Laman

Pengikut

Minggu, 04 Maret 2012

Kesepahaman Kriya - Ergonomi

Kesepahaman  Kriya  Dengan  Ergonomi
Oleh Agus Mulyadi Utomo
        Pengertian “kriya” yang merujuk sebagai “kerja”, sepadan dengan pengertian “ergonomi”. Ketika para ahli berkumpul untuk memecahkan dan mencari solusi tentang persoalan-persoalan manusia  bekerja yang menggunakan alat, menghasilkan produk, penggunaan norma atau aturan atau sistem, untuk bisa mencapai nilai-nilai kemanfaatan, keefisienan, keamanan dan kesehatan serta kenyamanan. Bekerjasama dalam mengatasi hal-hal tersebut, diantaranya bisa saja antar profesi atau gabungan dalam teamwork, bisa dari unsur teknisi, manajer atau pengusaha, pengelola perang dan persenjataan (militer), ekonom, hukum, sosial-budaya-kemasyarakatan, dokter, biolog, psikolog, ahli anatomi, agamawan, seniman, kriyawan dan desainer, dsbnya. Tentu mereka-mereka yang mengetahui tentang manusia dengan segala aspeknya yaitu mengenai apa, siapa, mengapa, dimana, bagaimana manusia itu menghasilkan sesuatu kesepakatan atau nilai-nilai positif atau produk tertentu. Kerjasama yang saling mendukung dan menemukan titik temu semua pihak, kemudian melahirkan ilmu “ergonomic” yang berasal dari kata Yunani “Ergon” (kerja) dan “Nomos” (norma atau aturan). Kerjasama tersebut terpelihara dan terbina tidak hanya untuk proses pembuatan produk, tetapi juga untuk instalasi industri dan inspeksi serta perawatan, juga alat-alat, undang-undang atau peraturan, manajemen serta sarana pembangunan lainnya. Hasil gemilang manusia di ruang angkasa sebagai contoh hasil dari kerjasama multi-disipliner tersebut. Juga pada alat transportasi seperti mobil, pesawat udara, kapal laut, kereta api, traktor, mesin-mesin, dan sebagainya. Karena tuntutan, ergonomi berkembang terus dari mikro ergonomi menjadi makro ergonomi lalu total ergonomi. Masuk Indonesia dan Universitas yaitu bagian teknik, kesehatan dan K3,  produk dan lainnya, sebagai ilmu multi-disipliner. Terlihat gaungnya ergonomi, di Indonesia sejak tahun 1969. Di Amerika disebut dengan Istilah Human Factor. Sekarang berkembang menjadi Human Ergonomic and Human Society.

       Ergonomi menurut Prof. Manuaba: adalah Ilmu atau pendekatan multi & interdisipliner untuk menserasikan alat, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia demi tercapainya kesehatan, keselamatan, kenyamanan dan efisiensi yang setinggi-tingginya (Manuaba, 1998).  Definisi ergonomi selengkapnya: adalah Ilmu, teknologi dan seni atau pendekatan multi dan interdisipliner untuk menserasikan alat, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia demi tercapainya kesehatan, keselamatan, kenyamanan dan efisiensi yang setinggi-tingginya, melalui pemanfaatan fungsional tubuh manusia secara optimal dan maksimal (Manuaba, 2006). 

       IEA (International Ergonomics Association) pun mendefinisikan ergonomi sebagai ilmu yang mengaplikasikan pengetahuan mengenai kemampuan fisik maupun mental manusia untuk merancang produk, proses, stasiun atau tempat kerja (workplaces) atau interaksi manusia-mesin (juga lingkungan fisik kerja) yang kompleks. Definisi paling sederhana dan ringkas; adalah studi tentang kerja, dikaitkan dengan kerja fisik (physical) dan mental (psychological) manusia (Sritomo, 2006). Pendekatan ergonomi yang memanfaatkan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia di dalam penetapan pilihan alam, cara dan lingkungan kerja, yang dilakukan sejak awal perencanaan (conseptual ergonomics) yang dalam hal ini prinsip-prinsip ergonomik sudah menjadi bagian dari perencanaan menyeluruh. Sedangkan pendekatan ergonomi yang memanfaatkan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia di dalam penetapan pilihan alam, cara dan lingkungan kerja, yang diperlukan untuk melakukan perbaikan terhadap system yang sudah ada dinamakan curative ergonomics. Pertimbangan alih teknologi diharapkan secara teknis lebih efisien, pekerjaan lebih mudah, memerlukan energi lebih kecil, produktivitas dapat ditingkatkan, sesuai dengan keahlian operator (pekerja) dan resiko kecelakaan menjadi kecil. Secara ekonomi lebih menguntungkan yakni tidak menimbulkan kesenjangan sosial, tidak menyebabkan timbulnya pengangguran, dapat meningkatkan efisiensi tanpa menambah biaya operasional dan memperpanjang rantai produksi, pemilihan terhadap penggunaan padat karya atau padat modal yang harus dilakukan  dengan cara bijaksana. Secara ergonomik tidak menimbulkan kecelakaan atau penyakit, dapat mengurangi kerja fisik dan mental, menciptakan kondisi dan lingkungan kerja yang nyaman sehingga tidak membahyakan kesehatan pekerja dan meningkatkan kepuasan kerja, menciptakan kondisi yang seimbang antara unsur teknik, ekonomi, antropologi, kebudayaan dan system manusia-mesin sehingga efisiensi dapat ditingkatkan. Secara sosio-kultural bisa dipertanggungjawabkan, keharmonisan kultural harus dipertimbangkan agar alih teknologi berjalan maksimal, harus pula mempertimbangkan adat-istiadat, organisasi kerja, kelompok kerja, agama, norma-norma yang berlaku setempat sehingga tidak terjadi benturan dengan budaya yang sudah ada, dan alih teknologi harus dilakukan secara total dan menyeluruh sehingga benar-benar dapat dikuasai dan dijalankan. Hemat energi dan ramah lingkungan, dimana penggunaan energi harus diminimalisasi, menggunakan sumber energi yang bersih, dan penting untuk memelihara kelangsungan sumber dan produksi sebagaimana kelangsungan dari kultur, dan mengacu standar ISO 9000 atau ISO 14000 serta harus benar-benar diterapkan. Maksudnya adalah bahwa, apabila hendak merancang suatu produk hendaknya benar-benar mempertimbangkan kepentingan dan kesehatan pemakai produk tersebut (user oriented). 

          Demikian pula yang maksudnya, bahwa  dalam mendesain peralatan, lingkungan kerja dan produk hendaknya benar-benar mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan baik para pemilik, pekerja, operator atau pengguna produk atau berorientasi kepada manusia secara menyeluruh (man oriented). Akhirnya melalui pendekatan SHIP, yaitu singkatan dari Systemic, Holistic, Interdiscipliner dan Participatory. Suatu pendekatan dalam penerapan ergonomi, yang dilakukan dengan cara: a). systemic: semua pekerjaan harus dilakukan dalam satu kesatuan system yang utuh dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. b). holistic: kajian komprehenship berbagai aspek secara menyeluruh yang meliputi aspek teknis, ekonomis, sosial-budaya, lingkungan, ergonomic dan psikologi. c). interdisipliner: kajian yang dilakukan secara terintegrasi antara semua aspek atau elemen dari berbagai disiplin ilmu. d). partisipatory : sejak awal perencanaan sudah melibatkan berbagai unsur terkait mulai dari pemilik, operator pengguna produk dan masyarakat setempat.

 

Oleh Agus Mulyadi Utomo
email: goesmul@gmail.com 

Pustaka

                                                                           
Anonim, 2006. Jurnal Ilmu Desain, dalam : Imam Buchori Zainudin, Desain, Sains Desain dan Sains tentang Desain: Telaah Filsafat Ilmu. hal. 17 – 34
Anonim,  2006. Jurnal Ilmu Desain, Widagdo, Estetika Dalam Perjalanan Sejarah: Arti dan Peranannya dalam Desain. hal. 3-16
Anonim, 1995. Creativity and Madness: Psychological Studies of Art and Artist  Burbank, Aimed Press, hal.18
Anonim, 2005, BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 1, Februari 2005
Astuti, Ambar. 1997. Pengetahuan Keramik. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Atmosudiro, Sumijati, dkk, Jawa Tengah: Sebuah Potret Warisan Budaya, SPSP. Prv.JawaTengah dan Jur. Arkeologi FIB-UGM
Atmosudiro, Sumijati. 1984. Notes on the Tradition of Pottery Making in the Region of Kasongan, Regency of Bantul. dalam Satyawati
Donald Tamplin. 1991. The Arts: A History of Expression in the 20th Century. London: Harrap, hal. 7
Enget,dkk, 2008. Kriya Kayu untuk SMK, Jilid 2, Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, hal. 421 – 424.
Francis, Abraham M. 1991. Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan. Yogyakarta.
Feldman, B.F. 1967. Art As Image and Idea. Englewood Cliffs, New Jersey, Prentice Hall Inc.
Gustami, Sp. 1985. et al., Pola Hidup dan Produk Kerajinan Keramik Kasongan. Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan, Direktorat Jendral Kebudayaan, Proyek Penelitian Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
Gustami, Sp. 1988. Seni Kerajinan Keramik Kasongan. Yogyakarta: Kontinuitas dan Perubahannya , Tesis S2 Universitas Gajah Mada.
http://www.google.co.id/produk, akses 3/08/2010
Haryono, Bedjo. 1995-1996. Pembuatan Kerajinan Tanah Liat Tradisional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman DIY.
Konperensi Kriya, 1999. Tahun Kriya dan Rekayasa 1999,  Institut Teknologi Bandung, 26 Nov” 99.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia Jakarta.
Lury, Celia. 1998. Budaya Konsumen. (Terj. Hasti T. Champion), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Manhei, Karl. 1985. Sosiologi Sistematis. (Terj: Soerjono Soekanto), Rajawali, Jakarta.
Manuaba, Bunga Rampai Ergonomi Vol. 1, Kumpulan Artikel PS Ergonomi – Fisiologi Kerja, Unud Denpasar, 1998, Hal. 1
Manuaba, Catatan Kuliah S-2 Ergonomi, 2006
Muchtar, Bud. 1991. Daya Cipta di Bidang Kriya dalam Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni. B.P. ISI. Yogyakarta.
Munro, Thomas,1969. The Arts and Their Interrelations. Cleveland and London: The Press of Case Western Reserve University
Soegondho, Santoso. 1995. Tradisi Gerabah di Indonesia: Dari Masa Prasejarah Hingga Masa Kini. Himpunan Keramik Indonesia, Jakarta.

Stark, Miriam T. and William A. Longacre. 1993. Kalinga Ceramics and New Technologies: Social and Cultural Contexts of Ceramics Change, dalam W. D. Kingery (Ed), Ceramics and Civilizition: The Social and Cultural Contexs of New Ceramic Technologies. Volume VI, The American Ceramic Society, Westerville, OH.
Sritomo W. Subroto, Proceeding Seminar Nasional Ergonomi 2006, 21-22 Nopember 2006, Auditorium Ged. A-D Usakti, Jakarta, hal. 11
Soedarso Sp., 1987. Tinjauan Seni: Pengantar Apresiasi Seni, Saku Dayar Sana, Yogyakarta
Tamplin, Donald, 1991. The Arts: A History of Expression in the 20th Century. London: Harrap
Virshup, Evelyn,1995. Jackson Pollok Art Versus Alchohol. dalam Barry Panter dan Virshup. Creativity and Madness: Psychological Studies of Art and Artist. Burbank: Aimed Press, 1995.
Wiyoso Yudoseputro, 1983. Seni Kerajinan Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Wiyoso Yudoseputro, 1983. Seni Kerajinan Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta,  hal.151.
Yuswadi Saliya, 1999. Pendekatan Interdisiplin dalam Desain: Suatu Penjelajahan Awal. Hal. 785 – 8
Text Box:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar