laki-laki menuntun kuda (lihat foto-foto tua di atas). Gambar ini terjual di Paris pada 21 Maret 2002 kepada Perpustakaan Nasional Prancis dengan harga $ 443.000 (₤  330.000 ). Niepoe memberikan keterangan gambar yang disertakan tahapan pembuatan karya tersebut. Hasilnya kini telah banyak dinikmati, yaitu bagaimana eksisnya dan cara pembuatannya. Karyanya di musim panas tahun 1825 memakai cahaya sendiri untuk membuat gambar piring yang salah satunya bisa dicetak. Kedua, adalah gambar tua yang termasuk gambar permanen dari kamera. Aspal di atas meja gereja, pemandangan ini diambil oleh Niepoe dari lantai kedua rumahnya, diambil dari jendela yang memerlukan waktu 8 jam. 

            Pertama kali Niepoe memotret dengan kamera permanen sekitar tahun 1825 - 1826. Karya utamanya yang menunjukkan tentang pemandangan dari jendela menghadap ke taman, sampai sekarang menjadi sebuah perjalan sejarah memotret.

           

            Di awal tahun 1800, Niepoe mengadakan penelitian dengan mencetak gambar di atas batu, di rumahnya dekat Chalon, Paris. Ia mendalami tentang minimnya pencahayaan untuk mendapatkan hasil yang baik setelah memperoleh cahaya. Di tahun 1816 mengambil foto dengan memakai kamera dan kertas peka cahaya beserta chloride silver (perak). Niepoe memperoleh beberapa keberhasilan dan juga kekecewaan, karena gambar yang dihasilkan tidak bisa dicetak atau tidak memilki film negatif dan tidak bisa dibuat permanen. Ia merasakan kelelahan untuk memproduksi kertas film positif dan tidak bisa melakukan produksi.

            Joseph Niepoe menemukan bahan nitric acid untuk menolong mengeluarkan gambar dari kertas beberapa lama, tetapi tidak bisa digunakan sebagai model. Niepoe berhenti mencari bahan pengganti sampai tahun 1822. Ia membuat gambar hitam-putih / gelap permanen dengan menggunakan kamera. Setelah pameran beberapa kali Ia menemukan material untuk hasil gambar dari kamera. Penggunaan asap dari pemanasan kristal yodium dapat untuk membuat gambar lebih hitam dan kepekaan yang dimilki ternyata cukup tinggi. Metode ini selanjutnya sebagai inspirasi dari Daguerre yang kemudian sukses yakni proses penggunaan uap air raksa.



            Dalam beberapa tahun ada dua pengembang datang sebgai rekan kerja, hal ini disebabkan Niepoe memiliki kekuatan dalam memproduksi salinan ukiran barang mati di atas meja dengan pencahayaan yang melukiskan keaslian suatu gambar di dalam gelas / kaca yang terdapat ragam aspal. Pencahayaannya sangat kuat dan keras yang terbuat dari aspal Judea. Selanjutnya Niepoe membuat eksperimen yakni mencuci piring dengan larutan solven hanya pada bagian yang tak terlindungi dan jika dipindahkan tinggal sebagai gambar permanen di atas piring. Nama dari proses ini adalah “Heliography” atau “cahaya gambar”. Dia membuat permanen heliography dan selanjutnya perubahan berlanjut dengan produksi kamera dengan gambar yang permanen pada tahun 1825.



Kesuksesan Niepoe tersebut berasal dari berbagai percobaan, yang menyangkut lithografi. Ia temukan bahwa ada bahan kimia tertentu, misalnya yang dipergunakan dalam mem-“vernis”, menjadi tidak larut bila dihadapkan pada cahaya.   Selembar plat timah tipis yang diseliputi (dilapisi) dengan bahan vernis yang peka cahaya, lalu ia coba cahayai melalui camera obscura. Kemudian plat tersebut ia celup ke dalam larutan asam lemah. Hasilnya, pada bagian yang tak terkena cahaya “termakan” oleh asam tadi, sedangkan yang terkena cahaya tetap pada permukaan yang sama. Suatu ketika dikarenakan kesehatan dan kekurangan dana, maka Joseph Niepoe akhirnya mengikat kerjasama dengan Louis Daguerre.

                                

                                                     

6.  LOUIS  JACQUES  MANDE  DAGUERRE (1839)

     Daguerre, Lahir 18 November 1787: meninggal 10 Juli 1851


Daguerre (atau biasa disebut dengan Dagair) adalah salah satu tokoh terkemuka yang mengawali kelahiran fotografi. Dia memulai karirnya sebagai siswa arsitektur dan pada usia 16 tahun sebagai asisten desain panggung dan teater di Paris. Hasil desain panggungnya sangat diakui, dia memiliki keahlian yang menajubkan dalam menata lampu dan efek. Dia menata panggung-panggung, efek lampu untuk beberapa opera di teater Paris. Dia menemukan solusi yang impresif pada teater yang disebut dengan DIORAMA, berupa penggunaan gambar dengan efek lampu dan lukisan besar berukuran 22 x 14 meter yang sempat terkenal. Diorama ini menjadi kegemaran pada abad ke-10.



Dagair  menggunakan kamera OBSCURA untuk membentuk dalam menggambar, bentuk inilah yang mengajarkan dia dalam “membekukan” obyek. Tahun 1826 Dia belajar pada Nicephore Niepce dan 14 Januari 1829 dia bekerjasama dengannya dan itu tidak berlangsung lama karena Niepce kemudian meninggal pada tahun 1833. Akan tetapi hal tersebut tidak menghentikan Daguerre untuk bereksperimen, dia menemukan sesuatu  yang amat penting secara tidak sengaja pada tahun 1835 dengan meletakkan lempengan yang tidak terlindungi pada cairan kimia dan beberapa hari kemudian dia terkejut karena gambar telah terbentuk. Daguerre menyimpulkan bahwa ini akibat dari uap mercuri dari thermometer yang pecah. Penemuan penting ini bisa berkembang untuk mengurangi waktu pencahayaan. Dalam sepengetahuannya yaitu bagaimana memproduksi sebuah gambar, pada tahun 1837 dia lalu memperbaiki penemuannya dan proses ini yang disebut Daguerrotype.



Daguerre mengumumkan hasil penemuan dan mencari sponsor akan tetapi hanya sedikit yang tertarik. Lalu dia beralih pada Froncois Arago, seorang politisi yang terlihat menaruh perhatian pada penemuan ini dan memperjuangkannya pada komisi pemerintahan Perancis yang di pimpin oleh Paul Delaroche.  Pada tanggal 7 Januari 1839 penemuan ini di akui dan baru di umumkan pada tanggal 19 Agustus 1839 pada khalayak umum. Pemerintah Perancis membeli hak paten ini dari Daguerre dan menghadiahkan kepada Dunia. Selain ini, proses Daguerre juga di patenkan di Inggris, pada tanggal 14 Agustus 1939 hanya terpaut 5 hari sebelumnya.



Lady Eastlake menyatakan:



        “Adanya ketidak jujuran masalah hak paten untuk Daguerre sehingga dapat dibeli di Inggris, yang seiring dengan waktu hanya negara ini tidak mengambil keuntungan dari kebebasan hak paten yang diberikan oleh pemerintahan Perancis. Sejarah awal dari photograp.



Sejak pengumuman tentang penemuan tersebut, maka penggunaan dari penemuan inipun  semakin meluas. Dikatakan pula bahwa Daguerrotype adalah “Melukis tanpa belajar….” Dan ada suatu anggapan pada saat itu bahwa “semua pasti bisa” dan ini ditunjukkan oleh penulis dari temuan itu.



Lateratus Gazetten pada tanggal 7 Januari 1839 menulis:



       “Paris 6 Januari 1839”

        Kami dengan bangga mengumumkan penemuan penting, oleh M. Daguerre seorang pelukis diorama. Penemuan ini terlihat sangat luar Biasa. Dengan menggabungkan teori science tentang cahaya dan optic. Semua dilebur jadi satu dan ini adalah sebuah revolusi dalam seni desain. M. Daguerre telah menemukan metode untuk memperbaiki gambar yang terekam pada camera obscura, jadi gambar tidak lagi hanya refleksi sementara melainkan sudah tetap dan tahan lama, dan bisa di pindahkan seperti lukisan dan ukiran.



Namun dalam artikel La Gazette De Prace pada hari yang sama juga di muat salah satu keterbatasan penemuan ini:



         Gerakan alam tidak bisa terekam, paling tidak mungkin bisa dengan tingkat

         ketinggian dan teknik pada pemandangan sebuah jalan yang besar....terlihat

         bahwa objek yang bergerak atau berjalan tidak terekam.”



Pada permulaannya Daguerrotype memiliki beberapa keterbatasan diantaranya adalah:

-     Lama eksposure sangat penting, tapi tidak untuk potret

-     Image / gambar muncul atau sebaliknya (seperti berkaca pada cermin) dari beberapa   

      potret menyatakan ini terlihat seperti jas yang terkancing. Jika satu gambar yang

      diperlukan telah di buat dengan aturan, kamera akan terfokus pada reflektif yang

      terekam pada kaca (dalam kamera). Tapi ini tidak mengganggu orang yang sudah

      biasa melihat bayangan mereka di cermin.

-     Alat ini mudah pecah.

-     Mungkin paling terbatas dari semuanya. Adalah system “ sekali pakai”, dimana foto    

      seharusnya copy-annya gampang dibuat.


Pada tahun 1851 Daguerre meninggal. Ini dianggap sebagai symbol berakhirnya sebuah era, karena pada saat yang bersamaan teknik baru telah di ketemukan oleh seorang peneliti photography, yaitu proses collodion baru ditemukan oleh Frederick Scott Archer.



            Louis Daguerre sebenarnya adalah seorang pelukis yang kaya raya serta penemu Diorama. Diorama yang ia ciptakan antara lain terdiri dari lukisan realistis yang di tempatkan di belakang, berupa gambar tembus cahaya yang kini dikenal sebagai transparansi. Dalam upayanya mencari gaya yang lebih dekat ke realistis, Ia berkenalan dengan camera obscura. Adalah kebetulan sekali akhirnya Daguerre bertemu dengan Niepoe. Maka hasilnya adalah Niepoe yang menemukan fotografi, dan Daguerre yang menjadikan praktis serta berguna.



            Pada tahun 1839 diciptakanlah bahan ‘peka cahaya’ yang dinamakan “daguerrotypes”, sehingga menjadikan Daguerre amat terkenal di seluruh dunia. Daguerrotype terbuat dari plat tembaga yang pada satu permukaannya dilapisi perak. Permukaan ber-perak ini digosok hingga mengkilat seperti cermin, kemudian ditaburi (dilapisi)  bahan peka cahaya. Setelah dicahayai melalui camera obscura, daguerrotype ini dikembangkan dengan uap atau gas merkuri yang dididihkan. Dari proses inilah kemudian timbul gambaran berupa “foto”. Untuk menjadikan gambaran tersebut bersifat permanen, maka plat tersebut kemudian dicelupkan ke dalam larutan hipo dan kemudian dibilas dengan air. Karena permukaan yang sangat licin dan mengkilat itu, setiap orang yang berdiri di depannya akan dapat melihat dirinya bertumpuk dengan foto yang terdapat di atasnya, untuk dapat melihat foto tersebut memang akan menjadi kesulitan dan harus dilihat dari sudut tertentu.         Waktu untuk pencahayaan berlangsung antara 20 - 40 detik di bawah teriknya matahari. Pemotretan terhadap anak-anak terpaksa harus dibantu dengan ganjalan leher serta sandaran punggung. Saat itu belumlah dikenal adanya klise atau negatif, yang jadi foto masa itu adalah film yang dipakai untuk memotret saat itu juga. Maka bukan saja dalam mengamati foto tersebut harus dari sudut pandang tertentu, karena bisa saja terjadi bila dalam melihatnya dari sudut yang salah, maka gambaran yang akan terlihat adalah  berupa gambaran negatif.



7.   FOX  TALBOT (1835)

Pada saat Niepoe dan Daguerre melakukan berbagai percobaan, seorang sarjana Inggris, Fox Talbot, juga sedang melakukan hal serupa. Tanpa ada hubungan apa-apa dengan kedua penemu lainnya, Talbot lebih mengembangkan sistem “kertas peka cahaya” serta mengutik-utik kembali hubungan negatif-positif dan penciptakan foto “Final”. Namun karena negatif-nya berupa kertas, maka dalam pencetakan menjadi positif terlalu banyak bagian yang hilang sehingga gambarannya tidak tajam. Ciptaannya dikenal dengan nama Talbotype.



Sesuatu yang dapat dikenang dari Henry Talbot, adalah bahwa Ia tidak suka dipanggil dengan Fox Talbot.  Meskipun bukan nama yang pertama menemukan fotografi, Fox Talbot membuat kontibusi besar dalam proses fotografi seperti yang diketahui sekarang. Talbot belajar matematika kuno di Cambridge. Memilih menjadi pengikut Raja Astronomi Masyarakat pada tahun 1822 dan menjadi tokoh masyarakat pada tahun 1832. Dia juga seorang MP, yaitu orang terpelajar, seorang pakar ilmu tumbuh-tumbuhan dan assyriologis, membuat suatru kontribusi untuk rumusan dari penulisan euniform yang dibawa ke Inggris dari Nineveh.



            Meskipun beberapa dari gambaran yang dibuat menunjukkan suatu arti dari selera kesenian. Itu merupakan ketidakcakapannya dalam menggambar yang menyebabkannya untuk melakukan percobaan dengan metoda ‘mekanik’ dan berusaha memegang teguh suatu prinsip. Akhirnya Talbot menghasilkan gambaran dengan pertolongan dari dua camera, sebuah camera obscura dan camera lucida. Ketika itulah Ia kemudian membuat sketsa salah satu dari Villa Melzi. Setelah itu Ia bercerita:



Pada Oktober 1833, saya sedang menghibur diri sendiri di tepi laut Lovely danau Como di Italy, mengambil gambar dengan camera  lucida, atau lebih, saya harus mengatakan berhasil membuatnya, tapi dengan sedikit rasa ketidak percayaan dari sukses………

Setelah mendapatkan bermacam-macam buah. Saya meletakkan alat-alat disamping saya dan membuat kesimpulan bahwa ini harus menggunakan ilmu pengetahuan yang mudah dipengaruhi oleh gambaran yang tidak  saya peroleh. Walaupun saya mencoba lagi sebuah metode yang telah saya uji beberapa tahun sebelumnya, metode ini dari sebuah camera obscura dan untuk melempar kepercayaan pada obyek sepotong kertas. Ini tertuju pada gambaran bidadari membuat sebuah kenangan dan menjelaskan dengan cepat untuk waktu yang berlalu. Ini adalah untuk sepanjang waktu meskipun pemikiran apa yang terjadi pada saya, bagaimana menghemat ini menjadi suatu yang tidak mungkin untuk membuat kepercayaan. Murni untuk jejak mereka sendiri, awet dan terkenang pasti pada sebuah kertas”.



Kertas negatif pertama yang tahan lama kini tersimpan pada jendela Oriel di Gallery selatan Lacock Aggey, Witshire, dimana Talbot tinggal pada bulan Agustus 1835. Talbot berkomentar:  

Ketika pertama dibuat kotak gelas berjumlah 200 bisa dihitung dengan

bantuan lensa ”.

Lebih jauh komentarnya sebagai berikut:



“Saya tidak memiliki.....camera obscura dengan berbagai ukuran. Saya membuat satu dari kotak yang besar. Gambar satu obyek gelas akan dibiaskan pada sisi sebelahnya. Alat ini dilengkapi kertas yang sensitif dan diletakkan 100 yard dari sebuah gedung yang tertimpa cahaya matahari pada senja hari dan sesudah itu saya membuka kotak dan saya menemukan gambar di atas kertas dengan gambar gedung secara jelas serta beberapa bagian dengan bayangannya. Dengan percobaan salah satu bidang seni ini memperlihatkan padaku bahwa dengan camera obscura yang lebih kecil efek akan diproduksi dengan waktu yang lebih singkat. Berdasarkan itu aku membuat beberapa kotak kecil yang aku lengkapi dengan lensa berfokos pendek dan dengan ini aku memperoleh gambar yang sempurna tapi sangat kecil”.



Kotak kecil yang berukuran 2 X 3 inci ini kemudian diberi nama mousetraps (jebakan tikus) oleh keluarga Lacock karena tempat dimana alat ini ditemukan.

            Januari 1839 adalah bulan yang sibuk oleh pemberitaan tentang penemuan ini. Tepatnya tanggal 7 Januari 1839, Daguerre mengumumkan perkembangan penemuannya. Beberapa hari kemudian Talbot menulis surat kepada Arago yang mempromosikan penemuan Daguerre. Dia mengatakan bahwa Ia yang menemukan, bukan Daguerre yang menemukan proses fotografi, pada saat itu sebenarnya dia tidak sadar bahwa prosesnya sangat berbeda. Satu dari rekan ahli Arago menjawab bahwa Daguerre yang menemukannya karena faktanya bahwa memang Daguerre menemukan proses ini sejak 14 tahun yang lalu.



            Dengan mengabaikan bahwa Daguerre telah mengumumkan penemuan-penemuannya, Talbot merasa bahwa Ia-lah yang lebih berhak. Karena hal inilah kemudian Talbot mulai mengumumkan penemuannya. Pada tanggal 25 Januari 1839 dia mengumumkan penemuannya di Institut Royal dengan judul “Metode Dalam Melukis Photogenic” . Saat itu sensitivitas proses masih bermutu rendah. Lalu Fox Talbot pada September 1840 menemukan fenomena baru berupa “gambar latent” (gambar tetap). Dia mengatakan bahwa itu adalah pengembangan dari penemuannya. Ketika Ia berusaha mengulang beberapa kertas yang gagal pada penemuannya terdahulu dengan bahan kimia yang tersedia, dari sebuah gambar yang tadinya tidak terlihat secara perlahan kemudian muncul. Ini adalah sebuah pengurangan yang drastis dari exposure (pencahayaan) dari 1 jam menjadi 1- 3 menit. Talbot menyebutnya dengan Colotype, yaitu dari bahasa Latin “kalos” yang berarti indah. Dan pada 31 Januari tahun berikutnya Talbot membuat makalah dan diberikan pada The Royal Society di London.  Makalah tersebut berjudul “Perhitungan Dalam Seni Melukis Photogenic” atau “Sebuah proses dimana obyek natural bias tergambar jelas tanpa bantuan artis dan pensilnya”.

            Talbot mempatenkan penemuannya pada 8 Pebruari 1841 yang kemudian banyak menarik perhatian besar-besaran pada perkembangan fotografi saat itu. Hak paten Talbot yang mulai disebarkan keluar Prancis yaitu ke Inggris dan perserikatannya. Talbot memilih untuk tidak menyebarkan Hak Patennya ke Skotlandia, dikarenakan  untuk menyamakan jalan bagi karya foto yang terkenal yang dibuat di Edinburg oleh Hill Adamson.



            Pada tahun 1844 Talbot mulai mengeluarkan buku berjudul “The Royal of Nature” (lukisan alam), buku komersial pertamanya yang illustrasinya dari karya foto. Dalam memproduksi cetakan ini dia dibantu oleh Nicolas Henneman  untuk menyiapkan terbitannya. Studio foto untuk memprosesnya gampang ditemui karena berada di London dan usaha ini hanya bertahan 4 tahun karena dari segi financial dia merasa gagal.

Talbot Photography menggunakan kertas, dimana kertas ini dicetak untuk keseluruhan gambar atau image. Dan ketika positif dibuat tahun 1848 adik sepupu Nicephore Niepce, Abel Niepede Saint – Victor, menyempurnakan proses ini dengan melapiskan piring kaca dengan putih telor yang telah dicampur dengan potassium lodide dan dicuci dengan asam perak nitrit (silver nitrite). Bagaimanapun juga proses ini sangat lambat. Secara fakta bahwa foto yang bisa diproses dengan bahan ini hanya gambar arsitektur dan landscapes. Sedangkan gambar orang belum bisa diproses.



            Proses Talbot secara umum tidak bisa menyamai kepopuleran dari proses Deguerrotype. Bukan karena tidak bisa menghasilkan gambar yang detail, tetapi karena Talbot mematok harga yang tinggi untuk hak menggunakan temuannya tersebut. Seorang penulis masa itu bernama Henry Snelling berkomentar:



Aku percaya Dia adalah orang yang sangat kaya, tapi Ia meminta harga yang sangat tinggi untuk penggunaan Hak Patennya………, tapi itu tidak dapat dicapai dan orang tidak ada yang berani untuk membeli”.



            Colotype dengan formasi baru terlihat kurang sukses untuk meyakinkan Talbot untuk mengurangi pembatasannya dalam peningkatan perkembangan fotografi, yang membuat Talbot kemudian mengklaim bahwa Daguerre menerima banyak penghargaan sedangkan Dia  tidak. Sangat disayangkan nama Talbot ternoda oleh keinginannya yang memaksa dalam hak patennya. Pada tahun 1854 ada klaim bahwa collodion proses juga berdasarkan collotype, dan karena kekalahannya dalam pengadilan, maka mulai saat itu proses collodion bebas digunakan serta tidak ada pembatasan sehingga fotografi mulai berkembang.



Collodion: adalah semacam larutan eter alcohol dari piroksilin (pyroxylin). Bila kena  

                   udara cairan menguap dan meninggalkan lapisan tipis, tak berwarna dan

                   elastis (Ensiklopedia Umum, 1991).



            Ada beberapa bukti yang mengarah pada upaya untuk menjatuhkan Talbot dengan usaha menyatukan hak patennya. Talbot memandang pembelaan atas Hak Paten colotype, sama dengan pembelaan Henneman yang bekerja keras dalam penerbitannya.  Talbot sangat setia dan percaya kepada Henneman dan berupaya untuk menambah keuntungan. Ini mungkin saja, sebagaimana sejarah memang agak sedikit kasar pada Fox Talbot. Dia telah banyak mengeluarkan uang untuk mengembangkan penemuannya dan dengan perkiraan bahwa pengakuan akan Hak Patennya itu akan meningkatkan perekonomiannya di masa mendatang.  Dokumen lain yang berhubungan dengan Awal Society (Perkumpulan Photografh) menyatakan Dia untuk lebih dermawan.



Talbot menyatakan penemuannya dengan:



Aku tidak menyatakan untuk mempunyai seni yang sempurna, tapi untuk memulainya batasan dimana tidak mungkin dimasa itu untuk dapat ditetapkan. Aku hanya mengklaim untuk memiliki dasar seni dengan dasar yang aman





8.  SCOTT ARCHER (1851)



            Seorang pemahat Inggris, Frederick Scott Archer menciptakan sebuah metode yang dinamakan “collodion”. Ia melaburi (melapisi) pada permukaan kaca suatu campuran bahan kimia, yang bila mengering akan membentuk sejenis lapisan film yang mengeriput seperti kulit, dan melekat pada permukaan kaca tersebut. Ciptaannya ini disebut “Collodion wet plate”. Kaca keriput ini kemudian diberi bahan peka cahaya. Masih dalam keadaan basah, “film” ini dipakai untuk merekam gambar. Dari sebab itulah kemudian dinamakan “plat basah”. Proses ini ternyata lebih cepat dari metode konvensional dengan menghasilkan waktu expose 2 atau 3 menit.



9.  PENEMUAN-PENEMUAN LAIN



            Sejak saat itu perkembangan fotografi secara terus menerus mengalami kemajuan. Sebagai variasi dari collodion-process. Ditemukan “Ambrotype” yang pernah menjadi populer di Amerika Serikat, karena prosesnya yang murah. Kemudian ditemukan juga “Tintype(1870). Ini adalah versi lain yang menggunakan timah sebagai bahan dasar. Sampai dengan sekitar tahun 1870 itu plat yang tercipta  merupakan “wet plate”, baru pada tahun 1880 “plat kering” ditemukan oleh George Eastman. Nama Dr. Richard Maddox menemukan cara dengan menggunakan ‘gelatin’ pada tahun 1871 disamping kaca sebagai dasar untuk piring photographic, yang merupakan dasar awal perkembangan proses ‘dry plate’ yang kemungkinannya bisa lebih berkembang secara cepat.



10.  GEORGE  EASTMAN



George Eastman diakui sebagai “Bapak Fotografi Modern”. Ialah pendiri Kodak Eastman Co di Rochester. Pada tahun 1880 dia menemukan “dry plate” pertama yang diberi selaput pengawet. Dari seorang pegawai bank ia pindah profesi menjadi pembuat “film” yang dikenal dengan panggilan “plat kering” itu. Dari pelat-pelat yang kaku (tembaga) dan mudah pecah (kaca) kemudian ia ciptakan suatu metode yang memungkinkan emulsi atau bahan peka-cahaya dilaburkan pada permukaan yang lebih lentur atau fleksibel. George Eastman memperkenalkan film yang lebih flexible di tahun 1984 dan 4 tahun kemudian Dia memperkenalkan ‘kamera kotak’ sehingga fotografi bisa tersebar.



Pada tahun 1885 ia ciptakan “film rol” yang pertama. Film-nya itu tidak sama dengan di-film yang kita kenal sekarang. Film tersebut tak lain adalah segulung kertas yang mengandung lapisan gelatin yang dibuat peka cahaya. Pengembangannya harus dilakukan oleh laboratorium Kodak sendiri. Setelah dikembangkan, lapisan ber-emulsi harus ditempelkan pada kaca guna pencetakan. Film itu dinamakan “paper film”. Film yang fleksibel dalam arti sesungguhnya baru ditemukan pada tahun 1889. dan pada tahun yang sama mulai dikembangkan “film panjang” dalam rol untuk kine atau movie.


Kelemahan pada film-film yang fleksibel waktu itu adalah sukarnya diperoleh permukaan yang rata, terutama pada lembaran-lembaran yang agak besar. Maka film lembaran (shoot film) pertama baru lahir tahun 1913, yakni lebih 20 tahun kemudian.



11.  KAMERA  KOTAK



            Kamera kotak atau lebih dikenal dengan nama ‘box camera” pertama kali lahir tahun 1888, juga oleh George Eastman. Kamera ini dapat diisi film yang berisi  100 bidikan. Namun dalam perkembangannya ternyata hal itu tidak praktis, maka secara berangsur-angsur jumlah bidikan dikurangi, hingga keadaan seperti sekarang ini.

            Sejak saat itu era fotografi yang lebih praktis mulai membuat sejarah. Disamping lahirnya pemotret-pemotret profesional, juga mulai lahir pemotret-pemotret amatir.

            Kodak Brownie, 1900, sebagai produk nasional Amerika. Brownie, memberikan kredit untuk berkreasi bagi peng-hoby fotografi di abad 20. Film di dalamnya dapat dimasukkan kedalam tempat film yang dapat dipindahkan atau digeser ke bagian belakang kamera.  Foto di atas memperlihatkan wadah film dan aksesori view finder pilihan yang terpasang pada sebuah kotak.               





12.  G.C. BEIDLER 1903-1906

         ( MESIN FOTOCOPY )



BEIDLER COPYING MACHINE - 1906.  Pada tahun 1903, warga  Amerika ,

G.C. Beidler, menciptakan sebuah mesin foto-copy yang berasal dari sebuah kamera “plat kering “ dan dipatenkan pada tahun 1906. Dan pada tahun 1907 dipasarkan oleh sebuah firma Amerika “Rectigraph”, tetapi kepopulerannya sangat terbatas. Mesin fotocopy pertama yang paling sukses dikembangkan oleh Chester F. Carlsonin pada tahun 1938.



13.  BOUTAN –CHAUFFOUR FLASH BULB -  1893



            Cahaya bola lampu dirancang oleh Frenhman Chauffour yang digunakan khusus oleh fotografer di dalam air yaitu Louis Boutan. Kamera yang dipergunakan berisi magnesium, di dalamnya gelas lampu yang berisi dengan tekanan oksigen. Satu kabel platinum yang dipanaskan dengan listrik melalui pembakaran magnesium
14.  OSKAR  BARNACK (1913)



            Oskar Barnack adalah Bapak Leica. Ia yang sering mendapat kesulitan untuk mendapatkan pengukuran cahaya yang tepat dalam mendukung profesinya sebagai pembuat film. Suatu ketika menemukan gagasan untuk menciptakan suatu alat pengetes pencahayaan, langsung terhadap film yang ia pergunakan dalam pekerjaannya itu. Bila “kamera pengetesnya” harus film itu sendiri, seperti selama itu ia lakukan, terbukti sangat merepotkan, maka akhirnya ia temukan suatu cara yakni menciptakan “camera mini” yang dapat menggunakan film yang sama untuk membuat kine itu. Maka terciptalah camera LEICA pertama, nama itu ia ambil dari kepanjangan Leitz Camera, tempat ia bekerja di pabrik Leitz Wetslar.

15.  FOTOGRAFI  WARNA



            Bersamaan dengan perkembangan fotografi hitam-putih, fotografi warna juga dijajagi orang. Pelopor fotografi warna ini tercatat nama Clark Maxwell, yang memulai percobaan sejak tahun 1855. tercatat juga nama Young dan Helmholte dan sebagainya. Namun perkembangan yang lebih konkrit bagi fotografi warna ini baru berhasil setelah perang Dunia ke-2.  Dalam situasi yang begitu sibuk ulasan hanya dapat digambarkan secara garis besar dan terutama yang menyangkut peristiwa penting yang membawa perkembangan berarti. Dalam tahun 1937, ‘Candid Camera’ mencapai puncak popularitasnya, yang dimulai sejak dalam tahun duapuluhan akhir. Selama kuranglebih 10 tahun Leica membuat revolusi dalam fotografi dan merajai Dunia fotografi, diikuti oleh Zeiss dan Contax. Camera Argus mencapai kepopulerannya dalam tingkatan harga yang rendah.



16.  FOTOGRAFI   POLAROID (1947)

            Pada tahun 1947, Edwin H. Land yang kemudian digelari Doktor, memperkenalkan sistem foto langsung jadi: Polaroid. Selama 30 tahun sistem ini dimonopoli oleh Palaroid Corp. Pada tahun 1976 melalui pertentangan yang sengit monopoli tersebut dipecahkan oleh Kodak. Pada bulan Mei tahun yang sama tersebarlah kamera sesistem Polaroid, yaitu Kodak Instant Camera.



17.  KAMERA DIGITAL DAN  SCANNER

           

            Teknologi kamera digital langsung berhubungan dengan perkembangan teknologi yang sama dengan perekaman gambar televisi. Pada tahun 1951 perekaman video tape pertama (VTR) menangkap “gambar hidup” dari kamera menjadi gerakan elektrik atau digital dan menyimpan informasi pada tape magnetik. Laboratorium Bing Crosby , yaitu Tim Riset yang dibentuk oleh Crosby dan dikepalai oleh John Mullin menciptakan VTR cepat pertama pada tahun 1956. Teknologi VTR menjadi sempurna seperti yang diciptakan oleh Charles P. Ginsburg dan Ampex Coorporation dan digunakan bersama oleh industri per-televisi-an. Kedua kamera televisi atau video dan kamera digital menggunakana sebuah CCD (Charge Couple Device) untuk merasakan warna cahaya dan intensitasnya. 
            Selama tahun 1960-an, NASA mengubah penggunaan sinyal analog menjadi sinyal digital dengan penyelidikan luar angkasa mereka untuk memetakan permukaan bulan dengan mengirim gambar digital kembali ke Bumi. Teknologi komputer juga mengalami kemajuan pesat yang pada waktu itu NASA menggunakan komputer untuk menangkap gambar yang dikirim oleh penyelidik luar angkasa.



            Instrumen Texas mematenkan kamera elektronik tanpa film pada tahun 1972, yang juga untuk pertama kalinya. Pada Agustus 1981, Sony mengeluarkan Sony Mavica camera diam elektronik. Kamera ini adalah kamera komersial.  Gambarnya direkam pada sebuah mini disc dan dimasukkan pada sebuah pembaca video yang sudah disambungkan ke sebuah monitor televisi atau printer warna. Tetapi Mavica tidak bisa menjadi kamera yang benar-benar digital, walaupun itu telah memulai sebuah revolusi kamera digital. Juga merupakan kamera video yang mengambil frame gambar video tidak bergerak.

Kamera digital pertama untuk level konsumen pasar yang bekerja dengan komputer rumah lewat kabel serial adalah kamera Apple Quick Take 100 pada tanggal 17 Peberuari 1994, lalu  kamera Kodak DC 40 pada tanggal 24 Maret 1995 dan Casio QV-11 dengan LCD monitor pada akhir 1995 dan Sony Cyber-Shoot Digital Camera pada tahun 1996.



            Kodak memasuki sebuah kampanye pemasaran yang sangat agresif untuk mempromosikan DC 40 dan untuk membantu memperkenalkan ide dari fotografi digital kepada masyarakat. Kinko’s dan Microsoft, bersama-sama berkolaborasi dengan Kodak untuk menciptakan gambar digital, membuat perangkat lunak kerja dan kios-kios yang memudahkan konsumen untuk memproduksi keping CD foto dan cetakan foto serta memberi gambar digital pada dokumen. IBM berkolaborasi dengan Kodak dalam membuat jaringan pertukaran gambar berbasis internet. Hewllet-Packard adalah perusahaan pertama yang membuat tinta printer berwarna yang melengkapi gambar kamera digital baru. Kini pemasaran dari kerja digital sudah menyebar dan ada dimana-mana.



            Makin canggih, mudah, dan murahnya kamera digital bagi sebagian kalangan memang akan menghilangkan kebutuhan mereka terhadap scanner. Namun, seperti halnya printer dot-matrix yang tetap bertahan di sebagian sektor industri walaupun secara umum tergusur oleh printer inkjet dan laser yang semakin murah, scanner juga akan tetap bertahan. Bahkan mungkin nasibnya masih jauh lebih baik dibandingkan printer dot-matrix.



            Fungsi scanner mulai dan akan terus terdesak oleh perkembangan camera digital. Jika teknologi kamera digital semakin berkembang dan harganya juga terdorong turun, diperkirakan scanner akan habis,atau ditinggalkan. Itu sebabnya, perkembangan bisnis dalam satu-dua tahun mendatang akan banyak produsen scanner mulai beralih menjadi produsen kamera digital. Namun demikian peran scanner tetap akan diperlukan pada tingkat profesional level seperti di percetakan.



            Memang ada banyak alasan mengapa scanner masih akan bertahan. Kamera digital belum dan tidak bisa menggamtikam scanner, antara lain karena kamera digital mengenali kedalaman warna Ini khususnya berlaku untuk scanner kelas atas yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan imaging.



            Ada semacam keyakinan yang mengatakan bahwa kamera digital tidak akan menggantikan scanner mengingat fungsi keduanya berbeda. Jika scanner masih dibutuhkan untuk menangani men-scan dokumen dan proses touch-up gambar digital. Kamera digital juga belum mampu menggantikan scanner mengingat keterbatasan pada resolosi dan bit depth.



            Jadi kesimpulannya? Itu semua tergantung para pemakai. Membeli scanner merupakan investasi bagus jika banyak bermain (baca: bekerja) dengan image dan ingin mengkonversi foto / dokumen lama Anda ke format digital. Mengingat kualitas dan pilihan yang ada semakin bagus untuk setiap rupiah yang dibayar, rasanya sekarang merupakan saat yang tepat untuk membeli scanner.



            Mengapa demikian? Karena pertumbuhan teknologi scanner khususnya untuk kelas konsumen (bukan profesional) tidak akan berkambang banyak dalam tahun-tahun mendatang. Mengenai camera digital, memang akan lebih bagus jika memiliki keduanya (scanner dan kamera digital).



18.  KODAK EASY SHARE SERI C



            Eastman Kodak memperkenalkan jajaran produk kamera digital terbaru EasyShare C360 dan C340 zoom dengan resolusi 5 megapixel (MP), C330 dengan resolusi 4 MP 3 X optical zoom (ketiganya dapat melakukan cropping gambar di kamera secara langsung), dan EasyShare C300 dengan resolusi 3 MP dan fixed focus lens.

            Semua model seri C ini diciptakan bagi yang menginginkan kemudahan pemakaian, berbagai keperluan dan mencetak foto dengan kualitas gambar sempurna. Dengan keunggulan dari lensa Kodak Retinar Aspheric, all glass 3x optical zoom, ditambah lagi dengan pilihan exposure meterling, ISO equivalents dan focus zones, pemilik kamera dapat mengambil gambar dengan kondisi cahaya yang kurang.

            Untuk pengambilan yang lebih dari sekedar foto, C340 & C360 mempunyai fasilitas video (VGA)-QVGA (dan fasilitas audio untuk C330). Selain itu, diperlukan hanya cukup menekan tombol shutter untuk berbagai jenis kondisi (scene model) yang telah disediakan di kamera. Untuk hasilnya dapat menampilkan gambar di layar televisi  atau computer dengan sangat mudah dan cepat menggunakan software EasyShare.





19.  OPTIMAL BIDIK OBJEK BERGERAK



Panasonic meluncurkan kamera digital mod terbaru Lumix DMC-FX dengan desain unik dan lebih ringan. Panasonic mengklaimnya sebagai “mahakarya dunia perkameraan”. Kamera digital pocket yang dilengkapi dengan teknologi mega optical image stabilizer (OIS) ini dapat membantu penganbilan gambar di berbagai kondisi sulit yang rentan terhadap getaran.



            Lumix DMC-FX8 juga dilengkapi teknologi veni engine plus, dengan daya tahan baterai lebih lama dan potensi pengambilan gambar lebih banyak dari kamera digital yang ada yakni sebanyak 300 foto. Penyempurnaan LCD monitor dan kualitas gambar, memungkinkan kamera ini merekam dan mencetak gambar menjadi lebih hidup, bahkan untuk objek yang bergerak sekalipun. Kamera ini juga dapat di gunakan secara optimal pada kondisi hujan.



            Produk ini resmi diedarkan ke pasaran dalam negeri mulai 4 Agustus 2005. peluncuran perdana Lumix DMC-FX8 dihadiri Presiden Direktur PT Panasonic Global Indonesia Ichiro Suganuma, Presiden PT PanasonicGlobal Indonesia Rachmat Gobel, dan Penasihat Perusahaan PT Panasonic Gobel Indonesia Shotoku, serta duta Panasonic artis film Dian Sastrowardoyo.



            Presiden Direktur PT Panasonic Gobel Indonesia Ichiro Suganuma mengatakan, Panasonic akan terus menciptakan produk elektronik inovatif yang semakin memanjakan konsumennya. Selain produk yang lebih aplikatif, Panasonic juga menciptakan produk yang lebih hemat energi dengan teknlogi mutakhir. “Sesuai slogan kami, ideas for life, Panasonic akan terus berkarya memproduksi peralatan elektronik yang Canggih dan hemat energi yang juga bertujuan menjaga kelestarian alam,” kata Suganuma pada acara peluncuran produk aksesoris audio visual dan kamera digital terbaru di Jakarta, Kamis (4/8/05) lalu.



            Menurut Suganuma, inovasi yang menciptakan produk hemat energi dan aplikatif memang membutuhkan investasi. Namun Panasonic menganggap inovasi sangat penting untuk kelangsungan industri dalam jangka panjang.




Pustaka

A.G. Pringgodigdo, Hassan Shadily, Dkk, Ensiklopedia Umum, Penerbit Kanisius,  

                     Yogyakarta, 1991

Bernard S. Myers, Understanding The Arts, Holt Reneharrt and Winston Inc, New York,

                     1962

RM. Soelarko, Pengantar Foto Jurnalistik, PT. Karya Nusantara, 1985

Fhilip Greenspun, History of Photography

James Monaco, How to Read a Film.

Harian Bali Post, 6-9-2005





Yan Pramadya Puspa, Kamus Umum Populer: Bahasa TV, Majalah, Surat Kabar  

                   dan Mass Media lainnya, Pn. Aneka Ilmu, Semarang, 1984











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar