Laman

Pengikut

Kamis, 08 Maret 2012

GURU - MURSYID

GURU - MURSYID


Oleh Agus Mulyadi Utomo
goesmul@gmail.com
Dalam Al Qur'an Surat Al Kahfi : 17 yang artinya: “Barang siapa yang Allah memberi petunjuk (:kepadanya), dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang Allah menyesatkan (:kepadanya), maka tidak akan menjumpai Wali Mursyid”
 
Mursyid adalah Seorang Wali

          Mursyid (Guru) adalah seorang Wali, hal tersebut dapat dilihat dalam firman Allah SWT dalam QS. Al Kahfi : 17 yang berbunyi “May yahdillaahu fahuwal muhtadi wa may yudhlil falan tajidalahu waliyam mursyidaa”, artinya: “Barang siapa yang Allah memberi petunjuk (:kepadanya), dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang Allah menyesatkan (:kepadanya), maka tidak akan menjumpai Wali Mursyid”. Hadits Riwayat Atthabrani, Al Hal Hakim dan Abu Na’im : Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Wali-wali-Ku dari pada hamba-Ku dan kekasih-kekasih-Ku dari makhluk-Ku, yaitu mereka yang disebut namanya, jika orang menyebut nama-Ku, dan Aku disebut bila orang menyebut nama mereka” (sebut nama kekasih-Ku, Aku telah hadir pada sisimu, untuk memberi pertolongan-Ku padamu, nama-Ku berada di atas nama kekasih-Ku dan Wali-wali-Ku !) Ditegaskan lagi dalam QS. Yunus : 62  yang artinya: “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran yang menakutkan mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.  Berikut dikisahkan dalam hadits yaitu: Diriwayatkan dari Aisyah r.a yang menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman: “Barangsiapa menyakiti kekasih-Ku, berarti ia telah menghalalkan permusuhan-Ku. Seorang hamba yang mendekat kepada-Ku tidak cukup dengan melaksanakan kewajiban yang Aku perintahkan. Ia harus mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunat sampai Aku mencintainya. Tiadalah perbuatan yang memberatkan-Ku seperti kebimbangan-Ku ketika mencabut ruh Hamba-Ku yang beriman karena ia tidak suka mati, dan Saya tidak mau menyakitinya, padahal ia harus mati” (HR. Imam Ahmad, At-Turmudzi, Ath-Thabrani). Setiap kaum dan setiap zaman ada yang memberi petunjuk atau Mursyidnya (secara fisik masih hidup) seperti disebutkan dalam QS. Ar Ra’ad: 7  “Aayatum mir rabbihii innamaa anta mundziruw wa li kulli qaumin haad”, artinya: “Sesungguhnya engkau (ini, ya Muhammad) seorang pemberi peringatan. Dan bagi tiap-tiap golongan ada yang memberi petunjuk”.

Mursyid Memberi Syafa’at                                                                                          

Memohon untuk didoakan oleh Mursyid secara ruhaniah (batin), yaitu semoga Allah berkenan menghilangkan was-was yang datang dari segala penjuru kehidupan. Dan inilah yang dikatakan tawasul. Al-Qur’an  memberi petunjuk dalam ayat Kursi yang berbunyi: ”.... man dzalladzii yasyfa’u ‘indahu illa bi idznih-i ...” ... siapakah yang akan bisa memberi syafa’at (menjadi perantara) kepada-Nya kecuali dengan izin-Nya”. Mursyid memberi syafa’at karena hakekat yang dimaksud Mursyid adalah ruhani guru atau Arwahul Muqaddasah Sang Guru yang telah bergabung dengan ruhani Guru-guru sebelumnya hingga ruhani Rasulullah SAW , yang pada masa kini dhahirnya atau jasmaninya masih hidup sebagai Imam atau Sang pemimpin Peramalan. Firman-firman Allah SWT seperti QS. Thaahaa: 109   “Yaumaidzil laatanfa ‘usysyafas’atu illaa man adzina lahur Rahmaanu wa  radhya lahuu qaulaa”, artinya: “Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali syafa’at dari orang yang telah diberi izin oleh Allah Yang Maha Rahman dan Dia / Allah telah me-ridhoi perkataannya”. Berikut dalam QS. An Nisa: 85 “May yasyfa’ syfaa’atan hasana-ay yakul lahuu nashiibun minhaa”, artinya: “Barangsiapa yang memberi syafa’at yang baik (syafa’at menunjuki ke jalan Tuhan) niscaya akan memperoleh bahagian (pahala) dari pada-Nya”. Dan dalam QS. Al Ambiya: 28 “ Ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum walaa yasyfa’uuna ilaa limanirtadhaa wahum minkhayyatihii musyfiquun”, artinya: “Dia (Allah) mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka, dan mereka tiada dapat memberi pertolongan (syafa’at) selain orang yang disenangi-Nya sedang mereka gemetar karena takut kepada-Nya”.  Dalam beberapa hadits disebutkan: Dari Utsman bin Affan; Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Dihari kiamat yang memberi syafa’at tiga golongan , yaitu: Para Nabi, kemudian Ulama, kemudian Syuhada” (HR. Ibnu Majah). [1] Lalu : Dari Anas, sesungguhnya Umar bin Khaththab RA apabila kaumnya ditimpa kemarau panjang, Dia minta hujan dengan wasilah Abbas bin Abdul Muthallib RA, lalu Dia berdoa: Ya Allah, kami telah ber-wasilah kepadamu dengan (wasilah) Nabi kami Muhammad SAW, lalu engkau menurunkan hujan. Dan pada hari ini kami ber-wasilah kepada-Mu dengan (wasilah) paman Nabi kami SAW maka turunkanlah hujan. Lalu mereka diberi hujan (HR. Bukhari dan Baihaqi).[2]  Dan juga : Dari Abu Said, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebahagian dari ummatku ada yang memberi syafa’at kepada golongan besar dari manusia, sebahagian dari mereka ada yang memberi syafa’at kepada satu suku, sebahagian dari mereka ada yang memberi syafa’at kepada golongan kecil dan sebahagian dari mereka ada yang memberi syafa’at kepada satu orang, sehingga mereka masuk syorga semuanya (HR. Tirmidzi).[3]

Mujahadah

          Kesungguhan dalam menjalankan al-Islam sangat diperlukan.  Dalam QS. Al Maidah : 35 disebutkan “Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wab taghuu ilaihil wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la ‘allakum tuflihuun”, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan carilah wasilah (metode untuk mendekatkan diri kepada-Nya) dan mujahadalah (sungguh-sungguhlah beramal) dalam jalan-Nya (dengan metode itu) supaya kamu menang / beruntung”.  Seruan (panggilan) untuk orang yang percaya (beriman), tentu yg tidak percaya takkan terpanggil. Setelah beriman haruslah taat (takwa) yaitu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. itu saja belumlah cukup, karena disuruh menemukan wasilah / cara / metode untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan masuk tarekatullah (berzikrullah) dengan amalan yang terbimbing oleh Wali-Mursyid, dimana ruhaninya bersambung sampai kepada Arwahul Muqadasah Rasulullah (arwah/ruh dari Nabi Muhammad) dan ruh tersebut tidaklah mati (fisik/jasmani sudah mati). Sudah masuk tarekat, sudah menemukan metode/cara/wasilah yang benarpun, Itu masih belum cukup, karena harus bermujahadah (sungguh-sungguh) berjuang di jalanNya itu, beristiqomah (ajeg) terus-menerus dan barulah dikatakan menang / beruntung, yaitu menang melawan keburukan / hawa nafsu setan. Demikian pula dalam  QS. Al Ankabut : 69  “Wal ladziina jaahaduu fiinaa la nahdiyannahum subulanaa wa innallaaha la ma’al muhsiniin”, artinya: “Orang-orang yang beriman, ber-mujahadah (bersunguh-sungguh) dalam (menuntut keridhaan) kami, niscara Kami tunjukkan jalan-jalan (metode-metode) kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan”. Adapun tahapan tahsfiyat (penyucian diri) yaitu tahapan peningkatan peramalan dalam bentuk pengintensifan amalan tarekat sehingga memperoleh pelajaran atau pengalaman ruhani adalah sebagai berikut:

1.  Takholli / Takhallii, kosongkan diri dari sifat / perangai tercela dan rendah  serta maksiat lahir - batin (pembersihan), yaitu bersih dari najis dan hadas,  maksiat lahir-batin serta hati rabbaniyyah, dll.
2.   Tahallii, mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji dan taat lahir batin  menuju hakekat (pengisian), yaitu ber-syariat, ber-tarekat dan ber-hakekat (mendekat dan mengenal Allah) menuju makrifat.
3.   Tajallii (percikan terang zat nur Allah), merasakan akan rasa ketuhanan dan sampai memperoleh pada suatu kenyataan nur Allah (beserta nur-Muhammad) atau cahaya Tuhan (makrifatullah) – masuknya bayangan al-Haqq dan al-Khalq ke dalam hati –  sebagai puncak segala tujuan.

Teknologi Al Qur’an memang tersimpan dalam tharekatullah yang asli dan lurus (benar) ini termasuk dalam ilmu tasawuf Islam seperti dalam firman Allah dalam QS. Al Jin : ayat 16  “Wa al lawis taqaamuu ‘alath thariiqati la asqainaahum maa-an ghadaqaa”, artinya: “Sekiranya mereka berketatapan hati pada jalan Allah (tarekat yang benar), niscaya Kami memberi minum mereka dengan air yang berlimpah (segar)”. Dan bahwasannya jika mereka selalu tetap berdiri teguh / memakai cara / metodologi yang tepat dan benar / tarekat yang benar, maka Allah akan melimpahkan untuk mereka (minum air segar / kurnia seperti berlimpah) hujan lebat (dari langit). Dan apabila kemudian ada berita dari orang-orang fasiq agar diperiksa lebih dahulu dengan seksama, lihat QS. Al Hujuraat:  6 yang berbunyi “ Yaa ay-yuhal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabay-yanuu an tushibuu qauman bijahaalatin Futushbihuu ‘alaa maa fa’altum naadimiin”, artinya:Hai orang-orang yang beriman, apabila orang-orang fasiq datang membawa berita kepadamu, maka periksalah lebih dahulu dengan seksama. Supaya kamu jangan sampai mencelakakan orang lain, tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu akan menyesal atas kecerobohanmu itu”.  Juga sangat merugi apabila kita sebagai orang yang beriman berprasangka buruk atau mengolok-olok mereka yang masuk tarekat (bertaubat) dan mengamalkan dzikir seperti firman Allah SWT dalam  surat QS. Al Hujaraat : 11 “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu laa yas khar qaumum min qaumin ‘asaa an yakuunuu khairam minhum”, artinya: “Hai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)”. Berikut lanjutannya dalam QS. Al Hujaarat : 12 “Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiiram minazh zhanni inna ba’dhazh zhanni itsmuw walaa tajassasuu walaa yaghtab ba ‘dhukum ba’dhaa”, artinya: “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.

          Sesungguhnya Tarekat itu berada dalam Islam, ajaranya merupakan pemisah, pembatas tentang yang haq dan yang batal (bathil), terutama bagi penganut tarekat dalam seluruh aspek berfikir, bersikap, bertindak dan ber-dzikir. Bertolak dari ajaran Islam mazhab Imam Safi’i yang bernafaskan akhlak Islam ( Hak / Kewajiban) sebagaimana sasarannya Tauhid, sehingga menjadi hamba Allah yang bersikap : Illahi anta maqshudi wa ridhoka math lubi (Ya Allah, hanya Engkau yang kami tuju dan keridhaan-Mu yang kami cari / maksud). Adapun terjadi sesuatu kekeramatan, hal ini bukan tolok ukur dan kekeramatan bukan sasaran dari tarekat. Kekeramatan dalam segala bidang bukan tujuan, tetapi sekedar merupakan pembuktian bagi ummat Islam (si murid) tentang kebenaran ajaran itu sendiri. Bukti tersebut harus dikelola secara benar yaitu untuk: a)  Menambah Tauhid, b)  Memotivasi menyebar luaskan kebenaran, c) Menambah unsur keislaman, keimanan, ketaqwaan, keihsanan, dan keakhlaqkan, d) Meningkatkan amal dan ibadah, e)  Menambah wawasan pengetahuan Islam, f)  Giat berkarya dan berubudiah, g) Membuat bahagia dan optimis dalam hidup dan kehidupan. Segala sesuatu diluar ajaran Islam tentunya hukumnya batal.

Bersama 'Persatuan Tarbiyah Islamiyah',  Agus Mulyadi Utomo diterima Soeharto di Istana Presiden RI, Agustus 1994



[1]  Kitab: Sunan Ibni Majah hal.1443 Jilid II.
[2]  Kitab: Matnul Bukhari hal.179 Jilid I dan Sunan Al Kubra hal. 352 Jilid III lil Imam Al Baihaqi.
[3]  Kitab: Sunan At Tirmidzi hal. 46 Jilid IV



JALAN UNTUK MENCAPAI MA’RIFAT
KOMONITAS SURAU

           Manusia di beri kepercayaan penuh oleh Allah Swt untuk menjadi pemimpin (chalifah) di muka bumi, hal ini jelas di nyatakan dam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 30 yang berbunyi : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para malaikat : “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (chalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Menjadi pemimpin ini di mulai dari memimpin diri sendiri (hawa nafsu), keluarga dan kemudian berkembang kepada sahabat dekat dan masyarakat luas di lingkungannya, kepercayaan Allah Swt mendapatkan protes dari kalangan para malaikat maupun iblis dengan berbagai alasan yang berbeda, para malaikat protes karena manusia umumnya suka berbuat kerusakan dengan berbagai sifat tercelanya, sedangkan iblis protes karena merasa derajatnya lebih tinggi dari manusia yang terbuat dari tanah sementara dia sendiri terbuat dari api. Malaikat setelah mendapat penjelasan segera mengikuti perintah Allah Swt dan mengakui akan kekhalifahan manusia di muka bumi sesuai dengan firman Allah Swt, sementara iblis tetap membangkang untuk menghormati manusia (adam) seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ Ayat 61 yang berbunyi :
 “Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat : “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata : “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”
Dengan demikian iblis tetap bertahan dengan kesombongannya dan meminta dispensasi kepada Allah Swt agar di beri umur hingga hari kiamat guna untuk membujuk dan mengajak manusia kepada kesesatannya, Allah Swt maha pemberi permintaan dan mengabulkan permohonan iblis tersebut, maka jadilah dia musuh yang nyata bagi Allah Swt dan para manusia, seperti dialog antara iblis dengan Allah Swt pada Surah Al-Israa’ Ayat 62-65 :
“Dia (iblis) berkata : “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar – benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”. “Tuhan berfirman : “Pergilah, Barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka Sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.” “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak – anak dan beri janjilah mereka, dan tidak ada yang di janjikan oleh syetan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” Artinya : “Sesungguhnya hamba – hambaKu, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka, dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga.” Surah Al-A’raf Ayat 16-17
 “Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar – benar akan (menghalang – halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” Artinya : “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

           Tujuan hidup manusia semestinya adalah untuk beribadah kepada Allah Swt dengan arti melaksanakan segala sesuatu yang baik dan meninggalkan segala sesuatu laranganNya, untuk tujuan manusia ini maka iblis bersumpah guna menyesatkan manusia dengan berbagai cara dengan segenap kekuatan bala tentaranya (syetan) sampai hari kiamat.
Ketaqwaan adalam melaksanakan segala perintah Allah Swt dan RasulNya harus dengan sunguh – sungguh agar dapat mengalahkan bujuk rayuan dari iblis dan syetan yang masuk pada diri manusia tanpa terasa dan di sadari. Hati merupakan hal yang paling halus pada manusia, hatilah yang menggerakkan seluruh anggota badan, hati juga dapat menjadi penghubung antara manusia dengan tuhannya, Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar Ayat 17-18 :  “Dan orang – orang yang menjauhi Thaghut (iblis/syetan) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba – hambaKu.”  “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di  antaranya, mereka itulah orang – orang yang telah di beri Allah petunjuk dan mereka itulah orang – orang yang mempunyai akal. Hati ini perannya sangat penting, karena Allah Swt meletakkan nur (cahaya) keimanan yang bersifat Lathaif (lembut) dan sifat Rabbaniyah (keyuhanan) dan Rohaniyah (rohani), dengan nur yang terdapat dalam hati makanya manusia dapat mengenal tuhannya (ma’rifat), nah apabila hati ini senantiasa di didik dengan dzikrullah, maka dapat memancarkan mata air ilmu laduni kedalam hatinya, ini adalah karunia Allah Swt yang tak ternilai bagi manusia.
Hati sebagai tempat berkumpulnya ilmu hakikat karena dia adalah salah satu lathaif untuk mencapai tahap mengerti akan Allah Swt dan dari sinilah yang mengatur sekalian anggota jasmani (zahir) dan hati juga sebagai penembus hakikat segala sesuatu, karena begitu pentingnya hati ini, maka syetan menyerang manusia mengutamakan dari titik strategis ini (hati) dengan bisikan – bisikannya yang menghanyutkan serta terbuai, padahal sesungguhnya hal ini adalah kesesatan akan Allah Swt dan mendurhakaiNya. Hati apabila sudah di huni atau di tutupi oleh syetan, maka hati tersebut tidak akan mendapatkan nur illahi, jadi jika hati telah di tutupi oleh iblis dan syetan, maka yang utama baginya adalah hawa nafsu yang membawa kepada durhaka terhadap Allah Swt dan RasulNya, hati apabila telah buta maka mendatangkan sifat jahil dan lalai, jahil ini di sebabkan sifat tercela yang di tanamkan oleh syetan tanpa di sadari karena tingkat keimanan yang lemah dan tidak mau tahu untuk beribadah yang selalu melalaikannya. Sifat yang di tanamkan oleh iblis dan syetan berupa syirik, takbur, sombong, iri hati, dengki, rakus, loba, tamak, kikir, bakhil penzina dan lain sebagainya yang sifatnya serba buruk dan jelek, oleh karena itulah makanya hati harus selalu kita isi dengan dzikrullah untuk membentengi hal tersebut dan kita selalu minta perlindungan kepadaNYa, agar di jauhkan dari terhempasnya kepada lembah kehinaan dan kenistaan, hati jangan sampai menjadi buta karena memperturutkan sifat tercela, ini di siratkan oleh Allah Swt dengan firmanNya pada Surah Al-Haj Ayat 46 :  “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” Hati yang begini berarti sudah berpenyakit dan kotor berdebu yang dapat menutupi terbukanya akan cahaya keimanan, penyakitnya adalah segala sifat yang tercela (buruk), maka ini harus segera di obati, obatnya adalah dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt dengan berbagai cara, termasuk melazimkan dzikir pada hati tersebut, karena sekali lagi penyakit ini sangat berbahaya dan menjerumuskan manusia ke neraka jahannam, na’uzubillahi min zalik.
Surah At-Taubah Ayat 125 yang berbunyi : “Dan adapun orang – orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”

           Bersihkanlah hati dari kehendak hawa nafsu yang keji, ini fardhu ‘ain hukumnya, tetapi pekerjaan ini sangat sulit tanpa di imbangi dengan riyadhah (perjuangan) yang kuat dan sunguh – sungguh, tasawwuf mengobati penyakit hati dengan melazimkan dzikrullah setelah ibadah yang fardhu atau wajib dan mereka senantiasa istiqamah dengan hal ini, karena mereka tahu dengan pasti akan bahayanya yang dapat menghela kepada kemusyrikan damn kesesatan di sebabkan oleh kerjanya para iblis dan syetan ini.  Senantiasa bertaubat, taubat akan segala kesalahan dan perbuatan dosa yang jelas dan nyata utamanya, seterusnya taubat akan segala kelalaian dalam ingat kepada Allah Swt, latihannya selalu dengan berhadap hati (tawajjuh) kepada Allah Swt dan senantiasa bertaqarrub kepadaNya, dengan selalu ingat kepada Allah Swt maka dapat menolak akan bujuk rayu syetan, seperti firmanNya dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 152 : “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku.” Rasulullah Saw juga bersabda mengenai hal ini : “bahwasanya hati itu kotor seperti besi yang berkarat dan pembersihnya adalah dzikrullah, bagi setiap sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan alat pembersih hati adalah dzikrullah, dan jauhkanlah syetanmu itu dengan ucapan LAILAHAILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH, karena syetan itu akan kesakitan dengan ucapan kalimat tersebut, sebagaimana kesakitan unta salah seorang kamu sebab banyaknya penunggang dan banjirnya muatan di atasnya, dzikir kepada Allah swt menjadi benteng dari godaan syetan.”  Dzikir adalah mengingat Allah Swt, dengan setiap ibadah, seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan lain – lain yang di lakukan semata – mata atas nama Allah Swt atau dengan mengingat Allah adalah dzikir, tetapi di samping pelaksanaan hal – hal tersebut,  laksanakanlah dzikir dengan secara khusus, yang merupakan cara pembersihan ruhaniyah manusia pada sisi Allah Swt (hati) secara ajaran tata cara sufiyah atau tasawwuf, yaitu dengan menyebut dzikir atau Allah dengan sendirian maupun berjama’ah dengan tata cara dan kaifiyat serta maqamat atau lathaif penempatannya pada bathin, untuk hal ini maka di perlukan seorang guru pembimbing dalam hal berdzikir cara tasawwuf atau sufi.

Hidup dan Seni.blogspot.goesmul.com/agama islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar